Setelah makan malam di sebuah kedai makan dekat supermarket, mereka pun pulang. Tidak ada sepatah kata apapun yang terucap di antara mereka. Mbak Siti merasa tidak enak karena bertemu dengan orang yang paling di benci oleh majikan lelakinya. Meskipun Reva pernah menjadi majikannya, tetap saja semua yang telah Reva lakukan sudah membuat Andra terluka sangat dalam dan mengubah sikap Andra. Begitu juga dengan Renata. Bayangan postur tubuh Reva dan caranya memandang dirinya membuatnya terus terngiang-ngiang. Ia merasa canggung menatap Andra yang fokus menyetir mobil.
Sampai di rumah, Mbak Siti dengan sigap langsung menurunkan semua belanjaan dan menaruhnya pada tempatnya, alih-alih membantu pembantunya, Renata justru dilarang oleh Mbak Siti yang malah menyuruhnya untuk beristirahat saja. Andra langsung masuk ke dalam rumah tanpa membantu dua wanita tersebut. Ia bersikap seakan tidak ada yang terjadi, namun sebenarnya hatinya tidak berhenti berdebar karena dengan refleks merangkul pinggang ramping Renata. Meskipun tidak pernah memakai pakaian yang terbuka, namun Andra laki-laki normal. Dirinya yang tidak pernah menyentuh Renata lebih dari sekedar berpegangan tangan jelas merasakan debaran aneh di dadanya. Dan ini juga pertama kalinya mereka melakukan kontak fisik yang cukup bahkan sangat dekat.
"Jadi itu yang namanya Reva?" tanya Renata yang sudah tidak tahan dengan kecanggungan di antara keduanya. "Iya" sahut Andra singkat sambil menghembuskan napasnya. Andra sudah memprediksi, Renata pasti akan menanyakan hal ini. "Kenapa memangnya?" tanya Andra. "Enggak apa-apa" sahut Renata cepat. "Aku tahu dia memang seksi. Dari dulu memang cara berpakaiannya kayak gitu" ucap Andra cuek sambil membuka kausnya dan melempar kasar ke laundry box dan kemudian duduk di tepi ranjang. Kamu juga seksi kalau begini ucap Renata dalam hatinya. Andra memang tidak memiliki tubuh yang atletis, namun ia termasuk bentuk tubuh ideal karena rajin jogging setiap weekend. Renata memang polos. Namun ia tidak sepolos kertas putih. Berusia dua puluh lima tahun bukanlah usia remaja.
"Perlu kamu tahu, dua tahun menikah dengannya dan aku sama sekali belum pernah 'menyentuhnya' " ucap Andra yang berdiri hanya menggunakan celana saja. "Maksud kamu?" tanya Renata. Belum pernah menyentuhnya? Masa Andra nggak pernah sentuh tangannya Reva sih? Tanya Renata dalam hatinya. "Heh usiamu dua puluh lima tahun, jangan konyol tidak mengerti maksudku" ucap Andra sedikit kesal dan mengambil pakaian tidurnya. "Aku benar-benar gak mengerti maksud ucapan kamu" sahut Renata yang memang benar-benar tidak mengerti maksud Andra. "Maksud kamu, selama dua tahun itu kamu belum pernah sentuh tangannya Reva, contohnya gitu?" tanya Renata. Andra tercekat sekaligus gemas dengan istrinya. "Maksudku, aku belum pernah melakukan hubungan badan dengan Reva!" ucap Andra sambil berkacak pinggang menatap istrinya yang beberapa sentimeter lebih pendek darinya.
Renata yang mendengarnya kaget sendiri. "Oh.. ma-maaf aku benar-benar nggak mengerti yang kamu maksud" ucap Renata terbata-bata. "Umur kamu sudah dua puluh lima, nggak lucu kamu nggak mengerti yang aku maksud. Malu sama umur" sentak Andra dengan sangat kasar. Tanpa menghiraukan istrinya, Andra masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan menggosok gigi. Renata akhirnya melangkah menuju lemari pakaiannya dan mengambil piyama tidurnya. Setelah Andra keluar dengan wajah kecutnya, Renata masuk ke dalam kamar mandi. Entah mengapa ia merasa minder melihat mantan istri suaminya tersebut. Tubuhnya masih terlihat kencang, caranya berpakaian juga modis. Renata berani bertaruh harga celana jeans yang di kenakan Reva pasti bermerek dan tentunya mahal. Tas tangan berwarna merah juga pasti setara harganya dengan sebuah motor matic. Kulitnya putih mulus dan kencang tentunya hasil karya dokter estetika yang sudah pro dan bayarannya juga pasti mahal.
Ia berkaca di sebuah cermin berbentuk oval di kamar kandi. Tubuhnya tidak seberapa di banding dengan tubuh milik Reva. Pantas saja jika Andra dulu tergiur dengan lekuk tubuh Reva. "Badanku macam gini jelas saja, mana bisa menarik perhatian. Aku gak heran kalau dulu Denny bosan" ucap Renata sambil bercermin. Tapi sesaat kemudian, Renata bersyukur dengan bentuk tubuhnya yang sebenarnya pas untuk ukuran badannya. Mungkin jika ia mengikuti segala macam treatment seperti yang Reva –mungkin saja- lakukan, ia tidak tahu bentuk tubuhnya bakal seperti apa dan berapa banyak uang yang akan ia keluarkan per bulannya untuk melakukan treatment tersebut.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, lalu mencuci wajahnya dan menggosok gigi Renata keluar dari kamar mandi. Ia mendapati Andra yang sedang menatap ponselnya dengan senyuman kecil di wajah suaminya. Namun saat Andra memalingkan wajahnya ke arah Renata, senyum itu seketika surut. Renata hanya menghela napas dan beranjak ke tempat tidur.
***
Seperti biasa, Renata pergi ke kantor. Namun wajahnya semakin hari semakin sedih meratapi sikap Andra yang semakin hari semakin menunjukkan rasa tidak suka pada dirinya. Apa Andra menyesal karena sudah menikahinya? Apa Andra baru menyadari dirinya tidak semenarik mantan istrinya yang seksi itu? "Pagi-pagi sudah melamun" Reno mengejutkan kakaknya yang tengah terdiam menatap kosong layar komputer di depannya. "Kamu! Dari dulu selalu buat aku kaget, sama saja dengan Rino" jawab Renata. Reno tersenyum usil karena berhasil membuat kakaknya terkejut, untuk kesekian kalinya. "Bagaimana kabarmu setelah menikah?" tanya Reno sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Renata menangguk. "Kalian belum berencana memberikan aku dan Rino keponakan ya?" tanya Reno iseng. Renata tersentak mendapatkan pertanyaan tersebut. Sudah tiga bulan menikah dan ia atau pun Andra sama sekali belum memiliki rencana untuk urusan momongan. Ia menjadi sedikit merasa bersalah belum memberikan cucu sekaligus keponakan untuk orang tua dan kedua adik kembarnya.
"Hmm belum, kamu nggak lihat pekerjaanku sebanyak ini?" tanya Renata mengalihkan perhatian. Suara ketukan pintu membuatnya dan Reno menoleh ke arah pintu masuk ruang kerjanya. Seorang office boy datang menjinjing dua paper bag berukuran besar di kedua tangannya. "Bu, ini ada titipan untuk Ibu dari Bu Davina" ucap office boy tersebut menaruh kedua paper bag di atas meja Renata. "Terima kasih ya" ucap Renata sambil tersenyum. Bawahannya pun keluar tanpa menunggu di suruh. "Davina habis darimana bawakan kamu oleh-oleh sebanyak ini?" tanya Reno. "Dia habis liburan dari Jepang" ucap Renata sambil menarik salah satu paper bag berwarna merah tersebut dengan senyuman. "Kayaknya banyak oleh-olehnya, bagi-bagi untukku dan Rino ya?" ucap Reno sambil mengedipkan sebelah matanya jahil.