ENAM BELAS

1103 Words
"Jadi nama sainganku itu Renata" celetuk Risty sambil menerima Iced Cappucino yang baru saja datang. Chessa hanya menanggapi ocehan Risty sambil tetap fokus pada buku pelajaran putrinya, Dhea. "Jadi kapan Dhea bisa ketemu Papa?" tanya gadis kecil yang berbalut seragam sekolah tersebut pada ibunya. "Kemarin Papa bilang ke Mama, ada pekerjaan di Bandung jadi untuk weekend ini belum bisa ajak Dhea pergi weekend ini" jawab Chessa dengan lembut pada putri semata wayangnya itu. Risty menatap pasangan ibu dan anak itu penuh haru. "Kenapa kamu cerai dengan Bimo sih? Dia kan kaya!" celetuk Risty. Dhea yang masih kecil dan tidak mengerti apa yang di bicarakan ibu dan teman ibunya tersebut kembali mewarnai gambar Disney Princess. Chessa sepertinya tidak ingin menanggapi pertanyaan Risty, namun rasanya ia sudah saatnya mengatakannya. "Aku dan Bimo sudah tidak memiliki ke cocokan, kami sering berbeda pendapat. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mengerti dirinya, begitu juga dia. Tapi memang sudah tidak bisa lagi dipaksakan. Dia ayah yang baik untuk Dhea, namun bukan suami yang tepat untukku" jawab Chessa. Seketika ingatannya kembali delapan tahun yang lalu saat ia meninggalkan Andra demi Bimo, bahkan ia sudah hamil terlebih dahulu sebelum resmi menikah, dan lahirlah Dhea. "Terus sekarang dia sudah menikah lagi, atau sudah punya pacar baru gitu?" selidik Risty. "Belum aku rasa. Bimo pernah bilang ia berjanji untuk mengenalkannya padaku dan Dhea terutama" jawab Chessa. Sejak –tak sengaja- bertemu dengan Andra, Chessa setiap hari semakin teringat akan mantan kekasihnya tersebut. Meskipun ia sudah tahu Andra sudah ada yang punya, nyatanya ia sulit menghilangkan Andra dari pikirannya. Rasa ingin memiliki Andra timbul beberapa hari setelahnya. Meskipun otak warasnya selalu memperingatinya untuk berhenti memikirkan mantan kekasihnya itu, namun hatinya tak mau mengalah untuk membuat Andra kembali ke pelukannya. Dan penghalangnya hanya satu, bukan Risty yang tak lain adalah temannya sendiri namun istri Andra, Renata. "Aku harus temukan cara untuk mendapatkan pujaan hatiku itu" ucapan Risty membuat Chessa buyar tentang pemikiranya seputar Andra. "Kantor barumu dimana? SP Materials  kan?" tanya Risty pada Chessa. "Iya kantor baruku di SP Materials. Kenapa memangnya?" sahut Chessa. Belum sempat Risty bertanya balik, ponsel Chessa berdering dan membuat pemiliknya langsung mengangkat telepon tersebut. "Halo?" ucap Chessa. "Iya, ada apa memangnya?" tanya Chessa. "Oh, butuh tanda tangan Bu Renata? Ia bisa besok pagi letakkan saja dokumen yang harus di tanda tangani" ucap Chessa dengan profesional. "Jadi perusahaan kita mau buka jasa baru?" lanjut Chessa lagi. Ia berbicara seakan – akan Risty dan Dhea tidak berada di situ. "Mau produksi furnitur baru? Atau mau buka jasa pemesanan online?" tanya Chessa dengan tawa. Dan seketika itu juga ide licik Risty tercipta dengan mudahnya untuk menyingkirkan Renata.                                                                    *** "Kamu lihat kemeja aku yang tadi di gantung di belakang pintu kamar mandi?" tanya Andra yang hanya mengenakan kaos dalam dan celana kerjanya pada Renata yang sibuk membereskan ranjang. "Aku langsung bawa ke cucian" jawab Renata. "Kenapa kamu bawa ke cucian?!" kesal Andra. "Aku pikir itu baju kotor" jawab Renata. "Jadi semua baju yang di gantung di belakang kamar mandi itu kotor, gitu?" tanya Andra sambil berkacak pinggang. Renata hanya tertunduk menerima omelan suaminya untuk ke sekian kalinya itu. "Kamu kan bisa cium dulu bajunya wangi atau sudah bau keringat. Kenapa kamu bahkan tidak terbesit pemikiran sederhana seperti itu sih?" Andra semakin kesal dengan istrinya yang belum bersiap untuk pergi ke kantor. "Hal se simple itu saja kamu tidak mengerti!" Andra membuka lemari pakaiannya dan mengambil kemeja kerja yang baru. Tanpa mengatakan sepatah kata pun ia keluar sambil membawa kemeja dan tas kerjanya tersebut. Renata menghela napas dengan wajah sedih menatap kepergian suaminya tersebut. Sudah lima bulan ia dan Andra menikah dan semakin hari bukan semakin baik, malah semakin buruk. Ada saja kesalahannya baik kecil maupun besar yang memancing kemarahan Andra. Ia melihat jam dinding di kamarnya, sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, itu artinya ia harus bersiap ke kantor. Namun saat ia hendak mengambil pakaian kerjanya, ia merasakan mual tak tertahankan dan langsung berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya itu. Kepalanya pening setelah muntah dan membuat dirinya linglung. Ia memutuskan untuk duduk sebentar di closet dan menenangkan dirinya terlebih dahulu. Saat ia tengah duduk menenangkan diri, suara kenop pintu kamar mandi yang terbuka membuatnya terperanjat. Ia kaget mendapat Andra yang main masuk ke dalam kamar mandi. "Kamu ngapain di situ? Bukannya siap-siap kerja" tanya Andra sambil mencari facial foam miliknya. "Aku muntah barusan" jawab Renata lirih. Andra yang tadinya kesal dan berkata ketus pada Renata langsung menoleh dan menghampiri Renata dan berlutut di hadapan istrinya tersebut. "Kamu sakit?" tanya Andra lembut. Renata menggeleng. "Aku hanya belum sarapan, makanya muntah. Masuk angin mungkin" jawab istrinya lemah. "Yakin?" tanya Andra. "Kalau memang kurang enak badan sebaiknya kamu jangan masuk kantor" Andra berdiri dan mulai mencari facial foam miliknya lagi. "Nggak apa-apa aku bisa ke kantor kok. Hanya belum sarapan saja" Renata kemudian berdiri dari kloset. Namun rasa pusing tersebut masih melanda kepalanya hingga ia akhirnya hampir terjatuh. Andra yang melihat gerakan istrinya dari pantulan kaca tersebut dengan sigap menangkap Renata. "Sudah, pokoknya hari ini kamu gak perlu ke kantor. Kamu sampai linglung begini, gimana di kantor nanti?" Andra akhirnya menggendong istrinya yang lemas tersebut. "Biar nanti aku yang telefon Rino atau Reno untuk memberitahu kamu tidak dapat masuk kantor hari ini. Nanti aku suruh Mbak Siti buatkan kamu teh manis dan bubur ayam bisa perut kamu ada isinya" ucap Andra sambil membaringkan Renata di tempat tidur. Sejenak ia merasa tidak tega melihat istrinya yang sakit tersebut. Baru beberapa saat yang lalu ia marah-marah terhadap Renata, dan semua omelannya di terima oleh istrinya tanpa perlawanan, sekarang istrinya tersebut sukses membuatnya terenyuh dan tidak tega karena terkulai lemas hanya karena muntah yang di akibatkan belum sarapan. "Sudah kamu tidur saja" Andra menyelimuti istrinya tersebut. "Aku nyalakan kipas angin tapi tidak langsung mengenai kamu, nanti mau muntah lagi" ucap Andra sambil mencolokkan kabel kipas anginberwarna hitam tersebut ke stop kontak. "Permisi Tuan, ini tagihan listrik, telfon dan air untuk bulan ini" Mbak Siti masuk ke dalam kamar majikannya dengan sopan. "Masuk saja Mbak" suruh Andra.Andra menerima lembaran tagihan bulanan tersebut dan menaruhnya di meja nakas. "Nanti saya kasih uangnya. Mbak Siti sekarang buatkan teh manis dan bubur. Beliin aja, kalau masak pasti lama" Andra menarik dompet dari kantong celananya. "Hari ini Renata tidak masuk kerja karena sakit, masuk angin belum sarapan dan lemas banget badannya. Jadi saya nggak kasih izin masuk kantor" ucap Andra. "Nanti Mbak Siti sering-sering tengokin ke sini ya. Kalau perlu apapun bilang saja sama Mbak Siti" ucap Andra dengan perhatian. "Sudah aku ke kantor dulu" Andra menunduk dan mencium kening istrinya. Sedangkan Mbak Siti hanya tersenyum melihat tingkah romantis kedua majikannya tersebut.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD