Bab 11

2301 Words
CEMBURU TANDA CINTA   "Sendi....." Sabrin berlari-lari mengejar langkah sahabatnya itu. "Aduh.. tunggu aku dong" dengan napas yang terengah-engah Sabrin berhasil menyamai langkah sahabatnya itu. "Aku panggil dari tadi juga.." "Maaf Rin, aku dipanggil bu Lusi di ruang dosen. Emang ada apa?" Tanya Sendi sambil terus berjalan melewati lorong kelas menuju ruang dosen. "Kamu nggak liat nih aku? Udah dapat pencerahan" Langkah kaki Sendi terhenti begitu saja. Dipandanginya Sabrin dari atas hingga bawah. Perempuan itu masih setia memakai skinny jeans nya namun pakaian bagian atasnya lebih tertutup. Sebenarnya bukan tertutup seperti muslimah yang lain. Hanya seperti seseorang yang melindungi tubuhnya dari sinar panas matahari dengan jaket putih. Dan untuk rambut Sabrin, perempuan ini memakai pasmina putih yang hanya melilit asal kepalanya. Rambut hitam Sabrin masih jelas terlihat. Terlebih poni yang menutupi keningnya itu. "Kamu mau jadi kayak anak SMA jaman sekarang?" Tanya Sendi dengan ketusnya. "Loh kok kamu bisa bilang aku anak SMA sih Sen? Aku kan udah kuliah. Semester 4 lagi." Senyuman khas Sabrin masih setia tergambar dibibir mungilnya. "Gimana? Cantikan aku?" "Dasar jipon.." gumam Sendi. Lalu berjalan meninggalkan Sabrin yang bingung sendiri. Jipon? "Ya Allah.. ini benar dek Sabrin?" Kedatangan Catur membuyarkan lamunan Sabrin. Karena kebetulan ada seniornya ini, dia ingin langsung bertanya mengenai penampilannya ini. "Wa'alaikumsalam bang Catur" goda Sabrin sambil terkekeh. Biasanya dirinya selalu yang di goda sama bang Catur karena lupa mengucapkan salam, sepertinya saat ini seniornya itu yang gantian lupa. "Eh.. iya dek, abang lupa.." Catur menggaruk kepalanya salah tingkah. Baru kali ini dia merasa Sabrin sedang menggodanya. Biasanya perempuan ini begitu judes jika bertemu dengannya. "Bang Catur, jawab jujur ya. Gimana penampilan Sabrin?" Catur melihat dari atas hingga bawah. Lalu terbitlah senyum sehingga pipi tembemnya naik hampir menutupi mata. "Cantik banget.. hehehe.. dek Sabrin emangnya abis dari mana?" "Beneran cantik bang? Makasih ya bang" ucap Sabrin sambil menunduk malu. Dia merasa senang, ada juga pria yang menyebutnya cantik jika berpenampilan tertutup seperti ini. Sabrin pikir pria akan memuji wanita cantik jika dengan penampilan terbuka. "Eheemm..." "Ente ngapain.. ehem.. ehem.. segala?" Tanya Catur pada pria yang berdiri dibelakang Sabrin. Karena mendengar bang Catur bersuara kepada orang lain, Sabrin membalik tubuhnya. Subhanallah, Sabrin benar-benar kaget, hampir saja wajahnya membentur tubuh kak Darwan yang percis dibelakangnya. Saat tahu siapa pria itu, dia menundukkan wajahnya kembali. "Sedang apa berduaan disini?" Ucap kak Darwan. Catur tahu bahwa sahabatnya Darwan tidak suka melihatnya terlalu dekat dengan Sabrin. Moment seperti ini tidak mungkin dilewatkannya. Dia sengaja menggoda Sabrin, dan ingin tahu seperti apa reaksi Darwan. "Dek Sabrin cantik banget hari ini. Ente setuju nggak sama ana, Wan?" Tanya Catur sambil menaik turunkan alisnya. "Bang Catur apaan sih?" Ucap Sabrin sambil terus menurunkan kepalanya. Sungguh dia sangat malu saat ini. Apalagi disini ada kak Darwan. Laki-laki yang sudah berhasil mencuri hatinya. "Kalau mau berhijab yang benar. Rambutnya ditutup. Jangan kayak orang mau ngelayat" jelas kak Darwan. "Maksudnya?" Tanya Sabrin penasaran. "Kamu ngaca aja sendiri gimana cara kamu pakai hijab itu. Jika memang terpaksa jangan digunakan. Lebih baik seperti biasanya, jangan malah menghancurkan dirimu yang selalu tampil apa adanya" jawab kak Darwan. Catur menepuk kedua tangannya. Dia merasa kagum dengan sahabatnya ini. Ternyata Darwan memperhatikan Sabrin juga. Catur pikir Darwan sama sekali tidak tertarik dengan perempuan satu ini. Sekarang jelas, mengapa sikap sahabatnya berubah beberapa minggu ini. Apalagi semenjak Sabrin menikah. Apa Darwan patah hati? "Maaf kak.." ucap Sabrin sambil menarik pasmina yang menutupi kepalanya. "Loh kok dibuka?" Tanya Catur. Darwan yang sedari tadi membuang pandangannya akhirnya berani menatap Sabrin. Saat pasmina itu sudah terlepas dari kepala Sabrin, Darwan mengambil pasmina itu. "Coba gunakan otakmu dengan baik. Bukan berarti aku menyuruhmu membuka pasmina itu" ketusnya. Pasmina yang diambil dari tangan Sabrin, dililitkan kembali dikepala Sabrin. Rambut-rambut Sabrin yang berantakkan dimasukkan oleh kak Darwan ke dalam pasmina itu. Walau memang tidak terlalu rapi, namun jauh lebih baik dari yang pertama kali Sabrin gunakan. Setidaknya tidak ada poni yang keluar dari pasmina itu. "Astagfirullah al'adzim.. kak Darwan, bang Catur..." Sendi yang baru keluar dari ruang dosen nampak terkejut melihat sahabatnya di kelilingi dua pria yang bukan mahramnya ini. "Kita nggak ngapa-ngapain kok Sen. Jujur dah ana.." ucap bang Catur, wajahnya bagaikan seorang maling ayam yang ketangkap basah. "Aku pikir agama kalian jauh lebih baik. Tapi mengapa seperti ini" Sendi benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia liat. "Sen.. bukan begitu. Aku malahan lagi diajarin sama mereka..." jelas Sabrin. "Makasih ya bang Catur.. makasih ya kak Darwan... buat ilmunya.." sambung Sabrin. Lalu dia menarik tangan Sendi pergi meninggalkan dua pria itu. "Rin..aku tuh bingung sama kamu. Sudah ada yang halal di rumah. Ngapain cari yang nggak halal di luar. Dosa tahu. Kamu tahu nggak apa hukumannya wanita yang berselingkuh dibelakang suaminya" Sendi habis memarahi Sabrin. Menurutnya saat ini Sabrin sudah sangat keterlaluan. "Sendi aku nggak selingkuh!! Aku pandangin mereka aja nggak.. aku cuma minta pendapat mereka," walau Sabrin coba menjelaskan, tetapi apa yang dilihat Sendi sudah sangat jelas. "Tapi kamu mau aja dipegang kak Darwan, dipakaikan pasmina dikepala kamu. Kamu sadar nggak, kalau suamimu lihat. Terus dia murka..." "Aku minta maaf Sen. Aku beneran nggak sengaja..." sesal Sabrin. "Kamu ngapain minta maaf sama aku. Minta maaf tuh sama Allah." Ucap Sendi masih dengan nada emosinya. "Kamu tahu kan selingkuh itu jalan menuju perzinahan. Kamu tau nggak salah satu firman Allah mengatakan "Dan janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk" . Kamu masih takut sama neraka, kan?" Kali ini Sendi benar-benar takut sahabatnya ini berjalan dijalan yang salah. Sebisa mungkin dia harus mengingatkan Sabrin akan hal itu. "Aku nggak zina Sen... serius..." Sabrin menahan setiap tetes air matanya. Jika dia menangis berarti dia sama saja mengakui jika memang dia melakukan itu tadi. "Sholat lah Rin, minta ampun sama Allah.." Sendi merangkul tubuh sahabatnya itu. Dia tahu sahabatnya bukan perempuan seperti itu. Mungkin saja tadi Sabrin sedang khilaf. ****   Setelah mengambil wudhu, Sabrin mengenakan mukenanya. Dia bingung harus sholat apa sekarang. Hari masih begitu pagi. Jika menunggu waktu dzuhur dia takut nanti dosanya menjadi semakin banyak. Suasana masjid yang begitu sepi bisa terdengar jelas oleh Sabrin. Pada shaf laki-laki terdengar suara yang saling berbicara. Tirai hijau yang membatasi bagian perempuan dan laki-laki masih bisa terlihat jelas ada dua bayangan laki-laki disana. "Udah ente aja yang jadi imam. Ana makmum nya aja" ucap catur. "Kita sholat dhuha Tur, sholat sunnah jarang berjamaah" ucap Darwan. “Kalau setiap kali sholat sunnah berjamaah emang nggak boleh. Tapi kalau sekali-kali nggak apa-apa Wan. Bahkan Nabi Muhammad juga pernah melakukannya.” Ujar Catur. Sabrin mengenali dua suara itu. Dia yakin itu adalah suara bang Catur dan kak Darwan. "Mereka mau sholat juga?" Gumam Sabrin. "Eheemm.." Sabrin sengaja berdehem agar ada respon dari shaf laki-laki. Namun kehadiran Sabrin sama sekali tidak direspon dengan Darwan dan Catur. "Allahu akbar..." suara kak Darwan dengan lantang memimpin jalannya sholat. "Loh, aku ditinggalin..." Sabrin buru-buru membaca niat dengan bahasa Indonesia. Karena dia bingung dia sholat apa saat ini, dia membaca niat dengan intinya ingin mengikuti sholat yang di imamkan kak Darwan. Lalu mulailah dia mengikuti sholat itu. Kak Darwan dengan fasih membaca surat asy-syamsu pada rakaat yang pertama dan di lanjutkan surat adh-dhuha pada rakaat kedua. Sabrin begitu menikmati setiap ayat yang dilantunkan oleh kak Darwan. Menurut Sabrin cara kak Darwan dan mas Fatah mengimamkan sangat berbeda. Entah apa yang membedakan mereka. Sabrin belum tahu pasti. Yang jelas kedua orang ini memiliki ciri masing-masing. Setelah ditutup dengan salam. Sabrin mendengar kak Darwan mulai membacakan doa dengan suara yang cukup nyaring dan merdu. "ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU'ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA'IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA 'IBADIKASH SHALIHIN" Karena Sabrin tidak mengerti dengan doa tersebut. Sabrin hanya mengamini setiap doa yang dibacakan kak Darwan. Sambil dia merenungkan kesalahannya tadi. Dia memang salah karena membiarkan kak Darwan menyentuh kepalanya. Jika suaminya tahu, Sabrin tidak bisa membayangkannya. Sabrin mengangkat kedua tangannya ke atas. Sambil menitikan air mata segelintir doa sederhana terucap dengan lancar dari mulutnya. "Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupun sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan" Sekarang, bukan hanya air matanya saja yang sudah mengalir dipipinya. Namun dia sudah terisak-isak dalam tangisannya. "Aku takut Ya Allah.. aku sangat takut akan siksa-Mu..." Sendi yang masuk kedalam masjid berniat ingin melihat Sabrin tak kuasa tersenyum senang melihat sahabatnya itu. Dia juga berharap, Sabrin bisa berubah menjadi lebih baik lagi mulai sekarang.   ****   "Gimana? Udah minta maaf sama Allah belum" Saat ini Sendi dan Sabrin tengah menikmati mie ayam langganan mereka didepan kampus. Setelah acara tangis menangis Sabrin tadi di masjid. Sendi tidak langsung menanyakannya pada Sabrin. Baru setelah jam istirahat ini, Sendi mulai bertanya padanya. "Udah dong... " ucap Sabrin mantap. "Bagus deh. Jangan diulangin lagi yang kayak gitu Rin. Nggak baik loh.." "Iya ibu ustad" "Amin..." ucap Sendi senang melihat Sabrin sudah bersusah payah menjadi lebih baik. "Nanti kayaknya dosen pemrograman nggak masuk deh" Sambung Sendi. "Yah.. kemana dong kita? Udah lama kita nggak jalan Sen.." ajak Sabrin. Memang sebelum Sabrin menikah, sabtu minggu biasanya Sabrin dan Sendi selalu jalan berdua. Entah hanya makan, atau menonton film. Kadang juga ke toko buku. Walau Sabrin sangat tidak suka dengan buku, tapi demi sahabatnya dia rela menemani Sendi. "Loh, itu bukannya suamimu ya.." Fatah memarkirkan mobilnya di depan kampus, lalu berjalan masuk ke dalam kampus. Karena posisi Sendi dan Sabrin sedang berada di tenda tukang mie ayam, sehingga membuat Fatah tak melihat mereka. Tak lama, Fatah sudah keluar bersama Azhari dan Darwan. Mereka berbicara cukup serius. Entah apa yang mereka bicarakan "Suamimu berteman sama kak Azhari dan kak Darwan?" Tanya Sendi. "Nggak tahu. Nggak ada yang cerita" Sabrin masih sibuk memakan mie ayam tanpa peduli pada pria-pria itu. "Rin..Rin.. mereka kemari tuh..." Uhhuuuk.. Sabrin tersedak dengan mie ayam yang dimakannya. Lalu menatap kearah mereka yang sedang berjalan kemari. "Waduh..mampus ini mah. Kabur nggak bisa ya" Karena kak Azhari yang sampai lebih dulu, dia kaget melihat di dalam tenda itu ada Sendi dan Sabrin yang sedang istirahat makan siang. "Loh.. Sabrin.." ucapnya. Fatah yang berada dibelakangnya segera melihat ke arah istrinya itu. "Kebetulan yang dicari ada di sini" jelas kak Azhari. Karena salah tingkah, Sabrin hanya bisa tersenyum masam pada ke 3 pria itu. Warung tenda pinggir jalan itu penuh dengan mereka ber 5. Sabrin duduk ditengah-tengah Sendi dan Fatah. Didepan mereka ada kak Azhari dan kak Darwan. Suasana canggung sangat terasa di sini. Ditambah sejak tadi kak Darwan memperhatikan Sabrin dan Fatah yang sedang berbisik-bisik. "Mas nggak makan mie ayam. Enak loh ini" Sabrin akhirnya memecahkan kebisuan diantara mereka semua. Dia ingin menyuapi Fatah namun Fatah menolaknya. "Aku nggak suka makan mie, Ai.." Fatah memang memesan soto ayam disebelah tukang mie ayam ini. "Ohh..." "Dokter mana mau makan yang nggak sehat" sindir Darwan. "Walau saya bukan dokter pun, saya tidak suka makan mie" jawab Fatah santai. Seperti menyadari akan terjadinya perang sindir, Azhari mulai berkomentar pada Fatah sahabatnya. "Ngeliat ente ada yang perhatiin, ana jadi pengen buru-buru cari istri" "Sesuatu yang baik memang harus disegerakan. Jangan ditunda-tunda" jelas Fatah. "Iya gak, Ai..." godanya pada Sabrin sambil mengerlingkan matanya pada Sabrin. "Mas apaan sih" kesal Sabrin. Melihat adegan romantis seperti itu, Darwan seperti terbakar api cemburu. Tanpa sadar dia menuangkan banyak sekali sambal kedalam mangkuknya. "Kak Darwan nggak salah sambelnya?" Tanya Sendi tak percaya. "Orang padang emang gitu Sen. Suka sambel" kak Azhari yang biasanya dingin dan menakutkan jika berada di lab, namun saat di luar begitu hangat dan bersahabat. "Benar yang dibilang kak Azhari, semakin kita jarang mengkonsumsi yang menurut kita tidak baik. Maka semakin lemah daya tahan tubuh kita" lagi-lagi kak Darwan menyindir Fatah. Namun reaksi Fatah hanya tersenyum menanggapi perkataan darwan. "Memang benar cabe baik untuk tubuh. Karena didalam cabe terdapat kapsaisin yang tersimpan pada urat putih cabai atau tempat melekatnya cabe" ucap Fatah. "Dari segi kesehatan, kapsaisin bersifat antikoagulan, yaitu menjaga darah tetap encer dan mencegah terbentuknya kerak lemak pada pembuluh darah. Sehingga orang yang suka makan sambal dapat memperkecil kemungkinan menderita penyumbatan darah (aterosklerosis), sehingga mencegah munculnya serangan stroke dan jantung koroner, serta impotensi" jelas Fatah panjang lebar sambil tersenyum puas kearah darwan. "Salah ente Wan, kalau ngomongin kesehatan sama dokter" sahut kak Azhari. Sedangkan Sendi dan Sabrin hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Fatah yang sangat bermanfaat. "Lanjutin coba mas..." pinta Sabrin. Lalu Fatah menatap Sabrin dengan tatapan lembut bersama senyuman manisnya. "Selain ada kelebihan pasti ada kekurangannya. Cabe juga dapat menyebabkan seseorang menjadi pelupa dan kalau dikonsumsi secara berlebihan akan menyebabkan naiknya asam lambung dan sakit perut. Itu alasannya mengapa Allah mengajarkan yang berlebihan itu tidak baik" Antara kagum dan kesal, Darwan masih mampu membalas senyuman Fatah padanya. Jadi laki-laki seperti ini yang menjadi saingannya. Sosok yang di agung-agungkan oleh seniornya memang sangat memukau. Bahkan darwan tahu, Fatah merasakan kemarahannya. Namun laki-laki itu membalasnya dengan cara yang diluar dugaan. Memang Allah tahu, mana laki-laki yang tepat untuk membawa Sabrin menuju jalan yang dia ridhoi. Sekarang Darwan tahu, mengapa bukan dia yang menjadi imam Sabrin. Dia sadar akan batas kemampuan yang dia milikki. Oleh karena itu takdir Allah memisahkan dia dengan Sabrin. Mungkin kalau takdir Sabrin adalah dia, sejak dulu pasti Allah sudah menyatukan dirinya dan Sabrin dalam ikatan pernikahan. "Aura bahagia dari senyummu dan aura bahagia dari bibirmu memberikan makna kisah dan cerita yang pernah kamu bagi terhadapku tapi kini itu hanya sebatas masa lalu dan tak akan terulang untuk kedua kalinya. Bisa saja terulang tapi itu bukan didunia ini tapi diakhirat kelak. Namun itu jika Allah menghendaki" ----- Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD