“Sayang, aku berangakat dulu ya?” Pamit Dicka. “Iya sayang. Hati-hati. Kalau udah selesai langsung pulang. Jangan kemana-mana.” “Iya sayang. Kamu hati-hati di rumah ya.” “Iya sayang.” Dicka mengecup bibir Fiona, lalu mengecup kening Fiona. “Kalau ada orang dateng lagi, hati-hati. Nggak usah dibukain pintu kalau kamu nggak kenal. Mengerti?” “Iya sayang mengerti. Dadah…. Hai-hati.” Dicka pun pergi meninggalkan Fiona dan menuju kantor. Selama perjalanan ke kantor pun, yang ada di pikiran Dicka hanya Fiona. “Gimana gue nggak semakin jatuh cinta, kalau Fiona semakin hari semakin cantik dan sikapnya juga semakin hari semakin manis seperti itu. Arrrggghh.... Tapi di sisi lain gue juga takut kalau tiba-tiba ingatan Fiona balik lagi. Gue taku kalau Fiona membenci gue, karena gue udah kele

