ENAM

1151 Words
Sudah satu bulan Andra dan Renata membina rumah tangga mereka. Sudah satu bulan juga artinya mereka hidup bersama. Kegiatan mereka pun berjalan seperti biasanya. Namun sikap Andra yang mulai berubah. Andra mulai menunjukkan sikap tidak sukanya pada Renata. Dari hal paling kecil, hingga paling besar. Semua yang di lakukan Renata akan selalu salah di mata Andra. Renata sendiri heran dengan sikap Andra. "Hari ini aku sampai malam di kantor, kamu mau makan dulu terus tidur duluan juga silahkan saja" ucap Andra sambil mengancingkan kemeja kerjanya. Renata mengangguk sambil memakai jam tangan di tangan kirinya. Wajahnya akhir-akhir ini lebih sering telrihat lesu dan sedih. Lesu karena banyaknya pekerjaan yang harus ia kerjakan, sekaligus karena sikap Andra pada dirinya yang membuat wajahnya juga terlihat sedih di saat yang sama. "Kamu nggak akan pulang larut malam kan?" tanya Renata memastikan. "Mau aku pulang malam atau tidak itu bukan urusan kamu" tindas Andra sambil keluar dari kamar dan membanting pintu. Renata tersentak mendengarnya. Salah aku sama kamu apa sih? gumam Renata Setelah selesai berpakaian, Renata langsung turun untuk sarapan pagi. Ia mendapati suaminya tersebut sedang menyeruput kopinya. Renata menarik kursi di samping Andra dan duduk. Ia mengambil roti dan selai kacang. Belum sempat ia membuka selai kacangnya Andra sudah berdiri dengan gerakan yang cukup kasar dan mengagetkannya. Jika tidak berhati-hati, selai kacang yang di kemas dalam toples kaca tersebut bisa saja tumpah dan pecah. "Aku duluan" pamit Andra singkat. Jika mereka tinggal di rumah kedua orang tua Renata, tentu saja Andra akan langsung kena semprot dengan ibu mertuanya yang sangat mementingkan table manner itu. Renata hanya menghela napas melihat kelakuan suaminya tersebut.         Tanpa mereka sadari Mbak Siti ternyata sedikit mengintip setelah gerakan kasar tersebut terjadi dan menghasilkan suara yang cukup keras. Setelah ia memastikan majikan laki-lakinya tersebut benar-benar pergi dengan mobil dan keluar dari garasi, ia langsung menuju dapur dan menghampiri wanita yang baru satu bulan mejadi majikannya tersebut. "Maafkan Tuan ya Nyonya" ucap Mbak Siti sambil mengambil piring dan cangkir bekas Andra. "Iya mbak, saya paham. Mungkin Andra banyak tekanan pekerjaan" ucap Renata tersenyum pasrah. "Bukan begitu maksud saya. Sebentar ya, saya bersihkan dulu" ucap Mbak Siti. Dari ucapannya barusan Renata menyimpulkan ada sesuatu yang ingin Mbak Siti katakan padanya. "Jadi begini nyah . . . . " Mbak Siti pun kembali datang dan memulai ucapannya. "Mbak duduk saja" Renata menarik kursi kosong di sebelahnya dan mempersilahkan pembantunya tersebut untuk duduk bersamanya. Melihat perlakuan Renata barusan, Mbak Siti merasa terenyuh. Baru kali ini ia mendapatkan majikan wanita se sopan ini. "Terima kasih nyah" ucap Mbak Siti penuh arti. "Oke, jadi begini nyah, sebelumya Tuan itu ndak seperti sekarang kok sikapnya" ujar Mbak Siti. Renata memperhatikan Mbak Siti dengan seksama. "Sikap Tuan berubah jadi kasar, sering dan gampang marah-marah juga jadi sensitif begini itu sejak dia cerai sama Mbak Reva" ucap Mbak Siti dengan nada yang kejujurannya tak perlu di pertanyakan. "Tuan itu sayangnya minta ampun sama Mbak Reva, eh malah di selingkuhin gitu" ucap Mbak Siti. Alasan perceraian Andra yang Mbak Siti katakan sama persis dengan apa yang Andra katakan padanya saat mrereka pertama kali bertemu. "Mereka cerai karena ada orang ketiga, dan sejak itu Tuan sikapnya ya jadi seperti ini" ucap Mbak Siti. "Ya memang sih sama saya ndak pernah sampai kasar begitu, mungkin beliau juga masih tahu batasan" lanjut Mbak Siti. "Pokoknya mohon maaf ya Nyonya kalau sikapnya Tuan seperti itu. Dimaklumi saja" ucap Mbak Siti. Renata mengangguk tanda mengerti. "Yasudah saya mau ke kantor dulu ya mbak" ucap Renata yang kemudian berdiri dan mengambil tas kerjanya yang ia taruh di belakangnya. "Baik nyonya, oh ya ini saya ada catatan beberapa yang sudah habisnya di tempat cucian dan dapur" ujar Mbak Siti sambil mengambil secarik kertas dari saku celana tiga per empat rumahannya yang sudah lusuh itu. "Oke mbak, nanti kita ke supermarket ya. Mbak ikut saya" ujar Renata sambil memasukkan catatan tersebut ke dalam tas kerjanya. Ia tentu harus 'melaporkan' kebutuhan rumah tangga tersebut pada Andra. Ia pun bergegas menuju mobilnya dan pergi bekerja. Di perjalanan menuju kantornya, semua rentetan cerita yang Mbak Siti ceritakan padanya terngiang-ngiang di otaknya. Andra di duakan oleh Reva –nama mantan istri yang selama ini selalu di cari tahu oleh Renata- dan berujung dengan perceraian. Ia juga teringat akan cincin pernikahan Andra dan Reva. Ia yakin betul cincin yang kemarin ia temukan adalah milik Reva. Cincin tersebut tidak terlihat seperti cincin untuk laki-laki. "Berarti peran Reva dalam hidup Andra sangat besar" ucapnya sambil menarik rem tangan. Reva tentu pernah mengisi hari-hari indah Andra sebelum akhirnya menggantinya menjadi hari-hari kelam. Imbasnya, Renata yang merasakan. Sikap ketus Andra karena rasa terpukul dirinya karena perceraian yang di akibatkan oleh orang ketiga tersebut membuat Renata yang merasakannya. Padahal ia tidak tahu apa-apa mengenai kejadian-kejadian tersebut. Ia sudah bersikap sebaik mungkin di mata Andra, namun tetap saja ia selalu salah di mata suaminya itu.                                                                     *** Andra masuk kantor dengan wajah datar. Ekspresi wajah yang selalu menghiasi wajahnya sejak ia di sakiti oleh Reva. The person who you loved the most, is the person who hurts you the most. Kalimat tersebut sangat cocok untuk menggambarkan perasaannya tersebut. Ia mencintai Reva lebih dari ia mencintai dirinya sendiri namun yang ia dapatkan adalah Reva yang mengkhianatinya dengan cara yang sangat menyakitkan. "Kenapa wajahmu selalu datar begini sih?" tanya Diana melihat adiknya yang tengah membuka sebuah map berwarna hijau. "Memang seperti ini kok" jawab Andra cuek. "Mau apa kemari? Kan laporan yang kemarin sudah aku oper ke kamu, ada yang salah?" tanya Andra ambil tetap melihat isi dari map tersebut. "Nggak, nggak ada masalah dengan laporan yang kemarin kok. Cuman aku mau minta tolong sama kamu untuk gantikan aku di rapat nanti siang. Aku harus ke sekolahnya Nafa, hari ini dia pembagian rapot" ucap Diana yang di kursi di dpean meja kerja Andra. "Kenapa bukan Helmi saja yang mengambil rapot Nafa, kenapa harus kamu?" tanay Andra sekenannya. "Untuk urusan ambil rapot itu jelas urusanku, lagi pula dia juga harus menjadi mamanya yang sedang sakit. Makanya beberapa hari ini dia tinggal di rumah orang tuanya, karena adiknya masih di luar kota" sahut Diana. "Yaudah, bilang ke Nafa dan Dio, Om Andra kangen" Andra menitipkan salam untuk kedua keponakannya. "Kamu tahu, mereka lebih kangen dengan Tante Renata ketimbang dengan Om Andra-nya mereka" ucap Diana geli sambil keluar dari ruang kerja adiknya itu. Renata. Masih segar di ingatannya ia bersikap kasar dan ketus pada wanita yang jelas-jelas tidak memiliki kesalahan padanya itu. "Oh maaf Renata, aku harus menghukum mu karena sudah menerima perintah untuk menikah denganku. Kamu pikir aku gak bisa cari istri sendiri?" ucap Andra seakan ia berbicara pada Renata. "Hmm aku hanya perlu mencari momen yang tepat untuk memamerkan Renata pada Reva, wanita sialan itu tentu harus tahu mantan suaminya sudah menikah lagi dengan wanita mandiri yang bisa kerja sendiri tanpa menopang hidup dengan suami" ucapnya yang tanpa sadar membanggakan Renata. Eh tunggu . . . . kenapa aku malah jadi membanggakan Renata sih ?! 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD