Penakut?

1223 Words
Hujan yang sangat lebat diiringi kilat dan petir menemani hampir sepanjang malam itu. Mata Dhananjaya mungkin tertutup, tapi hatinya merasa tak tenang tanpa alasan. Ia pun bangkit dari ranjang, entah apa alasannya ingin keluar kamar. Tepat ketika keluar dari kamarnya, Dhananjaya melihat pintu kamar Indah sedikit terbuka. Dari kejauhan saja, ia dapat melihat bahwa lampu kamar itu masih menyala. Artinya, si pemilik kamar itu juga belum tertidur. Merasa penasaran, Dhananjaya berjalan ke arah kamar Indah. Dari luar, Dhananjaya sedikit mengintip ke dalam. Pandangannya mendapati Indah yang sedang duduk di atas lantai, di dekat ranjang. Merasa ada yang aneh, akhirnya ia masuk ke dalam. “Indah?” panggilnya membuat Indah tersentak kaget. Dhananjaya ikut tercengang melihat reaksi Indah. “Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu belum tidur?” tanyanya seraya mendekat. Indah tidak merespons apa pun, matanya tidak berkedip saat menatap Dhananjaya seolah memastikan bahwa pria itu benar suaminya. Namun, kepalanya mendadak tak ingin diam, menoleh ke arah jendela dan Dhananjaya secara bergantian. Raut wajahnya terlihat tegang, takut yang teramat, tampak seperti orang linglung. “Indah?” Dhananjaya semakin bingung. “Pak Jay belum tidur?” Indah menatap waspada. “Naik ke atas.” Dhananjaya menunjuk ranjang menggunakan dagunya. Perlahan Indah berdiri, lalu naik ke atas ranjang. Dhananjaya tetap berdiri di tempatnya, mengamati Indah yang sedang menyelimuti dirinya. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia berbalik untuk keluar dari kamar. Namun sebelum itu, satu tangannya terangkat menuju saklar untuk mematikan lampu. “Tidak! Jangan dimatikan!” pekik Indah tepat saat lampu mati. Dhananjaya menyalakan lampu kembali setelah dua detik mati. “Tidur yang baik itu dalam kondisi lampu tidak menyala,” ucapnya tanpa menoleh ke belakang. “Aku mohon. Aku tidak bisa tidur,” lirih Indah terdengar memprihatinkan. Dhananjaya berbalik, melihat tubuh Indah yang bergetar hebat. “Kamu menangis?” tanyanya khawatir. “Ada masalah? Siapa yang membuatmu menangis?” lanjutnya setelah berdiri tepat di samping ranjang. Indah tak menjawab, malah menutup wajah dengan kedua tangannya, menangis yang entah apa penyebabnya. “Indah?” Dhananjaya makin bingung. “Ah!” jerit Indah sambil meloncat ke arah Dhananjaya, tepat saat petir menyambar hingga membuat kaca jendela terdengar bergetar. Dhananjaya tetap tenang, terlepas sebesar apa kepanikan dan ketakutan Indah yang saat ini memeluknya erat tanpa Indah sadari. “Indah?” panggilnya tanpa melakukan apa pun. “Aku takut,” cicit Indah semakin mengeratkan pelukannya tatkala petir terus terjadi saling bersahutan. “Apa anak-anakku perempuan? Kenapa kamu sangat cengeng?” cibir Dhananjaya tak suka. “Maaf.” Indah melepaskan pelukannya, tersadar akan apa yang ia lakukan itu tak sopan. “Bisakah aku tidur di kamar Pak Jay? Aku akan tidur di sofa, tidak akan tidur di ranjang. Aku mohon,” sambungnya memelas. “Kamu sangat takut petir?” tebak Dhananjaya tak percaya. “Itu kelemahanku.” Indah menunduk malu. “Tidurlah. Aku akan tetap di sini sampai kamu tertidur,” ujar Dhananjaya setenang mungkin. Tidak ada yang tahu selega apa Indah mendengar kalimat itu. Akhirnya, ia bisa mencoba untuk tidur dengan ditemani Dhananjaya. Memang, wanita bertubuh ramping itu memiliki kelemahan saat melihat kilatan yang terlihat di jendela, apalagi mendengar guntur yang terasa berdengung di telinganya. Jika hujan disertai kilat dan petir terjadi di malam hari, maka Indah tidak akan bisa tertidur tanpa ditemani seseorang. Selain penakut oleh hantu, ia juga sangat takut pada kilat dan petir, juga kegelapan. “Jangan dimatikan,” pinta Indah setelah berselimut diri, sedangkan Dhananjaya berniat untuk memadamkan lampu. Alhasil, Dhananjaya tidak jadi mematikan lampu melainkan berjalan ke arah sofa dan berbaring di sana. Ya, secanggung itu dua manusia yang sudah berstatus suami dan istri. Bagaikan orang asing, Dhananjaya tidak ingin berbaring di ranjang. Tidak, bukan itu, Dhananjaya hanya takut tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh Indah. Sedangkan saat ini, kandungan istrinya masih sangat rawan dan dokter sudah melarang agar tidak berhubungan badan dengan cara biasanya, yaitu harus dengan sangat hati-hati. Membayangkan saja, Dhananjaya tidak yakin bisa selembut yang disarankan dokter. Jadi, tidak menyentuhnya sama sekali itu lebih baik untuknya. Ternyata, setelah ada Dhananjaya di sana pun Indah tetap tidak bisa tidur. Hal itu karena Dhananjaya mengatakan akan pergi setelah ia tertidur. Bukannya tidur, ia malah membayangkan suaminya itu yang akan meninggalkannya. Tak henti Indah mengangkat sedikit kepalanya, hanya untuk melihat Dhananjaya yang berbaring di sofa, di dekat jendela. Setelah cukup lama di sana, Dhananjaya yang sedari tadi memperhatikan Indah, yakin istrinya itu sudah tertidur karena tidak lagi bergerak seperti tadi. Akhirnya ia bangkit dari sofa dengan gerakan sangat pelan, berniat untuk meninggalkan kamar itu karena udara semakin dingin. Baru empat langkah menjauh dari sofa, Indah terduduk dengan cepat. “Jangan pergi. Atau, izinkan aku tidur di kamar Pak Jay. Aku mohon,” rengeknya memelas. “Kamu belum tertidur juga?” Dhananjaya jengkel sendiri. Kenapa Indah tampak seperti anak kecil? “Karena Pak Jay bilang akan pergi setelah aku tidur, jadi aku tetap tidak bisa tidur,” jawab Indah polos. “Kalau hujan seperti ini, biasanya Bapak tidur di lantai dan aku tidur di ranjang hanya untuk menemaniku,” tambahnya sedikit bercerita. “Dan aku harus melakukan itu?” Dhananjaya ingin memastikan maksud keinginan Indah. “Pak Jay bisa tidur di sini, biar aku yang tidur di sofa.” Indah turun dari ranjang, hendak pindah ke sofa. Siapa sangka, guntur menyambar tanah sangat keras hingga penyebabkan listrik mati. Di saat itu juga, Indah berlari ke arah sang suami hingga tubuhnya menubruk, lalu memeluknya sangat kuat. Dhananjaya tetaplah Dhananjaya, ia tetap tenang dalam situasi apa pun. Namun, kali ini tubuh Indah terasa bergetar, tangis pun mulai pecah. Indah menutup mulutnya sendiri dengan menempelkan wajahnya pada tubuh Dhananjaya guna meredakan isakan tangis yang tak bisa ia kendalikan. Dhananjaya merasa serba salah. “Tunggu sebentar. Aku akan membawa selimutku.” “Tidak perlu. Pak Jay bisa pakai selimut milikku.” Indah tak ingin ditinggal sebentar saja. “Kamu akan kedinginan. Dasar bodoh.” Dhananjaya bergumam pelan, tak habis pikir. “Aku tidak kedinginan,” bantah Indah yang mendengar samar ucapan sang suami. Dhananjaya membawa Indah kembali ke ranjang, dan wanita itu mencekal lengannya secara spontan. Dia memang tidak memintanya untuk tidur bersama, tapi apa yang dilakukannya sudah membuktikan bahwa wanita itu sangat penakut hingga tak ingin Dhananjaya tidur di sofa, melainkan tidur di ranjang bersamanya. Bahkan tanpa sungkan atau terkesan tak tahu malu, Indah memeluk lengan kokoh Dhananjaya. Kepalanya segaja dibenamkan ke bantal, tak ingin melihat kegelapan. Dhananjaya yang memiliki hati sedingin es dan sekeras batu itu mulai merasa iba. Tadi ia tidak peduli, tetapi mengapa ia merasa tak tega melihat ketakutan Indah? Apa Indah memang memiliki phobia akan hujan, kilat, guntur dan kegelapan? Dhananjaya kehabisan kata untuk mengabsen kelemahan istrinya. Pada akhirnya, Dhananjaya memiringkan tubuhnya menghadap Indah, menempatkan kepala wanita itu di lengannya, lalu memeluknya cukup erat. Indah tidak membalas pelukan, kedua tangannya bersembunyi di dekat perutnya seolah takut makhluk halus akan menyentuhnya. Malam itu menjadi malam terindah yang pernah Indah temui setelah menikah. Pria dingin dan kaku itu berhasil membuatnya nyaman berada dalam dekapannya. Aroma itu, aroma tubuh Dhananjaya yang sangat khas telah Indah rindukan sejak pria itu tak lagi menyentuhnya. Indah tentu tahu alasan Dhananjaya tak menyentuhnya, yaitu kehamilannya, sama seperti kehamilan pertama. Tak peduli Dhananjaya terpaksa atau tidak memeluknya, ia hanya menikmati situasi itu. Bahkan jika bisa meminta, ia ingin pria itu ada di sisinya setiap malam. Namun, untuk meminta hal tersebut pada pria yang sudah menjadi suaminya itu Indah tidak berani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD