SEBELAS

836 Words
"Kita butuh karyawan baru" ucap Rino saat rapat berlangsung. "Iya kita butuh karyawan baru untuk meng-handle urusan e-signature dari para petinggi perusahaan kita" tambahnya. Hari ini nampaknya Soeprapto Twins sangat serius membahas rapat kali ini. "Segera buka lowongan pekerjaan di media cetak dan online " usul Reno. Renata mengangguk setuju. "Yasudah kalian buat saja lowongan pekerjaan di koran atau majalah atau entah apalah itu. Semoga saja kita mendapatkannya dalam waktu dekat" ucap Renata. "Kita akhiri saja rapat mini kali ini" ucap Renata. Ia sangat bersemangat saat Andra mengajaknya makan malam. Padahal tadinya ia hanya meminta Andra untuk menjemputnya karena mobilnya mogok dan harus segera di larikan ke bengkel.  "Kita makan siang  bersama yuk, sudah lama sejak kamu menikah kita tidak pernah makan siang bersama" ucap Rino pada kakak sulungnya. "Aku nggak bisa. Andra sudah mau jemput dan mengajakku makan siang" ucap Renata. Meski dengan nada santai, namun terlihat jelas rona merah di kedua pipinya. "Hmm mereka mau dating  ternyata. Yasudah lain kali saja kita makan siang bersama" ujar Reno tersenyum sambil mencabut kabel laptopnya. "Aku duluan ya, kirimkan salamku untuk mama dan papa" Renata keluar dari ruang rapatnya. "Hmm sepertinya Andra memang benar-benar laki-laki yang pas dan terakhir untuknya" ucap Rino seraya melihat kepergian kakaknya itu.                                                             *** Saat Renata masuk ke ruangannya, ia sudah mendapati suaminya tersebut duduk manis sambil bermain ponsel. "Kamu sudah lama menunggu?" tanya Renata berdiri di samping Andra yang masih fokus dengan ponselnya itu. "Tidak, aku juga baru datang. Ruangan kamu sejuk ya, kapan-kapan aku bisa tidur siang di sini sepertinya" Andra memasukkan ponselnya ke saku celananya dan berbalik menatap Renata. Kemeja soft pink Renata yang agak ketat di bagian di d**a membuat Andra teringat apa yang sudah terjadi di antara ia dan Renata beberapa hari yang lalu. "Sudah ayo jangan lama-lama nanti kita bisa telat" ucap Andra dengan nada sedikit ketus. Renata langsung menaruh seluruh keperluan rapatnya tadi di atas meja kerjanya, menarik tas tangannya dan kemudian menghampiri Andra lagi. "Ayo" ucap Renata senang.       "Kamu masuk duluan, aku parkir dulu" Andra membelokkan mobilnya ke pintu masuk utama restoran tersebut. "Langsung cari tempat buat kita" tambahnya. Renata menangguk menurut menerima perintah suaminya. Ia langsung turun dan memesan tempat untuk dua orang. Begitu selesai memarkirkan mobilnya, Andra langsung masuk ke dalam restoran. Seorang wanita yang tengah menghisap rokoknya, melihatnya dengan penuh keterkejutan. Saat melihat Renata melambaikan tangannya, Andra langsung berjalan ke arah istrinya tersebut. Wanita yang tadinya tengah asyik merokok tersebut mematikan rokoknya dan mengikuti arah jalan Andra tanpa sepengetahuan Andra tentunya. Ia penasaran kemana Andra berjalan. "Buku menunya mana?" tanya Andra saat ia mendaratkan bokongnya di kursi kayu tersebut. "Belum datang, sudah aku pesankan ke waitress tapi" ucap Renata.  Setelah buku menu datang dan mereka memesan makan malam, Renata mulai bertanya hadiah apa yang Andra belikan siang tadi untuk Nafa. "Kamu beli apa untuk Nafa?" tanya Renata sambil menatap Andra. "Aku beli tas sekolah dan boneka" jawab Andra sambil mencolok kabel charger ke sebuah stop kontak di pinggir meja. "Kamu sendiri?" tanya Andra balik. "Aku beli satu set kotak makan" jawab Renata riang. "Gambarnya Frozen" tambah Renata sambil tersenyum. "Sama, Nafa suka sekalli dengan Frozen. Diana sampai pusing saat Nafa memaksanya untuk mengganti wallpaper menjadi gambar animasi tersebut. Nafa bahkan membuat ultimatum jika tidak mengganti wallpaper kamarnya, ia akan mogok masuk sekolah" kenang Andra sambil tertawa kecil.  Keduanya memesan makanan setelah seorang pelayan memberikan mereka dua buku menu. Meski masih memiliki rasa tidak suka dengan istrinya, Andra mencoba untuk bersikap biasa saja terhadap wanita yang sudah ikhlas menerima dirinya dengan status duda. Tidak semua wanita mau menerima status duda seorang pria, terlebih di zaman sekarang. Mungkin beberapa wanita yang menerima calon pasangannya sebagai seorang duda hanya karena materi yang dimiliki. Wanita tersebut masih tetap memperhatikan Andra. Ia sengaja memilih untuk duduk di belakang Andra agar tidak ketahuan siapa dirinya. Ia sebisa mungkin menjaga pendengarannya dan menangkap setiap pembicaraan antara Andra dan Renata, meskipun ia tidak tahu apa hubungan Andra dengan wanita tersebut. "Rapat apa tadi di kantor?" tanya Andra sambil kembali fokus ke ponselnya. Ia tidak ingin terlalu lama menatap istrinya. "Kantorku membutuhkan karyawan baru" ucap Renata sambil memainkan ujung tas tangannya. "Karyawan baru untuk apa?" tanya Andra. "Menjaga e-signature petinggi perusahaanku, karena karyawan sebelumnya sudah memutuskan untuk resign dari kantor karena menikah dan ikut suaminya pindah ke luar kota" jawab Renata. "Aku ke toilet dulu ya" Renata berdiri sambil menarik tiga lembar tisu dari kotak tisu di hadapannya.  Andra menyandarkan punggung dan kemudian duduk menata sekeliling restoran. Meskipun restoran ini ramai bukan main, namun Andra rasanya romantis mengajak Renata makan malam di sini. Sedangkan wanita yang masih asyik membuntuti Andra menggunakan masker agar wajahnya tidak terlihat Renata. "Ini meja atas nama Ibu Renata?" seorang pelayan membawakan sebuah nampan dan tengah membaca bill. "Iya, istrinya sedang ke toilet sebentar. Dessert ya?" Andra memalingkan wajahnya dan menatap pelayan tersebut.  Tepat setelah Andra menjawab sekaligus bertanya balik pada pelayan tersebut, wanita yang tengah menguntitnya langsung berdiri dan meninggalkan restoran tersebut. "Semua akan berubah, Renata" ucapnya seraya menyalakan kembali rokok yang sempat ia matikan tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD