Empat hari berlalu
Kondisi Indah sudah pulih seperti sedia kala. Dhananjaya merawatnya dengan sangat baik, memperhatikan setiap asupan gizi yang dikonsumsi. Nafsu makannya pun sudah kembali seperti sebelumnya. Setiap malam, Indah selalu merasa lapar.
Seperti halnya malam ini, Indah merasa sangat lapar. Masalahnya, tidak ada makanan lagi di kamarnya. Dhananjaya sedang berada di luar kota untuk kepentingan bisnis. Semua keluarga sudah pulang, dan Indah tidak bisa leluasa melakukan apa pun termasuk pergi ke dapur di lantai dasar.
Melirik ke arah jam dinding yang menunjukan pukul satu dini hari, semoga saja Maria sudah tertidur dan para pelayan juga sudah pulang ke rumah pondok. Indah benar-benar tidak bisa menahan laparnya, jadi ia memutuskan untuk mencari makanan di dapur.
Di dalam lemari es, ada banyak buah-buahan dan camilan. Indah pun mengantongi beberapa camilan untuk dibawa ke kamarnya sambil mengunyah buah apel. Satu apel itu belum habis dimakan, seorang wanita berdiri di belakangnya, membuatnya menjatuhkan apel tersebut secara spontan.
“Ternyata kamu memang pandai mencuri, ya? Bagaimana aku bisa tahan memiliki menantu sepertimu? Tidak berguna! Kandunganmu sangat lemah. Kamu memang wanita tidak normal!
“Apa kamu memang sering mencuri makanan di malam hari? Ah, aku tahu kenapa. Pasti karena makanan di sini enak, bukan? Dan kamu tidak pernah mencicipinya. Benar begitu?” Maria memaki dengan suara tinggi.
“Maria?” Basuki ikut memasuki dapur, penasaran siapa yang sedang dicaci maki istrinya.
“Lihat wanita itu! Dia berani mencuri makanan. Dia melanggar peraturan rumah ini untuk tidak turun ke bawah!” Maria mengadu, menunjuk Indah dengan ibu jarinya.
“Sudahlah.” Basuki malas mendengar ocehan, terlebih ia kasihan melihat Indah.
“Sudah apanya? Ini tidak bisa dibiarkan! Dia sudah diberi makan setiap waktu, pagi, siang, malam, apa itu tidak cukup?” Maria belum puas bicara, hingga ia mengabaikan ucapan suaminya.
“Hanya makanan, Maria.” Basuki mendesah lemah.
“Katakan, sudah berapa kali kamu mencuri makanan di malam hari?” Maria lebih mendekat, berdiri tepat di hadapan Indah seolah siap menyakiti wanita itu.
“Baru kali ini.” Indah menjawab bohong.
“Baru kali ini? Kamu yakin? Saya akan memutar rekaman CCTV untuk membuktikan ucapanmu!” Maria tak percaya, Indah terlihat meragukan.
“Nyonya, maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi.” Indah buru-buru bersimpuh di kaki Maria. Lebih baik mengakui sekarang, daripada wanita itu memutar rekaman CCTV.
“Hey, tidak perlu seperti itu.” Basuki tersentak, tak menyangka menantunya akan bersujud.
“Biarkan saja. Dia takut kebohongannya terbongkar!” Maria memberikan isyarat agar suaminya berhenti.
Namun, Basuki tak bisa membiarkan Indah terus dalam posisinya seperti itu. Ia pun membantunya untuk bangkit, tak peduli dengan delikan tajam dari sang istri. “Bangunlah.”
“Maaf.” Indah menunduk takut.
“Kembali ke kamarmu.” Basuki mengisyaratkan Indah untuk pergi.
“Awas saja kamu berani lagi turun ke bawah!” Maria memperingati saat Indah melewatinya.
“Sudahlah, Maria. Sikapmu jangan keterlaluan seperti itu.” Basuki tak suka.
“Keterlaluan katamu? Justru aku sedang menghentikan penjahat di rumah ini! Jika dibiarkan, dia akan berani mencuri yang lainnya!” Maria membela diri, memutar kata seenaknya.
“Aku lelah.” Basuki menggelengkan kepalanya, lalu pergi.
Sejujurnya, Basuki tak setuju dengan perlakuan Maria terhadap Indah. Hanya makanan, untuk apa dipermasalahkan? Apalagi, Indah bukanlah orang lain, melainkan menantu di rumahnya. Namun, ia malas berdebat, dirinya lelah karena perjalanan yang cukup jauh.
Di lantai atas, Indah menangis tertahan. Tubuhnya bergetar hebat, tangannya pun demikian. Kalimat Maria yang ditujukan padanya selalu saja mengiris hati, siapa yang akan baik-baik saja mendengarnya? Wanita itu selalu bersikap seperti nyonya, bukan mertua.
Indah sudah meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang, tapi ia urungkan. Tadinya ia ingin menghubungi Dhananjaya, hanya untuk mendengar suaranya yang mungkin dapat membuatnya tenang. Namun, bagaimana jika pria itu tahu dirinya sedang menangis?
Keesokannya, karena takut lapar di malam hari lagi, Indah memesan banyak makanan saat sore hari. Mau bagaimana lagi, ia tidak berani meminta pelayan untuk membawa banyak makanan ketika salah satu dari mereka mengantarkan makan malam untuknya.
“Indah, sudah berapa kali aku bilang, jangan membesarkan makanan luar. Belum tentu bahannya baik dikonsumsi, belum tentu juga cara pengolahannya higienis.” Dhananjaya mengomel saat mendapati Imah yang sedang mengantarkan makanan yang dipesan Indah.
“Permisi, Pak.” Imah mengangguk hormat untuk pergi.
“Tunggu.” Dhananjaya menghentikan Imah pergi. “Bawa kembali kantong itu,” titahnya, menunjuk kantong plastik di tangan Indah.
“Hanya hari ini saja, Pak. Boleh, ya?” Indah memelas.
“Tidak. Berikan pada pelayan, biar dia buang.” Dhananjaya menggeleng tegas.
“Tapi—”
“Minta dia untuk membuatkan makanan yang kamu inginkan.” Dhananjaya tak mau mengubah ucapannya.
“Bu Indah ingin makanan apa? Biar saya buatkan,” tanya Imah lemah lembut.
“Tidak perlu, Bibi bisa pergi.” Indah menolak, karena ia sudah tidak nafsu duluan.
“Kalau begitu, saya permisi.” Imah akhirnya benar-benar keluar dari kamar itu.
“Jangan keras kepala ingin makanan luar.” Dhananjaya sedikit kesal, mengira istrinya sedang merajuk karena tak diizinkan memakan makanan pesanannya.
“Aku akan kelaparan nanti malam.” Indah bergumam pelan, mengusap perutnya yang biasa keroncongan di tengah malam.
“Kamu bicara sesuatu?” Dhananjaya penasaran, suaranya memang tak jelas.
“Tidak.” Indah langsung mengelak.
“Jangan jadikan anak-anak sebagai alasanmu menginginkan makanan luar.” Dhananjaya menatap tajam, lagi-lagi mengira Indah sedang memperalat bayinya demi makanan.
Indah tak bisa meluruskan kesalahpahaman Dhananjaya, tak ingin berkata jujur jika itu akan menjadi sebuah masalah untuknya. Dhananjaya mungkin tak terima atas apa yang dilakukan Maria, dan Indah tak ingin menjadi penyebab pertengkaran ibu dan anak itu terjadi.
Ketakutan Indah terjadi, lapar itu menyerang perutnya kembali. Ia sudah tertidur sebelumnya, tapi terbangun saat ia merasa lapar yang teramat. Ia sendiri bingung, ia sudah makan malam dalam porsi banyak, dan sekarang sudah lapar lagi, seperti belum makan saja.
Mengingat Dhananjaya sudah pulang, entah keberanian dari mana Indah menghubunginya, berharap suaminya itu mau mengantarnya ke dapur, bagai mencari perlindungan kalau-kalau diketahui Maria. Namun baru satu kali deringan, ia memutuskan sambungan telepon.
Indah mengutuk dirinya sendiri yang bertingkah konyol. Bagaimana ia bisa mengganggu Dhananjaya yang sedang tidur? Bagaimana jika pria itu bukannya membantu tapi malah memakinya? Sungguh, Indah merasa sudah gila membayangkan murkanya Dhananjaya.
Akhirnya, Indah memberanikan diri untuk turun ke bawah. Kepalanya tak mau diam, menoleh ke segala penjuru saat menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati. Aman, sepertinya semua orang sudah tidur. Indah langsung membuka lemari es dengan gerakan cepat, takut seseorang melihatnya.
“Indah?” panggil seorang pria yang diyakini berada di belakang tubuh Indah.
Indah terperanjat, jantungnya tiba-tiba saja berdetak tak semestinya. Gerakannya yang sangat pelan, menoleh ke asal suara.
“Maaf,” lirih Indah dengan penampilan wajahnya yang berantakan oleh kue brownies, terlihat sangat lucu.
Dhananjaya menatap lekat, tak tahu harus berkata apa. Saat Indah mencoba menghubunginya tadi, ia langsung terbangun. Ia bergegas keluar dari kamarnya untuk memeriksa Indah. Belum sempat sampai, ia melihat tubuh mungil wanita itu memasuki dapur.
“Makanlah.” Dhananjaya menghentikan pergerakan Indah yang sedang memasukkan makanannya kembali ke dalam lemari es.
Indah menatap seketika, tak percaya dengan apa yang dikatakan Dhananjaya. Pria itu mengizinkannya untuk makan? Atau, mungkin saja pria yang irit bicara itu sedang menyanjungnya? Sepertinya Dhananjaya marah melihat Indah ada di dapur. Batin Indah bicara sendiri.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Dhananjaya saat Indah terus menatapnya tanpa melakukan apa pun.
“Tidak.” Indah menggeleng pelan, lalu menutup pintu lemari es dengan sangat hati-hati.
“Kenapa kamu masukan lagi makananmu?” Dhananjaya bingung sendiri. “Makanlah, lalu tidur,” sambungnya.
“Aku akan ke atas.” Indah tak yakin dengan ucapan Dhananjaya, entah benar memintanya makan atau malah sedang menyindirnya.
“Lanjutkan makanmu,” kata Dhananjaya saat Indah melewatinya.
“Pak Jay tidak marah?” Indah berhenti di dekat Dhananjaya.
“Untuk apa marah?” Dhananjaya balik bertanya, bingung.
“Bukankah aku tidak boleh ke sini, ke lantai dasar?” Indah mengingatkan.
“Sekarang sudah terlanjur, kamu sudah ada di sini. Jadi, makanlah apa yang kamu inginkan.” Dhananjaya tak mau pusing.
“Pak Jay menginginkan sesuatu? Aku akan membuatnya.” Indah menawarkan dengan senang hati.
“Tidak.” Dhananjaya menolak cepat.
“Lalu, untuk apa Pak Jay ke mari?” Indah bingung sendiri.
“Aku melihatmu di sini.” Dhananjaya menjawab seperti biasanya, tak jelas dan irit kata.
Karena Dhananjaya sudah memperbolehkannya makan, Indah baru berani mengambil makanan di dalam lemari es, lalu ia bawa ke meja makan. Dhananjaya tak berniat untuk ikut makan, tapi ia tetap ikut duduk untuk menemani.
“Maaf,” kata Indah pelan.
“Atas apa?” Dhananjaya bingung.
“Aku ... mencuri makanan tadi,” cicit Indah tak enak.
“Mencuri?” Dhananjaya menyatukan alisnya.
“Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Indah tersenyum canggung, mulai meraih makanan untuk ia suapkan ke mulutnya.
Bukannya merasa tenang karena ada Dhananjaya bersamanya, Indah malah semakin terlihat cemas. Kepalanya tak ingin diam, terus melirik ke arah belakang tubuh sang suami, takut seseorang muncul dari arah sana. Sementara Dhananjaya sendiri, hanya duduk tanpa melakukan apa pun.
“Tidak ada hantu di rumah ini.” Dhananjaya pikir Indah takut hantu.
“Bolehkah aku membawa makanan ini ke kamar?” Indah berbisik.
“Makanlah di sini.” Dhananjaya tidak mengizinkan.
Mendengar jawaban Dhananjaya, Indah segera melahap kuenya dengan tergesa-gesa, ingin segera habis dan ia bisa segera meninggalkan dapur.
Dhananjaya yang melihatnya semakin geram, tapi ia juga tidak berniat untuk mengganggunya. Tidak sampai lima menit, Indah tersedak makanannya.
Dhananjaya dengan cepat mengambil air minum, memberikannya pada Indah. “Pelan-pelan, tidak perlu terburu-buru,” ucapnya terdengar kesal.
“Aku sudah selesai.” Indah masih batuk ringan akibat tersedak.
“Kamu masih lapar.” Dhananjaya melihat makanannya belum habis.
“Aku sudah kenyang.” Indah tetap tidak ingin melanjutkan makannya. Terlebih saat ia batuk, suaranya sangat keras.
“Apa yang kamu takutkan?” Dhananjaya menyadari ketakutan Indah, tapi ia tak tahu atas dasar apa.
“Tidak ada. Aku sudah kenyang.” Indah segera beranjak dari duduknya.
“Jangan bohong, aku tidak suka.” Dhananjaya mencekal lengan Indah, tak membiarkannya pergi sebelum menjelaskan.
“Aku takut ... Nyonya Maria datang dan .... ” Indah ragu melanjutkan ucapannya. “Aku harus kembali ke kamar secepatnya,” sambungnya tak sabar.
“Indah?” Dhananjaya mencegah pergi. “Lihat aku,” pintanya lembut, mengadahkan dagu Indah agar menatapnya.
Dhananjaya menatap dalam-dalam, melihat ketidakberdayaan Indah yang terpancar dari wajahnya. Kelopak mata wanita hamil itu menggenani air yang sepertinya ditahan agar tidak menetes. Namun, tak lama dari itu air matanya tetap menetes.
Entah apa yang terjadi pada istrinya, Dhananjaya tau mau bertanya langsung. Dia terlihat tak tenang ketika makan, seakan takut seseorang memergokinya saja. Ia yakin, bukan hantu yang ditakutinya, melainkan seseorang yang entah siapa.
“Kita makan bersama.” Dhananjaya membawa Indah kembali ke meja makan. “Duduklah.”
Setelah Indah duduk dengan nyaman, Dhananjaya menghampiri lemari es. “Kamu ingin makanan apa?” tanyanya seraya memilih makanan.
“Apa saja.” Indah tak keberatan.
“Mau makan nasi? Biar aku hangatkan makanannya.” Dhananjaya menawarkan.
“Tidak perlu, makanan yang ada saja,” tolak Indah tak mau merepotkan.
Dhananjaya lalu membawa banyak makanan di tangannya, menyimpannya di hadapan Indah. Bukan hanya itu saja, ia kembali mengambil makanan dan minuman di dalam lemari es hingga tiga kali.
“Ini terlalu banyak.” Indah melongo.
“Makanlah sampai kamu benar-benar kenyang, agar tidurmu juga lelap.” Dhananjaya membantu membuka makanan yang masih baru. “Tidak ada Ibu, Indah. Fokus saja pada makananmu,” ucapnya ketika sang istri kembali terlihat cemas, memperhatikan pintu masuk yang terbuka.
Baru setelah itu, Indah dapat makan dengan perasaan cukup tenang. Tidak ada pembahasan apa pun, Indah sibuk dengan makanannya, sedangkan Dhananjaya semula hanya memperhatikannya dalam diam. Namun lama kelamaan, ia membunuh waktu dengan cara mengusap perut sang istri.
Indah sudah berulang kali bersendawa tanpa sadar, menandakan dirinya sudah sangat kenyang. Dhananjaya tak masalah, malah puas mengetahui istrinya sudah kenyang sekarang. Tanpa merapikan banyaknya makanan di atas meja, ia mengajak Indah untuk kembali ke kamarnya.
Indah ingin merapikannya lebih dulu, tentu saja. Karena jika tidak, bukan tak mungkin esok ia akan mendapat masalah. Namun, Dhananjaya yang tak tahu apa yang ditakutkan istrinya, tak mengizinkannya. Akhirnya, Indah hanya bisa menurut saja.