AISYAH VERSI SABRINA
"Masya Allah, Rin.. kamu nggak papa kan?" Suara Mama mertuanya begitu kaget saat tanpa sadar sudah masuk ke dalam kamar menantunya itu. Mama merasa bebas keluar masuk pagi itu karena sejak semalam Fatah mendapatkan dinas malam di rumah sakit. Bahkan tadi Fatah meneleponnya agar memberitahu Sabrin, jika Fatah akan kembali lembur hingga malam hari.
"Ini beneran kamu?" Mama tak percaya menatap menantu kesayangannya itu dari balik pantulan cermin. Senyuman Sabrin terus menghiasi wajahnya tak kala sang mama mertua terus memujinya.
"Iya Ma. Menurut Mama Sabrin pantes nggak?" Tanya Sabrin tak percaya diri.
"Pantes banget sayang. Coba setiap hari kamu seperti ini.." puji sang mama.
"Insya Allah Ma secepatnya"
Hari ini Sabrin dan Sendi akan pergi ke pernikahan teman SMA nya dulu. Tak ada persiapan baju yang bagus, karena Sabrin juga baru diberitahu Sendi tadi malam. Oleh karena itu, pagi ini dia sudah siap untuk pergi bersama Sendi. Sebenarnya pakaian yang dipakai Sabrin cukup sederhana. Baju terusan hitam dengan bentuk celana panjang dibawahnya. Dipadu padankan dengan sweater rajut cokelat. Tak lupa sebuah hijab paris hitam melekat dikepalanya.
"Mama bangga sama kamu Rin. Kamu selalu jadi diri kamu sendiri. Itu loh nilai plus mu dari yang lain" Mama mencium kening menantunya itu dengan sayang. "Pak Kardi mengantarmu kan..?" Sambung Mama.
"Iya Ma.." Sabrin meraih tas berwarna cokelat yang senada dengan sweaternya. Lalu bergegas mencium tangan Mama mertuanya itu. "Assalamu'alaikum Ma.. hati-hati di rumah. Umi janji pulang lebih awal hari ini, Mama nggak papa kan sendirian?" Mama mengangguk yakin.
Sebelum Sabrin pergi. Mama memanggil Sabrin kembali. Lalu mengeluarkan ponsel dari saku gamis panjangnya.
Creeekkk..
"Mama.. kenapa foto Sabrin?" Histerisnya pada sang Mama karena tiba-tiba saja dirinya diabadikan dalam sebuah foto. Namun Mama mendorong menantunya itu dan mengingatkannya jika Sendi sudah menunggunya pasti.
To : mas Fatah
Istrimu sangat cantik mas, mama bangga sama kamu..
Sebuah pesan singkat beserta sebuah foto dikirimkan Mama pada Fatah yang entah sedang melakukan apa dirumah sakit saat ini.
****
Pukul 11 siang Fatah baru kembali dari operasinya. Seorang pasien yang dia tolong mengalami pendarahan dalam proses melahirkan bayi kembar 3 mereka. Untuk itu Fatah mengeluarkan extra tenaga dalam menangani pasien ini. Dia mengecek beberapa pesan singkat dari istrinya serta beberapa dari temannya. Dan terakhir dari sang Mama. Karena penasaran apa isi dari pesan itu, dia membukanya. Fatah tersentak kaget melihat gambar yang dikirimkan mama nya itu.
Foto wanita yang 2 minggu ini sudah menjadi istrinya. Sepertinya semua pelajaran yang dia berikan telah berhasil. Jika memang seperti itu, banggalah Fatah pada dirinya. Ternyata usahanya tak sia-sia.
"Mas Fatah..."
"Masuklah..." ucap Fatah dari dalam ruangan kerjanya. Dia masih saja sibuk menatap wajah Sabrin beserta pakaian tertutup yang dia pakai.
"Baru selesai operasinya mas?"
"Iya..." jawab Fatah sambil tersenyum bahagia.
"Mas ada apa? Senang banget kayaknya?"
"Iya Sha, aku habis dapat hadiah..." jawab Fatah sumringah dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya. Dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang dia rasakan.
"Hadiah apa mas?" Rasha mulai tertarik dengan cerita dari Fatah. Pria yang dulu begitu mengejarnya. Dan dia yakin sampai saat ini Fatah masih menyukainya.
"Bidadari cantik..." jawab Fatah mantap sambil menatap mata cokelat milik Rasha. Karena ditatap intens seperti itu membuat Rasha tersipu-sipu malu. "Astagfirullah al'adzim.. maaf Sha. Mas kelepasan.." Fatah menundukkan wajahnya. Dia tidak bermaksud menatap mata wanita lain yang bukan halalnya.
"Nggak apa-apa mas. Aku senang mas akhirnya sadar dengan hadirnya bidadari itu yang selama ini sudah berada di samping mas"
"Iya Sha. Aku bodoh. Karena baru sadar saat ini"
Kembali Rasha tersipu-sipu malu dibalik hijab syar'i yang berwarna biru itu.
'Ya Allah, pria bernama Fatah Al Kahfi ini sudah menyihir diriku' ucap Rasha dalam hatinya.
"Bagaimana dengan tugas yang minggu lalu kuberikan? Sudah berapa kasus yang kamu tangani?"
"Baru 3 mas. Kan kemarin mas mintanya 5" jawab Rasha.
"Aku minta secepatnya kamu menyelesaikan tugasku. Karena minggu depan tugas lain menunggumu"
Fatah bangkit dari duduknya, dan melepaskan jas dokter yang melekat pada tubuhnya.
"Mas mau pulang ya?"
"Iya, aku sangat lelah dan kurang tidur. Dokter Iwan juga tidak jadi libur" Fatah membereskan tas kerjanya. "Kamu nggak pulang?"
"Sebentar lagi mas.."
"Kalau begitu aku pulang dulu.."
"Mas..." panggil Rasha. "Sebentar lagi masa koas ku akan selesai. Apa aku boleh meminta hadiah darimu?" tanya Rasha. Pandangannya tak pernah lepas dari Fatah.
"Hadiah? Dariku?" Fatah sedikit bingung dengan apa yang dikatakan Rasha.
"Iya..hanya satu hadiah. Boleh ya?"
"Baiklah. Ucapkan saja. Nanti sebisa mungkin akan kubelikan"
"Kau bahkan tidak akan mampu membelinya mas" Rasha tersenyum puas mendengar jawaban dari pria itu. "Sudah pulang lah mas. Dan istirahat lah"
****
Sabrin turun dari sebuah mobil jazz putih dengan dibukakan pintu oleh pak Kardi. Saat ini dia tengah berada didepan kampus. Karena Sendi sahabatnya itu meminta dijemput di kampus saja.
"Sabrin...." Sendi melihat sosok sahabatnya itu dengan perasaan yang campur aduk. Antara senang, bingung dan marah.
Senang... Sendi senang karena Sabrin sudah berubah dari caranya berpakaian. Walau cara berhijabnya perlu banyak yang diperbaiki tapi setidaknya wanita itu sudah berubah.
Bingung... Sendi bingung apa Sabrin sakit saat ini sampai dia salah memakai kostum. Memang pakaian yang dikenakan Sabrin sangat biasa, namun tak menutupi pesona kecantikan Sabrin.
Marah... dia marah pada Sabrin mengapa baru saat ini sahabatnya itu berubah. Sungguh memang tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik.
"Kok kamu malahan diem?" Sabrin bingung menatap Sendi. Dia perhatikan dirinya dari atas hingga bawah. "Kamu cantik banget Rin. Serius deh aku" Sabrin memeluk Sendi yang hampir menangis.
"Kamu suka kan sama hijab aku. Ini baru dibeliin sama mas Imam dari Jerman.." ucap Sabrin bangga. Dari ucapan yang sangat sederhana itu, ternyata mampu merobohkan kesabaran Sendi. Ternyata sahabatnya ini menggunakan hijab karena hijab yang dia pakai adalah hadiah dari kakaknya.
"Lalu? Kamu pakai hijab cuma mau pamer hijab baru dari Jerman?" Ketus Sendi yang lalu duduk disamping Sabrin.
"Iya, kenapa emangnya?" Sendi menggeleng-gelengkan kepalanya. Salah lagi dia menilai sahabatnya itu. Ternyata Sendi pikir Sabrin sudah menjadi seorang muslimah sesungguhnya. Tapi ternyata tidak sama sekali.
“Kamu tahu Rin, sebab-sebab yang dapat menghapuskan amal shalih?” tanya Sendi pada Sabrin. Kemudian Sabrin hanya menggelengkan kepalanya tanda dia tidak mengetahuinya. “Salah satunya kayak kamu ini, riya’ . Dalam sebuah Hadits qudsi (Allah berfirman) : Aku orang paling kaya, tidak butuh tandingan dan sekutu. Barang siapa beramal menyekutukan ku kepada yang lain, maka aku tinggalkan amalannya dan tandingannya (HR Muslim no. 2985)” jelas Sendi.
“Jadi maksud kamu aku sedang riya’...?” tanya Sabrin.
“Menurutmu? Kamu kan pakai hijab ini niatnya bukan niat yang tulus karena Allah. Namun hanya ingin sekedar pamer pada semua orang yang melihatnya. Apa itu bukan riya’?” ujar Sendi. Sabrin mematung mendengar penjelasan Sendi. Dia telah salah dalam mengambil keputusan. Awalnya dia menggunakan hijab ini, karena ini adalah pemberian dari kakaknya. Tak terbesit sedikit pun dalam dirinya akan terjadi hal seperti ini.
Sepanjang perjalanan menuju pernikahan temannya, Sabrin hanya diam saja. Dia terus merenungi semua kesalahannya. Tepat di rumah teman mereka yang sedang melangsungkan pernikahan, banyak mata yang menatap Sabrin dari atas hingga bawah.
"Sen.. kenapa sih aku diliatin? Emang aku jelek banget ya pakai hijab?"
"Hus.. mana ada wanita pakai hijab jelek? Hijab itu membuat wanita bertambah ribuan kali lebih cantik" jelas Sendi. Namun Sabrin masih saja risih. Hampir setiap menit, dia mengeluarkan cermin bulat dari dalam tasnya untuk melihat bentuk hijab yang dia pakai.
"Ya ampun Rin, ngaca mulu. Kamu kan sudah ada yang punya. Nggak baik bersolek untuk orang lain yang bukan qawwammu"
"Ihh serba salah deh. Aku nggak dandan.. ini hijabnya berasa miring makannya aku cek" kesal Sabrin. "Makannya dibiasain pakai hijab..." sahut Sendi dengan kesal.
Cukup lama Sendi dan Sabrin berada di pernikahan temannya itu, hingga hari menjelang sore baru mereka pamit untuk pulang. "Rin.. anterin aku ke kampus lagi ya.."
"Ngapain ke kampus Sen?" Tangan Sabrin sudah hendak membuka hijab yang dia kenakan, tapi ditahan cepat oleh Sendi. "Jangan dilepas, sayang pahalamu. Kamu kan pakainya dari rumah, sebisa mungkin lepaslah di dalam rumah. Dimana sudah tidak ada orang lain yang melihat"
"Oke deh. Demi pahala.. lumayan nabung"
"Dipakai terus hijabnya biar tabungannya makin banyak.." ledek Sendi.
"Iya nanti..."
"Nanti terus. Emangnya kamu tahu kapan kamu mati? Emang kamu tahu seberapa lama lagi umurmu?" Sindir Sendi. "Lebih baik sekarang dari pada menyesal diakhirnya.." sambung Sendi dan melangkah keluar mobil saat sudah sampai didepan kampusnya.
"Sen... " panggil Sabrin.. "Makasih ya nasihatnya"
Sendi tersenyum simpul pada sahabatnya itu. Dia sangat yakin, Sabrin wanita yang baik bahkan hatinya jauh lebih baik dari dirinya. Namun, Sabrin memang butuh banyak pengarahan saat ini.
"Sabrin..." panggil salah seorang pria yang menatap Sabrin dari atas sampai bawah.
"Eh.. iya kak Darwan.." perasaan gugup Sabrin kembali menyerangnya. Sudah lama sekali rasanya dia tidak berdua seperti ini dengan kak Darwan. Mungkin semenjak Sabrin menikah, kak Darwan seperti menjaga jarak padanya.
"Tetaplah seperti ini" ucapnya sebelum pergi meninggalkan Sabrin. Darwan merasa sangat bahagia melihat Sabrin telah berubah. Bahkan ada rasa menyesal dalam dirinya, mengapa bukan dia yang membantu Sabrin berubah. Mengapa dulu dia begitu pengecut saat Sabrin baru mengenalnya dan mengatakan suka padanya.
Penyesalan selalu datang terlambat..
Bisa dikatakan saat ini Darwan menyesal pernah menyia-nyiakan Sabrin. Namun apalah arti kata menyesal? Jika nasi telah menjadi bubur..
****
"Aduh panas..." Sabrin baru saja tiba di dalam rumah mertuanya. Dengan cepat dia menarik kuat hijab yang melekat dikepalanya. Saat benda itu terlepas, dia tersenyum bahagia.
"Ya Allah, Sabrin. Kenapa dilepas?" Mama mertuanya sedikit kecewa dengan Sabrin. Dia sudah berharap lebih, namun kembali menerima kenyataan. wanita ini masih tidak bersedia menutup auratnya.
"Kan udah di rumah, Ma. Kata Sendi aku sudah dapat pahala kalau buka hijabku di rumah" tuturnya. Lalu berjalan menuju kamarnya.
"Mas Fatah.. sudah pulang?" Tanya Sabrin pada suaminya itu.
Mata Fatah mengikuti gerak gerik Sabrin yang sudah meletakkan barang-barangnya ke dalam lemari. "Mana kerudungmu?" Tanya Fatah sambil bangkit dari atas sajadahnya.
"Itu.." Sabrin menunjuk kerudung yang sudah tergeletak di dalam ember pakaian cuci.
"Mas kan belum lihat. Kenapa sudah dilepas?"
"Bukannya mas udah liat aku pakai hijab waktu nikah?" Sabrin tidak memperdulikan suaminya itu dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak memakan waktu lama, Sabrin sudah keluar dengan handuk yang menutup kepalanya. Kemudian dia duduk didepan meja riasnya.
"Ai.."
"Iya mas.." diliriknya pantulan suaminya dari dalam cermin.
"Kamu tahu kan istri Nabi Muhammad yang bermana Aisyah..."
"Oh, yang dipanggil humairah itu ya? Memangnya dia kenapa lagi?"
"Kamu tahu umur berapa dia dinikahi oleh Nabi Muhammad?"
"Ya nggak tahu lah. Aku kan belum lahir" Fatah terkekeh mendengar jawaban polos dari istrinya. "Aisyah dinikahi oleh nabi saat berumur 10 tahun. Namun dialah yang menjadi istri kesayangan Nabi Muhammad. Karena Aisyah memiliki kepintaran lebih, dia tidak pernah lelah dalam belajar apapun yang belum dia mengerti. Bahkan dia tidak ragu jika ingin menanyakan apa yang tidak dia tahu pada Nabi Muhammad. Aisyah juga dikenal sebagai perempuan yang banyak menghapalkan Hadist-Hadist Rasulullah. Sehingga beliau mendapat gelar Al-mukatsirin (orang yang paling banyak meriwayatkan Hadist)."
"Terus apa hubungannya denganku?"
"Aku tidak ingin kau menjadi seperti Aisyah. Maksudku, aku ingin kau mengambil banyak pelajaran dari sosok Aisyah. Setidaknya kau tahu seperti apa wanita yang begitu dicintai oleh Nabi Muhammad" jelas Fatah pada Sabrin.
"Sungguh mas aku tahu apa yang kamu maksud. Tapi berubah menjadi lebih baik itu tidak seperti membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses. Kamu tahu mas, jika di ibaratkan kamu sedang membuat kue namun kamu kurang dalam proses pengadukannya. Setelah kue itu dimasukkan kedalam oven, apa yang kira-kira terjadi?"
"Ya mateng dong kue nya" jawab Fatah sambil terkekeh. "Ih. Bukan itu. Pasti hasil kuenya akan bantet terus gagal. Dan tidak seperti yang diharapkan. Aku nggak mau mas seperti kue itu"
"Loh, kamu tahu kan kue brownis? Bagaimana bentuk kue brownis? Bantet kan? Tapi saat kamu makan, tetap enak kan? Ai.. jangan berpikir buruk dulu. Kamu belum mencoba tapi sudah menyerah"
"Mas, hijab bukan saranan coba-coba..." kesal Sabrin. "Iya, mas tau. Tapi dari kata-kata yang kamu ucap itu, mas bisa tahu kamu takut akan hasilnya tidak sesuai harapan kamu kan. Ai, lakukanlah semua pekerjaanmu dengan sungguh-sungguh, karena hasil yang memuaskan hanya bonus saja. Selebihnya makna dalam usahanya itu lebih banyak mengandung arti" sambung Fatah tak mau kalah dengan pemikirannya.
"Iya mas, Sabrin tahu.."
"Kalau tahu, kenapa nggak dicoba semaksimal mungkin" Fatah merasa dirinya akan memenangkan perdebatan ini. Dia tersenyum puas didalam hatinya.
"Nanti malam aku mau sholat istikharah. Siapa tahu dapat petunjuk dari Allah"
"Alhamdulillah. Ini baru istriku" Fatah memandang takjub pada sosok Sabrin saat ini. Dia yakin, Sabrin adalah wanita hebat sama seperti Aisyah. Namun mereka hanya berbeda generasi saja. Jika Aisyah bisa sukses mendampingi Nabi Muhammad, maka Sabrin lah wanita yang akan sukses bersama dengannya.
"Ai.. kemarilah.." Fatah menepuk ranjang sampingnya. Lalu dilihatnya Sabrin berjalan mendekat dan membaringkan tubuhnya disebelah suaminya itu. Fatah memiringkan tubuhnya dengan satu tangan menopang kepalanya. Ditatapnya wajah istrinya yang begitu indah. Dirapi kan nya rambut-rambut Sabrin yang sedikit menutupi keningnya.
"Mas.. apa mas mencintaiku?" Tanya Sabrin spontan kepada Fatah.
Pria itu tersenyum lebar mendengar ucapan Sabrin. Sudah pasti dia mencintai istrinya ini. Istri yang mau bersusah payah belajar bersamanya. Istri yang selalu sedih karena belum bisa menjadi sempurna. Istri yang menangis mana kala ingat dirinya mempersulit langkah Fatah untuk menuju surga-Nya. Istrinya itu adalah Sabrina sakhi hamid.
"Lau jama'tu ayyaama umri min farohin... maa tusaawie lahdzota min wakti ma'aki" ucap Fatah terdengar sangat lirih ditelinga Sabrin. Wanita itu menatap wajah suaminya.
"Artinya mas?" Sabrin sangat penasaran dengan apapun yang suka diucapakan Fatah untuk dirinya.
"Artikan sendiri..." goda Fatah.
"Mas..." rengeknya. Lalu memeluk erat tubuh suaminya itu.
"Kalaulah aku kumpulkan saat-saat gembira dalam hidupku, semuanya tidak akan dapat menyamai indahnya waktu yang aku habiskan denganmu."
Blushh..
Sabrin mendengarnya sangat bahagia. Hingga dia tidak mampu menatap wajah Fatah lagi. Dia lebih memilih menenggelamkan wajahnya dalam bidang d**a suaminya ini. Merasakan istrinya tengah malu, Fatah semakin erat memeluk tubuh istrinya. Yang dia rasakan saat ini adalah rasa bahagia yang begitu memuncak dalam hatinya.
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seluruh kebaikan, yang disegerakan (di dunia) maupun yang diakhirkan (di akhirat), yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari seluruh keburukan, yang disegerakan (di dunia) maupun yang diakhirkan (di akhirat), yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan-kebaikan yang pernah dimintakan oleh hamba-Mu dan nabi-Mu Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam kepada-Mu.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan-keburukan yang hamba-Mu dan nabi-Mu Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam berlindung kepada-Mu darinya.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan segala hal yang mendekatkan kepadanya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala hal yang mendekatkan kepadanya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
Dan aku memohon kepada-Mu agar menjadikan setiap ketetapan (takdir) yang Engkau tetapkan untukku sebagai (takdir) kebaikan." (HR. Ahmad no. 25019, Ibnu Majah no. 3846, Ibnu Abi Syaibah no. 29345, Ibnu Hibban no. 869, Abu Ya'la no. 4473 dan Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar no. 6026. Hadits shahih)
Setiap malam Fatah selalu menutup harinya dengan mendoakan istrinya, Sabrin. Dan berharap pernikahaannya dengan Sabrin akan terus bersama hingga maut yang memisahkan.
-----
Continue