Pulang - Rindu

1503 Words
Liburan telah usai, saatnya keluarga besar Abraham kembali ke Indonesia. Jasmin tak sabar untuk segera sampai ke rumahnya. Ia sudah membayangkan bagaimana respons Indah saat melihat oleh-oleh yang dibawanya. Jasmin sempat berniat untuk membelikan pakaian baru untuk Indah, tapi ia urungkan. Ia rasa, bukan hanya dirinya saja yang merasa prihatin atas pakaian Indah yang sudah tidak cukup, tapi Dhananjaya pun demikian. Terbukti, kakaknya itu memintanya untuk memilihkan pakaian untuk istrinya. Memasuki kamar Indah, Jasmin tidak mendapati wanita itu sedang menonton TV seperti dugaannya. Saat melirik ke arah ranjang, ternyata Indah sedang berselimut diri. Mungkin kakak iparnya itu sedang tidur siang? Jasmin tidak peduli. Ia ingin Indah tahu bahwa semuanya sudah kembali. “Indah, bangunlah. Kamu harus menyambutku. Ayok, bangun.” Jasmin menggoyahkan lengan Indah dengan gerakan cepat. Indah sedikit bergerak. Matanya perlahan terbuka. Sadar suara siapa yang berbicara, ia berbalik hingga Jasmin dapat melihat wajahnya. Jasmin yang semula tenang, mendadak panik melihat wajah Indah yang pias seperti sedang sakit. “Kamu baik-baik saja? Apa kamu sedang sakit?” Jasmin menyentuh wajah Indah tanpa sungkan. “Aku akan bangun,” kata Indah dengan suara parau. “Tidak. Kamu sedang sakit.” Jasmin menahannya agar tidak bangkit. “Alda!” panggilnya sangat keras. “Aku baik-baik saja, Jasmin.” Indah meyakinkan sekali lagi. Namun, Jasmin tidak menghiraukan Indah. Ia sendiri yang memeriksa suhu tubuhnya, dan ia tahu wanita itu sedang demam. Sebagai ketua pelayan, Alda seharusnya tahu kondisi Indah. Lama menunggu Alda yang tidak datang juga, Jasmin bangkit untuk keluar dari kamar itu. Ketika membuka pintu, Dhananjaya ada di depannya. “Apa yang terjadi?” tanyanya penasaran. “Istrimu demam.” Jasmin memberitahu. “Apa?” Dhananjaya tersentak. Tanpa bertanya yang lainnya, Dhananjaya masuk ke dalam kamar Indah. Sedangkan Jasmin, lanjut keluar untuk memanggil Alda, wanita yang seharusnya bertanggung jawab atas Indah. Melihat kedatangan Dhananjaya, Indah tidak bisa menahan diri untuk tidak bangkit dari baringnya. Tubuh lemahnya pun tidak dihiraukan, Indah senang melihat Dhananjaya, suaminya yang sangat ia rindukan. “Selamat datang kembali, Pak Jay.” Indah tersenyum manis, berdiri di dekat ranjang. Dhananjaya tidak menyahuti, melainkan tangannya yang terulur untuk memeriksa kening Indah. Benar, wanita itu sedang demam. Namun, mengapa tidak ada laporan yang ia terima sebelumnya? Setiap kali menghubungi Alda, dia mengatakan bahwa istrinya baik-baik saja. “Apa dokter sudah memeriksamu?” Dhananjaya ingin tahu. “Aku baik-baik saja.” Indah menggeleng pelan, tersenyum ringan, berharap suaminya itu tidak mengkhawatirkannya. “Kamu demam. Berbaringlah,” kata Dhananjaya seraya membawa tubuh Indah ke atas ranjang. Tak lama dari itu, Alda masuk ke dalam kamar. Entah mengapa, perasaannya dirasa tidak enak. Ia pun tidak berani menatap wajah Dhananjaya yang sudah dipastikan sedang kesal. Sementara Jasmin, tidak masuk kembali ke sana melainkan ke kamarnya. “Pak Jay.” Alda membungkuk hormat. “Apa yang terjadi?” Dhananjaya berdiri, menyembunyikan satu tangannya di belakang tubuh. “Ti—tidak ada, Pak. Bu Indah hanya sedang tidak nafsu makan.” Alda menggeleng, suaranya terdengar gugup. Menoleh ke belakangnya, Dhananjaya bertanya pada Indah, “Benar begitu?” Indah mengangguk sebagai jawaban. Dhananjaya kembali menatap Alda. “Kamu sudah memanggil dokter?” tanyanya. “Aku akan segera memanggilnya,” jawab Alda takut-takut. “Jadi belum?” Dhananjaya menatap tajam, geram karena Alda begitu lalai menurutnya. “Tadi pagi Bu Indah tidak apa-apa,” elak Alda sekenanya. “Pergilah,” usir Dhananjaya dan Alda segera pergi untuk menemui dokter pribadi. Melirik ke arah nakas, ada piring berisi makanan yang sepertinya tidak Indah sentuh sama sekali. Ada pula buah-buahan, air minum tawar, dan s**u. Semua masih penuh. Padahal, Dhananjaya yakin itu semua sarapan yang seharusnya sudah tandas. “Kenapa kamu tidak ingin makan? Kamu melupakan pesanku? Kamu harus banyak mengonsumsi makanan yang bergizi agar pertumbuhan anak-anakku berkembang dengan baik.” Dhananjaya bertanya, menegur, dan mengingatkan dengan nada lembut. Seseorang mengetuk pintu. Kali ini bukan Alda, bukan pula Jasmin, tapi sopir dan satu orang Dhananjaya. Mereka masuk ke dalam kamar Indah dengan membawa beberapa kantong di tangannya masing-masing. Benar, kantong-kantong itu adalah oleh-oleh yang dipilihkan Jasmin. Indah terlihat bingung, tapi hatinya seolah sudah menduga bahwa barang-barang itu adalah oleh-oleh untuknya. Mengingat barang-barang itu berasal dari luar negeri, siapa yang dapat menahan kesenangannya? Namun, ia berusaha untuk tetap tenang walau sebenarnya ingin segera membuka kantong-kantong itu. “Banyak pakaian yang Jasmin pilihkan untukmu,” kata Dhananjaya ketika menoleh ke arah Indah, melihat istrinya yang kebingungan. “Benarkah?” Indah tidak bisa menahan senyum senangnya. “Apa aku boleh membukanya?” tanyanya kemudian. “Kamu bisa membukanya kapan pun. Tapi sekarang, tunggu dokter datang. Besok, aku harap kondisimu sudah lebih baik. Aku ingin memeriksakan kandunganmu.” Dhananjaya berujar. Tidak menunggu lama, seorang dokter pribadi datang bersama Alda. Dhananjaya tetap di sana, melihat sendiri pemeriksaan yang hanya memakai alat seadanya. Dokter itu mengatakan Indah mengalami stres, memikirkan banyak hal dan gangguan kecemasan. Tekanan darahnya rendah, tubuhnya lemah dikarenakan kurangnya asupan makanan dan minuman. Dhananjaya terus bertanya-tanya pada hatinya, mengapa, mengapa, dan mengapa? Mengapa Indah terkesan mengalami masalah? Masalah apa yang tidak ia ketahui? Maria, jelas wanita itu ikut berlibur sehingga tidak mungkin menjadi pemicu adanya masalah bagi Indah. Orang-orang rumah? Hingga detik ini, Dhananjaya tidak tahu bahwa seluruh pelayan tidak menghormati Indah dan selalu bersikap sinis. Terlebih dengan Alda yang tidak pernah jera dan tetap melakukan apa pun sesukanya tanpa memikirkan sebab dan akibatnya. Dua pelayan membawa nampan berisi beberapa hidangan makanan yang sudah Dhananjaya pesan. Sedangkan sarapan yang masih utuh, diminta untuk disingkirkan. Makanan yang baru saja datang sepertinya baru selesai dimasak, terlihat berasap dan menggugah selera. Namun, tidak untuk Indah yang melihatnya biasa saja. Tidak ada selera untuk menyantapnya. “Makanlah selagi hangat,” titah Dhananjaya sebelum dirinya meninggalkan kamar tersebut. Namun, Indah tidak menyahuti apa pun hingga Dhananjaya menegurnya, “Indah?” “Aku akan makan nanti,” jawab Indah pelan, tetap berselimut diri dengan matanya yang tertutup. Dhananjaya mengembuskan napasnya yang kasar. Harus berbuat apa agar Indah mau makan? Menyuapinya? Baiklah, sepertinya ia harus memastikan sendiri bahwa makanan itu masuk ke dalam perut sang istri. Padahal, dirinya merasa lelah akibat perjalanan yang memakan banyak waktu. Apa boleh buat, ia sendiri tidak akan tenang sebelum memastikan Indah sudah makan dan meminum obatnya. “Bangunlah.” Dhananjaya mengangkat sedikit tubuh Indah, lalu mengganjalnya menggunakan bantal hingga posisi Indah sedikit duduk. Setelah itu, ia membawa piring makanan untuk ia suapkan kepada istrinya itu. “Pak.” Indah menggelengkan kepalanya, ingin menolak suapan. “Jangan membuatku menunggu.” Dhananjaya memperingati dengan tatapan tajamnya, menyodorkan makanan ke mulut Indah. Mau tak mau, Indah terpaksa membuka mulutnya untuk menerima suapan. Namun, entah mengapa hatinya terasa menghangat dengan perlakuan Dhananjaya. Lihatlah, pria kaku itu sedang memaksa istrinya untuk makan. Walau terkesan pemaksa, tidak dapat dipungkiri hal itu membuat hati Indah berbunga-bunga. Apa ia harus terus sakit agar suaminya perhatian seperti itu? “Makanmu sangat buruk. Sadarlah, ada dua nyawa bersamamu. Kamulah yang harus memastikan pertumbuhannya.” Dhananjaya mengoceh di sela-sela kegiatannya menyuapi makanan. “Apa aku boleh meminta sesuatu?” tanya Indah ragu-ragu. “Katakan.” Dhananjaya mengangguk tanpa berpikir dulu. “Bisakah .... ” Indah enggan bicara, merasa keinginannya hal yang tidak wajar. “Ti—tidak jadi.” “Katakan tanpa ragu.” Dhananjaya menatap kesal, tak ingin menunggu. “Tidak penting.” Indah menolak untuk memberitahu, malah bingung untuk mengalihkan pembahasan. “Indah?” Dhananjaya memprotes lewat tatapannya. “Aku tidak suka menunggu.” “A—aku ... aku hanya ingin tidur di sampingmu.” Indah terbata-bata. Melihat reaksi Dhananjaya yang terlihat kaget, ia pun segera menambahkan, “Ta—tapi tidak perlu, aku bisa tidur sendiri.” “Apa mereka yang menginginkannya?” Dhananjaya mengusap perut Indah walau sebenarnya ragu. Indah tidak menjawab ya atau tidak, karena pada kenyataannya ialah yang menginginkan hal itu. Dhananjaya mendesah lemah, “Mereka sangat manja.” Malam itu, Dhananjaya benar-benar mengabulkan permintaan Indah, yaitu tidur di kamarnya. Hanya saja, tidak ada yang menarik. Dhananjaya memang tidur di samping Indah, tapi tidak melakukan yang lainnya seperti halnya memeluknya. Walau begitu, Indah tetap merasa senang. Tidur di samping seorang pria yang sangat mengagumkan menurutnya, sudah cukup bagi Indah. Terlebih, hal itu dapat mengobati keinginannya yang lain, yaitu menghirup aroma tubuhnya walau tidak sepenuhnya. Setidaknya, malam itu adalah malam yang sangat damai bagi Indah. Belum lagi, sejak suaminya pulang ia selalu mendapat perhatian. Dhananjayalah yang selalu menyuapinya makan, ia pula yang menyiapkan obat untuk diminum. Bahkan, suaminya itu dengan sigap mengantarkannya ke kamar mandi apabila Indah ingin buang air. Tepat keesokan harinya, Dhananjaya memeriksakan kandungan Indah untuk mengetahui kondisi kedua bayinya juga jenis kelaminnya. Kondisi Indah sendiri masih sedikit demam, tapi ia tidak menolak karena sudah merasa lebih baik. Bukan hanya Dhananjaya yang ingin mengetahui kondisi kedua bayinya, tetapi ia pun demikian. Menurut penuturan dokter, kondisi kedua bayinya sehat. Hasil USG menunjukan bahwa kedua bayi yang dikandung Indah berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mendengar itu, Dhananjaya bahagia bukan main. Selain ia akan mendapatkan dua anak sekaligus, kedua anak itu juga merupakan sepasang, yang artinya Dhananjaya tidak perlu menginginkan anak lagi dengan alasan belum memiliki anak dengan jenis kelamin yang belum ada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD