Bab 7

2488 Words
KERASNYA KEHIDUPAN   "Ai.. cepat dong. Aku ada operasi jam 9. Kamu mau aku telat," tegur Fatah pada Sabrin yang masih sibuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. "Emang yang buat kita kesiangan siapa? Kamu kan mas bukan aku" Memang seharusnya Fatah dan Sabrin tidak terlambat pagi ini. Setelah semalam percintaan mereka yang begitu di ridhoi oleh Allah. Pagi harinya, Fatah meminta istrinya kembali untuk melayaninya. Sehingga saat ini mereka kesiangan untuk memulai aktifitas. Sabrin pagi ini sudah mulai kembali ke kampus, sedangkan Fatah memiliki jadwal operasi pagi hari. "Tapi kamu juga suka kan Ai?" Goda Fatah sambil memeluk istrinya dari belakang. Memang Fatah dan Sabrin sama-sama belum mengucapkan kata 'cinta' pada masing-masing. Namun menurut Fatah perlakuan istimewanya yang dia berikan hanya untuk istrinya sudah cukup membuktikan. "Ishh.. apaan sih mas. Katanya mau buru-buru," Sabrin mengikat rambut panjang hitamnya tinggi. Hingga memperlihatkan kulit lehernya yang putih. Melihat hal itu Fatah hanya bisa mengusap dadanya. Dia tahu Sabrin belum bisa menutup auratnya, tapi apakah dia rela membagi keindahan tubuh istrinya untuk pria lain? "Udah nggak usah diikat.." tangannya menarik kunciran rambut Sabrin. Dan membuangnya begitu saja. "Kenapa? Nanti di kampus panas tahu," wanita itu bangkit dan mengambil tas nya yang sudah dia isikan buku-buku kuliah yang memang perlu dia bawa. "Kamu pulang sama siapa nanti?" Tanya Fatah sambil merangkul pinggang Sabrin. "Nggak tahu. Aku mau ada latihan padus nanti sore. Jadi pulang malam kayaknya" jawab Sabrin santai. Sabrin dan Fatah berjalan beriringan ke ruang makan dimana Papa dan Mamanya serta Umi adik Fatah sudah menunggu mereka. "Duh ilah, yang pengantin baru. Bangunnya siang banget" goda Umi. "Nanti juga kamu ngerasain nduk..." sang Mama menjawab sambil mengerlingkan matanya pada Fatah. "Ya lah Umi nanti ngerasain. Kan Umi juga mau nikah Ma" cibir Umi sambil mengoleskan selai roti. "Rin, itu olesin roti mas mu. Dia suka selai cokelat Rin" ucap Mama sambil memberikan selai cokelat pada Sabrin. Dia mengambil selai itu dari tangan Mama mertuanya dan mulai mengolesi roti untuk Fatah. "Enaknya yang udah punya istri. Dilayanin terus..." "Huss. Mulutmu itu" mama melototi Umi yang terus menggoda Fatah. "Apa nanti papa carikan kamu suami juga?" Ucap papa mulai membuka pembicaraan. Uhuuukkk.. "Sampai batuk gitu Mi. Katanya mau cobain kayak mas" sindir Fatah sambil memasang wajah mengejek. "Nggak perlu Pa. Umi masih mampu cari suami sendiri. Lagian emang masih jaman siti nurbaya di jodohin segala." gadis itu menyelesaikan acara sarapannya dengan cepat. Lalu bergegas pergi meninggalkan semua keluarganya. "Maafin Umi ya Rin, dia memang gitu. Umur sudah 24 tapi berpikir untuk menikah saja tidak" Sabrin berpikir, mungkin jika dia tidak dijodohkan dengan Fatah dirinya akan sama seperti Umi. Namun, nasibnya begitu bagus hingga dia dipertemukan dengan imamnya saat ini. "Sudah?" Tanya Fatah saat melihat Sabrin sudah selesai membantu Mama membawa piring kotor ke dapur. "Ayo mas berangkat" Fatah menggenggam tangan istrinya itu, namun Sabrin melepaskannya dengan cepat. "Ih.. malu ada Mama. Nggak usah pegangan" semburat merah dipipinya sudah nampak menghiasi wajah putih Sabrin. "Kenapa? Kamu kan istriku. Kamu mau nambah pahala Nggak?" Tanya Fatah sebelum berjalan menuju mobilnya yang terparkir digarasi. "Mau lah. Siapa juga yang nggak mau nambah pahala?" Senyuman manis diberikan Fatah pada istrinya itu. "Turuti apa yang diinginkan suamimu. Jika itu baik, Insya Allah akan memberikan kamu pahala" ucap Fatah. "Pegangan tangan bisa dapat pahala gitu?" Sabrin mengerutkan keningnya tak percaya dengan ucapan Fatah. "Iya. Salah satunya itu. Hadist dari Abu sa'id berkata "Sungguh bila! seorang suami memandang istrinya (dengan rasa kasih sayang) dan istrinya juga memandang suaminya (dengan rasa kasih sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Dan bila suami memegang tapak tangan istrinya, maka dosa-dosa mereka keluar dari celah-celah jari mereka." Masya Allah kan. Jadi jangan pernah menepis genggaman tangan suamimu ini" cengirnya puas. Karena saat ini Sabrin melotot tak percaya. Menurut Sabrin mana mungkin dengan bergandengan tangan dosa-dosanya akan hilang. Jika memang seperti itu, dia akan selalu menggenggam tangan suaminya. Agar semua dosanya akan dihapus dengan mudahnya. ****   Mobil fortuner putih yang dikemudikan Fatah sudah terparkir didepan kampus swasta di daerah Senayan. Tampak didalamnya Sabrin sedang membereskan kaos putih yang dia kenakan karena sedikit naik hingga membuat bagian tubuhnya terlihat. "Ai, kamu nggak punya baju yang lebih panjang?" Tanyanya. "Nggak ada," jawab Sabrin santai. Lalu membuka pintu mobil tanpa menghiraukan tangan Fatah yang sudah terulur kearahnya. Astagfirullah aladzim.. Fatah mengusap berkali-kali dadanya. Melihat tingkah laku istrinya seperti itu bisa membuatnya mati muda. Saat dia mau menjalankan mobilnya kembali, dikursi tempat tadi Sabrin duduk tertinggal sebuah buku berlogo laboratorium milik Sabrina sakhi hamid. "Dia meninggalkan ini" gumam Fatah. Lalu dengan cepat dia menyusuri dalam kampus. Mata memperhatikan kiri dan kanan, mencari sosok istrinya itu. "Ya salam... Fatah, ente ngapain kesini..." tanya seorang pria kepada Fatah. Sekilas Fatah melihat pria itu dari atas hingga bawah. Dia seperti mengenali pria itu namun dia sedikit lupa dimana kiranya dia pernah bertemu. Karena merasa tak mampu mengenali siapa pria itu, akhirnya pria itu mengenalkan namanya. "Ana Azhari..." "Afwan.. ana lupa.." ucap Fatah lalu memeluk tubuh sahabatnya itu. "Apa kabar ente? Makin kurus aja" sindir Fatah. "Iya, ana belum ada yang ngurus jadinya begini" Azhari dan Fatah merupakan teman semasa sekolah di gontor dulu. Dan kebetulan Azhari adalah adik kelas Fatah dulu. "Bawa apaan ente?" Tanya Azhari yang melihat sebuah buku ditangan Fatah. "Buku istri ana, ketinggalan. Kayaknya penting" jawab Fatah sambil memperlihatkan buku itu pada Azhari. "Ya Allah, istri ente Sabrin?" Azhari menatap sahabatnya itu dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana dia harus percaya, kakak kelas sekaligus sahabatnya dulu di pesantren menikahi gadis seperti Sabrin. Astagfirullah.. Azhari mengusap-usap dadanya. Dia merasa sudah menghakimi gadis itu dengan sebelah mata. Bahkan dia tidak tahu sebenarnya Sabrin gadis seperti apa. Namun Azhari tahu, jika Sabrin lah gadis yang sudah membuat juniornya di lab menjadi stres tak menentu. "Ente kenal sama istri ana? Kalau gitu ana titip ini ke ente. Ana buru-buru. Mau ada pasien operasi" lalu Fatah menyerahkan buku itu pada Azhari. "Kapan-kapan kita ketemu lagi. Assalamu'alaikum" ucap Fatah lalu berlari ke arah mobilnya. Azhari hanya menggeleng-gelengkan kepala. Memang jodoh, rezeki dan maut tidak ada yang pernah tahu. Dia berpikir pria seperti Fatah akan mendapatkan gadis yang sebanding dengannya. Tetapi lagi-lagi Allah lah yang menentukan.   ****   Sabrin bergerak gelisah mencari-cari sesuatu didalam tasnya tetapi tidak ketemu. Tadi dia sangat yakin sudah memasukkannya ke dalam tas. Tapi mengapa sekarang hilang? "Kamu cari apa Rin?" Tanya Sendi. "Aduh.. buku lab aku nggak ada.. gimana nih? Bisa habis aku dimarahi" Sabrin semakin gelisah karena sebentar lagi kelasnya masuk kedalam lab. "Kamu yakin bawa kan?" Tanya Sendi kembali sambil membantu Sabrin mencari. "Bawa lah Sen. Aku kan tahu hari ini setan hitam yang ngajar. Bisa mati aku kalo dia tahu aku nggak bawa buku lab sama kartu lab" ucapnya yang ingin menangis. "Mana aku juga nggak bawa kemeja lagi" "Loh, Rin... kamu itu niat masuk lab nggak sih" Sendi kesal jika melihat Sabrin seperti ini. Sahabatnya satu ini memang sangat pelupa. Dan biasanya jika terjadi seperti ini, Sabrin terburu-buru menyiapkan semuanya. "Pasti tadi kamu buru-buru kan.."tebak Sendi. "Iya, gara-gara mas Fatah" kesal Sabrin. Lalu dia berlari menuju salah satu ruang sekretariat yang berada tak jauh dari lab. "Bang Caturrr.. "teriak Sabrin pada Catur yang memang terlihat dari tadi berada di sekretariat BEM. "Eh dek Sabrin. Wa'alaikumsalam" ucap catur menggoda Sabrin. "Iya.. iya.. wa'alaikum salam" ucap Sabrin dengan malas. "Bang, pinjem kemeja dong. Aku lupa bawa nih. Mana mau masuk lab" jelas Sabrin panjang lebar. "Kok bisa lupa?" "Orang lupa mau diapain?" Jawab Sabrin ketus. Namun yang tak Sabrin duga, dari dalam munculah sosok pria yang dulu diidamkannya menjadi imam dalam hidupnya. "Kebiasaan banget. Ini pakai" ka Darwan memberikan kemeja yang membungkus tubuhnya tadi kepada Sabrin. "Makasih kak.. " ucap Sabrin lembut lalu menerima kemeja itu. Dia langsung berbalik arah ke tempat Sendi tadi. "Kemejanya bang Catur?" Tanya Sendi sambil melihat Sabrin memakai kemeja kotak-kotak cokelat yang terlihat kebesaran. "Bukan, kalau punya bang Catur aku udah kelelep kali" "Terus?" Sendi semakin penasaran kemeja siapa yang dipakai sahabatnya ini. "Kemeja kak Darwan.." lirih Sabrin. Lalu terdengarlah hembusan napas Sendi. Dia tahu bagaimana perasaan sahabatnya ini. "Kamu masih ada perasaan kan sama kak Darwan?" Sabrin tak menjawab, dia hanya menganggukan kepalanya. Dan sedikit menciumi bagian lengan kemeja yang tercium wangi dari tubuh kak Darwan. "Ya Allah Sabrin. Dosa kamu kayak gitu. Sama aja kamu zina tahu nggak" ketus Sendi. "Mau gimana lagi? Aroma tubuh dia masih nempel disini" "Inget yang di rumah" sindir Sendi. Namun wanita yang disindir tidak peka sama sekali. Kembali lagi Sendi menghembuskan napasnya dengan berat. Membuat sahabatnya sadar merupakan tugas beratnya dalam hidup. Sendi yakin Sabrin bisa berubah menjadi lebih baik. Tapi dia tidak ingin memaksa Sabrin menjadi sosok yang bukan dirinya. Jika memang nanti Sabrin akan berubah, itu karena memang hatinya bukan karena paksaan orang lain. Suasana ruangan lab siang ini begitu tenang. Membuat perasaan Sabrin menjadi gelisah. Dia merasakan hal buruk akan menimpa dirinya. Saat kak Azhari meminta semua mahasiswa untuk mengumpulkan buku lab, Sabrin tidak bisa mengumpulkan. Karena memang dia lupa membawa buku itu. "Sabrina... mana kartu labmu" tanya Azhari sedingin mungkin. "Anu kak.. ketinggalan kayaknya" lirih Sabrin. "Bagaimana bisa ketinggalan? Kamu niat belajar atau tidak? Saya bisa saja memberikan nilai E pada dosen agar kamu tahun depan mengulang kelas lab kembali" "Jangan dong kak. Aku kan pengen lulus " cicitnya. "Saya ingin kamu mengaku satu hal pada saya," ucapan dari kak Azhari membuat semua mata di dalam ruang lab itu tertuju padanya dan Sabrin yang berada didepan kelas. "Mengapa kamu memanggil saya setan hitam?" Sabrin bisa merasakan mimpi buruk saat ini. Dia sudah pasrah mengulang kelas lab tahun depan, karena dia tidak mungkin menjawab pertanyaan dari kak Azhari. Karena tak bisa menjawab, Sabrin hanya menautkan jemarinya. Tatapannya tertunduk menatap lantai. Namun tiba-tiba sosok kak Darwan masuk ke dalam ruangan lab dengan tergesa-gesa memakai jas lab kebesarannya. Jas lab yang bertuliskan sistem informatika disisi kanan dadanya. "Ada apa Wan? Kelas sebelah siapa yang ngajar?" Sebenarnya saat ini kak Darwan sedang mengajar di lab sun. Namun karena ada perasaan tidak enak, maka dia memutuskan untuk masuk ke dalam lab pc menemui Sabrin. "Aaa.. aa.. ada kertas yang tertinggal dilaci" jawab Darwan seadanya. Namun dari gerak geriknya Azhari tahu mengapa juniornya ini masuk tiba-tiba keruangan ini. Sudah pasti ingin melihat Sabrin. "Ayo jawab. Kenapa jadi diam saja," sambung Azhari. Sementara Darwan berlama-lama sibuk mencari kertas yang tak tentu dilaci meja. Karena dia ingin tahu apa yang ditanyakan kak Azhari pada Sabrin. "Apa kamu juga yang ngerjain motor saya. Di coret-coret pake pilox" "Nggak kak. Kakak jangan main tuduh sembarang kak. Itu namanya fitnah" Sabrin merasa tidak terima dengan apa yang dituduhkan Azhari. "Aku emang nggak suka sama kakak. Tapi bukan berarti aku yang ngelakuin tindakan kriminal kayak gitu. Dosa tahu kak nuduh orang sembarangan" Mendengar ucapan Sabrin, Darwan tersenyum puas. Dia memang yakin bukan Sabrin lah pelakunya. Walau wanita ini memang benci pada sikap Azhari, tapi Sabrin bukan tipe wanita yang bertindak anarkis. "Jadi kamu tahu dosa juga? Apa Fatah yang mengajarimu?" "Kakak kenal sama...." "Dia seniorku dulu waktu kami sekolah di gontor..." Sabrin menutup mulutnya tak percaya. Pria yang dia benci selama ini merupakan lulusan yang sama seperti suaminya. Tetapi mengapa sifat kak Azhari begitu menjengkelkan. "Sudah duduklah. Buku labmu dan kartu labmu tadi dia yang memberikannya padaku," Wanita itu tersenyum berterima kasih kepada Azhari, karena tidak jadi menghukumnya. Namun perasaan lain dirasakan Darwan saat ini. Dia sungguh kaget mendengar seniornya ini merupakan adik kelas dari suami Sabrin. Jangan-jangan cerita sahabat yang selalu diceritakan Azhari padanya adalah... suami Sabrina... Sosok pria yang begitu dikagumi Azhari karena waktu di pondok dulu begitu menjadi panutan para santri lain. Sosok yang memiliki otak yang sangat cerdas namun tetap ramah pada semua orang. Sosok yang begitu di sukai oleh santriwati karena ketampanannya. Masya Allah... Akhirnya Darwan sadar dengan siapa ia merasa cemburu. Mungkin dirinya begitu kecil jika dibandingkan pria itu. Agamanya yang terlihat bagus dimata semua orang, namun pada kenyataannya masih banyak kekurangan. Mungkin memang takdir harus seperti ini..   ****   "Kamu nggak pulang Rin?" Tanya Sendi pada Sabrin yang terlihat terburu-buru setelah mengembalikan kemejanya kak darwan. "Nggak.. aku ada latihan padus di ruang audit" "Padus terus dibanyakin. Baca Al-Qur’an harusnya dibanyakin" ketus Sendi. Dia memang tidak setuju Sabrin terlalu sibuk dengan urusan duniawi. "Heheh.. cuma untuk salurin hobi tahu Sen. Udah ya, aku telat nih. Assalamu'alaikum" Dengan cepat sosok Sabrin telah menghilang menuju lantai 3 ke arah ruangan auditorium. Saat ini memang yang Sabrin nantikan. Melepas kangen bersama teman-teman klub musiknya. Bersama teman-temannya ini, Sabrin merasa bebas dan tidak diatur, karena Sabrin merasa sama dengan mereka. Tidak jika dirinya bersama dengan Sendi. Sahabatnya itu selalu membicarakan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam Islam. Membuat dirinya sangat lelah. Ketika jam di ponsel Sabrin sudah menunjukkan pukul 8 malam, suaminya memberikan kabar jika dia harus menggantikan shift malam sahabatnya yang tidak bisa hadir. Itu berarti Sabrin harus pulang sendiri ke rumah. Walau Sabrin terbiasa pulang sendiri, namun ada sedikit rasa kesal pada dirinya. Dia kecewa mengapa Fatah tidak bisa menjemputnya dan lebih mengutamakan rumah sakit. Apa mungkin karena ada wanita berhijab syar'i itu. Sabrin menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak boleh berpikiran buruk tentang Fatah. Jika dia ingin kehidupan rumah tangganya tentram, dia harus percaya pada suaminya itu. Di dalam sebuah bis lah saat ini dia berada. Setelah selesai latihan musik dengan ditutup oleh evaluasi, dia langsung tancap gas untuk pulang. Bis yang mengantarkan dirinya menuju rumah mertuanya cukup sepi. Memang hari sudah menunjukan pukul 10 malam. Para pekerja kantor juga sudah tidak ada, karena biasanya bis ini penuh dengan pekerja yang baru saja pulang dari kantor. "Neng, baru pulang" ucap salah satu pria yang berusaha mendekat pada Sabrin. "Iya.." jawab Sabrin singkat. Ternyata hal yang tidak pernah diduga Sabrin terjadi. Tangan Sabrin yang sedari tadi sibuk memegang ponselnya karena menunggu kabar dari Fatah, direbut paksa oleh pria itu. "Copet....." teriak Sabrin didalam bis yang berisi 4 orang penumpang. Tapi dari keempat penumpang itu hanya diam saja melihat pencopet itu meloncat dari bis lalu kabur entah kemana. Sabrin menangis karena ponsel nya telah raib dirampas oleh pria itu. Ponsel yang dia beli dari hasil uang tabungannya sendiri selama setahun sudah hilang. Melihat situasi sudah aman, seorang ibu-ibu mendekat pada Sabrin. "Maaf ya neng ibu nggak bisa bantu. Soalnya setiap hari ibu naik bis ini. Kalau ibu bantu besok ibu yang dirampok sama mereka" ucap ibu-ibu itu. Sabrin menatap ibu-ibu itu tak percaya. Jadi semua orang didalam bis ini tidak mau membantunya karena takut suatu saat mereka yang akan mendapat sasarannya. Ya Tuhan, jika mereka bersatu melawan perampok tadi yang hanya satu orang. Mereka pasti akan menang. Dan dapat menyerahkan perampok itu kepada polisi. Tetapi kembali lagi, nasib Sabrin yang menggariskan seperti ini. Mungkin Sabrin harus lebih banyak lagi bersyukur dengan apa yang dia miliki saat ini. Karena dalam hidup tidak mungkin ada akibat jika tidak ada sebab nya terlebih dahulu. "Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur, nescaya Aku tambahi nikmat-Ku kepadamu, dan demi sesungguhnya jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amat keras." Surah Ibrahim : ayat 7...” ---- continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD