Bab 12

2067 Words
DIALAH IMAM KU, AL KAHFI   Selepas acara makan siang bersama tadi, Sabrin ikut Fatah untuk pulang karena dosen yang akan mengajar kelas Sabrin selanjutnya berhalangan hadir. Jalanan ibu kota siang itu belum terlalu ramai, untuk itu tak butuh waktu lama bagi Fatah mengendarai mobilnya sampai di rumah. "Huh.. panasnya.." baru saja Sabrin memasuki pintu depan rumahnya, dia langsung membuka pasmina yang menutupi rambutnya. "Wa'alaikumsalam nak..." sahut sang Mama mertua yang berjalan dari arah dapur. "Loh, jam segini udah pulang?" "Iya ma.. mas Fatah tadi jemput ke kampus" jelas Sabrin sambil mencium punggung tangan Mama mertuanya. Tak lama muncul suaminya itu, "Assalamu'alaikum.. sepi banget" "Wa'alaikumsalam.." Mama menghampiri putranya yang masih melepas sepatunya di pintu depan. "Kamu jemput Sabrin tadi mas?" "Iya Ma, mas lagi nggak sibuk" jawabnya. Lalu mencium punggung tangan Mamanya itu. "Mama belum selesai masak. Kamu mau Mama buatkan apa?" Mama memang sangat bahagia anak dan menantunya pulang lebih awal. Biasanya jam segini dia hanya berdua dengan bik Inah yang suka membantu-bantu di rumah. Karena Umi -adik Fatah- biasanya pasti akan pulang terlambat. Umi merupakan mahasiswi S2 disalah satu fakultas negeri di daerah Depok. Pada jenjang sarjananya, dia mengambil jurusan psikologi. Dan lanjut pada program masternya dia mengambil jurusan psikologi terapan intervensi sosial. Diluar dari kuliahnya, Umi suka mengajar anak-anak kecil yang sekolah di TK dekat rumah. Dia memang sangat menyukai anak-anak. Oleh karena itu, Mama dan Papa sudah sangat takut anak perempuannya itu lupa akan kodratnya sendiri. Umur Umi sudah bisa dikatakan lanjut untuk seorang wanita. Biasanya wanita diumur 24 sudah memiliki seorang suami. Namun Umi seperti enggan untuk menikah saat ini dan lebih mementingkan pendidikannya. Memang seorang wanita butuh pendidikan tinggi karena kelak akan mengajarkan semua pengetahuan yang dia miliki untuk anaknya. Tapi tetap saja Mama dan Papanya cemas memikirkan anak perempuannya akan menjadi perawan tua jika tidak segera menikah. "Nggak usah, Ma. Fatah tadi habis makan" raut wajah Mama seketika pudar begitu saja. Dia pikir anak dan menantunya yang pulang lebih awal bisa membuat rumah menjadi ramai tenyata salah. Mereka langsung saja masuk kedalam kamar tanpa melihat kepada Mama yang menatap mereka sedih. "Kapan rumah ini ramai kembali dengan anak-anak?" Batinnya. Tidak ingin larut dalam kesedihan, Mama mulai kembali memasak makanan untuk makan malam.   ****   "Ai.. tidur kamu?" Tanya Fatah pada Sabrin yang sudah tengkurap diatas ranjang mereka. Karena Sabrin tak menjawab pertanyaan Fatah, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Fatah pikir Sabrin pasti lelah, jadi dia membiarkan istrinya istirahat. Pria itu lebih memilih untuk mandi dan bersiap untuk sholat ashar. Setelah selesai mandi, dia masih melihat Sabrin tidur tak bergerak. "Ai, bangun.. mandi terus sholat" ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sabrin. "Hmm.. 5 menit lagi.." geramnya. "Udah setengah 3. Kamu kan mandi lama, Ai.. " "Kamu tuh mas, nggak bisa liat aku senang sedikit aja" kesalnya tapi tetap bergerak menuju kamar mandi. Dia hanya tersenyum melihat tingkah Sabrin, wanita itu sangat sulit jika disuruh untuk sholat. Banyak sekali alasan yang dibuatnya. Karena itu, Fatah selalu menunggunya untuk sholat berjamaah. "Ayo cepat pakai mukenanya. Kamu tadi mandi apa tidur sih?" Kesal Fatah karena Sabrin hampir satu jam lamanya didalam kamar mandi. "Kenapa sih marah-marah terus? Kan waktu sholat juga masih panjang. Magrib juga masih lama.." ketus Sabrin. "Astagfirullah.. Ai.. kamu tahu nggak apa hukumannya kalau kamu menunda-nunda sholat?" Kali ini Fatah mulai terpancing emosi oleh Sabrin. Istrinya ini sangat sulit untuk diingatkan sholat. "Salah satu firman Allah menyebutkan "Maka wail-lah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya." (QS.Al-Maun:4-5).. kamu tahu wail itu apa?" Sabrin hanya bisa diam ketika suaminya ini sudah memulai sesi ceramahnya. Sebenarnya dia merasa senang saat Fatah mulai menjelaskan detail tentang agama yang tidak dia tahu. Namun juga kadang Sabrin merasa kesal. Pria itu seperti tak tahu waktu kita menjelaskannya. 'Tadi dia yang minta cepat-cepat. Sekarang dia yang menunda-nunda karena menceramahiku..' caci batinnya. "Nggak tahu. Kamu belum jelasin.." jawab Sabrin sambil memakai mukenanya. "Wail adalah lembah di neraka j*****m yang seandainya gunung di dunia dijatuhkan ke dalamnya, maka akan hancur lembur karena panasnya. Itulah tempatmu kelak jika kamu tidak mau bertaubat" jelas Fatah pada Sabrin. "Kok mas doain aku masuk neraka sih" kesalnya sambil menatap tak suka pada Fatah. "Aku nggak doain kamu masuk neraka. Aku cuma menjelaskannya padamu. Harusnya kamu paham, jangan sampai menunda-nunda waktu sholat" perintah Fatah. Ditatapnya wajah Sabrin yang sudah ditekuk dengan pipi yang memerah. "Iya mas.. ayo cepat. Aku udah siap" Sabrin menggelar sajadahnya satu shaf dibelakang Fatah. Lalu suaminya itu tersenyum senang, karena tahu Sabrin sedang tidak suka dengan sesi ceramahnya tadi. Setelah sholat berjamaahnya ditutup dengan doa, Fatah kembali menggoda Sabrin. "Kamu marah sama aku?" Dia mengambil duduk disamping Sabrin yang sedang berbaring diatas ranjang. "Nggak kok. Kenapa harus marah. Tapi tadi tuh mas ceramahnya diwaktu nggak tepat. Kamu yang suruh buru-buru mau sholat, tapi kamu juga yang bikin lama" tutur Sabrin yang dijawab dengan kekehan Fatah. "Iya deh mas minta maaf.." Fatah mencium kening istrinya kemudian tersenyum kembali. "Mas, aku kan nggak hapal niat sholat atau doa-doa. Boleh nggak sih pakai bahasa Indonesia?" Fatah senang Sabrin mulai bertanya kembali apa yang dia tidak pahami. Sebisa mungkin akan Fatah jawab dengan kalimat yang mudah dipahami, agar Sabrin bisa menerima penjelasannya. "Kamu tahu, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bila berdiri untuk shalat, beliau langsung mengucapkan Allahu Akbar dan tidak mengucapkan apa pun sebelumnya, juga tidak melafazkan niat sama sekali. Beliau juga tidak mengatakan "Aku tunaikan untuk Allah shalat ini dengan menghadap kiblat empat rakaat sebagai imam atau makmum" karena niat shalat itu adanya dihati. Jika hatimu memang dipanggil oleh Allah untuk bergerak menunaikan ibadah-Nya, maka segerakanlah mengerjakannya. Jangan sampai ditunda-tunda" "Lah terus, yang niat-niat sholat yang dibaca sekarang ini datangnya dari mana?" "Mungkin sebagian mutaakhirin (orang-orang sekarang) keliru dalam memahami ucapan Imam Syafi'i tentang shalat. Beliau mengatakan: "Shalat itu tidak seperti zakat. Tidak boleh seorang pun memasuki shalat ini kecuali dengan zikir". Mereka menyangka bahwa zikir yang dimaksud adalah ucapan niat seorang yang shalat. Padahal yang dimaksudkan oleh Imam Syafi'i dengan zikir ini tidak lain adalah takbiratul ihram. Bagaimana mungkin Imam Syafi'i menyukai perkara yang tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam satu shalat pun, begitu pula oleh para khalifah beliau dan para sahabat yang lain. Inilah petunjuk dan jalan hidup mereka. Kalau ada seseorang yang bisa menunjukkan kepada kita satu huruf dari mereka tentang perkara ini, maka kita akan menerimanya dan menyambutnya dengan ketundukan dan penerimaan. Karena tidak ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk mereka, dan tidak ada sunnah kecuali yang diambil dari pemilik syari'at Shallallahu 'alaihi wasallam. (Zaadul Ma'ad : 1/201)" jelas Fatah panjang lebar. Diusapnya pipi Sabrin yang putih kemerahan, tingkah Sabrin yang ingin tahu seperti ini membuat Fatah gemas. "Oh gitu ya mas.. pantes kalau mas jadi imam aku sholat, mas langsung aja takbir Allahu akbar, tapi kalau aku sholat di imamin sama senior aku di kampus dia baca niat dulu deh pokoknya" "Niat nya itu ya disini. Dihati kamu, Ai.." ucap Fatah sambil menunjuk d**a Sabrin dengan telunjuknya. "Orang-orang hanya tidak tahu akan kebenarannya seperti apa. Jadi karena aku sudah beritahu kamu saat ini, mas harap sholatmu semakin sempurna" sambung Fatah. "Lalu kalau doa gimana?" Sabrin menatap wajah suaminya itu. "Seseorang diperbolehkan berdoa kepada Allah didalam shalatnya dan diluar shalatnya dengan menggunakan bahasa Arab atau selain bahasa Arab, sesuai dengan keadaan yang paling mudah menurut dia. Ini tidaklah membatalkan shalatnya, ketika dia berdoa dengan selain bahasa Arab. Namun, ketika dia hendak berdoa dalam shalat, selayaknya dia memilih doa yang terdapat dalam Hadis yang sahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam" jawab Fatah. "Sebenarnya secara garis besar shalat bermakna doa. Yang perlu diperhatikan bahwa didalam shalat ada tempat-tempat atau posisi tertentu untuk kita lafadzkan doa, misalnya sebelum memulai bacaan surat Al-fatihah, kita diminta untuk melafadzkan doa pembukaan, atau biasa kita sebut doa iftitah, kadang disebut dengan doa istiftah. Juga ada kesempatan doa ketika rukuk, bangun dari rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, atau ketika tasyahhud. Dan termasuk juga doa qunut. Dan untuk semua posisi itu, sebenarnya sudah ada lafadz-lafadz doa tertentu sudah diberikan contohnya oleh Rasulullah SAW. Dan setiap hari kita sudah melakukan doa-doa khusus itu dalam beberapa rangkaian shalat" "Jadi kalau didalam sholatnya lebih baik pakai bahasa Arab ya? Terus aku gimana dong? Aku kan gak bisa?" "Lebih baik memang seperti itu. Jika didalam rangkaian sholatnya, kamu pakai bahasa Arab. Dan bahasa Arab disini juga bukan bahasa Arab sembarangan. Tapi bahasa Arab fushah, yaitu bahasa Arab yang asli sesuai dengan kaidah" Fatah tahu Sabrin sedikit bingung, mungkin pikir pria itu istrinya sedang memikirkan bagaimana dia berdoa pada Allah jika dirinya saja tidak mampu berbahasa Arab. "Kok diem?" "Abisnya, aku kan nggak bisa bahasa Arab" lirihnya. "Makannya belajar" sindir Fatah pada Sabrin. "Ajarin dong mas. Padahal dulu aku waktu SMP ada pelajaran bahasa Arab. Tapi kenapa gak ada satu pun yang aku inget" sesalnya. "Ya kamu nggak serius kali belajarnya. Belajar dari sekarang. Kan otakmu masih fresh" "Iya nanti aku belajar" Sabrin mendekat pada Fatah lalu merebahkan kepalanya di lengan suami nya itu. "Mas tahu nggak, aku tuh kayak mimpi bisa punya suami kayak kamu. Kalau diliat dari diriku ini, banyak banget kurangnya" "Aku juga nggak sempurna Ai, didunia ini nggak ada manusia yang sempurna. Jadi kekurangan dalam dirimu, aku bantu dengan kelebihan aku. Dan begitu pun sebaliknya" Fatah mengusap rambut hitam Sabrin dan mencium puncak kepalanya. "Mungkin Allah lagi nunjukkan ke aku, kalau jalanku berubah untuk jadi lebih baik lewat kamu mas" "Bisa jadi.." Sabrin memeluk tubuh Fatah, dia merasa nyaman saat ini dengan posisi seperti ini sambil terus mendengarkan penjelasan-penjelasan Fatah tentang agamanya yang tidak dia ketahui. Fatah pun demikian, dia bahagia bisa membagi ilmu yang dia punya untuk istrinya. Apalagi jika dia mampu membawa Sabrin kejalan yang diridhoinya.   **** Selepas sholat magrib, Fatah dan Sabrin keluar kamar. Namun keadaan rumah masih sangat sepi. Lampu ruang keluarga pun masih gelap seperti tak berpenghuni. "Ma.. " panggil Sabrin. Dia mencari sosok Mama mertuanya di dapur, namun tak ditemukannya. "Mas, Mama kemana ya?" Tanya Sabrin pada Fatah yang sedang duduk di depan tv ruang keluarga. "Coba lihat di kamar, lagi sholat nggak?" Sabrin menurut kata suaminya, dia berjalan kearah kamar Mamanya itu. Saat berada didepan pintu kamar yang tidak tertutup rapat, Sabrin bisa melihat sang Mama masih duduk diatas sajadahnya. Lantunan ayat suci Al-Qur'an begitu terdengar indah mengalun dari mulut wanita paruh baya itu. Karena tak ingin mengganggu, Sabrin berbalik arah dan kembali ke ruang dimana Fatah berada. Namun Mama sudah terlebih dulu melihat menantunya itu. "Rin..." panggilnya. "Iya Ma, maaf Sabrin ganggu Mama" "Sini nak. Duduk dekat Mama" wanita itu menuntup Al-Qur'an nya dan meminta Sabrin duduk disebelah dia duduk. "Ada apa Ma?" "Kamu sudah lapar?" Mama mengelus sayang rambut panjang Sabrin. Dia sudah begitu menganggap Sabrin seperti anaknya sendiri. "Belum kok Ma.." Sabrin menatap wajah Mama dari suaminya itu. Umur yang tidak muda lagi menyebabkan banyak sekali kerutan diwajah cantik itu. Walau demikian, Mama memang tetap terlihat cantik dengan usia yang hampir 50. "Rin, Mama boleh tanya sesuatu?" "Boleh kok Ma.. Mama mau tanya apa?" Sabrin terlihat bingung, apa yang kira-kira akan ditanyakan oleh Mamanya ini. "Kamu sama Fatah nggak tunda punya anak kan?" "Ah...? Tunda?" Sabrin tidak yakin harus menjawab apa pada mamanya ini. "Iya, Mama kesepian Rin. Di rumah sepi. Kalau papa, Fatah, kamu, Umi pada berangkat. Mama tinggal sendirian sama bik Inah. Kan kalau kamu cepat punya anak, Mama bisa ada kesibukan" jelasnya. Mata Mama menatap Sabrin penuh harap. Sabrin merasa tidak tega jika menolak permintaan Mamanya ini. Dia juga sudah menyayangi Mama seperti Maminya sendiri. Bahkan kadang Mama lebih lembut dibandingkan Maminya. Untuk itu dia bingung menjawabnya. Takut jawabannya akan menyakiti hati mama. "Sabrin sama mas Fatah cuma bisa berdoa Ma" "Tapi kalian programkan? Masa Fatah dokter kandungan nggak bisa program kehamilan untuk istrinya sendiri" Sebenarnya Sabrin ingin sekali tertawa melihat Mamanya ini merajuk seperti ini. Mama seperti anak kecil yang ingin dibelikan sebuah mainan pada orang tuanya. "Aku nggak tahu Ma, kan yang dokter mas Fatah bukan aku" jawab Sabrin. "Biar nanti Mama yang bilang sama Fatah. Yang penting kamunya setuju untuk punya anak cepat. Mama udah nggak sabar mau punya cucu" senyum bahagianya membuat hati Sabrin ciut. Dia tak yakin mampu untuk mengurus seorang anak kelak. Bahkan mengurus dirinya sendiri saja dia masih dibantu orang lain. Apa nanti anaknya tidak akan terlantar? Ketakutan mulai menyerang Sabrin jika mengingat seperti apa keadaan anaknya nanti. Tapi menolak keinginan Mamanya bukan jalan terbaik juga. 'Biarlah, Allah yang akan menunjukkan jalannya...' bisik hati Sabrin. ----- continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD