Hadiah dari Dhananjaya

2225 Words
Sebuah ketukan di pintu berhasil membuat konsentrasi Indah yang saat itu sedang membaca terganggu. Menarik, sepertinya yang datang bukanlah seorang pelayan, tapi entah siapa. Indah bergegas membuka pintu, dan mendapati dua orang asing di depan kamarnya. Di samping mereka, ada sebuah dus berukuran sangat besar. Dari luarnya saja, yakin isi dalam dus tersebut adalah TV. Dhananjaya yang membelikan TV? Entah mengapa, Indah merasa hatinya berbunga-bunga hanya karena sebuah TV. Mungkin saja suaminya itu mulai kasihan padanya atas kejadian kemarin? Indah tak bisa berkata-kata, senang bukan main. Terlebih, dua orang itu langsung memasangnya hingga TV menyala dan dapat digunakan saat itu juga. “Indah.” Jasmin medorong pintu hingga menimbulkan celah. Melihat Indah yang sedang menonton TV, Jasmin langsung masuk sebelum si pemilik kamar sempat menyahuti. “Wah, sejak kapan ada TV di sini?” tanyanya sedikit terkejut. “Beberapa jam yang lalu.” Indah tersenyum riang. “Kamu yang membelinya?” Jasmin ikut duduk, tatapannya tak teralih dari layar TV seolah barang tersebut sangatlah asing untuknya. “Tentu saja kakakmu. Aku tidak berani membeli apa pun.” Indah sempat menatapnya dengan malas, lalu memasukan potongan camilan ke dalam mulutnya. “Sungguh? Kak Jay yang membelikannya?” Jasmin tersenyum bangga. “Apa rencana kita berhasil? Kakak sudah menyukaimu?” lanjutnya dengan antusias. “Jangan harap kakakmu menyukaiku,” jawab Indah tak jelas, mulutnya penuh berisi makanan. “Kenapa?” Jasmin kebingungan dengan lontaran Indah. “Aku tidak pantas.” Indah cemberut, sadar akan dirinya yang tidak akan pernah pantas disandingkan bersama Dhananjaya. “Apa kamu menuruti kata-kataku?” Jasmin ingin memastikan bahwa Indah sudah menuruti nasehatnya agar kakaknya tertarik. “Tidak.” Indah menggeleng dengan tenangnya. Jasmin memutar bola matanya dengan malas. Ia sudah sering menasehati kakak iparnya itu, tapi Indah selalu tidak melakukannya dengan berbagai alasan. Bagaimana Indah bisa menurutinya jika yang disarankannya itu memang tidak bisa ia lakukan? Indah harus berpakaian sexy? Bersikap manja dan manis? Memakai make up setiap hari? Paling parahnya adalah Indah harus menggoda Dhananjaya? Tidak, Indah tidak bisa melakukannya. Kalaupun ia melakukannya, bukan jaminan suaminya itu akan tertarik dan menyukai atau bahkan mencintainya. Lagi pula, Indah tahu diri siapa dirinya yang jauh dari kata layak untuk suaminya sendiri. “Kamu harus terbiasa, Indah. Bagaimana Kak Jay akan menyukaimu jika kamu sendiri tak ingin melakukan perubahan?” Jasmin tampak kesal, bingung dengan cara apa lagi agar kakak laki-laki dan istrinya bersatu. “Bukankah cinta itu hadir tanpa alasan? Lantas, untuk apa aku menjadi orang lain untuk menarik perhatian kakakmu?” Indah menatap penuh makna, sayangnya Jasmin tak mengerti maksudnya. “Yang kamu katakan itu memang benar, tapi ... Sudahlah, terserah kamu saja. Kamu memang sulit diberitahu.” Jasmin malas berbicara panjang lebar. “Mau ke mana?” tanya Indah saat Jasmin bangkit dari duduknya. “Aku harus siap-siap untuk berangkat kuliah.” Jasmin lanjut berjalan ke luar, meninggalkan kamar tersebut. Kejutan dari Dhananjaya tidak hanya sebuah TV saja. Pasalnya, tak lama dari perginya Jasmin, salah satu orang suruhan Dhananjaya datang untuk menyerahkan sesuatu kepada Indah. Barang itu tidak lain adalah sebuah ponsel keluaran terbaru. Namun, segel dari dus ponsel tersebut sudah terbuka, yang artinya ponsel itu sudah diotak-atik lebih dulu. Ternyata, sudah ada nomor Dhananjaya, Hendra, nomor rumah, bahkan beberapa nomor pelayan di dalam ponsel itu. Demi apa pun, Indah tak percaya pria itu memberikannya ponsel, barang yang sempat ingin dimintanya, tapi tak berani menyerukannya secara langsung. Sudah berjam-jam Indah sibuk dengan ponselnya. Bagaimana tidak? Ia tidak pernah memiliki ponsel sebelumnya. Sekarang, ia harus belajar sendiri menggunakan alat komunikasi cenderung serba guna itu. Ada salah satu aplikasi yang menawarkan berbagai makanan dan minuman siap antar di ponsel tersebut. Dari banyaknya makanan dan minuman yang begitu menggugah selera bagi yang melihatnya, Indah hanya tertarik dengan makanan kesukaannya. Masalahnya, ia tidak memiliki uang cash. Adapun kartu yang diberikan Hendra yang tentu dari Dhananjaya, ia tidak bisa menggunakannya. Bisa dibayangkan, definisi orang kampung yang benar-benar tak tahu perkembangan zaman, Indahlah orangnya. “Pak, bisa aku minta bantuanmu?” Untuk yang pertama kalinya Indah menghubungi seseorang menggunakan ponselnya, Hendra. “Jangan basa-basi. Cepat katakan.” Nada Hendra sungguh tak enak didengar. Indah tersentak, merasa malu karena sudah berani menghubungi pria itu. ”Tidak jadi,” ucapnya pelan. “Apa yang kamu butuhkan? Kenapa tidak minta pelayan untuk membantumu? Kamu tahu, saya sangat sibuk mengurus kepentingan Pak Jay. Sedangkan di rumah ada banyak pelayan.” Hendra tak habis pikir. “Maaf ... maaf mengganggu, Pak.” Indah tak menyangka Hendra akan sekasar itu. “Cepat katakan!” desak Hendra tak sabar. “Tidak penting. Lupakan .” Indah tidak berniat untuk menyerukan keinginannya. Tanpa menunggu balasan, Indah langsung mengakhiri panggilannya. Kalimat pria itu telah membuatnya sakit hati yang teramat. Indah baru saja merasa senang karena memiliki ponsel baru, tapi kesenangannya itu lenyap, tergantikan kesedihan hatinya yang tak bisa ia kendalikan lagi. Di rumah itu, tidak ada yang bisa Indah mintai pertolongan selain Jasmin dan Imah. Sedangkan nomor kedua orang itu tidak ada di dalam ponsel Indah. Keluar kamar untuk menemui mereka juga tidak diperbolehkan. Jadi, salahkan dirinya yang ingin meminta bantuan Hendra? “Indah? Apa yang terjadi?” tanya Jasmin ketika mengunjungi kamar Indah sebelum berangkat kuliah. Indah menggelengkan kepalanya, berusaha untuk terlihat baik-baik saja tetapi tidak berhasil. Pada kenyataannya, ia tetap cemberut, wajahnya merah, begitu pun dengan matanya yang diyakini habis menangis. “Ada masalah?” Jasmin penasaran. Lagi-lagi Indah menggeleng tanpa menjawab apa pun dari mulutnya. “Kamu sedang bertengkar dengan Kak Jay?” Jasmin hanya asal tebak. Sekali lagi, Indah menggeleng. “Lalu?” “Bisakah kamu membantuku?” Indah terdengar merengek seperti anak kecil. Kali ini, Jasmin yang menganggukan kepalanya, penasaran akan ucapan Indah selanjutnya. Indah bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan ke arah lemari. Jasmin tak tahu apa yang sedang Indah lakukan. Yang ia lihat, wanita yang merupakan kakak iparnya itu membawa dompet dari dalam lemari dan sekarang ia sedang berjalan ke arahnya. “Ambil ini dan kirimkan aku saldo untuk beli makanan secara online.” Indah menyodorkan sebuah kartu dengan wajah polosnya. Jasmin kehabisan kata-kata. Ingin sekali memaki, akan tetapi ia tahu Indah sangat sensitif saat ini. Jasmin tidak berniat mengambil kartu itu selain tatapannya yang tertuju pada wajah Indah dan kartu itu saling bergantian. Sadar ucapannya menyebabkan Jasmin terlihat konyol, Indah menjelaskan, “Aku tidak tahu caranya mengambil uang.” Setelah mengatakan itu, cengiran malu muncul di bibirnya, memperlihatkan sedikit deretan giginya. Jasmin masih bingung harus berkata apa. Ingin tertawa, ingin memaki, dan yang lainnya. Namun, ia pun merasa prihatin saat menyadari kesendirian Indah di rumah itu. “Makanan apa yang kamu inginkan? Biar aku minta seseorang untuk membelikannya.” Jasmin sudah siap-siap ingin menghubungi seseorang untuk membelikan makanan yang Indah inginkan. “Tidak perlu. Aku akan membelinya sendiri. Aku hanya butuh saldo.” Indah tak ingin merepotkan. “Baiklah, aku akan mengirimkan saldo. Dan ini, simpan kembali.” Jasmin tak ingin pusing selain menyanggupi permintaan Indah. Ia pun meminta kakak iparnya itu untuk menyimpan kembali kartunya. “Ambil saja.” Indah tak ingin mengambil kembali semata-mata uang di dalam kartu itu untuk menggantikan saldo yang dikirim Jasmin. “Jangan membuatku kesal.” Jasmin memperingati, lalu mengotak-atik ponselnya, mengirimkan saldo ke nomor yang diberikan Indah. “Terima kasih,” kata Indah ketika melihat notifikasi masuknya saldo di ponselnya. “Apa yang keponakanku inginkan?” tanya Jasmin sambil mengusap perut Indah dengan sayang. “Hanya makanan biasa.” Indah malu mengatakan makanan biasa yang akan dipesan nanti. “Baiklah. Aku harus pergi.” Jasmin berdiri, lalu merapikan pakaiannya yang sebenarnya sudah rapi. “Hati-hati. Terima kasih saldonya.” Indah tersenyum senang dan Jasmin membalas senyuman sebelum akhirnya ia berlalu dari pandangan. Tak menunggu apa pun lagi, Indah segera memesan makanan yang ia inginkan. Makanan itu sudah berhari-hari ia idamkan, tetapi tidak pernah ia serukan. Selain takut mendapat cacian karena menginginkan makanan yang tidak ada di rumah itu, Indah juga malu mengatakan makanan keinginannya yang terkesan makanan biasa. Melihat maps yang memperlihatkan kurir sudah dekat, Indah keluar dari kamarnya. Yakin tidak ada orang di bawah, ia pun turun ke lantai dasar dan melanjutkan langkahnya ke pintu samping yang biasanya digunakan para pelayan. Aman, tidak ada satu pun pelayan yang melihatnya keluar dari rumah Abraham. Niatnya ingin menunggu kurir di gerbang, siapa sangka ternyata security mengizinkan kurir untuk masuk dan Indah dapat mengambil makanannya tanpa harus berjalan ke gerbang. “Bagus. Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu tak tahu aturan rumah ini? Kamu dilarang untuk turun ke sini.” Suara seorang wanita tak jauh dari Indah yang hendak menaiki tangga. Indah menoleh ke arah wanita itu, dan saat itu juga ia ketakutan. “Maaf, Nyonya. Aku hanya sebentar,” ucapnya pelan. “Tidak peduli sebentar atau tidak, kamu tetap tidak diperbolehkan untuk menunjukkan wajahmu pada siapa pun!” Wanita itu, Maria, memaki seperti biasanya setiap kali bertemu Indah. “Alda!” teriaknya sambil berjalan tak tentu arah. “Nyonya.” Alda datang dengan napas terengah-engah, berlari menghampiri Maria. “Lihatlah wanita itu, dia sudah berani menampakkan wajahnya padaku! Seret dia ke kamarnya dan awasi agar tidak keluar lagi dari sarangnya.” Maria menunjuk dengan ibu jarinya ke arah Indah yang berdiri di tempatnya. Mengikuti arah yang ditunjuk Maria, Alda langsung mengumpat dalam hatinya. Dengan lembut ia berkata pada Maria, “Nyonya, maafkan—” “Apa yang terjadi?” sela Dhananjaya yang baru saja pulang bersama beberapa orang di belakangnya. Maria menghampiri Dahananjaya. Jarinya kembali menunjuk Indah saat mengadu, “Jay, lihatlah dia. Dia sudah berani keluar kamar. Bukankah dokter sudah memberinya nasehat agar tidak menaiki anak tangga? Bagaimana dia bisa bertindak sesukanya? Kamar dia ada di lantai tiga!” “Biar aku yang tangani.” Tatapan Dhananjaya tertuju pada Indah, tak peduli kepada ibunya yang terlihat sangat marah. “Menyebalkan!” sentak Maria sambil berjalan meninggalkan tempat itu. “Aku permisi, Pak, Bu.” Alda ikut pergi, menyusul majikannya. “Apa—” “Maaf, Pak, aku hanya sebentar, aku tidak akan ke sini lagi.” Indah memotong ucapan, tahu Dhananjaya akan berkata apa. “Apa yang kamu bawa?” tanya Dhananjaya tak santai. Sedangkan saat itu, orang-orang Dhananjaya termasuk Hendra masih berdiri di tempatnya. Hanya saja, mereka menundukan kepalanya, tidak berani menyaksikan apa yang terjadi. “Makanan.” Indah menunduk takut. “Makanan?” Dhananjaya mengulangi kata Indah, merasa curiga. “Aku memesannya online,” jelas Indah memberitahu. “Apa di rumah ini tidak ada makanan? Kenapa kamu harus memesannya?” Dhananjaya jelas sedang menyinggung. “Makanan yang kupesan tidak ada di sini,” jawab Indah apa adanya. Indah bisa meminta dimasakkan makanan keinginannya pada pelayan. Namun dari jawaban Indah, Dhananjaya curiga istrinya itu membeli makanan yang memang tidak bisa dibuat di rumah. Ia menebak dengan waspada, “Apa itu? Jangan katakan kamu memesan makanan pinggiran. Itu tidak sehat.” “Aku menginginkannya.” Indah merasa tak enak, tapi juga seperti memohon agar Dahananjaya tidak melarang untuk memakannya. “Kembali ke kamarmu,” pinta Dhananjaya tak ingin mempermasalahkan makanan. Belum sempat menyahuti apa pun, dengan gerakan cepat Dhananjaya menggendong Indah untuk membawanya ke lantai atas. Indah jelas kaget, sangat kaget karena Dhananjaya melakukannya begitu saja tanpa peringatan. Indah lebih tak nyaman lagi karena orang-orang Dhananjaya melihatnya. “Aku bisa berjalan sendiri,” cicit Indah malu. “Dokter tidak menyarankan.” Dhananjaya menatap lurus ke depan, tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang berada di pangkuannya. Salah satu orangnya berjalan mendahului saat Dhananjaya sampai di lantai tiga. Orang itu pun membukakan pintu, lalu pergi dari hadapan Dhananjaya, memasuki ruangannya yang bertempat di samping kamar tuannya itu. “Maaf merepotkanmu, Pak,” kata Indah setelah Dhananjaya menurunkannya. “Kenapa harus kamu yang turun? Apa pelayan di rumah ini kurang?” Bukan pertanyaan, tetapi sanjungan Dhananjaya kepada istrinya yang merasa sangat asing di rumah itu. “Aku ... tidak berani meminta bantuan.” Indah hanya bisa jujur. Tak mungkin ia mengatakan bahwa para pelayan tidak akan menuruti permintaannya. “Kamu menantu di rumah ini. Kami sudah membayar semua orang yang bekerja di rumah ini dengan harga tinggi. Lain kali, minta bantuan pelayan, jangan pernah tinggalkan kamarmu.” Dhananjaya berpesan panjang lebar. Indah membuang napas kasarnya ke sembarang arah, menggelengkan kepala saat mendengar pesan Dhananjaya. Meminta bantuan pada pelayan? Sungguh, ia tidak berani walau sikap mereka sekarang tidak sesinis dulu. Indah tetap merasa kecil dan rendah. Ia pun sadar siapa dirinya yang ada hanya karena sebuah keterpaksaan. “Makan selagi hangat. Jika sudah cukup kenyang, beristirahatlah,” titah Dhananjaya. “Terima kasih atas TV dan ponselnya, Pak.” Indah tersenyum senang yang bercampur malu. “Sekarang, tidak ada lagi alasanmu untuk keluar dari kamar, apalagi sampai ke lantai bawah. Kamu dengar itu?” Dhananjaya memperingati. “Baik.” Indah mengangguk cepat. “Gunakan ponselmu sebaik mungkin. Jangan lakukan hal yang tidak berguna,” pinta Dhananjaya tegas. “Maaf.” Indah merasa tersinggung karena menghubungi Hendra tadi. “Untuk apa?” Dhananjaya berubah bingung. “Ti—tidak ada.” Indah gugup seketika. “Kamu tidak berbakat untuk berbohong padaku, Indah.” Dhananjaya tak berniat pergi sebelum Indah menjawab jujur. “Minta maaf karena apa? Aku benci mengulang pertanyaan.” “Maaf karena aku memesan makanan.” Indah beralasan. Dirasa masuk akal, Dhananjaya percaya saja. Ia pun pergi dari sana, meninggalkan Indah sendirian. Aman, Indah merasa lega karena suaminya tak mendesak jawaban. Sepertinya dia memang tidak menyinggungnya soal menghubungi Hendra tadi. Untung saja Indah tak mengadu, bisa-bisa Hendra mendapat masalah karenanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD