Bab 8

2186 Words
ARTI PERNIKAHAN   Setelah insiden pencopetan itu, Sabrin terlihat kesal pada suaminya. Karena dia memaksa Sabrin menggunakan supir untuk mengantar jemput dia setiap harinya. Sabrin memang terbiasa dimanja oleh Papinya, namun yang dilakukan Fatah terlalu sangat berlebihan dimata Sabrin. Ponsel yang sempat dicopet didalam bis waktu itu digantikan langsung oleh Fatah dengan model terbaru. Sesungguhnya Sabrin tidak butuh ini semua. Dia ingin membelinya lagi dengan uang jajan yang dia punya. Bukan bergantung pada kekayaan yang dimiliki suaminya. Karena Sabrin bukanlah seorang wanita yang hanya bisa meminta uang kepada suaminya. Walau pada kenyataannya saat ini Sabrin merupakan tanggung jawab Fatah. Semua yang istrinya butuhkan memang seharusnya Fatah yang memenuhi. Bukan lagi kedua orang tua Sabrin. "Mas nggak usah berlebihan gini deh. Aku bisa pergi ke kampus tanpa diantar jemput pak Kardi -supir yang disiapkan Fatah untuk Sabrin-" bujuk Sabrin. "Terus kamu mau kayak waktu itu lagi? Masih untung waktu itu kamu nggak diapa-apain. Kalau sampai terjadi sesuatu hal buruk sama kamu, aku juga yang pusing. Tolong lah ngerti. Aku nggak minta kamu, Ai, untuk setiap hari di rumah. Aku masih memberikan kebebasan kepadamu. Karena menurutku pernikahan itu bukan berarti istri harus terkurung di rumah dan menjalani tugas seperti memasak dan mencuci. Aku nggak mau kamu kayak gitu Ai" jelas Fatah sambil memegang kedua bahu Sabrin. "Lalu mau kamu aku kayak apa? Aku ke mana-mana diikutin pak Kardi gitu? Sama aja kamu nggak percaya sama aku" Sabrin meninggikan suaranya tanda tidak suka dengan semua yang Fatah lakukan untuk dirinya. Fatah memijat batang hidungnya. Dia memang harus lebih banyak bersabar jika ingin menghadapi Sabrin. Wanita ini memang tidak bisa diatur sedikit pun. Padahal sesungguhnya Fatah tidak mengaturnya sama sekali. Dia hanya ingin istrinya tidak diganggu pencopet seperti kemarin lagi. "Kamu tahu, dalam agama Islam kewajiban seorang istri hanya ada 2. Yang pertama kewajiban melayani suami secara biologis dan yang kedua kewajiban taat pada suaminya dalam segala hal selain maksiat" tutur Fatah sambil berharap Sabrin mengerti dengan apa yang dia ucapkan. "Aku tanya padamu, Ai, apa kamu sudah menjalani kedua kewajibanmu itu..?" Sambungnya. Istrinya itu hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin untuk yang pertama Sabrin sudah berusaha dengan baik menjalani tugasnya sebagai seorang istri diatas ranjang untuk suaminya. Namun untuk yang kedua, dia masih belum sempurna menjalankan kewajibannya itu. Dia selalu berkelit menolak jika Fatah memintanya melakukan hal yang memang untuk kebaikkannya juga. Seperti hal yang mereka debatkan sekarang ini. Fatah mulai kembali menjelaskan pada Sabrin sebuah kenyataan yang istrinya harus tahu. "Dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi rahimahullah, disebutkan, Tidak wajib atas istri berkhidmat untuk membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya, karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta'), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban. Jadi aku memang tidak pernah memintamu untuk melakukan hal itu. Karena aku masih memberikan kebebasan kepadamu. Kamu adalah istriku Sabrin, bukan pembantuku. Jadi jangan beranggapan aku meminta pak Kardi untuk menemanimu karena aku mengengkangmu. Sungguh bukan itu yang kumaksud. Aku ingin menjaga keselamatan istriku" Fatah menggenggam kedua tangan Sabrin dan menatap wajah istrinya yang hampir menangis. Sabrin merasa gagal kembali menjadi istri yang baik untuk Fatah. Dia merasa bodoh, karena sudah marah pada suaminya. Sesuatu yang Sabrin pikir Fatah mengengkang hidupnya, ternyata pria itu begitu mengkhawatirkan dirinya. "Maafkan aku mas.. aku gagal lagi..." ucap Sabrin menundukkan wajahnya. Dia menangis dalam diam. Tanpa suara namun air matanya telah banjir mengalir pada pipinya. "Syukurlah kamu paham, Ai..." pelukan hangat Fatah membuat Sabrin semakin menangis. Berkali-kali Sabrin terjatuh dalam perbuatan bodohnya. Namun berkali-kali juga Fatah mengajarkannya. Masya Allah.. pria ini sangat istimewa.. "Tapi Ai, jika melihat pada ilmu fikih kontemporer, salah satu Syekh Dr. Yusuf Qardhawi pernah berpendapat bahwa tugas suami membereskan rumah tersebut diserahkan pada istri, sebagai timbal balik atas nafkah yang diberikan suami. Tapi suami hendaknya memberi gaji atau upah pada istrinya atas kelelahan istrinya diluar nafkah kebutuhan keluarga. Jadi ponsel yang aku kasih kemarin ini anggap saja gajimu karena sudah melayaniku dengan baik" jelas Fatah kembali sambil menatap mata Sabrin. “Tapi ingat ya Ai, aku menyerahkan tugas untuk membereskan rumah bukan berarti kamu yang membereskan loh. Kamu bisa saja meminta pekerja rumah tangga untuk melakukannya. Namun kamu lah yang bertanggung jawab atas pekerjaan mereka.” Mendengar ucapan Fatah, Sabrin mengkerutkan keningnya kembali.. Gaji? "Cuma seharga handphone gajiku? Dikit banget" protes Sabrin. Fatah tertawa puas melihat Sabrin yang mengajukan protes atas gaji yang dia dapatkan. Pria itu senang, istrinya tidak menangis lagi. Karena sebisa mungkin Fatah tidak ingin istrinya menangis karenanya. "Terus mau kamu berapa Ai? " tanya Fatah sambil memeluk Sabrin yang sudah bersandar pada dadanya. Saat ini Sabrinlah yang tertawa. Dia merasa tidak enak sudah berkata seperti itu pada Fatah. “Mas, kalau kata kamu suami itu harus menggaji istri diluar uang belanjanya. Lantas berapa banyak Papiku menggaji Mami setiap bulannya?” ujar Sabrin. “Mami kan setiap hari bisa menjadi seorang chef handal, kadang bisa menjadi dokter dan perawat yang merawat aku, mas Imam serta Papi kalau kami sakit. Dan Mami juga bisa menjadi guru yang baik untuk anak-anaknya, bisa menjadi manager keuangan dan masih banyak lagi. Apa Papi sanggup membayar Mami?” Fatah menatap wajah Sabrin sambil tersenyum, jemari tangannya mengusap pipi Sabrin dengan lembut. “Kamu mau kayak Mami?” goda Fatah. “Mau lah mas, siapa juga yang nggak mau digaji dengan banyak” jawabnya jujur. “Kamu tahu Ai begitu banyak pekerjaan yang dilakukan oleh seorang istri sehingga seorang lelaki super pun tak mampu melakukannya. Untuk semua makanan yang sudah istri masak untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah akan membayarnya dengan surga. Untuk semua pengaturan keuangan yang seorang istri lakukan dalam kehidupan rumah tangganya, maka bayarannya surga. Untuk merawat anak dan suaminya ketika sakit, maka surga jugalah bayarannya. Semua yang sudah seorang istri lakukan, suami tidak akan mampu membayarnya. Sekaya apapun seorang suami itu, sebanyak apapun uang yang suami dapat hasilkan setiap bulannya sungguh tak akan mampu membayar semua kerja keras seorang istri. Akan tetapi Tuhan yang Maha Mengetahui, pada akhirnya semua itu akan kau dapatkan di surga kelak wahai istriku” jelas Fatah. Sabrin hanya diam mendengar penjelasan Fatah, karena pada kenyataannya dia tidak meminta apapun pada suaminya itu. "Ajari aku terus. Maka mas sama aja menggajiku berkali-kali lipat" jawab Sabrin mantap. "Baiklah. Wahai istriku, apa lagi yang ingin kau pelajari lagi dari suamimu ini. Apapun yang kutahu, akan aku jelaskan kepadamu. Karena berbagi ilmu itu tidak akan membuat diriku miskin" "Sombongnya... kamu belajar dari mana sih? Heran aku. Makanan yang kamu makan sama, tapi otak kamu tuh pikirannya jauh banget.. ibaratnya. Kamu tuh udah lari sampai Monas, kalau aku masih aja duduk disini. Nggak maju-maju" Sabrin kesal pada dirinya sendiri. Karena dia tidak bisa menjadi seperti suaminya itu. "Disinilah tugasku untuk berjalan bersamamu dalam mempelajari ilmu yang bermanfaat. Seperti yang sudah dituliskan dalam surat Al-Alaq 1-5. Dimana diayat terakhir dijelaskan "Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." Maksudnya disini, Allah lah yang mengajarkan umatnya dengan perantara tulis dan baca. Jadi rajin-rajinlah membaca yang bermanfaat. Maka percayalah, segudang ilmu yang akan kamu dapatkan dari membaca" tutur Fatah menggunakan bahasa yang mudah dipahami Sabrin. Lagi-lagi Sabrin mengucap syukur pada Allah karena telah mengirimkan pria ini masuk kedalam kehidupannya. Baru satu minggu menikah dengan Fatah, namun sudah ratusan ilmu yang sudah Fatah berikan kepadanya. "Makasih ya mas..." Sabrin memeluk tubuh suaminya dengan erat. "Apapun untukmu, Ai" ucap Fatah sambil mencium puncak kepala Sabrin. "Yuk, kita ibadah lagi" goda Fatah pada Sabrin. Istrinya itu terlihat kesal. Baru saja dia selesai melayani suaminya ini, ternyata Fatah kembali meminta haknya. Sabrin tahu, jika dia menolak maka Fatah akan menceramahinya lagi. Seperti malam sebelumnya. Dia sempat menolak Fatah yang mengajaknya untuk 'tidur'. Lalu semalaman Fatah habis menceramahinya. "Inget loh Ai , ada tiga orang yang doanya yang tidak akan diterima dan tidak ada perbuatan baiknya yang akan naik ke surga yaitu seorang b***k yang melarikan diri, sampai ia kembali kepada tuannya. Lalu orang mabuk, sampai ia sadar dan seorang wanita yang membuat suaminya marah, sampai dia ridho kepadanya." Ucap Fatah mengingatkan Sabrin jika istrinya ini menolak ajakannya. "Iya.. kamu itu pasti deh ngancem aku pakai begituan" kesal Sabrin. Namun tak urung wanita itu tetap melaksanakan kewajibannya dan kembali terlena dalam pelukan suaminya. ****   "Hei.. Sabrina..." panggil seorang gadis pada Sabrin yang tengah sibuk memilih buku di dalam toko buku yang berada pada pusat pembelanjaan. Gadis itu tersenyum dan masih menatap Sabrin dari atas hingga bawah. Pakaian Sabrin hari ini jauh dari kata tertutup. Dia hanya mengenakan tanktop hitam yang dilapisi cardigans pink soft. Walau sudah melapisi pakaiannya, namun d**a Sabrin masih sangat terbuka. Terlebih Sabrin mengangkat tinggi rambutnya. Sungguh sangat bertolak belakang dengan apa yang dikenakan oleh gadis ini. "Bisa bicara sebentar?" Ajak gadis itu. Lalu Sabrin dan gadis itu mencari tempat makan untuk bisa berbicara dengan leluasa. "Kamu kenal aku kan, aku Rasha yang waktu tempo hari kita ketemu di rumah sakit" "Iya aku ingat" jawab Sabrin seadanya. Dirinya begitu malas menghadapi wanita ini. "Apa kabarnya kamu? Aku lihat kamu bahagia banget," sindir Rasha yang matanya tak henti melihat setiap lekuk tubuh Sabrin. "Udah deh jangan basa basi," Ketus Sabrin. Dia sangat tahu, mengapa Rasha tiba-tiba mengajaknya berbicara seperti ini. "Mungkin kamu tahu kenyataan yang sebenarnya," ucap Rasha dengan penuh percaya diri. "Mas Fatah mencintaiku. Sejak lama dia memintaku untuk menjadi istrinya" sambungnya lagi. "Tapi kan jodoh mas Fatah sama aku" ketus Sabrin tak terima. Rasha tersenyum mengejek kepada Sabrin. "Jadi menurutmu dia adalah jodohmu. Belum tentu itu benar Sabrin. Dia memang suamimu saat ini, namun mungkin saja semua ini ada kesalahan. Karena mungkin yang tertulis dalam lauhul mahfudz sebagai jodohnya mas Fatah adalah aku. Kamu bisa menilai sendiri dengan mata kepalamu. Sepantas apa kamu mendampingi mas Fatah. Bahkan menutup auratmu saja kamu tidak bisa. Innalillah... aku sungguh kasihan pada mas Fatah, beliau menanggung dosa-dosamu. Apa kamu tidak kasihan kepadanya?" "Tahu apa kau tentang mas Fatah dan aku," Sabrin berusaha menahan sekuat mungkin agar air matanya tidak keluar. Semua yang diucapkan Rasha memang benar nyatanya. Sabrin memang jauh dari kata sempurna untuk menjadi istri Fatah. Apa menikah itu harus mengukur kesempurnaan seseorang terlebih dahulu untuk mendampinginya? "Aku hanya ingin membuat jalan mas Fatah mudah untuk meraih surga-Nya. Mungkin jika bersamamu, dia tidak akan merasakan surga itu seperti apa. Bahkan mencium bau surga pun tidak" "Astagfirullah aladzim. Aku nggak nyangka wanita yang mengenakan hijab syar'i sepertimu kak, ternyata memiliki hati yang lebih busuk dari pada diriku yang membuka auratku. Tolong kak, bercerminlah dahulu sebelum memberikan ceramah kepada orang lain" Sabrin bergegas meninggalkan Rasha, namun ucapan terakhir Rasha mampu menghentikan langkah Sabrin. "Apa jika Fatah tahu kamu masih menyimpan cinta untuk pria lain, dia masih mau bersamamu?" Sabrin kembali mendekat kearah Rasha. Tatapan benci Sabrin padanya begitu kuat. Dia benar-benar tak menyangka wanita ini seperti seorang siluman. Jika di depan Fatah atau Darwan, wanita itu memakai topeng muslimahnya. Namun saat diluar, terlihat jelas wajah iblisnya. "Lebih baik kau lepaskan hijabmu kak. Tolong jangan permainkan agama. Aku memang buruk kak, tapi setidaknya aku berusaha untuk tidak mempermainkan agamaku. Jika kamu menggunakan hijab hanya untuk menarik perhatian mas Fatah atau kak Darwan kau salah besar kak. Pria seperti mereka masih bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada dirimu" nada bicara Sabrin sudah sangat meninggi. Dia sebisa mungkin untuk tidak hilang kendali. "Maksudmu wanita yang jauh lebih baik adalah sepertimu. Bercerminlah wahai adikku" sindir Rasha. Kalimat yang Sabrin lontarkan tadi dikembalikan oleh Rasha kepada Sabrin. Bagai sebuah bumerang. Plaaakkk... Karena sudah tidak tahan, Sabrin menampar pipi Rasha dengan kuat. Gadis itu menitikan air matanya mendapatkan perlakuan kasar dari Sabrin. "SABRINA.... " teriak suara seorang pria yang mendekat ke arah Sabrin dan Rasha. Dia adalah Fatah. Siang ini memang Fatah sedang tidak ada kesibukan. Lalu dia teringat pada sahabatnya Azhari, dan mengajak sahabatnya itu untuk makan siang bersama. Namun hal yang tak diduga terjadi. Dia melihat istrinya menampar wanita lain. Sungguh kelakuan istrinya kali ini tidak bisa ditoleransi. "Apa-apaan kau..!!!" Bentak Fatah. Sabrin menatap Fatah tidak percaya. Pria yang biasanya begitu lembut padanya, namun siang ini seperti dirasuki setan. Fatah menatap marah pada Sabrin. "Maaf mas mungkin aku yang salah" Isak Rasha. Saat ini posisi Fatah benar-benar serba salah. Dia tidak mungkin membela istrinya yang sudah melakukan kesalahan. Namun disisi lain dia percaya pada istrinya, dia tidak akan melakukan hal fatal seperti ini jika bukan ada yang mengganggunya. "Ada apa ini?" Tanya Azhari yang terlihat bingung. "Kamu kenapa Sabrin?" Azhari tahu, istri sahabatnya ini ingin menangis. Tetapi dia tidak ada hak untuk menenangkan Sabrin. "PULANG KAU !!!!" Sekali lagi Fatah membentak Sabrin. Dengan sedikit air mata yang mengalir dipipinya, dia masih mampu tersenyum kepada suaminya itu lalu berjalan menjauh dari mereka semua. "Maafkan aku mas. Aku yang salah.." "Sikapnya memang keterlaluan. Sudahlah jangan menangis.." Fatah memang tidak menyakiti fisik istrinya. Namun Fatah sudah memberikan penyakit hati yang susah untuk mendapatkan obatnya. Niat Fatah ingin memberikan pelajaran pada Sabrin, namun ternyata emosinya lah yang memenangkan imannya. Sehingga dengan mudah Fatah melontarkan bentakkan kepada Sabrin. Astagfirullah aladzim.. Fatah beristigfar berkali-kali dalam dirinya. Rasa marahnya telah mengendalikan logikanya. Dia sudah gagal mencontohkan hal baik untuk istrinya saat ini. "Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)" ----- Continue Masih ragu pesan bukunya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD