Merasa Bersalah

1333 Words
Di atas ranjang, di dalam kamarnya, Indah berbaring dengan asal. Matanya menatap jendela tanpa minat. Ia sangat bosan, benar-benar bosan. Semenjak kehamilannya, Dhananjaya melarangnya untuk keluar rumah. Ia tidak bisa lagi menikmati waktu di luar rumah bersama Jasmin. Jasmin sendiri mengerti keadaannya yang harus beristirahat total. Jadi, dia juga tidak berani untuk mengajak kakak iparnya keluar. Mengingat ada TV di kamar Dhananjaya, entah keberanian dari mana Indah ingin menonton TV di kamar suaminya itu. Ada TV di ruang tengah, hanya saja Indah tidak berani untuk menonton di sana. Jika ia menonton TV di sana, maka para pelayan yang biasanya mondar-mandir di dalam rumah akan mengetahuinya dan Indah tak ingin mendengar larangan siapa pun. Dengan langkah pelan seperti pencuri, Indah masuk ke dalam kamar Dhananjaya. Berhubung pemilik kamar sedang berada di kantor, tentu kamar itu tidak ada yang menjaganya, tidak ada orang-orang Dhananjaya yang biasanya selalu ada di sekitar sana. Indah bergegas menyalakan TV, lalu duduk di atas sofa yang letaknya tepat di depan ranjang menghadap ke arah TV yang menempel di tembok. Di sela-sela menontonnya, pastilah ada hal yang mengganggu hingga membuat Indah menunggu, apalagi jika bukan iklan? Saat kepalanya menelisik kamar itu, memperhatikan hiasan satu per satu, tiba-tiba saja hatinya tertarik pada satu hiasan di sana. Indah dengan berani mendekati meja sudut yang terdapat beberapa hiasan, tapi Indah hanya mengambil satu di antara beberapa hiasan. Hiasan itu berbentuk bulat seperti bola, warnanya kuning terang seperti emas. Entah apa alasannya, ia begitu terpaku melihat hiasan yang terlihat sederhana tapi memikat hati. Sedang asyik memperhatikan hiasan itu secara mendetail, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Sontak, Indah sangat kaget hingga melepaskan hiasan itu dari tangannya. Hiasan itu pecah, hancur berkeping-keping. Alda yang melihat hiasan itu hancur langsung melotot tak percaya. Indah sebenarnya tidak sekaget itu. Justru ia kaget melihat reaksi Alda yang menandakan barang tersebut sangat berharga. “Indah .... ” Alda sulit berkata-kata, wajahnya terlihat frustasi membuat Indah diserang perasaan panik. “Apa yang kamu lakukan di sini?!” tanyanya membentak. “Aku ... a—aku hanya menonton TV.” Indah sangat gugup, menunjuk-nunjuk ke arah TV yang menyala. “Ya ampun, barang ini sangat mahal, Indah! Ini barang kesayangan Pak Jay!” Alda membungkukan tubuhnya, memeriksa kepingan dari hiasan yang pecah. “A—apa?” Indah menatap getir. “Habislah kita! Aku tidak mau tahu, kamu harus menjelaskan ini kepada Pak Jay!” gertak Alda, lalu menghentak-hentakan kakinya ketika keluar dari kamar tersebut. Indah melirik ke arah serpihan. Mengetahui bahwa barang itu adalah barang kesayangan Dhananjaya, ia sudah dapat membayangkan akan sebesar apa amarah suaminya nanti. Dari serpihan yang berceceran, Indah dapat menebak bahwa benda itu terbuat dari emas asli. Tidak ada yang tahu setakut dan sebesar apa penyesalannya kini. Bahkan, rasa-rasanya ia ingin meninggalkan rumah itu agar tidak bertemu suaminya sendiri. Di dalam kamarnya, Indah memperhatikan telapak dan jari-jarinya yang terluka akibat serpihan barang tadi. Sebagai bentuk penyesalannya, ia sendiri yang membersihkan pecahan di kamar Dhananjaya. Namun, Alda meminta serpihan itu untuk disimpan di kamar itu dan tidak dibuang sebagai bukti pecahnya barang tersebut. Pintu kamar Indah terbuka, menampilkan sosok Dhananjaya yang segera masuk ke dalam. Indah yang saat itu duduk di tepi ranjang langsung bangkit. Langkahnya yang gugup terus mundur sedikit demi sedikit, menghindari Dhananjaya yang terus berjalan ke arahnya. Seperti biasanya, wajah pria itu selalu dingin, tak tahu apa dia sedang marah atau tidak. Merasa percuma jika mengelak, Indah menurunkan tubuhnya, bertekuk lutut. “Pak Jay ... maafkan aku ... Aku tidak sengaja melakukannya. Aku ... aku akan membayarnya. Aku berjanji,” ucapnya sambil terisak di dekat kaki Dhananjaya. “Bangun!” sentak Dhananjaya menggema. Indah mengangkat wajahnya, tapi enggan untuk bangkit. “Tolong maafkan aku,” lirihnya. “Aku bilang, bangun!” Dhananjaya tak mengerti atas apa yang Indah lakukan. Perlahan Indah bangkit, mundur dua langkah, tak berani berdekatan. “Apa yang kamu lakukan?” Dhananjaya kembali bertanya. Indah menatap takut. Dengan ragu ia mencoba menjelaskan, “Aku ... aku memecahkan barang kesayanganmu, Pak Jay. Aku tidak sengaja, aku bersumpah, aku—” “Bukan itu! Apa yang baru saja kamu lakukan?” “Meminta maaf?” tebak Indah bingung. “Lalu?” Indah diam sejenak, mengingat apa yang ia lakukan selain meminta maaf. “Ber ... bersujud?” jawabnya ragu-ragu. “Itu kesalahanmu. Jika kamu ingin merendahkan dirimu, jangan pernah membuat anak-anakku juga merendahkan diri!” maki Dhananjaya karena memang itu yang membuat dirinya geram. “Maaf.” Indah masih menatap bingung, tak mengerti jalan pikir Dhananjaya yang terlalu berlebihan perihal anaknya. “Jangan pernah lakukan hal itu lagi di masa depan. Kamu mengerti?” pinta Dhananjaya tegas. Indah ingin menjelaskan tindakannya, “Tapi ... aku salah. Aku memecahkan barang berhagamu. Aku—” “Apa yang kamu pecahkan?” Dhananjaya ingin tahu, penasaran apa yang membuat Indah begitu merasa bersalah. Indah kikuk. Jadi, suaminya itu belum mengetahui bahwa barang kesayangannya telah hancur? Sekarang, Indah lebih takut lagi. Khawatir dengan respons Dhananjaya jika ia memberitahu. Namun, mustahil Indah tidak mengakuinya. “Benda di kamarmu ... pecah. Aku tidak sengaja.” “Apa yang kamu lakukan di kamarku?” tanya Dhananjaya yang memang belum memasuki kamarnya. “Menonton TV.” Indah menjawab pelan. Benar saja, reaksi Dhananjaya malah semakin menakutkan. Dhananjaya sudah menarik napas untuk bicara, tapi Indah menyela, “Aku tidak berani menonton di ruang TV.” “Dan kamu lebih berani menonton TV di kamarku?” Dhananjaya jelas semakin tak mengerti dengan tindakan Indah. Bukan tidak boleh menonton di kamarnya, hanya saja alasan Indah yang lebih berani menonton di kamarnya dibandingkan di ruang TV. Sebenarnya, lebih privasi mana kamar dan ruang TV? “Aku tidak akan mengulanginya.” Indah menunduk malu juga takut. “Apa kamu pikir, ada benda di dunia ini yang lebih berharga daripada kehormatan anak-anakku? Jika kamu menghancurkan mobilku saja, itu tidak harus membuatmu berlutut padaku!” oceh Dhananjaya melotot jengkel. “Maaf. Alda bilang, barang itu sangat berharga bagimu. A—aku tidak bisa membayarnya meski dengan nyawaku sekalipun.” Untuk yang pertama kalinya, Indah berani mengadu. Ia tak ingin disalahkan perihal permintaan maafnya yang terkesan berlebihan, padahal memang Alda yang menyebabkan rasa bersalah itu ada. Dhananjaya menyipitkan matanya, mengamati wajah Indah seolah sedang mencari kebohongan di sana. Namun, ia yakin Indah tidak asal bicara apalagi menuduh orang. “Aku akan mengurus wanita itu,” kecamnya. “Jangan. Alda tidak salah, aku yang bersalah,” cegah Indah dengan maksud lain. Jika suaminya menyalahkan Alda, sudah dipastikan wanita itu akan memakinya besok saat Dhananjaya tidak ada di rumah. “Dia sudah menghasutmu, membuatmu merasa bersalah hanya karena hal kecil!” maki Dhananjaya kesal. Melirik ke arah perut Indah yang masih rata, Dhananjaya melihat kedua tangan Indah yang sedang bersahutan di depan perutnya. Yang menarik perhatian adalah luka-luka yang membuat kulit tangannya memerah. Tanpa aba-aba, Dhananjaya meraih tangan Indah seolah ia ingin memeriksanya. “Apa yang terjadi?” tanyanya dingin. “Hanya terkena serpihan saat aku membersihkan barang pecah tadi.” Indah meringis menahan sakit saat Dhananjaya meraba bagian kulit yang terluka. Dhananjaya menatap spontan. “Kamu yang membersihkannya?” Jelas saja ia tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Indah mengangguk konyol, merasa tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukannya, tapi mengapa ia merasa Dhananjaya marah? Memangnya apa yang salah? Monolog Indah dalam hati. “Indah, aku tidak tahu siapa dirimu. Aku tidak tahu mungkin saja dulu kamu memang seorang pelayan atau terbiasa melakukan perkerjaan pelayan, tapi sekarang kamu tidak perlu melakukannya. Kita memiliki banyak pelayan di rumah ini,” cibir Dhananjaya tak santai, tatapannya jelas tidak bersahabat untuk ditatap balik. “Maaf.” Percuma saja membela diri, Indah lebih baik meminta maaf walaupun ia tetap merasa tidak bersalah telah membersihkan serpihan. Dhananjaya tak ingin melanjutkan ocehannya lagi, yang ia khawatirkan adalah ativitas Indah yang dapat mempengaruhi pertumbuhan janinnya. “Apa mereka baik-baik saja?” Dhananjaya sedikit melembut saat mengusap perut Indah dengan sayang. Indah menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Suaranya seolah habis sehingga ia tak ingin menjawab apa pun dari mulutnya. “Kamu harus menjaganya dengan sangat baik, mengerti?” Dhananjaya terdengar sedang mengancam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD