Bab 9

2507 Words
DARAH LEBIH KENTAL DARI PADA AIR   Sabrin membanting pintu mobil dengan keras. Saat ini pak Kardi sudah memparkirkan mobil nyonya muda nya itu disebuah rumah yang cukup besar. Pak Kardi yakin ini rumah orang tua sang majikan. Karena melihat dari gelagatnya, majikannya ini tengah mendera kesedihan. "Ya Allah, Sabrin.. kamu kenapa?" Mami begitu kaget melihat tingkah putrinya itu. Sudah seminggu putrinya itu tinggal bersama suaminya di rumah sang mertua. Mami nya yakin, bukan perbuatan mertua Sabrin yang membuat putrinya menangis seperti ini. Lalu kenapa putrinya mendadak seperti ini? Mami mengetuk pintu kamar Sabrin, namun tidak ada suara yang menjawabnya dari dalam. Takut terjadi sesuatu dengan anaknya, dia membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci. "Kamu kenapa nak?" Sabrin menangis terisak-isak diatas ranjangnya. Mukanya ditenggelamkan pada bantal empuk. Dia malu jika Maminya melihat kesedihannya saat ini. Sabrin pun bingung untuk apa dia menangis? Apa karena Fatah tadi membentaknya. Atau karena perkataan wanita itu? Mami mengelus sayang rambut putrinya itu. "Coba cerita sama Mami, ada apa sayang? Apa mertuamu tahu kamu kesini?" "Nggak Mi, Mama nggak tau" ucap Sabrin masih setengah terisak. "Kamu kenapa sayang?" Mami berusaha membalik tubuh putrinya untuk menghadap kearahnya. Mata putrinya yang selalu begitu ceria, saat ini seperti terjadi hujan badai didalamnya. Perasaan ibu mana yang tidak sakit melihat putrinya tersiksa seperti ini. Jika memang bisa, sudah pasti Mami ingin menggantikan perasaan sakit putrinya itu. "Kamu berantem sama mas Fatah?" "Mi... jawab jujur. Apa Sabrin terlihat seperti seorang p*****r?" "Astagfirullah aladzim.. kamu kok ngomongnya begitu? Siapa yang berani menilai kamu seperti itu?" "Apa karena pakaian Sabrin seperti ini, Sabrin tidak cocok mendampingi laki-laki seperti mas Fatah?" Mendengar penjelasan dari putrinya, Mami berusaha memahami apa yang putrinya rasakan saat ini. Hal yang memang sejak dulu dia takutkan pasti akan terjadi. Dia tahu seperti apa sosok putri kesayangannya ini. Setelah mendengar waktu itu niat suaminya menjodohkan Sabrin dengan pria yang beragama, Mami selalu berdoa agar tidak terjadi hal seperti saat ini. Namun mungkin beginilah Tuhan menuliskan jalan putrinya. Sabrin memiliki sikap seperti ini juga berkat dari dirinya. Dulu Mami juga sama seperti Sabrin, bukan wanita sholeha yang dikejar-kejar banyak pria santri. Tapi ternyata Papi Sabrinlah yang berhasil mendapatkan Mami dan menunjukkan jalan yang lurus pada dirinya. Dan saat ini kejadian itu seperti diulang kembali. Putri kesayangannya mengalami hal yang sama seperti dulu yang dia rasakan. Sakit... Perasaan itu yang bisa digambarkan. Mami memeluk tubuh Sabrin dengan erat, berusaha memberikan energi positif pada putrinya. Bahwa masih ada dia yang selalu menyayangi Sabrin. Walau putrinya ini masih jauh dari kata sempurna sebagai seorang muslimah. "Mi. Jawab dong. Kenapa diem aja?" Rengek Sabrin. Lalu Mami hanya tersenyum disela-sela air matanya yang mengalir. "Dengarlah nak, Mami lah yang tahu seperti apa dirimu. Biarkan orang lain menilai apa yang mereka lihat. Karena mereka tidak tahu apa yang berada di dalam sini" Mami meletakkan telunjuknya pada hati Sabrin. "Yakinlah nak, di hatimu ada sebongkah berlian yang tak ternilai harganya" sambung sang Mami sambil mencium pipi Sabrin. "Sudahlah, jangan ditangisi perkataan orang. Memang yang bisa menilai kita adalah orang lain. Namun kadang orang lain hanya menilai diri kita dari luarnya saja. Jika kamu ingin tahu seperti apa dirimu, kamu tanyalah pada orang-orang yang sudah mengenalmu dengan baik." helaian rambut hitam Sabrin yang menutupi wajahnya dirapi kan oleh sang Mami. "Makasih ya Mi. Walau Sabrin selalu membuat Mami sedih karena nggak pernah nurut apa kata Mami. Tapi saat Sabrin butuh seperti ini, Mami selalu ada buat Sabrin" Maminya tersenyum bahagia. Dia selalu berdoa agar anak perempuannya ini selalu bahagia. Bukan hanya bahagia di dunia namun juga di akhirat nanti. "Kamu udah makan? Mami masak banyak hari ini. Tadi mas Imam telepon Mami. Dia mau pulang dari Jerman" "Mas Imam mau pulang? Tumben banget. Waktu Sabrin nikah aja dia nggak mau balik. Kan ngeselin," Sabrin terlihat sangat kesal saat kakak kesayangannya itu akan pulang ke Indonesia. Padahal waktu pernikahannya, Sabrin benar-benar mengharapkan mas Imam balik untuk melihat pernikahannya itu. "Hus, nggak boleh begitu. Dia kan sibuk kerja sayang. Sampai lupa buat cari istri" "Biarin aja dia Mi, biar jadi perjaka tua" "Heh, nggak boleh begitu. Dia tetap mas mu. Walau seburuk apapun dia, kamu harus bangga memiliki saudara sepertinya" Sabrin hanya tersenyum kecut karena Maminya itu selalu saja membela mas Imam. Tetapi walau memang mas Imam itu menyebalkan, tapi dia tetap begitu sayang pada sosok kakaknya itu. "Udah jangan nangis lagi. Kamu udah sholat belum?" "Sholat apa Mi?" "Sholat dzuhur lah, masa sholat magrib" Mami menggelengkan kepalanya, melihat tingkah putrinya memang bisa menguras umurnya. "Belum Mi.." Sabrin langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Waktu sudah menunjukkan pukul 2.00. Sebentar lagi dia akan terlewatkan sholat dzuhur. "Mami tunggu dimeja makan ya sayang.." teriak sang Mami sebelum meninggalkan kamar Sabrin. "Allahu akbar..." sabrin berusaha khusyuk dalam mengerjakan shalatnya. Dia mau memohon ampun pada Allah, karena perbuatannya selama ini. Sehingga dia merasa tidak pantas berada disamping suaminya. "Ya Allah, jauhkan hamba dari tempat-tempat yang penuh dengan kedzoliman. Dan bimbinglah hidup hamba, dekatkanlah hamba pada orang-orang yang sholeh. Yang mampu membawa hamba dari keterpurukan ini" doa yang Sabrin ucapkan memang hanya segelintir doa sederhana. Namun dalam hatinya benar-benar bersungguh-sungguh. Dia ingin doanya dijabah oleh Allah. Setelah selesai sholat, ponselnya berbunyi dengan menampilkan nama Fatah disana. Tanpa pikir panjang, Sabrin mematikan ponselnya itu. Cukup sudah Fatah hari ini memakinya. Dia tidak ingin mendengar apa-apalagi dari suaminya itu.   ****   "Mas Imam...." panggil Sabrin pada seorang pria muda yang baru turun dari mobilnya. Dia memeluk tubuh tegap kakaknya itu. Sudah setahun ini dia tidak bertemu dengan sahabat sekaligus musuh besarnya. Dia adalah Imam Abdul Hamid. Sejak kecil pria ini memang lebih memilih menuntut ilmu dinegeri orang. Hingga di lupa untuk kembali ke tanah kelahirannya sendiri. Imam, panggilannya. Dia memang selalu berpikir maju ke depan. Bahkan dia rela menjadi 'b***k' di negeri orang untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dari pada menjadi 'tuan besar' di negaranya sendiri dengan minim pendidikan. "I'm sorry dear. Aku nggak sempat datang ke acara pernikahanmu" Imam mencium pipi Sabrin. Dia begitu rindu dengan adik manjanya ini. "Pokoknya aku mau oleh-oleh loh mas, jangan bilang mas lupa deh" rengek Sabrin. Mereka berdua masuk ke dalam rumah disambut hangat oleh Mami. Walau saat ini Papi mereka masih sibuk dengan pekerjaannya, tapi tidak sedikit pun mengurangi kesenangan mereka. Setelah lama melepaskan rindu dengan kakaknya, Sabrin kelelahan hingga tertidur dikamar kakaknya. "Mas, Sabrin sudah tidur?" Tanya Mami pada putranya. "Iya Mi. Dia ngapain disini? Bukannya dia udah nikah" sebenarnya sejak tadi Imam ingin bertanya pada Sabrin. Namun dia tidak ingin mengurangi keceriaan adiknya itu. "Biarkan dia istirahat, suaminya tengah dalam perjalanan ke sini untuk menjemputnya" Imam mengangguk pada Maminya itu. Dia memang tidak ada hak lagi dalam mencampuri urusan adiknya yang sudah berumah tangga ini. Tak lama berselang, Imam mendengar suara seorang pria dari dalam kamarnya. Karena penasaran dia berjalan menuju asal suara itu. Tepat di ruang keluarga, Papinya tengah berbincang serius pada seorang pria yang dia yakin suami dari adiknya. Lalu dia mendekat dan mengambil tempat duduk disamping Papinya itu. "Fatah, kenalkan ini Imam anak saya. Dia adalah kakaknya Sabrin" Fatah mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan kakak iparnya itu. "Fatah" "Imam" "Baru keliatan. Kemarin kemana saja?" tanya Fatah berusaha mencairkan suasana. "Iya, saya bekerja di Jerman" jawab Imam sambil melihat gerak gerik Fatah. “Pantas saja saya tidak melihat mas waktu acara pernikahan." Ujar Fatah. “Ah, iya. Saya minta maaf tidak bisa datang pada acara pernikahan kalian” jelas Imam. “Sabrin sedang tidur dikamar saya, kalau mau dibawa pulang langsung digendong saja. Jangan dibangunkan" sambung Imam sambil menunjukkan arah kamarnya pada Fatah. Saat melihat Sabrin tengah bergelung dalam selimut kakaknya, Fatah sedikit tersentuh. Wajah istrinya itu sudah tak seceria pagi tadi. Dan matanya yang terpejam masih terlihat membengkak. Ya Allah, lagi-lagi Fatah sudah membuat istrinya menangis. Hukuman apalagi yang akan dia terima kali ini "Makasih ya Mi. Fatah minta maaf sudah merepotkan Mami" ucap Fatah sebelum memasuki mobilnya untuk pamit pulang. "Assalamu'alaikum.." "Wa'alaikumsalam.." ucap Mami, Papi dan Imam secara bersamaan. Sekali-kali Fatah melirik Sabrin yang tertidur pulas dikursi penumpang sampingnya. Rasa bersalah terus menyelimutinya. Jika tadi dia bisa menahan emosinya, mungkin Sabrin tidak berakhir seperti ini.   ****   Fatah membaringkan tubuh Sabrin di atas ranjang kamar mereka. Setelah sampai, sang Mama mengintrogasi Fatah habis-habisan. Mama yakin, Fatah dan Sabrin sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Ada apa sih mas? Kalau ada masalah selesaikan baik-baik. Jangan kayak anak kecil begini" cecar sang Mama. "Penyelesaian setiap masalah dalam rumah tangga haruslah dengan syariat Islam bukan dengan logika yang dituntun oleh hawa nafsu. Hanya Allah yang Maha Tahu, mana aturan terbaik bagi kita sebagaimana firmanNya "..Bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal sesuatu itu baik bagi kalian dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal sesuatu itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui "(TQS Al Baqarah[2] :216)" jadi kamu mengertikan harus seperti apa?" Mama terlihat sangat khawatir dengan kehidupan rumah tangga putranya yang baru seumur jagung ini. Sebisa mungkin dia memberikan masukan yang terbaik untuk keduanya. Fatah mengangguk mengerti perkataan Mamanya itu. Lalu kembali ke kamar, berharap bisa menyelesaikan masalahnya dengan Sabrin. Sebelum dia tidur disamping istrinya, dia mengecup kening Sabrin sambil memanjatkan sedikit doa untuk hubungan mereka. "Wa alqaitu 'alaika mahabbatan minnii wa litusna'a 'alaa 'ainii...(Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku (Q.S. Thaha [20]: 39))" barulah dia memejamkan matanya. Berharap esok masalahnya akan segera berakhir. Saat baru saja Fatah menutup matanya, dia merasakan Sabrin terbangun dari tidurnya. "Mas Fatah..." tanya dia heran. "Kok aku bisa di rumah?" Lalu Sabrin bangkit dari atas ranjang mereka. "Mau kemana kamu?" Tanya Fatah. "Ke kamar mandi. Aku belum sholat isya" teriaknya. Alhamdulillah... Fatah merasa senang melihat istrinya. Karena tanpa dia suruh pun, Sabrin sudah bisa mengingat kewajibannya kepada Allah. Ini merupakan sedikit kemajuan. "Kamu udah sholat mas?" Tanya Sabrin sambil memakai mukena nya. Entah kemana perginya rasa marahnya tadi. Mungkin kah Allah sudah meleburkan semuanya? "Sudah.. sholatlah" Sabrin menyelesaikan sholatnya tak begitu lama. Karena dia memang bukan orang seperti suaminya itu, yang sanggup berlama-lama diatas sajadah. "Udah makan mas?" Sabrin melipat mukena yang dia pakai. Fatah tersenyum kepada istrinya, dia pikir Sabrin akan memaki-maki dia. Namun hal yang ditunjukkan Sabrin jauh dari apa yang dia pikirkan. "Mas.. Sabrin mau minta maaf ya. Tadi Sabrin nggak bisa jaga emosi. Sabrin menyesal mas, " wanita itu mencium punggung tangan suaminya. Sambil memohon maaf dengan tulus. Hati Fatah menghangat, yang seharusnya minta maaf adalah dia. Karena sudah membentak Sabrin begitu saja. Namun yang terjadi adalah kebalikannya. Istrinya ini memohon ampun padanya. Ya Allah, terbuat dari apa hati istrinya ini. Padahal dia sangat yakin, ada alasan Sabrin melakukan hal tadi pada rasha. "Mas juga minta maaf, karena sudah membentakmu," Fatah mencium kening istrinya dengan tulus. "Makasih mas, udah mau maafin Sabrin. Nanti Sabrin nggak bisa masuk surga cuma karena hal ini" ucapnya. "Jadi kamu takut nggak masuk surga?" Tanya Fatah sambil menarik tubuh istrinya untuk duduk didekatnya. "Iyalah takut. Nggak ada orang yang mau masuk neraka mas" ketus Sabrin. "Mau mas kasih tahu nggak, wanita mana aja yang bisa masuk surga" "Loh, kata mas dulu. Setelah menikah, seorang wanita sudah dijanjikan surga oleh Allah," Sabrin masih teringat perkataan Fatah waktu itu. "Iya memang benar. Setelah menikah Allah memang menjanjikan surga untuk istri yang sholeha" jawab Fatah sambil mengusap lembut pipi Sabrin dengan ibu jarinya. "Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya)," (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani). Sangat mudah kan untuk menuju pintu surga bagimu, Ai.. aku harap kamu bisa melakukan ke 4 itu dengan baik. Agar aku bisa tenang, karena kamu sudah dijanjikan Allah disurga-Nya nanti" "Tapi.. apa wanita sepertiku mampu mas? Bahkan aku belum bisa menutup auratku" Sabrin menunduk lemas mengingat ucapan Rasha tadi. Bahkan karena dia, Fatah juga akan susah untuk merasakan surga diakhirat nanti. "Bahkan karenaku juga mungkin kamu gak akan..." "Ai, jangan selalu menyalahkan dirimu. Aku ingin kita belajar bersama-sama. Agar sama-sama pula nantinya kita mendapatkan kebahagiaan" Fatah memeluk tubuh istrinya itu. "Maafin aku ya mas.. aku kembali gagal lagi jadi istri yang di-ridhoi oleh Allah" "Sudahlah. Mas juga tidak ingin memaksamu. Mas cuma berharap kamu bisa berubah karena Allah yang memanggil hatimu" dengan kedua ibu jarinya, Fatah mengusap air mata Sabrin. "Kamu mau jujur kan tadi siang ada masalah apa dengan Rasha?" Sabrin menggigit bibirnya sendiri. Jujur saja dia ragu dan dia juga bingung harus menceritakan dari mana masalah dirinya dan Rasha. Sehingga berakhir dia menampar wanita itu. "Apa mas percaya sama aku?" tanya Sabrin hati-hati. "Insha Allah aku percaya padamu, Ai..." "Mas percaya kalau aku nggak salah?" Fatah menarik napasnya sejenak sebelum dia menjawab pertanyaan Sabrin. "Iya, aku selalu percaya. Karena dasar dari sebuah hubungan adalah saling percaya.." Fatah menatap Sabrin dengan yakin. "Aku nggak tahu harus cerita dari mana. Tapi apapun yang mas lihat tidak seperti kenyataannya. Aku harap mas percaya padaku" Walau dengan berat hati, Fatah memang harus percaya pada istrinya itu. Dia harap suatu saat nanti dia akan tahu apa masalahnya. Hingga istrinya menangis dan pulang kerumah orang tuanya.   Buat suami Pernikahan atau Perkawinan, Menyingkap tabir rahasia ... Isteri yang kamu nikahi, Tidaklah semulia KHadijah, Tidaklah setaqwa Aisyah, Pun tidak setabah Fatimah ... Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman, Yang punya cita-cita, Menjadi solehah ... Pernikahan atau Perkawinan, Mengajar kita kewajiban bersama ... Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya, Isteri ladang tanaman, Kamu pemagarnya, Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya, Isteri adalah murid, Kamu mursyid (pembimbing)-nya, Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya .. Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya, Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar bisanya, Seandainya Isteri tulang yang bengkok, Berhati-hatilah meluruskannya ... Pernikahan atau Perkawinan, Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa ... Untuk belajar meniti sabar dan ridho, Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana, Justru kamu akan tersentak dari alpa, Kamu bukanlah Muhammad Rasulullah atau Isa As, Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamaullahhuwajah, Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh ... Buat Istri Pernikahan atau Perkawinan, Membuka tabir rahasia, Suami yang menikahi kamu, Tidaklah semulia Muhammad, Tidaklah setaqwa Ibrahim, Pun tidak setabah Isa atau Ayub, Atau pun segagah Musa, Apalagi setampan Yusuf Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman, Yang punya cita-cita, Membangun keturunan yang soleh solehah... Pernikahan atau Perkawinan, Mengajar kita kewajiban bersama, Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya, Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya, Suami bagaikan balita yang nakal, Kamulah penuntun kenakalannya, Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singgasananya, Seketika Suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya, Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya Pernikahan atau Perkawinan, Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa, Untuk belajar meniti sabar dan ridho, Karena memiliki suami yang tak segagah mana, Justru Kamu akan tersentak dari alpa, Kamu bukanlah KHadijah, yang begitu sempurna didalam menjaga Pun bukanlah Hajar ataupun Mariam, yang begitu setia dalam sengsara Cuma wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi solehah ... Semoga Allah memberikan kita nikmat beribadah bersama, dalam keluarga yang tenteram, sakinah, mawaddah dan warahmah ,,, yang menyampaikan pada Rahmat dan Cinta Allah .. Aamiin yaa Rabbal alamin. ------ Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD