Bab 13

3047 Words
SEMINAR CINTA   Suasana ruang makan keluarga Al Kahfi malam ini berubah kaku. Karena permintaan sang Mama pada putra pertamanya itu sontak membuat semua orang yang berada disana menunggu jawaban dari Fatah. Tatapan mata Mama seperti terus memohon pada putranya itu. Berharap permintaannya akan dikabulkan secepatnya. "Ma, punya anak itu nggak semudah Mama masak di rumah. Semua butuh proses" jawab Fatah. "Iya Mama tau. Lagi juga siapa bilang masak mudah. Tapi kalau masaknya pakai hati pasti hasilnya cepat dan enak. Seperti masakan Mama" jelasnya. Masakan Mama memang sangat enak, apalagi memang semenjak menjadi ibu rumah tangga dia selalu menghabiskan waktunya memasak makanan kesukaan anak dan suaminya. Menurut Mama, cinta akan lahir dari perut yang kenyang. "Kamu sama saja bohong, kuliah dokter tapi buat istrimu hamil saja gak bisa" celetuk Mama. Dia merasa sedikit kecewa pada anaknya. "Mama.. biarkan Fatah dan Sabrin yang menentukan. Mungkin saat ini mereka masih nyaman seperti ini" kali ini Papa yang menjawab agar Mama berhenti merajuk seperti anak kecil. Sebenarnya Sabrin merasa tidak enak melihat Mama sedih seperti itu. Tetapi dia bisa apa lagi. Dia tidak mungkin setuju dengan permintaan Mama kalau Fatah saja tidak setuju. "Kalau gitu kamu aja Mi yang nikah, terus kasih Mama cucu" Uhuuukk... Mendengar perkataan dari Mamanya, Umi yang sedang mengunyah makannya menjadi tersedak. "Baru diminta nikah aja sudah kaget begitu" ucap Mama sambil memberikan segelas air pada Umi. "Lagian Mama apa-apaan sih. Kenapa jadi Umi yang disuruh nikah? Kan yang udah nikah mas Fatah, jadi mas Fatah aja yang kasih Mama cucu" "Kamu itu loh kalau disuruh nikah ada aja alasannya. Mau sampai umur berapa kamu sendiri?" Mama tak habis pikir mengapa Umi seperti orang yang takut akan pernikahaan. "Nanti Ma, Umi nikahnya sama Adam Levine.." ucap Umi sambil tersenyum lebar pada sang Mama. "Kamu mau nikah sama orang kristen itu? Yang tatonya dimana-mana?" Mama terkejut mendengar ucapan Umi. "Sadar toh nak, umur sudah tua masih aja berkhayal yang tidak pasti" Mama menepuk bahu Umi yang duduk disebelahnya. "Kayak Adam Levine nya mau sama kamu?" Sindir Fatah. "Yee. Gini-gini Umi cantik tau. Iya nggak kak Sabrin?" Kali ini Umi meminta Sabrin untuk membelanya. Lalu Sabrin tersenyum setuju dengan perkataan Umi. Memang gadis itu begitu mempesona, tubuhnya yang mungil membuat dia masih seperti anak kecil. Bahkan Sabrin dan Umi terlihat seumuran, padahal umur Umi lebih tua 4th dari Sabrin. "Umi cantik kok. Aku aja iri sama Umi. Dia selalu bahagia. Mungkin itu yang buat dia awet muda" jawab Sabrin. "Berarti kamu katain aku tua ya kak?" Kesalnya. Lalu sontak semua orang di ruang makan tertawa secara bersamaan. "Nggak ada yang lucu" kesal Umi pada Papa dan Mama nya yang tampak menggodanya. "Sudah-sudah, habiskan makanannya. Jangan ledek adikmu terus mas" akhirnya Mama juga yang menghentikan acara menggoda Umi malam ini.   ****   "Mas Fatah, sabtu besok mas seminar di kampus Umi ya?" Umi yang melihat Fatah sedang bersantai di ruang keluarga menghampirinya. Gadis itu duduk di samping Fatah, dan menyandarkan kepalanya pada bahu kakak laki-lakinya itu. "Iya, kok kamu tahu?" Tanya Fatah sambil mengusap rambut hitam tebal milik adiknya itu. Memang jika di rumah, Umi selalu melepas hijabnya. Karena menurutnya, rambutnya juga butuh pasokan udara yang cukup. Dan jika ditutup terus dengan hijab, maka proses penuaan rambutnya akan semakin cepat. "Ada spanduknya gede banget. Mas emang mau seminar tentang apa?" Umi menatap wajah Fatah. "Tentang will you marry me?" "Mas Fatah jadi birjo?" Kali ini tubuh Umi sudah menghadap Fatah, dia sangat kaget mendengar seminar yang akan dibawakan oleh kakaknya itu. "Enak aja kamu. Dateng aja, nanti juga tau" Fatah terlihat kesal di sebut birjo oleh Umi. "Ngomongin apaan sih?" Tanya Sabrin yang baru saja ikut berkumpul di ruang keluarga dengan membawa irisan buah apel untuk Fatah. "Itu loh kak, ada seminar di kampus Umi. Dan yang jadi pembicara mas Fatah" jelas Umi sambil mencomot satu iris buah apel yang dibawa Sabrin tadi. "Hus.. mas aja belum makan, kamu duluan yang ambil" gerutu Fatah. "Satu doang mas, pelit banget" "Bukannya kamu jurusan psikolog, kok mas Fatah yang jadi pembicaranya?" Sabrin terlihat tidak mengerti dengan pembicaraan Fatah dan Umi. "Bukan di fakultas Umi kak, tapi di fakultas kedokteran. Kan Umi bisa liat juga seminarnya. Mumpung gratis buat mahasiswa kampus" "Berarti aku kalau mau nonton bayar?" Tanya Sabrin pada Fatah. "Kalau kamu datangnya bareng aku gratis" jawab Fatah sambil mengunyah buah apel. "Lagi juga ngapain kamu ikut seminar? Aku bisa jelasin kamu disini" sambung Fatah. "Iya, sambil praktek ya mas" sahut Umi sambil mencomot satu lagi irisan apel. "Udah yang ke 2 Mi.." kesal Fatah melihat buah yang dibawa istrinya dimakan oleh Umi. Tapi Umi seperti kebal pada tatapan marah Fatah. "Ya udah, aku ikut sama Sendi nanti" ujar Sabrin. "Aku tunggu kak" jawab Umi antusias.   **** Hari sabtu yang menjadi jadwal Fatah untuk seminar tiba. Sejak pagi Fatah sudah siap-siap untuk berangkat ke kampus Umi. Fatah dan Sabrin berangkat terpisah, karena Sabrin harus menjemput Sendi terlebih dahulu. Dan Umi sudah janji dengan Sabrin, akan menunggunya di depan fakultas kedokteran tempat Fatah seminar. Sabrin turun dari mobil jazz putih yang disupiri pak Kardi. "Nanti bapak pulang aja, aku balik bareng mas Fatah" ucap Sabrin pada pak Kardi. "Iya nyonya.." "Rin, mana adik iparmu. Di sini rame banget" tanya Sendi. "Aku juga lagi usaha hubungin ponselnya" memang seminar ini begitu menarik perhatian mahasiswa kampus itu sendiri dan mahasiswa dari luar. Terlebih banyak mahasiswi-mahasiswi genit yang bilang jika si pembicara seminar dokter muda yang tampan. Sontak itu menjadi daya tarik tersendiri untuk mereka. "Kak..." panggi Umi. "Udah lama ya?" "Nggak kok baru. Umi kenalin, ini Sendi sahabatku" Sendi dan Umi saling bersalaman, mereka memang baru 2 kali bertemu. Yang pertama saat Umi datang ke kampus Sabrin sebelum Fatah dan Sabrin menikah. Dan yang kedua saat diresepsi pernikahan Sabrin dan Fatah. "Ayo.. kita masuk" ajak Umi. Saat di pintu masuk, ada beberapa mahasiswa yang bertugas menjaga dan menjual tiket masuk. "Aku nggak perlu bayar kan?" Tanya Umi pada salah satu mahasiswa. "Cewek bawel kayak kamu bebas keluar masuk" jawab pria itu santai. "Berarti kakak aku juga boleh keluar masuk" ucapnya. Pria itu melihat 2 wanita disamping Umi yang tengah menunggu untuk masuk. "Bawa pasukan? Bukannya mas mu yang jadi pembicara" jawab pria itu. “Iya, mas Fatah yang menjadi pembicaranya, memangnya aku nggak boleh lihat?” kesal Umi. “Yaelah Mi, gitu aja ngambek. Senyum dong, kamu kan tahu senyum itu ibadah” ujar pria yang bernama Hans itu. “Siapa lagi yang ngambek. Urusin aja Lara, jangan bisanya gangguin perempuan lain” ketus Umi. Pria yang bernama Hans itu memang selalu mengganggu Umi. Bukan karena Hans suka dengan Umi, karena dia suka melihat tingkah manja atau marah Umi ketika dia menggodanya. Bahkan Hans sendiri sudah mempunya kekasih hati bernama Lara. Namun sesuai gosip yang beredar, Umi lah yang suka mengganggu Hans padahal kenyataannya tidak. "Aku baru tahu kamu punya kakak perempuan" sambungnya. "Eh, jangan macem-macem!!" Marah Umi lalu menarik Sabrin dan Sendi masuk kedalam ruang auditorium. Hans hanya bisa tertawa dengan kemarahan yang Umi tunjukkan. Ruangan besar itu sudah penuh dengan mahasiswa dan mahasiswi yang antusias untuk mengikuti seminar ini. Karena beberapa dokter muda dari rumah sakit terkenal yang akan menjadi pembicaranya dipastikan hadir. Salah satunya adalah dokter Fatah Al Kahfi yang sedari tadi menjadi buah bibir para mahasiswi. "Katanya ganteng banget tahu dokter itu dari dekat" "Yang bener. Jadi penasaran udah nikah belum" Sabrin merasa panas mendengar perempuan yang duduk disebelahnya terus membicarakan Fatah, suaminya. Rasa cemburu telah membakar dirinya. Apa kedua perempuan itu tidak tahu jika dia adalah istri dari pria yang mereka bicarakan. "Panas..." ucap Sabrin. "Iya panas kak, AC nya nggak berasa karena rame banget. Mas Fatah lama banget belum muncul-muncul" jawab Umi sambil melihat kesekeliling yang semakin lama semakin banyak yang datang. Tangannya mengipas-kipas wajahnya yang sudah mulai berkeringat. “Mungkin mas Fatah dandan dulu karena mau dilihat perempuan-perempuan cantik” gerutu Sabrin. Sendi dan Umi yang mendengar kekesalan Sabrin tertawa bersamaan, mereka tahu Sabrin tengah cemburu saat ini. “Emang kak, yang nonton cantik-cantik banget. Aku nggak yakin mas Fatah nggak tergoda” tatapan mata tajam Sabrin berikan pada Umi yang sedari tadi mengggodanya. “Biarin aja, mas Fatah yang dapat dosanya. Udah punya istri matanya masih ngggak bisa dijaga” kesal Sabrin yang termakan kata-kata Umi. “Ya Allah Rin, harusnya kamu percaya dengan suamimu. Bukannya percaya dengan perkataan orang lain” nasehat Sendi. Tak berapa lama, munculnya seorang mc yang mulai membacakan rangkaian acara seminar. Dan waktu yang ditunggu-tunggu tiba, beberapa orang berpakaian jas dokter mulai masuk keatas panggung. Mereka duduk dibangku masing-masing yang telah disediakan. Sabrin tersenyum melihat Fatah duduk diantara 2 dokter lainnya. Namun Fatah tak melihat Sabrin karena memang terlalu banyak orang yang datang. Mc memperkenalkan satu persatu dari 3 dokter yang menjadi pembicara itu. Saat nama Fatah Al Kahfi disebut, suara riuh semakin terdengar. Sesuai dengan judul seminar saat ini adalah will you marry me, akan menjelaskan apa saja yang perlu di ketahui dan dilakukan saat ingin menikah. Salah satu dokter pembicara itu bergelar SpKJ yaitu spesialis kejiwaan. Beliau menjelaskan bagaimana pentingnya konsultasi terlebih dahulu pada seorang dokter sebelum menikah. Karena pada saat menikah akan terjadi perbedaan friksi antara suami dan istri. Berbekal pemahaman yang kuat mengenai cinta dan relasi berpasangan dari konseling pranikah, friksi dalam pernikahan ini akan dihadapi lebih baik. "Pasangan bisa lebih menikmati hubungan. Meski friksi tetap ada, dengan dasar yang kuat, pasangan akan mempertahankan sesuatu yang indah sehingga pernikahan akan tetap berjalan mulus," ucap dokter SpKJ itu dalam sesi penjelasan materinya. Saat pasangan menikah mengalami masalah dalam hubungannya, pemahaman dasar yang dibangun saat konseling pranikah menjadi pengingat keduanya. Pasangan yang melakukan konseling pranikah memiliki hubungan jauh lebih kuat dan lebih mampu melewati berbagai masalah apa pun ke depannya. "Untuk itu sebelum pria mengajakmu menikah, tarik dia untuk melakukan konsultasi bersama pada kami" ucapnya sebelum menutup materi. Banyak tepuk tangan yang menghormati penjelasan dari dokter itu. Dan tibalah giliran Fatah yang menjelaskan materi yang dia punya. Fatah terus mencari-cari sosok Sabrin di tengah ratusan orang, namun sosok itu sulit sekali untuk ditemukan. Dia mulai menjelaskan materi yang dia bawakan, pentingnya mengecek kesehatan sebelum menikah. Tahap ini dilakukan bukan serta merta untuk menghakimi pasangan satu sama lain, melainkan sebagai antisipasi untuk memberbaiki kesehatan calon mempelai, agar didapatkan keturunan yang sehat. "Tolong jangan salah artikan tes kesehatan ini, karena ini bukan tes tentang keperawanan" ucap Fatah dengan lantang yang disambut seruan dari ratusan pasang mata yang menatapnya. "Tes ini juga bisa untuk mengantisipasi jika salah satu dari pasangan kalian mengalami suatu penyakit, maka kami tim dokter bisa memberikan vaksin agar penyakitnya bisa sembuh atau tidak menular pada diri anda" jelasnya kembali. "Dok, biasanya apa saja yang di cek saat itu?" Tanya salah seorang mahasiswa dengan suara keras kearah Fatah. "Pertanyaan bagus" ucap Fatah. "Biasanya ada beberapa tes yang dilakukan yaitu : 1.Hematologi rutin, Tes hematologi rutin berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada jumlah sel darah pada kedua calon mempelai. 2. Urine rutin, Tes urin bermanfaat untuk memeriksa ada tidaknya infeksi saluran kemih dan kondisi ginjal. 3. Golongan darah, Tes golongan darah berguna untuk mengetahui golongan darah dan rhesus (+ atau -) kedua calon pengantin. 4. Gula darah puasa, Biasanya untuk memeriksa gula darah, seseorang dianjurkan untuk berpuasa terlebih dulu, hal ini bertujuan untuk mengamati kadar gula darah dalam tubuh. Biasanya sampel darah kedua pasangan akan diambil setelah berpuasa dan 2 jam setelah makan. 5. HBsAG (singkatan dari Hepatitis B Surface Antigen), Pemeriksaan HBsAG dapat menunjukkan penyakit hepatitis B. 6. VDRL (Venereal Disease Research Laboratory), Tes VDRL berfungsi untuk mengetahui penyakit yang berhubungan dengan kelamin seperti sipilis atau raja singa. 7. Gambaran darah tepi, Tes darah tepi bertujuan untuk mengetahui bentuk sel darah kedua pasangan. Dan yang terakhir yang paling di takutkan pasangan yang ingin menikah yaitu : 8. TORCH (Toxoplasma gondii (toxo), Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), Herpes Simplex Virus (HSV) dan lain-lain), Tes TORCH berfungsi untuk menguji adanya infeksi penyakit yang bisa menyebabkan gangguan pada kesuburan pria maupun wanita. Tubuh yang terinfeksi TORCH dapat mengakibatkan cacat atau gangguan janin dalam kandungan." Jelas Fatah panjang lebar. Setelah Fatah menjelaskan semuanya, dokter ke 3 juga melengkapi penjelasan dari Fatah dari segi kebidanannya. Dan diakhir sesi penjelasan ketiga dokter itu, dibukalah sesi tanya jawab. Mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti acara seminar ini berlomba-lomba untuk bertanya. Umi juga tak mau kalah dari yang lain, dia juga mengangkat tangannya dan memanggil nama kakaknya itu. Setelah bersusah payah, Umi berhasil untuk mendapat kesempatan bertanya. Fatah yang mendengar suara adiknya itu langsung menoleh kearah Umi dan mencari sosok Sabrin yang terlihat duduk di samping Umi. Dia tersenyum ke arah Sabrin yang menatapnya malu-malu. "Apakah boleh menurut Islam untuk memeriksakan kesehatan dari pasangan yang ingin menikah? Bukannya sama saja dengan berprasangka buruk pada Allah" ucap Umi yang ditanggapi senyuman dari Fatah. Kemudian Fatah berdiri dari duduknya dan mulai menjawab pertanyaan dari Umi. "Terima kasih pertanyaan dari saudari Ummi Marifah Al Kahfi, saya akan menjawabnya" sontak membuat semua mata tertuju pada Umi. Apalagi mendengar nama belakang yang melekat sama dengan nama si dokter yang begitu menjadi cassanova di seminar ini. Semakin meriuhkan suasana, "Pemeriksaan itu boleh dilakukan dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Jumhur ulama berpegangan pada pendapat ini. Menurut mereka, tes kesehatan tidak bertentangan dengan syariat dan keimanan kepada Allah SWT. sebab, pada dasarnya tes tersebut hanya sekedar sebagai sebuah ikhtiar manusia untuk kebaikan hidupnya. Dan upaya seperti ini, secara tersirat diperbolehkan berdasarkan pernyataan Umar ibnu Khaththab ketika terjadi wabah penyakit menular di Syam. Diriwayatkan, Umar berkata, "Aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain." (HR. Bukhari) " Jelas Fatah yang tak hentinya memandangi Sabrin. Istrinya itu seperti terpesona setiap mendengar penjelasan darinya. "Apa Rasulullah pernah melakukan tes kesehatan pada calon istrinya?" Lanjut Umi yang bertanya pada Fatah. "Bahkan anjuran Rasulullah saw. untuk memilih istri dari keluarga yang subur dan memiliki banyak keturunan. Diriwayatkan, beliau saw. pernah bersabda, "Nikahilah wanita yang subur dan penuh cinta kasih. Aku sungguh berharap bisa membanggakan jumlah kalian yang banyak di antara umat-umat lain." (HR. Abu Dawud dan an-Nasa'i) . Apa sudah jelas?" Jawab Fatah. "Lalu, setelah melakukan pemeriksaan seperti itu dan tenyata calon istri yang akan dinikahinya memiliki kekurang. Contohnya tidak bisa punya anak, apa yang akan dilakukan? Apa pernikahan itu akan gagal?" Kali ini Sabrin lah yang bertanya pada Fatah, dia memang sudah sangat ingin bertanya sedari tadi. "Itu kembali pada diri masing-masing. Jika pria itu mencintai wanitanya dengan tulus, apapun kekurangan dari wanita itu dia akan terima. Karena mencintai seseorang itu tanpa sebuah alasan. Kalau alasannya hanya menarik fisiknya saja, saat tahu ada kekurangan maka cinta itu akan pergi begitu saja" jawab Fatah. "Semua kembali lagi pada Allah, dia yang menentukan pasangan itu berjodoh atau tidak di lauhul mahfudz" sambungnya sambil tersenyum manis pada Sabrin. Setika itu juga Fatah mendapatkan tepuk tangan dari semua orang didalam ruangan itu. Fatah merupakan sosok dokter yang begitu dikagumi, selain pintar ternyata ilmu agamanya sangat tinggi.   ****   "Ai... " panggil Fatah yang baru bisa terlepas dari mahasiswi-mahasiswi yang meminta tanda tangan dan fotonya. Fatah bagaikan artis sehari dalam seminar itu. Dia bisa menyebarkan benih cinta bagi siapa saja yang melihatnya. "Kamu pulang bareng aku kan?" Tanya Fatah sambil melihat-lihat mobil yang biasa di bawa pak Kardi. "Iya.." jawab Sabrin dingin. "Ai, kamu kenapa sih?" Fatah terlihat risih melihat Sabrin yang hanya mendiamkannya. Saat ini dia sedang mengendarai mobil yang didalamnya ada Sabrin, Umi dan Sendi. "Lagi PMS kali.." Goda Umi. "Benar itu Ai?" Fatah melirik ke arah Sabrin yang ada disampingnya. Namun Sabrin hanya diam saja. "Kayaknya ada cemburu nih" kali ini Sendi yang menggoda Sabrin. Dia tahu Sabrin kesal dengan perempuan-perempuan tadi. "Cemburu kenapa?" Fatah terlihat bingung. Dia tidak mengerti, Sabrin cemburu karena apa? Bahkan dia biasa saja pada perempuan-perempuan yang berusaha mendekatinya itu. "Siapa yang cemburu? Aku cuma mikir aja. Kenapa judul seminarnya will you marry me? Bukannya seminar cinta. Jelas-jelas mahasiswi yang datang ke sana berharap cinta dari kamu" Fatah terkekeh mendengar pengakuan Sabrin. Dia yakin Sabrin seperti ini berarti sudah ada benih-benih cinta yang tumbuh di hati istrinya itu. Dan Fatah berharap, semakin hari benih cinta itu semakin tumbuh besar agar tidak mudah digoyahkan. "Kamu cinta ya sama aku Ai?" Fatah ikut menggoda Sabrin yang sedang marah. "Iya aku cinta. Dan aku cemburu, apa salah aku cemburu pada suamiku?" Kesalnya. Umi dan Sendi berusaha menahan tawanya melihat tingkah Sabrin yang sedang cemburu. Karena mereka tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga Sabrin. "Kalau seandainya aku tanya, kamu cinta nggak sama Allah? Apa yang kamu jawab?" Tanya Fatah pada Sabrin namun masih fokus mengemudikan mobilnya. "Udah pastilah aku cinta sama Allah, kamu pakai tanya mas" Sabrin semakin kesal dengan pertanyaan Fatah yang tidak penting. "Lalu apa buktinya kamu cinta sama Allah?" Tanya Fatah kembali. Namun Sabrin hanya diam saja, dia bahkan tak mampu menjawab pertanyaan mudah dari Fatah. "Kan tadi kamu bilang kamu cemburu sama aku karena kamu cinta sama aku, terus aku tanya kamu cinta sama Allah apa nggak. Dan kamu jawab, kamu cinta sama Allah" Sabrin menatap wajah suaminya yang masih sibuk mengemudi namun perkataannya terus membombardir Sabrin hingga dia tak mampu menjawabnya. "Ai, kamu kalau aku tinggal sebulan ke Amerika bakalan kangen nggak?" Fatah melirik sekilas wajah Sabrin yang sudah menahan tangisnya. "Loh kok malahan nangis, kan aku tanya" "Kangen lah. Kamu itu kenapa tanya begini sih. Mau ninggalin aku?" Kesal Sabrin. "Kalau kamu kangen aku, berarti kamu juga harusnya kangen sama Allah. Ingin terus bertemu dengan-Nya juga. Karena kamu bilang kamu cinta sama Dia" jelas Fatah. Sabrin baru saja mengerti apa yang dimaksud Fatah. Dia bisa dengan mudah menjawab mencintai Allah, namun tak ada satu hal pun yang menunjukkan hal itu benar adanya. Tidak seperti dirinya pada Fatah. Dia selalu cemburu jika ada wanita lain disamping Fatah, selalu rindu jika tidak bertemu dengannya. Harusnya, dia juga seperti itu pada Allah. Bukan hanya mengucapkan kata cinta saja. Namun perbuatannya pun harus dia tunjukkan. Bahkan dia selalu malas jika disuruh Fatah untuk sholat. Padahal saat sholat itu dia bertemu dengan Allah, untuk melepaskan segala kerinduaan terhadap kekasih hatinya. Sabrin merasa semakin berdosa jika mengingat hal ini. Masih diterima kah dia jika dia bertaubat pada Allah? Sabrin sadar memang berubah menjadi lebih baik tidak mudah. Untuk itu dia berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi istri yang sholeha. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."(QS. Al Anfal: 2)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD