DIALAH PILIHAN KU
Sudah beberapa hari ini Sabrin bingung melihat sikap aneh suaminya. Fatah lebih sering melamun, dan tidak konsen jika diajak bicara. Ditambah Mama terlihat marah dengan Fatah. Hingga Fatah lebih suka tinggal di rumah sakit dari pada di rumah. "Mas, ada apa?" Sabrin mendekat ke arah Fatah yg sibuk mengkancingkan kemeja.
"Ah..?" Fatah terlihat tidak fokus dengan pertanyaan Sabrin.
"Kamu itu loh, kenapa? Aneh banget. Kamu sama Mama lagi ada masalah ya?" Dengan telaten dia membantu Fatah mengkancingkan kemejanya. Ditatapnya lekat mata suaminya itu. Dan berharap menemukan sebuah jawaban di sana. Namun, Fatah dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Sabrin.
"Kenapa kamu tanya sama aku? Aku beberapa hari ini sibuk di rumah sakit" kilahnya.
"Tapi sejak malam itu. Sehabis kamu berbicara dengan Mama, Mama langsung berubah. Apa ada masalah serius mas?" jelasnya.
"Kamu dengar apa yang aku bicarakan sama Mama?" Fatah berharap Sabrin tidak mendengar perkataannya pada sang Mama.
"Nggak kok mas. Tapi aku lihat raut wajah Mama langsung berubah. Ada apa sebenarnya?" Pikiran Fatah kembali melayang, saat beberapa hari yang lalu ketika dia menceritakan masalahnya pada Mama.
"Kamu serius mas? Lalu Sabrin bagaimana?" Mama menatap Fatah tak percaya. Putra yang dia besarkan dengan penuh cinta, ternyata harus bertindak seperti ini kepada istrinya.
"Aku harus bagaimana, Ma? Aku ingin memilih jalan yang terbaik. Mama harus tahu sebelum menikah dengan Sabrin, dia wanita yang ingin aku nikahi" ucap Fatah putus asa. Sebenarnya Fatah juga tidak ingin menikah lagi, tetapi setiap melihat Rasha perasaan egoisnya kembali datang. Dia ingin memiliki Rasha.
"Mama nggak percaya kamu begini mas. Memang dalam Islam diperbolehkan poligami, tetapi dalam poligami tidak dibolehkan menikahi wanita lain karena napsu" cecar Mama. "Kamu nggak cinta sama dia mas, tapi kamu napsu memiliki dia. Mama tahu kamu, karena Mama lah yang melahirkan kamu" sambung Mama.
"Tapi Ma.. dia tinggal sendirian. Aku hanya ingin memberikan dia perlindungan"
"Jika niatmu hanya untuk melindungi dia, tidak perlu kau menikahinya. Menikah itu bukan permainan mas. Mama bisa menganggapnya anak Mama sendiri. Dia bisa jadi keluarga kita" Fatah menghembuskan napasnya berat. Dia tahu pasti Mamanya tidak setuju. Jika Mamanya saja tidak setuju, apalagi Papanya. Papa tidak mungkin membiarkan Fatah menyakiti hati anak sahabatnya sendiri.
Lalu bagaimana nasib Rasha?
"Dia sudah besar mas, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Kau sudah memiliki Sabrin, harusnya yang kau perhatikan dia bukan wanita lain. Sabrin juga masih butuh banyak bimbinganmu" ucap Mama sambil menepuk bahu Fatah. "Sholat istikharah lah.. minta petunjuk sama Allah. Jangan sampai kamu salah ambil keputusan. Berlaku adil itu susah loh mas, bukan hanya materi tapi prilakumu"
Mama pergi meninggalkan Fatah yang masih diam membisu..
"Mas, ditanya malahan diem.." Sabrin kesal setengah mati melihat tingkah suaminya ini.
"Maaf.." lirih Fatah sambil memeluk Sabrin. Di ciumnya kening istrinya itu. "Maafkan mas..."
Masih dengan perasaan dan pikiran tak menentu Fatah datang ke rumah sakit. Pagi ini dia bertugas dari pagi hingga sore. Lalu sorenya digantikan oleh dokter Iwan.
"Pagi Dok" sapa satpam ramah. Tetapi Fatah seperti tidak menyadari sapaan dari satpam itu. Dia terus berjalan ke arah ruangannya.
"Mas..." panggil Rasha. Fatah kaget melihat pagi-pagi Rasha sudah ada di ruangannya. "Kamu tugas pagi juga?" Tanya Fatah sambil memakai jas dokternya.
"Nggak mas, hari ini aku libur. Mau ke kampus"
"Oh.."
"Mas.. untuk yang waktu itu..." cecar Rasha..
"Biar mas pikir dulu. Mas butuh sholat istikharah.." potong Fatah sambil berjalan pergi meninggalkan Rasha. Namun terbitlah sebuah senyum dibibir gadis itu. Ternyata Fatah tidak menolaknya, dia masih memikirkan permintaannya waktu itu. Hatinya seperti ditumbuhi ribuan bunga. Dia pasti akan bahagia bila Fatah menikahinya.
****
"Sabrin...." Sendi berjalan cepat kearah Sabrin. "Kamu buru-buru banget sih" kesal Sendi.
"Iya, soalnya aku belum selesai ngerjain tugas lab nya" sesal Sabrin. Dia menatap mohon pada Sendi agar sahabatnya itu bisa membantunya.
"Emang kenapa kamu belum ngerjain?" Tanya Sendi penuh selidik tapi tetap memberikan buku lab nya pada Sabrin.
"Makasih Sen, kamu emang sahabat baikku" Sabrin kegirangan karena dapat contekan dari Sendi. Sabrin berlari masuk ke dalam masjid sambil membawa buku lab milik Sendi. Dia langsung membuka buku lab nya dan menyalin tugas milik Sendi.
"Kamu itu loh, kalau ketahuan ka Azhari habis kamu. Belum lagi kalau ka Azhari bilang sama suamimu" celetuk Sendi.
"Biarin aja. Mas Fatah juga lagi sibuk. Dia nggak pernah mikirin aku lagi sekarang" Sabrin merasa kesal karena sudah tidak diperhatikan oleh Fatah. Dia yakin Fatah menutupi sesuatu darinya.
“Rin, kamu tahu kan menyontek itu dosa?” sindir Sendi. Lalu Sabrin menghentikan kegiatan menyalin tugasnya. Ditatapnya wajah Sendi yang nampak dibuat serius.
“Aku kan nggak nyontek. Aku kan cuma menyalin. Kalau nyontek kan sembunyi-sembunyi. Kalau menyalin kan terus terang. Buktinya aku menyalin di depan kamu langsung kan” ucap Sabrin.
“Begini Rin, dalam bahasa Arab mencontek itu ghish dan khadi’ah yang berarti tipu daya. Dan dalam bahasa Inggris mencontek adalah cheating yang makna asalnya adalah menipu, memperdaya, berprilaku tidak jujur, melanggar aturan secara sengaja. Dalam Islam ada hukumnya bagi kita yang melakukan hal itu. Nabi bersabda dalam sebuah Hadits sahih riwayat Muslim “barang siapa yang menipu kita, maka ia bukan bagian dari kita” . kamu nggak mau kan bukan bagian dari orang muslim?” jelas Sendi yang membuat Sabrin diam tak berkutik.
Melihat wajah Sabrin yang ketakutan membuat Sendi tertawa puas, “Sudah-sudah, lain kali jangan begini. Kalau hari ini aku kasih pengecualian buat kamu Rin” ujar Sendi. Setelah selesai menyalin tugas, Sabrin dan Sendi berjalan beriringan ke ruang lab. Jadwal pertama mereka memang kelas lab. "Sabrin...." Sabrin dan Sendi melihat bersamaan siapa yang memanggil Sabrin. Terlihat dari kejauhan seorang wanita yang berhijab syar'i mendekati mereka.
"Assalamu'alaikum.." salam dan senyum dia berikan pada Sendi dan Sabrin.
"Wa'alaikumsalam.." ucap Sendi. "Aku ke lab duluan ya Rin.." Sendi tahu perempuan ini ada urusan dengan Sabrin. Jadi dia lebih memilih untuk menghindar.
"Ada apalagi?" Tanya Sabrin ketus sambil membuang pandangannya.
"Ternyata kamu sudah berubah ya. Sudah menggunakan hijab" senyum mengejek terlihat jelas di wajah perempuan itu. "Kepala kamu memang tertutup, tapi lihat kaki kamu. Mana ada wanita muslimah memamerkan bentuk tubuhnya didepan orang banyak" matanya memandang dari atas ke bawah tubuh Sabrin. Hari ini Sabrin menggunakan kemeja kotak yang sengaja sedikit besar untuknya. Lalu di bawahnya dia menggunakan legging hitam dan ditambah sepatu kets nya. Memang rambut hitam panjangnya sudah ditutup dengan hijab hitam. Tetapi lekukan kaki Sabrin memang jelas terlihat.
"Ada yang salah sama kaki ku?" Tanya Sabrin. "Atau kamu iri dengan kaki ku yang jauh lebih panjang dari kaki mu kak?" Ukuran tinggi tubuh Sabrin memang jauh lebih tinggi dari pada Rasha.
"Aku iri denganmu? Apa yang harus aku irikan? Tubuh? Tubuh indah tidak selamanya akan seperti itu. Semua akan berubah seiring berjalannya waktu. Harusnya kamu yang iri denganku. Iman ku jauh lebih baik" bangganya. Seketika Sabrin menciut. Dia tidak punya nyali jika sudah berbicara soal iman dan takwa, tapi saat ini dia sedang berusaha menjadi lebih baik.
"Setidaknya aku punya kekasih dunia dan akhiratku. Dia yang sudah membimbingku. Dan kami berjanji akan bersama-sama menuju surga-Nya" kali ini Sabrin yang membanggakan dirinya dan Fatah didepan Rasha.
"Kau boleh berbangga hatimu. Tapi tunggulah saatnya, ingatlah di atas langit masih ada langit" ucap Rasha.
"Maksudmu...?" Sabrin bingung dengan ucapan Rasha.
"Mas Fatah akan meninggalkanmu suatu saat nanti." jelasnya sambil berjalan meninggalkan Sabrin. Lalu langkah Rasha terhenti. Karena di depannya berdiri kak Darwan melihat dirinya dan Sabrin.
"Assalamu'alaikum kak"
"Wa'alaikumsalam" jawab kak Darwan sambil melirik Sabrin yang berdiri seperti patung. "Ada apa kemari?"
"Aku mau mengembalikan ini" sebuah jaket dikeluarkannya dari dalam tas ranselnya. "Terima kasih jaketnya, sudah aku cuci. Aku pergi dulu ya kak" diberikannya jaket itu pada kak Darwan. Dan berjalan menjauh dengan cepat.
Karena penasaran, kak Darwan mendekati Sabrin. "Sabrina.." panggilnya.
Sabrin mengangkat kepalanya dan menatap kak Darwan. Walau wanita itu tersenyum tetapi kak darwan bisa melihat kesedihan dimatanya.
"I.. ya kak.." suara Sabrin bergetar menahan tangisannya.
"Kamu nggak masuk lab? Kak Azhari yang ngajar tuh"
Sabrin menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memang tidak menangis, tetapi hatinya bagaikan disayat-sayat. Tidak perlu ditanya seberapa sakit Sabrin saat ini. Tanpa pamit dia meninggalkan kak Darwan. Perasaan hatinya sudah kacau. Entah apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Fatah. Apa ini penyebab sikap Fatah yang berubah menjadi aneh?
Setetes air matanya lolos dari sudut matanya. Kali ini dia butuh seseorang untuk tempat dia bersandar berkeluh kesah. Tubuhnya ambruk begitu saja di sudut tangga sepi yang jarang dilewati mahasiswa. Ditundukkan kepalanya di atas kedua lututnya yang ditekuk.
Sabrin tidak tahu apa yang membuatnya menangis seperti ini. Tetapi perasaan hatinya sangat tidak enak. Dia seperti takut. Takut kehilangan orang yang dia cintai. Dipukul-pukul dadanya kuat. Sabrin begitu tersiksa dengan perasaan aneh ini. Perasaan dimana dia mencintai suaminya dan ada wanita lain yang dia tahu calon istri suaminya dulu. Mungkin jika dia tidak dijodohkan, pasti Fatah sudah menikahi wanita itu. Dia wanita sempurna, iman dan takwa nya jauh lebih baik dari dirinya.
Hampir 2 jam Sabrin menangis pilu sendirian. Sabrin butuh banyak waktu untuk meluapkan perasaan sakitnya ini. "Ya Allah Sabrin.." Sendi histeris melihat sahabatnya itu. Lalu dia duduk di samping Sabrin dan menarik Sabrin dalam pelukannya.
"Kamu kenapa? Cerita sama aku" ucapnya sambil mengusap punggung Sabrin.
"Aku.. aku nggak tahu Sen. Rasanya hatiku sakit banget. Kayak ditusuk-tusuk sama pisau. Aku juga nggak tahu kenapa? Tapi habis mendengar ucapannya aku ketakutan Sen.. aku takut Allah mengambilnya dari diriku" jelas Sabrin ditengah isak tangisnya.
"Ucapan siapa?" Sendi melepaskan pelukannya dan menatap wajah Sabrin yang sudah memerah karena menangis.
"Rasha... dia... dia bilang... dia bilang... Ya Allah, jangan sampai itu terjadi Sen. Aku nggak akan sanggup" Sabrin sudah tidak mampu lagi meneruskan ucapannya. Dia terlalu takut jika ucapan Rasha menjadi kenyataan. Sungguh dia tidak ingin kehilangan Fatah.
"Ya Allah, Sabrin tenang dulu. Dia bilang apa? Aku nggak paham kalau kamu masih menangis begini" Sendi tidak mengerti dengan penjelasan Sabrin.
"Dia seperti ingin memisahkan aku dari mas Fatah" sesaknya. Sendi menatap Sabrin dengan raut wajah tak percaya. Wanita yang berhijab syar'i itu mau merusak rumah tangga sahabatnya. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu yang terlontar dalam kepalanya.
"kamu yakin Rin? Nggak baik nuduh orang"
"Jadi kamu lebih percaya dia Sen dari pada aku? Sahabatmu sendiri?" Sabrin mulai kesal oleh Sendi.
"Bukannya aku tidak percaya kamu. Tapi dia terlihat sangat..." Sendi menghentikan perkataannya. "Maafkan aku Rin, sudahlah kau jangan menangis. Tidak ada gunanya juga kau menangis. Jika memang dia berniat buruk seperti itu, kamu tidak harus melawannya. Tetapi seharusnya kamu introspeksi diri kamu. Kenapa dia bisa berani sama kamu, kalau kamunya saja banyak menunjukkan kelemahan didepan dia. Kamu bisa lihatkan dia? Dia dari luar seperti wanita sempurna. Karena dia menutupi semua kelemahannya. Agar tidak ada orang lain yang mampu menyerangnya. Tapi, lihatlah dirimu? Banyak kelemahanmu yang terlihat dari luar, oleh karena itu dengan mudah dia menyerangmu" jelas Sendi.
"Kalau kamu takut suamimu direbut dia, yakin lah pada dirimu sendiri jika suamimu itu adalah jodohmu. Karena jodoh itu tidak mungkin tertukar. Dalam sebuah Hadits riwayat Bukhari Muslim dari Ibnu Mas'ud r.a., dikabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya proses penciptaan setiap orang dari kalian berada di perut ibunya selama 40 hari berupa segumpal a******i. Selanjutnya ia berubah menjadi segumpal darah dalam masa yang sama. Kemudian ia berubah menjadi segumpal daging dalam masa yang sama. Lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya disamping diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yakni [1] rizkinya, [2] ajalnya, [3] perilakunya, dan [4] bahagia-celakanya. Kamu mengerti kan?" Sendi mengusap pipi Sabrin yang sudah banjir air mata. Walau Sabrin banyak memiliki kekurangan, tapi menurut Sendi Sabrin adalah sahabat yang paling baik. Dia paling mengerti akan kesedihan sahabatnya.
"Kamu coba bicara langsung sama suami kamu, Rin. Tanya, jangan diam seperti ini. Nanti yang ada jadi salah paham" Setelah mendapatkan masukan positif dari Sendi, Sabrin bergegas ke rumah sakit suaminya bekerja.
Dengan diantar supir pak Kardi, Sabrin tiba di rumah sakit. Beberapa satpam dan perawat sudah mengenali Sabrin. Walau dia jarang kemari, sejak insiden waktu itu pekerja di sini seperti menggosipkan dirinya. Dengan cepat Sabrin menuju ruang kerja Fatah. Saat berada di depan ruangan itu, seorang suster memanggilnya.
"Pagi bu, ibu cari dokter Fatah ya?" Tanya dia ramah.
"Iya..."
"Ibu tunggu saja di dalam. Dokter Fatah sedang mengunjungi pasien..." jelasnya. Lalu Sabrin masuk ke dalam ruangan suaminya itu.
Tak berapa lama, Fatah datang membawa beberapa data laporan pasien. "Ai.." dia kaget, istrinya sudah berada di ruangannya dengan mata bengkak habis menangis. "Ada apa?" Fatah mendekati Sabrin yang sedang duduk di atas sofa. Dia berjongkok di hadapan Sabrin dan menatap lekat wajah istrinya itu.
"Jawab jujur mas.. ada hubungan apa mas sama Rasha?"
Deg..
Jantung Fatah seperti berhenti mendadak. Masalah yang sudah beberapa hari ini ditutupi olehnya, ternyata diketahui juga oleh Sabrin. Memang seperti kata orang, sepandai-pandainya menyimpan bangkai. Maka suatu saat akan tercium juga. Mau tidak mau, Fatah menceritakan semuanya kepada Sabrin. Tanpa mengurangi sedikit pun. Sabrin mulai menangis kembali. Rasa sakit dihatinya semakin menjadi. Ternyata memang kisah cintanya harus berakhir seperti ini.
"Lalu mas terima?" Sabrin sudah siap dengan semua konsekuensinya.
"Tidak. Mas tidak terima. Mas sudah dapat jawaban dari semua ini. Dia itu hanya masa lalu mas. Dan jika mas akan tetap menikahinya, mas bukan mencintainya tapi hanya napsu sesaat karena dulu pernah ditolak olehnya" Fatah menggenggam kuat tangan Sabrin. "Sejak ijab kabul di depan ayahmu dan Allah, mas sudah janji akan membuatmu bahagia. Bagaimana pun caranya. Dan mas akan setia sama kamu, kita sama-sama akan menuju surga-Nya. Kamu masih ingat kan janjimu?" Fatah mencium punggung tangan Sabrin penuh cinta. Dia bodoh selama berapa hari ini sudah menelantarkan istrinya ini. Bahkan Sabrin sudah rela belajar apapun bersamanya agar menjadi lebih baik. Jika Fatah meninggalkan wanitanya ini, dia memang tidak pantas disebut suami.
"Maafin mas ya Ai.. karena mas kamu menangis lagi" ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Mas janji nggak akan ninggalin aku?" Tanya Sabrin sekali lagi.
"Mas janji.. cuma kamu Ai wanita dunia dan akhiratku" Fatah menyakinkan Sabrin jika dia telah khilaf beberapa hari ini. "Tapi kamu tahu dari mana Ai?"
Fatah tidak merasa menceritakan masalah ini pada siapa pun. Dia tidak yakin Mamanya yang bercerita pada Sabrin. Karena Fatah tahu, mamanya tidak pernah ikut campur masalah rumah tangganya. Lalu siapa? "Waktu itu aku pernah tanya sama mas, mas percaya kan sama semua perkataanku. Dan mas jawab kalau mas percaya. Kalau saat ini aku bilang, jika kak Rasha yang berkata padaku apa mas percaya?"
Mata Fatah menatap Sabrin tajam, dia berusaha mencari kebohongan dalam diri Sabrin. Namun nihil, istrinya ini begitu jujur. Walau Fatah baru beberapa bulan ini mengenalnya, tetapi hati kecilnya begitu mempercayai Sabrin.
"Dia.. menceritakan padamu? Kapan?" Tanya Fatah mencengkram kuat tangan Sabrin.
"Tadi dia datang ke kampusku. Dan... mengatakan padaku. Walau secara tidak langsung, tapi aku mengerti maksudnya" jelas Sabrin sambil menekuk wajahnya. Fatah menarik napas dalam, dia sungguh menyesal percaya pada Rasha. Ternyata perempuan itu seperti memakai sebuah topeng. Jika didepannya dia begitu baik. Namun dibelakangnya, dia selalu menyakiti Sabrin. Ya Allah, dia lalai menjaga Sabrin. Karena kebodohannya, Sabrin disakiti oleh orang lain.
"Kamu tahu, jika Allah memintaku menghapus 3 nama dari hidupku. Yaitu nama Mama, Papa, Umi, dan kamu. Maka aku akan menghapus nama Umi, lalu Papa dan kemudian Mama. Dan aku menyisakan namamu untukku simpan dihatiku" jelas Fatah. "Ai, seorang suami itu selalu dinilai dari 3 perempuan didekatnya. Yang pertama dari ibunya, bagaimana dia menyayangi ibunya melebihi dirinya sendiri. Dan bagaimana dia membalas semua jasa ibunya setelah melahirkan dan membesarkan dia. Lalu yang kedua dari istrinya. Bagaimana cara suami itu mendidik istrinya menjadi istri yang sholeha dan diridhoi oleh Allah sehingga menghasilkan keturunan yang baik. Dan yang ketiga dari anak perempuannya. Bagaimana perannya menjadi seorang ayah yang melindungi anak perempuannya dari segala hal yang dilarang oleh Allah. Hingga anak perempuannya itu mempunyai pendamping hidup. Jika dari ketiganya aku gagal, maka tidaklah kami kaum laki-laki dapat mencium wangi surga"
Sabrin mendengar penjelasan Fatah dengan seksama. Berusaha menyimpan setiap makna penting yang Fatah ucapkan. Bahkan rasa kesal dan marahnya sudah meluap entah kemana. Sosok Fatah memang sudah menghipnotis dirinya. Dan dengan keyakinan hati, dia yakin Fatah memang imamnya di dunia maupun di akhirat kelak.
Fatah memeluk tubuh Sabrin. Dia mengusap lembut punggung istrinya itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan melakukan hal yang bisa membuat Sabrin menangis seperti ini. Istrinya ini benar-benar memiliki hati yang mulia. Sabrin memang tulus mencintanya. Untuk itu dia tidak akan mempermainkan perasaan Sabrin. Inilah jawaban Allah padanya setelah berhari-hari meminta petunjuknya. Hanya Sabrin lah yang bisa membuat hati kecilnya bergetar.
"Sabrina, istriku.. engkau adalah kekasihku.
Istriku..., aku mencintaimu apa adanya dirimu..
aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimu
Apapun yang terjadi engkau tetaplah kekasihku..
Istriku..., engkaulah kasih dan cintaku..
Kekasihku aku tidak pernah khawatir dirimu adalah seorang istri yang hobinya hanya memarahiku...
Sungguh zaman telah mengizinkan kita untuk bersatu dengan sambungan yang tidak terputuskan...
Engkau menyiram hatiku dengan indahnya akhlak dan perangaimu..
Sungguh kebahagiaan sirna tatkala engkau pergi dan kehidupan menjadi indah jika engkau datang....
Siang hariku terasa kacau hingga tatkala aku kembali ke rumah..
dan tatkala melihatmu maka dengan senyumanmu sirnalah semua gundah gulana dan kegelisahanku...
Istriku..., aku mencintaimu apa adanya dirimu...
aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimu..
Terasa sempit kehidupan ini jika sehari saja engkau gelisah ...
Maka aku akan berusaha untuk bisa mewujudkan impianmu..
Kebahagiaanku adalah engkau maka berbahagialah engkau dengan hangatnya cintaku selama hidupmu...
Maka sungguh kedua ruh kita telah bersatu sebagaimana bersatunya tanah dan tanaman...
Wahai harapanku...
wahai ketenanganku...
wahai ketentramanku dan pemberi ilham dalam hidupku...
Kehidupanku menjadi indah meskipun bagaimanapun sulitnya hari-hari jika engkau baik " ucap batin Fatah.
"Anna uhibbuki fillah, Ai..." bisik Fatah ditelinga Sabrin. Tanpa melepaskan pelukannya. Dengan hanya memeluk Sabrin seperti ini, dirinya menjadi tenang. Hilanglah sudah keraguan dalam hatinya. Yang dia tahu, hanya cintanya pada Sabrina saat ini hingga akhir.
"Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan sandaran segala urusanku. Dan perbaikilah urusan duniaku yang merupakan tempat tinggalku, dan perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku.. dan jadikanlah kehidupanku sebagai tambahan bagi kebaikanku dan kematianku sebagai tempat istirahat dari segala kejelekanku. (HR Muslim)"
-----
continue