TUJUH BELAS

759 Words
"Kamu mau tahu sesuatu?" Reno tersenyum usil pada adiknya yang belum menoleh padanya. "Apa?" sahut Rino tanpa mengalihkan pandangannnya. "Hari ini Renata tidak masuk kantor" jawab Reno dengan senyuman lebar di wajahnya. "Ya terus? Hari ini juga kita nggak ada rapat yang mengharuskan dia datang" ujar Rino. "Iya kamu tahu nggak alasan Renata nggak bisa masuk hari ini?" sahut Reno. "Apa?" tanya Rino cuek. 'Dia pagi ini muntah dan lemas badannya" jawab Reno di iringi dengan cengiran lebar. "Mun- HAH? Dia muntah-muntah pagi ini ?" tanya Rino yang ikut sumringah mendengar ucapan kakaknya tersebut. "Kayaknya kita habis ini beneran punya keponakan" jawab Rino dengan senyum yang mulai melebar di wajahnya tersebut.  "Tadi Andra menelfonku, dia bilang Renata hari ini berhalangan masuk kantor karena tadi pagi muntah-muntah karena masuk angin" ujar Reno. "Aku yakin pasti bukan masuk angin" balas Rino dengan riang. "Ah asyiknya aku habis ini di panggil 'Om Reno' habis ini" jawab Reno senang. "Pagi Pak, ini dokumen yang harus yang sudah saya berikan e-signature Ibu Renata" Maresha masuk ke dalam ruangan Reno dan Rino dengan membawa beberapa dokumen. "Maaf, Ibu Renata kemana ya? Saya lihat ruangannya masih gelap, padahal sudah hampir jam sembilan pagi" tanya Maresha dengan suara perhatian. "Ohh, sakit. Sudah laporan atau apapun yang harus di kerjakan Bu renata taruh di sini saja. Besok biar saya kasih ke orangnya" jawab Reno sambil menahan senyumnya. Ia enggan untuk memberitahukan 'alasan asli' Renata tidak masuk, karena ia sendiri belum mendapatkan informasi akurat dari kakaknya sendiri.  Dengan sopan Maresha keluar dan menutup pintu ruangan kerja atasannya tersebut. Senyum kemenangan menghiasi wajahnya. Ia segera mengambil ponselnya dan kemudian menelfon seseorang. "Malam ini, kamu datang ke kantorku" ucapnya.                                                             ***   "Aduh, aku jadi merepotkan kamu" ucap Renata sopan pada kakak iparnya, Diana yang hari ini datang berkunjung ke rumahnya. "Kamu kalau sakit begini bilang, jangan diam saja" Diana menepuk sayang punggung tangan Renata. "Berarti kalau Andra di kantor, kamu sendirian dong di rumah begini?" tanya Helmi yang duduk di sofa dekat tempat tidurnya itu. Renata mengangguk. "Kalian cepat-cepat punya momongan ya, biar kamu ada temannya dan nggak sendirian lagi" ucap Diana usil. Jauh di dalam hatinya, ia sudah menantikan keponakan dari adik satu-satunya itu. Meskipun sadar alasan Andra menikahi Renata, namun ia tidak peduli dan tetap berharap demikian. Berharap juga keponakannya nanti dapat mengubah sikap Andra menjadi sedia kala, penyayang dan perhatian.  Pintu kamar Renata terbuka dan dua manusia kecil masuk dan menghambur ke kasur empuk milik paman dan tantenya itu. "Nafa! Jangan main loncat ke kasur Tante Renata dong!" Diana mengomeli putri pertamanya tersebut. "Nggak apa-apa, biar mereka main" jawab Renata dengan senyuman manisnya. Ia terbayang bila memiliki anak-anak kelak dengan Andra. Andra Junior dan Renata Junior? Mungkin lucu bila keduanya memiliki versi mini. "Kamu itu kerjaannya berantakin kamar melulu! Nggak di rumah, rumah eyang, sekarang rumahnya Om Andra. Nanti di marahin Om Andra baru tahu kamu" ujar Diana sambil memungut bantal yang jatuh ke lantai. "Om Andra kan sayang sama aku dan dedek! Jadi enggak mungkin Om Andra marahin kita" jawab Nafa sekenannya. Ingin rasanya Diana menjewer telinga si sulung karena bicara sekenannya. Namun ia juga sadar hal tersebut 'menurun' dari dirinya, dan juga Andra.  "Kalian mau pudding cokelat?" tanya Renata dengan manis pada kedua keponakannya. "MAU!" jawab mereka kompak. "Kita ke dapur yuk! Tadi Tante sudah suruh Mbak Siti buatkan kalian pudding cokelat yang dingin untuk kalian. Pasti enak!" seru Renata sambil mengajak dua keponakannya tersebut untuk ikut dengannya ke dapur.                                                              ***     "Semoga produk terbaru perusahaan kita ini cepat di release ya. Perasaanku tidak enak dan takut kalau ada orang lain yang hendak mengambil desain kita" ujar seorang karyawan yang hendak pulang dan mengunci ruangan kerjanya. "Eh ngomong-ngomong kita jadi makan malam bersama di Pizza Hut kan?" tanya temannya itu. "Iya dong!" sahutnya dengan riang. "Eh desain kita tadi kamu taruh dimana?" tanya seorang karyawan tadi. "Di laciku, tenang aman kok. Seharusnya di dalam ruang penyimpanan desain sih, tapi berhubung yang pegang kuncinya hari ini tidak masuk, ya sudah di dalam ruanganku saja" ucapnya. "Pak Sardi! Ini kunci ruangan saya" ia memanggil seorang office boy yang sudah berumur tersebut. Ia menyerahkan kunci tersebut pada Pak Sardi kemudian melenggang pergi meninggalkan kantornya.  Seseorang sedari tadi bersembunyi di balik sekat ruangan kerja koleganya itu. Sekarang ia sudah tahu dimana letak kunci tersebut berada. Ia hanya perlu mengambil kunci tersebut dari office boy tersebut dan mencari benda yang sudah sangat ia incar. Entah ia harus melukai atau membuat office boy tersebut tidak sadar demi meraih keinginannya tersebut, ia tidak peduli. Yang jelas, yang inginkan harus ia dapatkan, bagaimana pun itu caranya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD