HADIAH YANG DINANTIKAN
Sudah lebih dari 3 bulan ini Sabrin resmi menjadi istri dari Fatah. Tetapi belum ada perubahan yang berarti dalam diri Sabrin. Walau saat ini dirinya sudah resmi menggunakan hijab. Namun hijab yang dia kenakan masih dalam pembelajaran. Karena hijab yang seharusnya panjang sampai menutupi aurat dadanya, akan tetapi hijab yang Sabrin kenakan berbeda. Hijabnya sangat menggantung, bahkan kadang rambut panjangnya masih terlihat diujung hijabnya.
Tetapi bagi Fatah, Sabrin sudah sangat banyak kemajuannya. Dia memang tidak menuntut Sabrin langsung berubah menjadi wanita muslimah. Dengan begini saja sudah cukup membuat hati Fatah senang. Fatah bangga pada Sabrin, jika diingat sebelum menikah dengannya Sabrin benar-benar sulit menjaga sikapnya. Namun lihatlah sekarang, sikapnya sedikit banyak sudah bisa dia kontrol. Dan jika diingatkan untuk sholat, Sabrin tidak seperti dulu harus beradu mulut dulu dengan Fatah tetapi dia langsung menjalaninya. Masya Allah..
"Mas kenapa sih? Aneh banget" ucap Sabrin sambil meletakkan lauk di piring Fatah. Mereka saat ini sedang makan malam bersama mama, papa dan Umi. Kegiatan ini memang selalu disempatkan keluarga mereka, agar masih tercipta komunikasi dengan keluarga. Mengingat kesibukan dari mereka semua, sedikit waktu yang dimiliki untuk berkumpul seperti ini.
"Nggak papa.." jawab Fatah sambil tersenyum kearah Sabrin.
"Mas lagi mikirin yang jorok-jorok tuh" celetuk Umi. Lalu Mama menghadiahkan sebuah pukulan dikepalanya. "Aaahhh.. Mama kenapa sih?" Kesalnya sambil mengusap-usap kepala.
"Kamu itu loh, ngomongnya dijaga sedikit"
"Umi benar kok Ma, pasti tuh mas Fatah mikirnya kesana. Coba aja ditanya" jawab Umi santai sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Sudah.. sudah.. ibu sama anak ribut terus" Papa mulai menengahi Umi dan Mama.
"Ajarin anakmu itu Pa, nggak ada sopan santunnya sama kakaknya sendiri" Mama mengadu pada Papa seperti anak kecil yang tidak diberikan permen. Melihat hal itu, Fatah hanya bisa menahan tawanya. Mama dan Papanya tidak pernah malu untuk menunjukkan kasih sayang satu sama lain. Walau umur pernikahan mereka yang sudah menginjak 27th. Namun tetap harmonis. Fatah benar-benar ingin pernikahannya dengan Sabrin akan sama seperti Mama dan Papanya.
"Rin, makan yang banyak. Mama lihat kamu sekarang jarang makan. Nanti kamu sakit Rin" ucap Mama sambil mengambilkan lauk untuk Sabrin.
"Iya Ma, Sabrin stres ujian kemarin ini. Jadinya males makan" jawab Sabrin. 2 minggu kemarin ini Sabrin memang menghadapi ujian semesternya. Dia benar-benar fokus untuk belajar dan mengejar semua materi yang dia lewati di kelas. Hingga Sabrin lupa untuk makan, kadang Fatah selalu mengingatkan dia namun tetap saja Sabrin tidak menuruti Fatah. Sedangkan Fatah, seminggu belakangan ini sering sekali berada di rumah sakit dibandingkan di rumah. Dokter Iwan yang menjadi patner Fatah di rumah sakit harus tidak masuk karena orang tuanya meninggal dunia. Oleh karena itu, dalam seminggu kemarin Fatah selalu tidur dirumah sakit.
"Rin, gimana. Udah ada tanda-tanda belum" tanya Mama.
"Tanda apa Ma?" Dahi Sabrin mengkerut bingung dengan pertanyaan Mama mertuanya itu.
"Itu loh, hoeekk. Hoeekk..." jawab Mama sambil mempraktekan gerakan seolah-olah ingin muntah. Umi tertawa melihat tingkah Mamanya itu. "Mama ngapain? Ini Mama yang hamil apa kak Sabrin yang hamil?" Celetuk Umi.
"Hus.. kalau Mama masih bisa hamil, Mama mau hamil lagi. Biar rumah ini rame"
"Memangnya anak perempuanmu itu nggak bisa buat rumah rame?" Papa bertanya pada Mama sambil tersenyum jahil.
"Kalau ini mah udah ketuaan buat ditimang-timang," Mama mulai terlihat kesal karena tidak ada yang mendukung keinginannya.
"Nanti kalau sudah, Sabrin kasih tahu Mama." Sabrin berusaha menghibur Mama. Setelah mendengar ucapan Sabrin mata Mama langsung berbinar bahagia.
"Mama doain Rin, setiap habis sholat Mama selalu berdoa untuk kamu dan Fatah. Biar diberikan keturunan yang sholeh dan sholeha" kali ini mata Mama sudah mulai berkaca-kaca. Melihat hal itu membuat Sabrin semakin tak tega.
"Umi nggak didoain Ma?" Ia menatap wajah tua Mamanya, walau dia bersikap begini tapi dia sangat sayang pada mamanya.
"Iya, untuk Umi juga. Biar cepat dapat jodoh"
"Amin..." ucap Papa, Fatah dan Sabrin bersamaan.
"Kok malahan jodoh sih doanya. Nggak seru banget" Umi merasa sudah tidak suka berlama-lama di meja makan, dia pasti akan dipojokkan oleh Mamanya. Lalu dia memilih pergi ke kamar meninggalkan yang lain.
"Ngambek lagi..." lirih Mama melihat anak perempuannya itu.
****
"Kamu besok libur Ai?" Saat ini Fatah dan Sabrin sudah berada didalam kamar. Fatah menatap Sabrin yang sedang duduk di depan meja rias sambil membersihkan wajahnya.
"Iya mas, libur. Tapi aku kayaknya harus latihan deh. Soalnya sebentar lagi mau penerimaan mahasiswa baru. Kan mas tahu setiap penerimaan mahasiswa baru, kami yang mengisi acaranya"
"Kamu masih masuk klub paduan suara itu?" Tanya Fatah tak yakin.
"Iya lah, aku kan cinta sama musik" cengirnya. Membuat Fatah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“Lebih cinta mana, nyanyi atau mengaji?” goda Fatah pada Sabrin. Kembali Sabrin dibuat bungkam hanya dengan sebuah pertanyaan dari Fatah. “Gini loh Ai Rasulullah pernah berkata dalam Hadits Bukhari dan Muslim, “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah limau yang bau nya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an, bagaikan buah kurma yang rasanya lezat namun tak berbau. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah raihanah yang baunya harum tetapi rasanya pahit. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit.” Sekarang kamu tinggal pilih, kamu suka buah yang seperti apa untuk kamu makan?” jelas Fatah.
“Pasti yang paling enak untuk dimakan” ketus Sabrin.
“Kalau sudah tahu yang paling enak, mengapa tidak mencobanya. Sesungguhnya Ai apapun yang kamu lakukan demi keyakinanmu maka tidak akan pernah sia-sia” tutur Fatah. "Ai, besok aku harus lembur lagi..." hembusan napas berat Fatah bisa didengar oleh Sabrin. Dia yakin suaminya itu sangat lelah, tetapi memang sudah menjadi tanggung jawabnya untuk tetap menjalankan itu semua. Selain menjadi dokter kandungan, Fatah juga menjadi komisaris di rumah sakitnya itu. Karena rumah sakit itu merupakan hasil jerih payah Fatah. Dia mendirikannya dari rumah sakit yang biasa menjadi sekarang yang sudah bertaraf internasional.
"Istirahat kalau besok harus lembur" ucap Sabrin sambil membaringkan tubuhnya disebelah Fatah. Tetapi Fatah dengan segera membalik tubuhnya, dan mengurung tubuh Sabrin dibawahnya. "Kita ibadah dulu yuk. Udah lama rasanya" sebelah mata Fatah mengedip genit pada Sabrin. Namun Sabrin bukannya senang, malah terlihat takut dengan kedipan itu.
"Kamu kayak kelilipan mas"
Tetapi perkataan Sabrin sudah tidak didengarkan Fatah, dia sudah sibuk menjamah tubuh Sabrin hingga desahan lembut lolos dari bibir Sabrin. Terbuai dengan belaian suaminya, Sabrin seperti tak sadarkan diri dan larut dalam permainan panas suaminya itu.
Hingga tengah malam percintaan mereka berakhir. Fatah bangkit dari ranjangnya, dan melihat Sabrin yang tertidur dengan kelelahan. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, karena ia ingin memulai sholat malam yang sudah seminggu dia tinggalkan.
Setelah memakai peci putihnya, Fatah mulai menggelar sajadahnya. Sholat tahajud yang tak pernah dia tinggalkan, dalam seminggu kemarin dia lupakan begitu saja karena terlalu sibuk dengan duniawi. Dia merasa berdosa dan merasa rindu sekali dengan Allah. Rindu memohon padanya. Rindu menceritakan keluh kesahnya.
Diakhir sujudnya, Fatah menyempatkan membaca salah satu doa yang memang dia harapkan Allah kabulkan.
"Rabbi lâ tadzurnî fardâ wa Anta khayrul wâritsîn. Waj'allî milladunka waliyyâ yaritsunî fî hayâtî wa yastaghfirulî ba'da mawtî, waj'alhu khalfan sawiyyâ, wa lâ taj'al lisy syaithâni fîhi nashîbâ. Allâhumma inn astaghfiruka wa atûbu ilayka, innaka Antal ghafûrur rahîm.." (Nuh: 10-12). (Al-Wasail 15: 106). Sebanyak 70 kali dia mengulang doa itu dalam sujud terakhirnya.
Setelah sholat malam, Fatah melanjutkannya dengan membaca Al-Qur'an. Dia jadi ingat dulu saat pertama kali khatam Al-Qur'an, kedua orang tuanya begitu bangga padanya. Orang tuanya sudah sukses mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang ini. Fatah berpikir, apakah dia mampu seperti kedua orang tuanya dalam mengurus anaknya kelak.
Tak terasa, waktu sudah masuk subuh. Fatah berhenti sejenak dari mengajinya, lalu membangunkan Sabrin untuk shalat subuh bersama. Tidak ada lagi penolakan yang dulu sering Sabrin lontarkan. Dia sudah sangat begitu penurut pada suaminya itu.
Sholat subuh berjamaah selesai. Sabrin mencium tangan Fatah. Dia melihat wajah lelah suaminya itu. "Kamu begadang ya mas?" Tanya Sabrin sambil menempelkan kedua tangannya pada pipi Fatah.
"Iya Ai, ngantuk banget aku"
"Tidur lagi sana. Kamu kan harus kerja mas. Jangan begadang terus kalau tubuh nggak fit"
Sabrin menarik tubuh Fatah untuk berbaring diranjang. Dan menyelimuti tubuh suaminya itu. Kemudian Sabrin ikut berbaring disebelahnya. Dan kembali terlelap bersama.
****
"Pagi pak..." sapa salah satu satpam pada Fatah. Dia sedikit berlari memasuki ruangannya. Karena seharusnya dia sudah hadir di rumah sakit tepat pukul 9, namun dia baru sampai jam 10.30. Fatah melihat di ruang tunggu sudah banyak pasien yang menunggu. Keadaan seperti ini membuat Fatah menjadi bersalah.
"Sudah berapa banyak pasien sus?" Tanya Fatah pada suster yang selalu mendampinginya.
"20 orang pak.."
"Ya Allah, mereka menungguku?"
"Iya pak, semua pasien ini yang sudah bapak tangani selama ini" lalu suster memberikan data pasien-pasien itu pada Fatah.
"Ya sudah, suruh mereka masuk"
Fatah mulai memeriksa dari pasien pertama, banyak keluhan yang keluar dari mulut pasien-pasien itu. Biasanya Fatah merupakan dokter yang selalu on time, namun sekarang dia telat hampir 2 jam lamanya.
Pada pemeriksaan pasien yang ke 5, seorang suster memanggilnya. Karena ada pasien urgent yang harus di tolong terlebih dahulu.
Dokter bagian Obgyn memang hanya dua orang di rumah sakit ini, selebihnya dokter specialist lain. Fatah memang tidak menerima banyak dokter Obgyn, karena menurutnya dia masih mampu untuk menangani pasien-pasien disini. Pemeriksaan pada pasien lain tertunda kembali, karena Fatah memilih untuk menyelamatkan pasien urgent terlebih dahulu.
Dokter Iwan yang sudah kembali masuk untuk bertugas, sedang kembali ke rumah. Karena kemarin dia sudah bertugas seharian. Baru nanti malam dokter Iwan kembali lagi berjaga.
Dengan sangat terpaksa Fatah meminta Rasha membantunya. Fatah sebenarnya tidak yakin dengan Rasha, karena dia merupakan dokter baru yang sedang menjalankan masa koasnya. Fatah takut Rasha melakukan tindakan ceroboh pada pasiennya. Tetapi dengan yakin, Rasha berkata pada Fatah kalau dia mampu.
"Capek banget kamu mas?" Tanya Rasha.
Saat ini mereka tengah duduk di kantin rumah sakit. Fatah telah menyelesaikan tindakan operasinya pada pasien urgentnya tadi, dan Rasha sudah melakukan tugasnya dengan baik dalam membantu Fatah.
"Kamu kan tahu aku kurang tidur seminggu ini. Tubuhku sudah meminta untuk diistirahatkan" jawab Fatah. Sehari ini dia sudah menghabiskan 5 cangkir kopi agar dia terus bisa terjaga.
"Kopi terlalu banyak nggak baik loh mas, sudah mas tidur aja. Aku yang bantuin mas kalau ada pasien" ucap Rasha menyakinkan.
Dia mengusap bahu Fatah yang terlihat sangat lelah. Karena bujuk rayu Rasha, akhirnya Fatah menurut. Dia kembali ke ruangannya dan memilih untuk tidur diatas sofa. Dalam sekejab, Fatah sudah terlelap dalam dunia mimpinya. Dia tidak sadar ada seseorang dalam ruangannya itu yang menyelimuti tubuhnya dan mencium keningnya dengan lembut.
"Mimpi indah mas..." bisiknya.
****
Keadaan ruangannya sudah gelap saat Fatah membuka matanya. Di lihatnya arlogi yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ternyata cukup lama dia tertidur. Tenaganya sudah kembali pulih, dan bisa memulai melakukan aktifitasnya lagi. Baru saja dia ingin membuka pintu ruangannya, tiba-tiba Rasha masuk.
"Mas udah bangun?" Rasha kaget melihat sosok laki-laki tegap didepannya. Wangi khas dari tubuh Fatah menyerang indera penciumannya.
"Iya. Dokter Iwan udah datang?" Tanya Fatah.
"Belum. Tapi mas tenang aja. Pasien sudah kosong"
Fatah menganguk mendengar kata-kata Rasha. Lalu Rasha masuk ke dalam ruangan itu. Dia berjalan mendekati Fatah.
"Mas..."
"Iya.." Fatah membuka jasnya dan kembali membaringkan tubuhnya kembali keatas sofa.
"Aku mau minta hadiahku. 2 minggu lagi masa koas ku berakhir"
"Oh. Iya. Memang mau Hadiah apa?" Fatah terlihat santai menutup matanya, walau begitu dia masih fokus mendengar ucapan dari Easha. Namun berbanding terbalik dengan Rasha, gadis itu menatap wajah Fatah dengan lekat. Seperti merekam dengan jelas apa yang menjadi kebahagiaannya selama ini.
"Kalau aku minta, mas pasti penuhi?" Tanya Rasha ragu.
"Jika aku bisa, aku akan turuti. Sebagai hadiah karena kau sudah dengan baik mendengarkan semua pelajaran dari ku"
"Baiklah.. " dia menghembuskan napasnya, sebelum melanjutkan perkataannya. "Nikahi aku mas.." Mata Fatah yang awalnya terpejam, saat ini sukses terbuka lebar. Dia tidak menyangka gadis yang dulu dia pinang, saat ini minta untuk dinikahi. Apa dia sedang tidak bermimpi? Apa masih ada rasa untuk gadis ini? Bahkan dulu Fatah pernah bermimpi akan bersama-sama meraih surga-Nya dengan gadis muslimah ini. Tetapi saat ini, semua sudah berubah.
Hatinya yang paling dalam, sudah digantikan oleh sosok Sabrin. Wanita yang selalu tampil apa adanya. Wanita yang berhasil membuat Fatah mengerti akan arti cinta. Bukan hanya cinta pada sosok wanita itu, tapi cinta pada Allah. Berkat Sabrin juga, dia bisa mengamalkan semua ilmu yang dulu dia dapat di pondok pesantren.
"Kamu.. kenapa tiba-tiba minta hal yang tidak mungkin" tanya Fatah gugup. Fatah tidak memungkiri, Rasha gadis muslimah yang sangat sempurna. Sangat jarang di jaman sekarang ini bisa menemukan gadis seperti Rasha.
"Tidak mungkin mas bilang? Bahkan dulu mas yang meminangku. Dulu bukannya aku tidak suka pada dirimu mas. Harusnya kamu tahu itu, aku bukan dari keluarga yang mampu. Bahkan aku sendirian didunia ini. Kamu tahu kan orang tua ku sudah tidak ada. Oleh karena itu, aku harus menyelesaikan pendidikan ku dulu. Baru aku bisa berumah tangga" jelasnya
Fatah sedikit menyesal, dulu dia mengambil keputusan yang terburu-buru. Dia pikir Rasha memang menolaknya karena tidak ingin berumah tangga dengannya. Namun ternyata dia salah. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Saat ini ada Sabrin disisinya yang harus dia bimbing.
"Aku nggak bisa Sha. Kamu tahu aku sudah memiliki istri"
"Mas, bahkan mas tahu rasulullah sendiri memiliki banyak istri. Yang penting kau adil mas. Itu sudah cukup. Aku tidak meminta harta darimu. Yang aku minta hanya sedikit keadilan" ucap Rasha.
"Tidak Rasha. Aku tidak mampu berlaku adil. Bahkan adil untuk Sabrin dan keluargaku pun aku tidak mampu" jawab Fatah.
"Tapi mas, dalam surat an-Nisa ayat 3 pun diperbolehkan. Maka berkahwinlah dengan sesiapa yang kamu ber-kenan dari perempuan-perempuan (lain): dua, tiga atau empat." Isakan Rasha sudah mulai terdengar ditelinga Fatah, gadis itu menangis seperti menyayat hati Fatah.
"Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi mas, aku hidup di Jakarta seorang diri. Cuma mas yang aku kenal dekat" ucapnya disela-sela tangisannya. Fatah mengusap wajahnya gusar. Dia bingung harus mengambil keputusan seperti apa dalam hal ini. Agar Rasha dan Sabrin tidak tersakiti satu sama lain.
"Anggap saja mas menolongku untuk hidup jika menikahi ku" ucap Rasha lirih.
Fatah menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju. Dia bukan laki-laki hebat seperti rasulullah yang mampu berlaku adil atau juga dia bukan laki-laki yang mencuri kesempatan dalam keadaan seperti ini. Bahkan dia saja belum mampu membawa Sabrin menjadi lebih baik. Haruskah dia menambah bebannya lagi. Tetapi rasa egois dalam dirinya berkecamuk, dia ingin sekali menikahi gadis ini sejak dulu. Dan saat ini gadis itu datang padanya untuk dinikahi.
"Mas tidak bisa Sha, mas gak mampu. Jika memang kamu butuh keluarga, mas bisa minta Mama agar kamu bisa tinggal di rumah"
"Bukan itu yang Rasha mau mas... Rasha cuma ingin melengkapi kehidupan Rasha dengan sosok suami seperti mas. Pikirkanlah dulu mas" lirihnya.
Jika seperti ini terus, Fatah tidak yakin akan teguh pada pendiriannya. Bisa saja dia goyah lalu menerima Rasha menjadi istrinya. Tetapi jika dia menikahi Rasha demi menolong gadis ini apakah salah? Bahkan rasulullah menikah lagi juga karena untuk menolong perempuan yang tidak mampu.
"Baiklah, mas akan pikirkan dulu" seketika itu juga Rasha tersenyum bahagia mendengar perkataan Fatah. Walau menjadi istri yang kedua, Rasha rela. Karena memang sejak dulu, Fatah lah kekasih hatinya.
----
continue...
Sudah baca versi buku?