Liburan Abraham

2418 Words
Keluarga Abraham dikabarkan akan berlibur ke Amsterdam, Belanda. Liburan mendadak itu karena ada dua hal. Yang pertama, perusahaan yang dipimpin Dhananjaya, Abraham Technologi, akan menjalin kerja sama dengan perusahaan besar di sana. Yang kedua, merayakan kelulusan Jasmin. Awalnya hanya Dhananjaya, Basuki, Haidar dan orang-orang penting di kantornya yang akan terbang ke Amsterdam. Namun, karena Jasmin wisuda satu minggu yang lalu, Maria dan keluarga Haidar sepakat untuk merayakannya di Amsterdam. Hanya satu dari keluarga Abraham yang tidak ikut, siapa lagi jika bukan Indah? Jangankan diajak berlibur, siapa pun kecuali Jasmin tidak ada yang memberitahunya perihal liburan yang akan keluarga Abraham lakukan. Indah ingin ikut. Tentu saja! Namun, Dhananjaya yang merupakan suaminya sendiri tidak mengajaknya, Indah sadar diri siapa dirinya. Belum lagi Maria ikut berlibur, tak mungkin wanita itu mau berlibur bersama Indah. Intinya, tidak ada harapan untuk ikut berlibur bagi Indah. “Indah, mintalah untuk ikut berlibur. Bila perlu, menangislah agar Kak Jay membawamu.” Jasmin merengek seperti anak kecil. “Aku tidak ingin ikut. Lagi pula, itu acara keluargamu,” jawab Indah lembut, tidak ada nada yang mengandung kekecewaan saat mengatakannya. “Apa maksudmu? Kamu juga bagian dari kami, keluarga Abraham.” Jelas, Jasmin memprotes atas lontaran Indah yang terdengar santai tapi menusuk. Indah belum sempat menjawab apa pun, Jasmin bergegas pergi meninggalkannya begitu saja. Langkahnya yang tak santai, menandakan dirinya tak sabar untuk menemui kakaknya. Beberapa orang yang berdiri di dekat ruangan sang kakak, ia lewati dengan acuh bahkan terkesan sombong. Jasmin masuk ke ruangan Dhananjaya tanpa permisi. Mulutnya yang sudah gatal langsung mengoceh dengan nada rengekan, “Kenapa Kak Jay tidak ingin membawa Indah? Dia pasti kesepian. Aku tidak mungkin tidak ikut, tapi Indah bisa ikut bersama kita.” “Perjalanan menuju Amsterdam sangat jauh. Kakak lebih khawatir pada anak-anakku,” sahut Dhananjaya dengan santainya. “Tapi Indah pasti kesepian. Aku yang biasa menemaninya.” Jasmin terus membujuk, berharap kakaknya itu memiliki belas kasih pada istrinya sendiri. “Kakak akan meminta beberapa pelayan untuk menemaninya.” Keputusan Dhananjaya tidak bisa diganggu gugat. Jasmin kehabisan kata untuk terus membujuk. Sekeras apa pun Jasmin meminta, mustahil kakaknya itu menarik kembali ucapannya. Pada akhirnya, ia keluar dari ruangan itu dengan kesal. Bukan hanya bualan semata, Dhananjaya memang khawatir dengan kondisi Indah jika ikut ke Amsterdam. Jelas, karena akan memakan waktu hingga empat belas jam lamanya di dalam pesawat. Sebelum berangkat, Dhananjaya menyempatkan diri untuk menemui Indah. Sudah satu minggu tidak bertemu karena ada urusan di luar kota, dan saat ini ia akan kembali meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama. Rindu? Entah, Dhananjaya hanya ingin memastikan keadaan wanita itu. “Apa kamu tidak memiliki pakaian lain?” Dhananjaya menelisik tubuh Indah yang terlihat sesak akibat perutnya yang semakin membesar. “Bukankah Pak Jay tidak mengizinkanku untuk keluar rumah?” Indah terkesan balik menyalahkan suaminya. “Kamu bisa membelinya secara online,” kilah Dhananjaya seenaknya. “Baik.” Tak ingin berseteru, Indah mengangguk saja. “Aku akan pergi selama dua minggu. Jaga kandunganmu baik-baik,” kata Dhananjaya dingin. Indah hanya bisa mengangguk lemah seraya tersenyum canggung. Dhananjaya tidak berniat untuk mengatakan apa pun lagi, jadi ia berbalik untuk keluar dari kamar Indah. Namun baru sampai gawang pintu, Indah memanggilnya, “Pak Jay.” Dhananjaya berhenti, berbalik menatap Indah yang masih berdiri di tempatnya. “Bisakah aku meminta sesuatu?” tanya Indah ragu-ragu. “Kamu bisa mengirim pesan pada Jasmin. Dia yang akan memilihkan barang untukmu.” Dhananjaya mengangguk satu kali setelah terdiam beberapa detik, menebak permintaan Indah yaitu oleh-oleh. “Tidak, bukan itu.” Indah menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Lalu?” Dhananjaya tetap berdiri di tempatnya dengan bingung. “Bisakah ... berpamitan pada anak-anak?” pinta Indah yang sempat terhenti, ragu antara mengucapkannya atau tidak. “Apa itu harus?” Dhananjaya mengerutkan keningnya, sedikit terkejut. Namun, kaki Dhananjaya langsung melangkah tanpa menunggu jawaban Indah. Tepat di dekat istrinya itu, ia tak ragu untuk membungkukan tubuhnya. “Ayah akan pergi cukup lama. Baik-baik di sana,” ucapnya tepat di perut Indah yang sudah mulai membuncit, mengusapnya dengan sayang. “Terima kasih.” Indah tersenyum manis, terlihat lega setelah suaminya melakukan hal sekecil itu. Dhananjaya tidak membalas apa pun selain segera keluar dari kamar itu. Seolah menunggu giliran, Jasmin masuk untuk berpamitan. Berulang kali ia memeluk Indah, mengusap perutnya dengan lembut. Tampak tidak tega meninggalkannya, tapi tidak mungkin juga ia tidak ikut. Suasana terasa sepi saat semua keluarga pergi. Orang-orang Dhananjaya yang biasanya berdiri di dekat ruangan sang majikan, kini tidak ada, ikut bersama majikannya itu. Adapun pelayan, hanya Imah yang lebih sering menemaninya. Namun, Indah merasa lebih bebas di rumah itu. *** Sudah dua malam Indah tidur bersama Imah di kamarnya, dan setiap malam ia merasa sangat lapar. Padahal, ia sudah makan dalam porsi banyak saat makan malam. Tidak ada makanan yang tersisa, semua makanan yang diantarkan pelayan ke kamarnya sudah habis. Jujur saja, Indah sendiri merasa bingung dengan perubahan nafsu makannya. Melihat Imah yang sudah tertidur lelap di sofa, Indah tak tega untuk membangunkannya. Merasa aman jika keluar kamar karena semua keluarga sedang tidak ada, akhirnya ia berani turun ke bawah, ke dapur. Banyaknya makanan yang tersimpan di dalam kulkas, Indah sangat senang karena bisa makan sepuasnya. Bukan hanya malam itu, tapi malam-malam selanjutnya Indah selalu terbangun dari tidurnya karena lapar. Mulai terbiasa, Indah tak sungkan untuk ke dapur dan makan makanan di sana dengan leluasa. Selama berhari-hari melakukan itu, tidak ada satu pun pelayan yang menyadari bahwa ia sering makan malam seorang diri. “Bagaimana kabar Indah?” “Ibu baik-baik saja, Pak.” “Jangan biarkan dia melakukan tugasmu.” “Sesuai perintahmu, Pak.” Tanpa ingin bertanya yang lainnya pada Alda, Dhananjaya memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Jasmin yang sedang berdiri cukup jauh darinya, dapat mendengar apa yang ditanyakan kakaknya itu melalui sambungan telepon. Seketika itu Jasmin tersenyum, hatinya menghangat ketika mengira kakaknya itu mengkhawatirkan Indah. “Apa Kak Jay memikirkan Indah?” Jasmin mendekat, tersenyum geli. Melihat mimik Jasmin, Dhananjaya tahu adiknya itu sedang menggoda. Dengan tegas ia berkata, “Kakak memikirkan anak-anak.” “Sungguh?” Jasmin menaikan satu alisnya, terus menggoda kakaknya dengan seringai nakal. “Makan wanita itu sangat buruk. Kakak harap anak-anak tidak memiliki tubuh kerdil seperti dia.” Dhananjaya berdecih. “Aku akan berbelanja bersama Ibu dan yang lainnya. Apa Kakak ingin membelikan sesuatu untuk istrimu?” Jasmin tak ingin membahas perhatian kakaknya lagi, melainkan menawarkan bantuan. Dhananjaya terdiam sesaat, memikirkan jawabannya sendiri. Mengingat pertemuan terakhirnya bersama Indah, ia merasa tak nyaman dengan pakaiannya yang membentuk sempurna perut buncitnya. Mungkin saja memang tidak ada pakaian lain, bukan? Sedangkan perutnya sudah dipastikan akan terus membesar. “Beli pakaian longgar untuknya. Dua keponakanmu kemungkinan merasa sempit dengan pakaian ibunya.” Dhananjaya memberikan satu kartu dari dompetnya pada Jasmin. “Tentu.” Jasmin mengangguk paham. “Jasmin,” panggil Dhananjaya ketika Jasmin hampir saja menghilang dari pandangan. Jasmin berhenti, menunggu ucapan Dhananjaya selanjutnya. “Beli yang lainnya juga. Kakak tidak tahu apa, terserah kamu saja. Apa yang menurutmu cocok untuknya, ambil saja,” pinta Dhananjaya tak jelas. “Andai Indah juga ikut, dia bisa memilih sendiri barang yang diinginkannya.” Jasmin tersenyum pahit, lalu pergi meninggalkan Dhananjaya yang mematung di tempat. Belum sempat melakukan apa pun, Rega masuk ke dalam ruangan. Ya, selain Haidar dan istrinya, Rega serta istrinya pun ikut berlibur. Hubungan antara Dhananjaya dan Rega terbilang biasa saja, tidak bisa dikatakan jauh ataupun dekat. Namun, dia tahu bahwa pernikahan Dhananjaya dan Indah hanyalah pernikahan kontrak, yakni Dhananjaya akan segera menceraikan Indah setelah wanita itu melahirkan. “Kenapa kamu tidak membawa istrimu, Jay? Aku yakin, dia pasti merasa kesepian saat ini.” Rega meluncurkan bokongnya di atas sofa yang nyaman. “Ada banyak pelayan yang menemaninya.” Dhananjaya ikut duduk namun di sofa yang berbeda. “Aku dengar, Indah tidak memiliki keluarga lagi. Artinya, kamulah satu-satunya yang dia miliki.” Rega menatap Dhananjaya dalam-dalam. Ada makna yang terdapat dalam ucapannya, dan ia harap adik sepupunya itu mengerti. “Setelah Indah melahirkan nanti, apa kamu akan tetap menceraikannya?” lanjutnya bertanya. “Tidak ada alasan untuk membuatnya tetap tinggal.” Dhananjaya menggeleng lemah, tampak tidak berdaya. “Kamu berhak memutuskan, Jay. Jika hatimu tidak keberatan, jangan ceraikan dia. Minta dia untuk tetap tinggal dan ikut membesarkan anak-anakmu.” Rega memberi nasehat. “Apa kamu pernah berpikir, jika kamu menceraikannya, ke mana dia harus pergi? Dia tidak memiliki keluarga. Kepada siapa dia harus berkeluh kesah?” sambungnya dengan arti terselubung. “Kontrak sudah menentukan segalanya.” Dhananjaya bangkit, lalu pergi guna menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Mempertahankan Indah? Apa alasannya? Cinta? Apa itu cinta, dan bagaimana bentuknya? Dhananjaya tidak tahu sama sekali tentang cinta. Di usianya kini yaitu 29 tahun, ia tidak pernah merasakan jatuh cinta. Perasaannya setelah menikah hanya satu, yaitu tanggung jawab. Indah adalah wanita yang sudah ia nikahi, artinya ialah yang harus bertanggung jawab tentang kenyamanan wanita itu dan yang lainnya. Kontrak yang tertulis sudah menyatakan Indah akan diceraikan jika sudah melahirkan. Dalam kontrak itu juga tertulis, ada sebuah apartemen yang akan menjadi milik Indah, serta uang sebesar satu milyar. Uang itu tidak termasuk dengan biaya pengobatan sang ayah yang sudah digunakan lebih dulu. Satu lagi, rumah pemberian Sanjaya juga akan menjadi miliknya. Dalam kata lain, Dhananjaya tidak akan merasa khawatir dengan kehidupan Indah nantinya. Di tempat lain Maria tidak sengaja menemukan sebuah bill yang menunjukan total barang yang dibeli Jasmin. Merasa aneh karena yang dibeli Jasmin kebanyakan berukuran besar, akhirnya ia pun mendesak putrinya agar menjawab jujur. Setelah beberapa kali berbohong, akhirnya Jasmin berkata jujur bahwa kebanyakan pakaian yang dibelinya untuk Indah. Jelas saja, Maria begitu murka hingga Jasmin terkena ocehannya di sepanjang perjalanan pulang ke villa. “Jay, jangan pernah memanjakan wanita itu! Dia akan terbiasa dengan barang mewah, dan itu tidak baik untukmu!” maki Maria saat baru saja sampai. “Aku belum pernah memanjakannya.” Dhananjaya menggeleng pelan, tatapannya yang tajam tertuju pada netra sang ibu yang terlihat kesal. Jasmin menyusul. Ia pun ingin menjelaskan sesuatu saat berkata, “Ibu—” “Kamu juga. Sudah Ibu peringatkan berulang kali, jangan pernah berteman dengan wanita seperti itu! Dia tidak setara dengan kita!” Jari telunjuk Maria melayang di udara saat menunjuk-nunjuk wajah Jasmin dari jarak yang sangat dekat. “Maria? Ada apa ini?” Basuki buru-buru memasuki ruangan. “Lihatlah anak-anakmu. Mereka mulai menentangku!” Maria melotot kesal. Sedangkan saat itu, Dhananjaya tetap pada posisinya, duduk di sofa dengan tenangnya. Setidaknya, ia memang sudah dapat menduga apa yang akan dikatakan sang ibu perihal tindakannya, yaitu meminta Jasmin agar memilih pakaian untuk Indah. “Aku tidak menentangmu, Bu.” Jasmin membantah dengan cepat. Melirik ke arah Basuki, ia mengadu dengan jujur, “Ayah, aku hanya memilihkan pakaian yang cocok untuk Indah. Apa yang salah dengan itu?” Tidak terima dengan alasan yang diberikan Jasmin, Maria kembali memakinya, “Kamu yang salah! Berteman dengan wanita itu sama saja mencoreng nama keluarga kita. Kamu selalu membelanya—” “Maria, hentikan.” Basuki berusaha menjadi penengah walau sebenarnya tidak tahu secara jelas apa yang sedang dipermasalahkan. “Tidak! Aku tidak bisa diam saja seterusnya. Wanita itu dibelikan barang-barang mahal! Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin wanita itu menginginkan kemewahan lagi dan lagi!” teriak Maria semakin menjadi. “Apa yang membuat Ibu kesal? Apa dia merugikanmu, Bu?” tanya Dhananjaya dengan tenangnya, jelas sedang menyinggung aksi sang ibu yang meributkan hal tidak penting. “Kamulah yang dirugikan! Adikmu itu memilih pakaian yang berkelas seperti kita! Untuk apa? Apa kamu pikir dengan barang mahal, kehormatannya akan naik? Tidak! Dia tetaplah wanita kampung, sampai kapan pun!” Maria membela diri, tidak terima dengan sanjungan Dhananjaya. “Dia adalah istriku, dia yang akan melahirkan anak-anakku.” Dhananjaya menatap sengit. Maria semakin membulatkan matanya, melotot kesal. “Jay—” “Cucumu bukan hanya satu, tapi dua sekaligus. Selama ini, dia tidak pernah meminta apa pun padaku. Dan saat ini, aku hanya ingin membelikannya pakaian yang longgar. Pakaian sebelumnya sudah tidak cukup karena ada dua cucumu di perutnya.” Dhananjaya menjelaskannya dengan tenang, tidak dengan hatinya yang terasa tercubit entah apa penyebabnya. Maria tetap tidak terima. “Masalahnya adalah, adikmu yang memilih pakaian berkelas—” “Jasmin menggunakan uangku, bukan uangnya apalagi uangmu, Bu. Apa pun yang dia dapatkan, memang sudah sepantasnya dia terima.” Sekali lagi, Dhananjaya berusaha untuk tetap tenang. ”Jay?” Maria tidak percaya bahwa Dhananjaya juga menentangnya sekarang. “Maria!” Basuki jengah, menyeret Maria agar keluar dari ruangan itu. Selepas orang tuanya keluar dari ruangan, Jasmin langsung mendekati Dhananjaya. “Kakak, aku mohon lindungi Indah dari kata-kata Ibu yang dapat menyakitinya. Aku tahu pernikahan Kakak bersama Indah karena terpaksa. Tapi tolong, lindungi dia selama menjadi istrimu,” pintanya sungguh-sungguh. Matanya berkaca-kaca, tak tega jika Indah mendapat hinaan dari Maria secara jelas. “Kakak sudah melakukan apa yang harus Kakak lakukan.” Dhananjaya mengangguk singkat. “Dia sangat rapuh, Kak.” Jasmin pergi setelah mengatakan itu. Selesai memandikan diri, Dhananjaya memeriksa ponselnya dan melihat notifikasi panggilan tidak terjawab. Panggilan itu dari Indah, lima menit yang lalu. Melihat jam yang menunjukkan pukul tujuh malam, artinya saat ini di Indonesia pukul dua belas malam. Indah belum tidur? Merasa penasaran, akhirnya Dhananjaya menghubunginya. Namun, Indah tidak menjawabnya di panggilan pertama. Tidak puas sebelum mendengar suara istrinya, Dhananjaya terus menghubunginya hingga sebanyak empat kali. Baru setelah itu, Indah mau menjawab panggilannya. “Kamu menghubungiku?” “Aku hanya salah tekan.” “Kamu menangis?” “Aku baik-baik saja.” “Apa ada masalah?” “Aku hanya sedang ingat orang tuaku.” “Siapa yang menemanimu?” “Imah.” “Sudah malam, tidurlah.” “Baik.” Dhananjaya mengakhiri panggilan, lalu menatap layar ponselnya dengan perasaan bingung. Suara Indah terdengar bergetar menandakan wanita itu sedang atau sesudah menangis. Awalnya Dhananjaya mengira istrinya itu sedang mengalami masalah, tapi Indah mengatakan bahwa dirinya sedang mengingat orang tuanya. Di sebrang sana, Indah menangis dalam diam. Tidak, ia tidak sedang mengingat orang tuanya. Beberapa saat yang lalu, ia meminta Imah untuk membawa makanan ke kamarnya. Imah menurutinya, membawa makanan yang ternyata milik Alda. Tidak perlu dijelaskan, Alda murka hingga meminta Imah untuk tidak menemani Indah tidur. Masalah kecil, seharusnya Indah tidak begitu terluka oleh ucapan dan tindakan Alda. Lagi pula, ia sudah tahu bagaimana sikap wanita itu, bukan? Nyatanya, masalah kecil itu membuat hatinya tersakiti hingga rasa-rasanya tak ingin makan dan minum lagi setelah ini. Bukan orang tuanya yang Indah ingat, melainkan suaminya. Sempat ingin mengadu, tapi ia tak mau Alda atau mungkin Maria memakinya karena mengadu. Atau, mungkin saja Dhananjaya akan berselisih paham dengan Maria dan hal itu akan membuat Maria semakin membencinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD