KEKASIH HATI
"Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk."
Sabrin menatap wajah Fatah, terpancar kebahagiaan dalam matanya. Dia tidak tahu mengapa dia begitu mudah memaafkan Fatah, sedangkan tadi rasa kesal dan kecewanya begitu besar. Namun semua itu hilang saat Fatah menceritakan semuanya dengan jujur. Mungkin karena itu pula Sabrin memaafkannya.
"Ai, kamu mau makan apa?" Fatah bertanya pada Sabrin sambil melepas jasnya. Waktu berjalan begitu cepat, sampai tak terasa sudah waktunya makan siang. "Mau makan diluar? Aku mau sholat dulu" tanya Fatah kembali.
"Aku juga mau sholat mas" dengan cepat Sabrin mengikuti langkah Fatah yang ingin keluar dari ruangannya. Lalu Fatah tersenyum dan menggenggam tangan istrinya itu. Saat mereka berjalan melewati lorong rumah sakit, beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. Ada yang bertanya-tanya, ada yang terlihat iri, ada yang tersenyum ke arah mereka. Walau begitu Fatah tetap memberikan senyum kepada semua pekerja dan pasiennya itu. Di depan masjid rumah sakit, mereka berpisah. Fatah ke arah pria, dan Sabrin masuk kedalam tempat wanita.
Setelah membuka hijabnya, Sabrin membasuh wajahnya dengan air wudhu. Begitu segar terasa di kulit wajahnya. Karena seharian ini dia sudah banyak mengeluarkan air mata. Matanya yang begitu setia menangis ketika hatinya merasa sakit. Begitu pula tangannya yang selalu menyeka air mata, saat mata mulai menangis. Bahkan setiap bagian tubuhnya pun memiliki ikatan yang sama. Bila yang satu sakit maka semuanya merasakan.
Sabrin tersenyum miris mengingat kejadian tadi, untung saja Fatah menolak untuk menikahi Rasha. Jika tidak, entah seperti apa keadaannya saat ini. Mungkin tubuhnya sudah tidak mampu berdiri lagi. Sungguh betapa kuat hati bekerja hingga melumpuhkan semuanya. Dengan khusyuk Sabrin mengikuti sholat berjamaah kali ini. Rasanya hatinya begitu tentram tidak seperti tadi. Memang kekuatan sholat sangat berarti. Pantas saja Fatah begitu keras menyuruhnya untuk sholat. Efek yang ditimbulkan untuk dirinya sangat besar. Dia kembali sedih, betapa lalainya dulu dia. Sering kali meninggalkan sholat yang merupakan tiang agama. Apa masih pantas dia menyebut sebagai umat muslim jika sholat saja tidak.
Sambil mengangkat tangannya, dia menangis kembali. Tak ada doa yang terucap kali ini. Dia hanya ingin Tuhan mendengar jerit hatinya. Rasa pilu nya yang tak bisa terobati. Walau seharusnya Sabrin sudah tenang karena Fatah tetap mempertahankannya. Tetapi hatinya masih gundah. Mungkin saja saat ini Fatah menolak. Tapi apa lain kali dia juga akan menolak lagi? Cukup lama dia bersimpuh memohon ampun pada Allah. Sabrin meminta untuk menguatkan hatinya. Agar dia mampu menerima dengan ikhlas semua cobaan ini.
"Ya Allah..
Berikanlah kekuatan kepadanya untuk melewati cobaanMu..
Agar mampu bangkit tiap kali badai menerpa..
Berikanlah ia kehidupan yang mulia sehingga ia dapat memuliakanMu..
Berikanlah ia hati yang senantiasa ikhlas dan kuat menerima amanah-amanahMu..
Berikanlah ia d**a yang lapang sehingga ia dapat sabar dalam mendidikku sebagai pendampingnya titipan dariMu..
Jadikanlah aku istri yang sholeha sehingga aku dapat menjadi pembuka gerbang surga untuknya..
Ya Allah lindungilah orang yg ku cinta dan mencintaiku dengan cintaMu..
Semoga engkau selalu dalam lindunganNYa..
Ku panjatkan doaku setiap waktu untukmu suamiku.."
Tanpa berucap, namun setiap detak jantung Sabrin seperti terus mendoakan Fatah, suaminya.
"Mas.. tunggu..." panggil Sabrin. Sabrin berlari kecil ke arah Fatah yang memandanginya. Tangan Sabrin masih sibuk membenarkan hijabnya yang tak beraturan. Tetapi, tiba-tiba saja Fatah menarik tangannya. Dan dengan lembut Fatah membenarkan letak hijabnya. Rambutnya yang sedikit keluar dibagian depan, dirapikan oleh Fatah.
"Sudah..." ucap Fatah setelah melihat hijab yang dikenakan Sabrin rapi.
"Makasih ya mas.."
Kemudian Fatah menggenggam tangan Sabrin kembali. "Kita mau makan dimana Ai?"
"Aku lagi mau makan seafood mas..." pinta Sabrin.
Fatah menyetujui keinginan Sabrin. Dia membawa istrinya menuju salah satu restaurant seafood langganannya. Kebutulan memang jarak restaurant itu dengan rumah sakit tidak begitu jauh. Saat ini mereka telah duduk disalah satu kursi di sudut restaurant. Sambil menunggu makanan tiba, Fatah terus memperhatikan wajah Sabrin, dia seperti sudah terhipnotis dengan wajah istrinya itu.
"Kamu kenapa sih mas? Muka aku ada yang aneh ya?" Sabrin menatap kesekeliling mencari kaca untuk melihat bentuk mukanya. Dia tahu, pasti matanya bengkak karena menangis lama. Karena itu Fatah terus menatap wajahnya.
"Nggaak ada yang aneh Ai, tolong jangan menangis lagi ya. Aku nggak mau lihat matamu seperti ini lagi" ucapnya. Fatah mengusap punggung tangan Sabrin sambil menatap mata hitam miliki Sabrin. Wanita itu hanya mengangguk tak mampu berkata-kata lagi.
"Ya Allah, ente Fatah?" Seru seorang pria pada Fatah. Sabrin melihat wajah Fatah seperti sedang mengenali pria yang memanggilnya.
"Ana Kiki. Masa ente lupa sama ana." Ucapnya sambil menepuk bahu Fatah.
"Afwan.. afwan.. ana lupa, Ki. Kaifa haaluk (apa kabar)?"
"Alhamdulillah, amsaitu 'alaa shihhatin wa 'aafiyah (alhamdulillah, pagi ini aku baik-baik saja)" jawabnya.
"Lam aroka min muddah thowiilah (lama sekali aku tidak bertemu kamu)" Fatah memeluk tubuh pria itu. Saat ini Sabrin hanya diam memandangi kedua pria itu berpelukan. Entah apa yang tadi mereka bicarakan. Tak ada satupun kata yang Sabrin mengerti.
"Ki, kenalin istri ana" ketika Fatah sadar dari tadi dia hanya membiarkan Sabrin tanpa mengajaknya ikut berbicara dengan sahabatnya. "Ai, ini sahabatku waktu di gontor dulu. Namanya Kiki" jelas Fatah pada Sabrin.
"Sabrina.." ucap Sabrin.
"Maa ajmalaha..." ucapnya spontan.
"Istri ana Ki.. jangan macam-macam" celetuk Fatah. Namun sahabatnya itu hanya terkikik melihat Fatah yang cemburu.
"Di sana ada teman kita yang lain, mau ikut ngumpul?" Ajak Kiki pada Sabrin dan Fatah. Kemudian Fatah memandang Sabrin meminta persetujuan. Karena sudah lama Fatah tidak bertemu dengan teman-temannya. Sehabis kembali dari Amerika, dia sibuk dengan rumah sakitnya. Hingga tak ada waktu bertemu dengan teman-teman pondoknya dulu.
Sabrin tersenyum menyetujui permintaan teman Fatah. Lalu mereka berpindah tempat duduk ke tempat para sahabat Fatah berkumpul. Di meja itu sudah ada 5 orang lainnya. 2 diantara perempuan. Namun saat pandangan orang-orang itu menatap ke arah datangnya Fatah dan Sabrin, tubuh Sabrin membeku.
"Mas Fatah..." panggil wanita itu lembut. Kaki Sabrin tak mampu melangkah lagi. Melihat wanita itu berusaha mendekati Fatah, dia seperti tidak mampu untuk menghalangi.
"Loh, Rasha. Kamu di sini juga?" Fatah bingung menatap Rasha yang berkumpul ditengah sahabatnya.
"Kalian udah saling kenal?" Tanya Kiki sahabat Fatah tadi.
"Dia..." ucapan Fatah dipotong cepat oleh Rasha. "Mas Fatah dokter tempat aku menjalani masa koas" jelas Rasha. Merasa Sabrin berdiri jauh di belakangnya, dia berbalik menarik tangan Sabrin dan mengenalkan pada semua teman-temannya. Ternyata keberadaan Rasha di sana karena dia merupakan teman dari salah satu istri sahabat Fatah.
"Ente nikah nggak bilang-bilang.." celetuk salah satu teman Fatah. Fatah hanya tersenyum kepada mereka karena lupa mengundang mereka semua. Dan memang pernikahannya dengan Sabrin sangat terburu-buru.
"Sabrina.. bisa ketemu Fatah dimana? Setau ana dia orangnya paling nggak suka berhubungan sama wanita" tanya Kiki penasaran.
Sebelum menjawab, Sabrin menatap wanita berhijab di depannya. "Allah yang pertemukan kami. Dia yang datang sendiri ke rumahku" jawab Sabrin. Serempak teman-teman Fatah tertawa mendengarnya. Dari jawaban Sabrin menyiratkan jika Fatah yang mengejarnya.
"Lulusan ponpes mana?" Kiki kembali bertanya pada Sabrin. Namun Kiki merasa salah menanyakan itu saat raut wajah Sabrin berubah.
"Dia lulusan pondok pesantren hatiku" ucap Fatah berusaha menghibur istrinya. Tangan Fatah merangkul bahu Sabrin posesive dia seperti berusaha menujukkan bahwa Sabrin adalah wanitanya. Tanpa memandang segala kelemahannya.
"Bisa aja ente. Ana serius..."
"Ana juga serius" jawab Fatah yakin. "Ana yang mengajarkan semua ilmu yang ana dapat dulu di pesantren pada Sabrin. Insya Allah bermanfaat"
"Buat iri aja..." desah salah satu teman Fatah. Sabrin menunduk malu. Tidak biasanya Fatah seperti ini. Apa karena ada Rasha di depannya. Dia ingin menunjukkan bahwa Fatah dan dia memiliki hubungan yang baik.
"Nggak sangka aja ana..." ucap Kiki sambil memperhatikan Sabrin dari atas hingga bawah. Makanan yang tadi dipesan pun datang. Napsu makan Sabrin yang tadi begitu banyak, tiba-tiba menghilang. Karena sosok Rasha yang tidak tahu malu berada di depannya.
"Kamu kok nggak makan Ai, tadi kamu minta makan seafood" Fatah menaruh beberapa potong udang di piring Sabrin.
"Aku kenyang mas" bisik Sabrin.
"Kenyang? Kamu belum makan kan. Mau aku suapin?" Tawar Fatah. Dengan cepat Sabrin menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan bernapsu makan jika ada Rasha di sekitarnya. Apalagi saat ini Rasha begitu memperhatikan gerak geriknya. Cukup lama mereka semua makan dalam keadaan diam. Setelah selesai makan, Fatah memohon pamit pada semua temannya. Karena dia harus kembali lagi bertugas di rumah sakit. Tapi kemudian Rasha mengejar Fatah dan Sabrin yang sudah keluar dari restaurant itu.
"Mas Fatah..." Fatah yang sedang menggandeng Sabrin menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Tanya Fatah dingin.
"Apa mas udah menemukan jawabannya"
Fatah mulai tahu, ke arah mana pembicaraan Rasha saat ini. Dan kebetulan ada Sabrin disebelahnya. Jadi dia tidak perlu repot-repot lagi menceritakan kepada Sabrin. Jika Sabrin sudah mendengarnya langsung.
"Maaf kan mas, mas tetap pada jawaban pertama mas. Mas nggak bisa Sha, mas nggak bisa membagi cinta mas pada perempuan lain selain Sabrin, istri mas. Mas harap kamu mengerti Sha. Sesuatu yang dipaksakan itu nggak akan baik. Mas takut jika mas terus menikah denganmu, mas akan menyakitimu." Ucap Fatah dengan terus menggenggam tangan Sabrin. "Dan satu hal yang perlu kamu tahu, cinta sejati dan kesetiaan mencintai diukur setelah perkawinan" jawabnya tegas.
"Tapi mas..."
"Cukup Sha, dulu aku sudah memberikanmu kesempatan untuk mendampingiku. Tapi kau menolaknya. Dan saat ini sudah ada perempuan yang bersedia menerimaku apa adanya. Karena dia pula aku belajar tentang kehidupan" Rasha hanya menunduk mendengar ucapan Fatah kepadanya. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Perasaan sedih bercampur malu saat ini yang dia rasakan.
"Kau pasti bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dariku" Kemudian Fatah dan Sabrin berlalu pergi meninggalkan Rasha. Sudah cukup bagi Fatah untuk mengetahui seperti apa Rasha yang sebenarnya.
****
Hingga malam hari, Sabrin lebih banyak diam. Bahkan dia lebih banyak melamun dari pada fokus dengan orang yang menjadi lawan bicaranya. Pikirannya masih dihantui dengan perkataan Fatah dan Rasha tadi. Di depannya langsung Fatah menolak Rasha hanya untuk perempuan seperti dia. Ini semua seperti mimpi untuk Sabrin. Dia tidak menyangka akan serumit ini kisah hidupnya dengan Fatah.
"Kamu melamun aja" tegur Fatah. Lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Sabrin.
"Aku kangen Mami..." lirih Sabrin. Sudah lama memang dia tidak bertemu Maminya itu. Banyak keluh kesah yang ingin dia ceritakan pada Maminya. "Besok aku bisa antar kamu ke rumah Mami. Itu juga kalau kamu mau" ucap Fatah.
"Yang benar mas?"
"Iya Ai, aku menikah sama kamu bukan berarti hubunganmu dengan orang tuamu putus begitu saja. Aku juga tidak pernah melarangmu bertemu dengan mereka. Namun, jika kamu mau kesana tolong kasih tahu aku. Jangan seperti waktu itu. Mami yang bilang padaku kamu ada di rumah Mami" ucap Fatah kesal, jika mengingat waktu Sabrin menghilang.
"Maafin aku mas. Itu kesalahan aku" Sabrin memeluk tubuh Fatah erat. Dia bahagia Fatah tidak pernah mengengkang nya melakukan apapun itu.
"Sudah, tidurlah. Besok aku antarkan pagi-pagi ke sana" Fatah mencium kening Sabrin dan memanjatkan sebuah doa untuknya.
Keesokan paginya, Sabrin telah siap untuk ke rumah Mami. Fatah dengan senang hati mengantarkan istrinya sebelum dia berangkat ke rumah sakit.
"Nanti aku jemput ya Ai, " ucapnya sebelum mobilnya melaju meninggalkan rumah Sabrin. Mami terlihat senang, Sabrin mengunjunginya. Walau dulu Sabrin anaknya tidak bisa menurut. Tapi beliau begitu sayang pada Sabrin.
"Kamu nggak lagi ada masalah kan sama Fatah? Biasanya kalau kamu pulang pasti ada masalah" cecar Mami. Memang ikatan ibu dan anak begitu kuat, hingga Mami tahu jika Sabrin sedang tidak baik-baik saja.
"Sabrin bingung Mi.. Sabrin merasa kecil banget jika dibandingkan sahabat-sahabat mas Fatah. Sabrin nggak ada apa-apanya. Apalagi jika dibandingkan gadis itu, hati Sabrin sakit Mi" ceritanya pada sang Mami. Mami mengusap punggung Sabrin, dia membiarkan Sabrin meluapkan semua perasaannya terlebih dahulu. Setelah Sabrin bisa tenang, baru dia berani bertanya siapa wanita itu.
"Namanya Rasha, Mi. Sabrin memang nggak kenal dia secara jelas. Tetapi dia wanita muslimah. Dengan kerudung syar'i nya. Dia begitu cantik alami. Karena itu Sabrin merasa kecil banget. Kan kata orang, yang membedakan manusia dimata Tuhan itu akhlaknya. Sedangkan akhlak Sabrin gak ada apa-apanya dibanding dia."
"Jangan merendah begitu sayang. Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini"
"Tapi Mi, Sabrin juga ingin membahagiakan mas Fatah. Sabrin ingin mas Fatah bisa meraih surga-Nya" jelasnya ditengah isak tangis. "Sedangkan dalam diri Sabrin nggak ada yang bisa dibanggakan. Akhlak Sabrin nggak ada apa-apanya. Bahkan untuk mengurus mas Fatah aja Sabrin nggak bisa. Masak nggak bisa, semuanya nggak bisa" sesalnya.
"Cintailah dia sayangku, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta. Mami yakin kamu pasti bisa" ucap Mami memberikan semangat pada Sabrin. Memang saat ini, semangat dari Mami lah yang dia butuhkan.
"Salah satu Hadits Rasullallaah SAW. bersabda : "Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita shalihah." ( HR. Muslim ). Jadi, fungsi wanita yang menjadi istri haruslah dapat mengfungsikan dirinya laksana perhiasan yang melekat pada diri pemakainya. Istri harus selalu menjadi penyejuk, penyedap, pesona dan pemberi semangat hidup pada suaminya. Karena kamu sudah menjadi seorang istri, lakukanlah selayaknya seorang istri terhadap suaminya. Jangan sampai kamu menyesal nak. Karena penyesalan selalu datang terlambat" nasehat Mami kepada Sabrin. Sabrin menyetujui ucapan Maminya.
Saat hari mulai sore, Fatah datang menjemput Sabrin. Tak berlama-lama di dalam rumah Sabrin. Mereka akhirnya pamit untuk pulang. Karena hari ini banyak sekali pasien membuat kondisi tubuh Fatah sedikit lelah.
****
"Assalamu'alaikum ..." ucap Sabrin.
"Wa'alaikumsalam. Udah pulang Rin?" Mama menyonsong kedatangan menantu dan anaknya itu.
"Ini Ma, ada titipan dari Mami untuk Mama katanya.." Sabrin menyerahkan bingkisan itu ketangan mamanya. Mamanya begitu senang menerima bingkisan itu.
"Mama harus telepon Mami, mau ngucapin makasih. Pakai repot-repot dibawain oleh-oleh" ucapnya senang. Sabrin bahagia melihat keakraban Maminya dan Mama mertuanya. Lalu dia pamit untuk masuk ke dalam kamar. Dia ingin membersihkan dirinya.
****
Makan malam kali ini begitu sepi, karena Umi yang biasanya menjadi bahan godaan tidak ikut serta malam ini. Gadis itu beralasan jika banyak tugas di kampus yang harus diselesaikannya. Mereka semua makan dalam diam, paling sekali-kali Sabrin menawarkan Fatah lauk yang ingin dimakannya.
Setelah selesai makan, Papa memanggil Fatah untuk ke ruangannya. Di dalam ruang kerjanya itu Papa mulai membuka pembicaraannya.
"Mas, kamu nggak menunda untuk memiliki anak kan?" Tanya papa. Fatah diam seketika, Papa yang biasanya tidak ikut campur masalah pribadinya kali ini membicarakan hal yang begitu pribadi.
"Nggak Pa, mas nggak nunda. Mas juga udah usaha. Tapi memang belum dikasih, mas harus melakukan apalagi? Usaha sudah, doa juga sudah" Tanya Fatah serba salah. Papa menatap Fatah, dia melihat putranya yang dulu begitu kecil saat ini sudah berubah menjadi laki-laki dewasa. Bahkan dia sudah memiliki istri yang menjadi tanggung jawabnya. Waktu memang berjalan begitu cepat.
"Papa juga tidak ingin memaksamu. Tapi, kamu tahu Mamamu seperti apa. Setiap Papa pulang kerja Mama selalu mengeluh. Dia merasa kesepian. Apalagi semenjak Umi semakin sibuk. Mama meminta Papa untuk berhenti bekerja. Tapi papa tidak bisa melepas perusahaan papa yang sudah selama 25th papa rintis dari awal. Kamu juga nggak mau membantu Papa dan sibuk dengan bidangmu sendiri. Tetapi kamu juga nggak mau membuat Mama bahagia"
"Pa, mas bukannya nggak mau buat Mama bahagia. Tapi, memang jalannya seperti ini" Fatah mulai terlihat kesal karena terpojokkan.
"Coba kamu kurangkan aktifitasmu, kamu kan dokter. Harusnya kamu tahu mana yang baik mana yang tidak. Bahkan Papa yakin kamu paham, pria yang terlalu capek tidak menghasilkan kualitas s****a yang bagus. Istirahat lah nak, ajak Sabrin liburan. Bersenang-senanglah sebentar. Papa kasihan melihat Sabrin, dia tidak pernah bermain dengan teman-temannya" ucap Papa sambil menepuk bahu Fatah.
"Iya Pa, Fatah usahakan.." Dia paham maksud dari Papanya. Memang saat ini Fatah butuh liburan dari rutunitas kerjaannya. Dia juga butuh berdekatan terus dengan Sabrin agar perasaan cinta mereka tumbuh semakin dalam. Agar jika ada badai kehidupan menerpa mereka kembali, mereka akan lebih siap. Dan yang terakhir, memang dia ingin sekali membahagiakan Mamanya. Mungkin dengan anak juga hubungannya dengan Sabrin akan semakin terikat. Jika dia melakukan hal ceroboh lagi, maka anaklah yang tetap mengikat mereka. Fatah keluar dari ruangan Papanya, dan melihat Sabrin tengah bercengkrama dengan Mamanya. Sebuah puisi mengalun begitu saja dalam hatinya untuk istrinya.
Aku adalah bintang terang..
Melintas diantara ribuan cahaya..
Aku adalah matahari..
Hangatkan jiwa yang beku..
Andai kau tau..
Tubuhku disiram kasih sayang..
Ku bagi hangatnya..
Lihat aku...
Bahasa hatiku terdengar merdu..
Senandung berirama..
Terdengar dari puncak bahagia..
Persembahan hati satu dari kesetiaan diri..
Dituang dalam cawan cinta..
Diteguk para bidadari..
Bila kau teguk isi dari cawan itu ..
Maka mereka menuntutmu ke taman bunga..
Aku disini, ada untukmu..
Raih pundakku, kau akan rasakan betapa aku sayang kamu..
Tatap mataku, lihatlah didalamnya terdapat cinta..
Ya Allah, andai Engkau berkenan..
limpahkan kepada kami..
Cinta yang menjadikan pengikat rindu antara Rasulullah dan KHadijah..
Ya Allah, andai hal itu layak bagi kami, maka cukuplah doa kami dengan ridho-Mu untuk jadikan kami suami istri yang saling mencintai dikala dekat, saling menjaga kehormatan dikala jauh, saling mengingatkan dikala senang, saling menyempurnakan dalam ibadah, saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan..
Ya Allah sempurnakanlah kebahagiaan kami dengan menjadikan pernikahan ini sebagai ibadah kepada-Mu dan bukti cinta kami kepada sunah Rasul-Mu..
Ya Allah... Aku tidak meminta orang yang sempurna, namun aku meminta seorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya menjadi sempurna di mata-Mu ..
Seorang yang membutuhkan dukungan ku sebagai peneguhnya ..
Seorang yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya..
Seorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya..
Seorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna..
Dialah istriku, Sabrina sakhi hamid...
-----
continue