MERAJUT CINTA
“Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, makin jauh Yusuf darinya.. namun ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, maka Allah datangkan Yusuf untuknya..."
"Ai, bangun. Katanya kita mau keliling pagi ini?" Seru Fatah sambil memakai pakaiannya.
Sabrin dan Fatah memang sedang liburan sejak kemarin. Kebetulan Fatah ada seminar di Kuala Lumpur sehingga mereka berinisiatif untuk sekalian melakukan liburan. Sejak menikah hingga hampir 5 bulan berjalan, mereka memang belum pernah pergi kemana-mana. Fatah yang terlalu sibuk dengan rumah sakitnya dan Sabrin sibuk akan kuliahnya.
"Aku masih ngantuk mas.." ucapnya sambil menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
"Katanya mau jalan-jalan, malahan ngantuk" kesal Fatah. "Besok aku harus seminar loh Ai, jadi nggak bisa temenin kamu" sambungnya. Dengan malas Sabrin bangun dan berjalan ke kamar mandi. Sabrin lelah mendengar ocehan dari mulut Fatah. Dia memang seperti itu jika Sabrin tidak menuruti semua perkataannya.
Tak lama, Sabrin siap untuk berkeliling dengan Fatah pagi ini. Pakaian yang dikenakan Sabrin juga sangat santai. Hanya celana legging hitam dengan blouse cokelat lengan panjang. Tak lupa hijab cokelat gelap menutupi kepalanya. Sedangkan Fatah mengunakan tshirt polo cokelat dan celana jeans. Mereka menggunakan transportasi umum untuk menuju tempat wisata yang mereka ingin kunjungi.
Di dalam LRT (Light Rapid Transport) sangat sepi penumpang. LRT transportasi semacam monorail, tetapi sangat nyaman untuk digunakan. "Mas, kita mau kemana pagi ini?" Tanya Sabrin penasaran.
"Lihat saja, kamu pasti suka Ai.." tangan Fatah tak pernah sekali pun melepas tangan Sabrin. Dia tidak ingin istrinya jauh darinya. Apalagi ini bukan di Indonesia. Sesampainya ditujuan, Sabrin hanya bisa diam memandangi kesekeliling. Di depannya terdapat bangunan tua, seperti masjid kuno.
"Ini masjid mas?"
"Iya Ai, namanya masjid Jamek. Ini adalah salah satu masjid kuno di KL dengan arsitektur unik ini selalu menarik menjadi obyek foto. Kamu kan suka foto, sini aku fotoin di sini" Fatah menyuruh Sabrin bergaya di depan masjid. Tanpa malu, Sabrin mulai menunjukkan aksinya. Tersenyum lebar kearah kamera DSLR yang dibawa Fatah. "Waktu itu aku pernah sholat di sini, imam masjid ini ternyata buta, namun suaranya sangat indah. untuk itu aku ajak kamu datang ke sini. Kita sholat dhuha dulu ya" sambungnya setelah mengambil beberapa gaya Sabrin. Sabrin mengangguk setuju dengan ucapan Fatah. Memang sangat indah bangunan masjid ini. Kuno, namun bisa memikat mata yang melihat.
Setelah selesai sholat, Sabrin dan Fatah melanjutkan perjalanannya lagi. Kali ini mereka menggunakan transportasi goKL, menuju salah satu tempat terkenal di KL yaitu bukit bintang. Saat tiba di depan bukit bintang, Sabrin hanya diam. Dia bingung mengapa Fatah mengajaknya kemari.
"Kamu mau belanja mas?" Tanya Sabrin.
"Aku cuma mau liat-liat. Banyak kok turis kemari tapi nggak beli. Kalau ada yang bagus ya beli, sekalian buat oleh-oleh. Kalau nggak, yasudah. Sekalian cari tempat makan. Aku laper Ai..." jawabnya santai. Bukit bintang memang terkenal dengan barang-barang elektroniknya. Dan juga barang-barang mahal dijual di sini. Karena itu Sabrin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat dia melihat sebuah tas dengan harga yang sangat fantastik.
"Kenapa kamu?" Tanya Fatah. Sabrin dan Fatah memilih istirahat disebuah toko yang menjajakan makan dan minuman.
"Aku cuma heran, itu yang dijual mahal banget. Uang semua itu untuk bayarnya?"
"Kamu pikir pakai daun? Untung istriku nggak suka belanja. Bisa bangkrut aku.. " goda Fatah, namun dapat cibiran dari Sabrin.
"Sama istri sendiri aja nggak ikhlas. Pelit kamu" sindirnya.
"Siapa yang nggak ikhlas sih, Ai? Aku juga kerja buat kamu. Nabung buat anak kita nanti. Emang buat siapa lagi? Kewajiban suami itu memang menafkahi istri dan anaknya" Jelas Fatah. "Semua itu sudah sangat jelas disebutkan Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah: 233, "Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya." Dan Surat Ath Thalaq: 6, "Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.".. jadi jangan pernah bilang begitu" sambung Fatah.
"Iya kamu kan cari nafkah tapi kamu kan nggak tahu kebutuhan aku seberapa besar. Kamu aja gak pernah tanya"
"Bahkan dalam salah satu Hadits rasulullah berkata : "Ambillah hartanya, yang cukup untuk memenuhi kebutuhanmu dan anak-anakmu, sewajarnya." jadi kamu berhak atas apa yang aku miliki. Nggak perlu ijin sama aku kalau memang untuk kebutuhanmu. Ambil aja secukupnya" tuturnya.
"Benar ya, kalau aku ambil didompet kamu jangan marah" goda Sabrin. Lalu Fatah hanya bisa tertawa mendengar ucapan Sabrin. Istrinya itu memang memiliki pemikiran yang sangat polos.
Waktu sudah menunjukkan dzuhur, mereka bergegas mencari masjid terdekat untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur mereka. Kemudian baru mereka melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini Sabrin tak bertanya mereka akan ke mana, dia sudah disibukan dengan pemandangan indah di sepanjangan perjalan. Dan sampailah mereka di Sepang international sirkuit. Di sana sudah cukup ramai dengan para penonton ajang balap bergengsi motoGP.
"Kita ngapain kesini mas?"
"Menurutmu? Kita nonton kebanggaanku dulu. Valentino Rossi.." ucapnya, lalu menarik tangan Sabrin untuk mengikutinya. Ternyata dia sudah memesan 2 tiket khusus dekat podium untuk menyaksikan langsung kehebatan para riders mengendarai motor mereka.
"Kamu suka Valentino Rossi ya mas? Kalau aku sih Pedrosa.." ucap Sabrin bangga.
"Kenapa kamu suka Pedrosa, Ai?"
"Dia kan ganteng mas, terus jago lagi. Lah kalau Rossi? Dia udah cukup tua. Terus, ya mas tahu sendiri tampangnya kayak apa" Fatah hanya tersenyum kecut ke arah Sabrin. Ternyata semua wanita memang sama saja. Yang dilihat awal hanya fisik pada lawan jenisnya.
"Jadi kamu suka sama Pedrosa? Dosa tahu Ai mandang lawan jenis yang bukan mahramnya.."
"Kan cuma ngefans. Aku kagum sama dia abis ganteng, terus berbakat, masih muda lagi" jelas Sabrin lagi. Dan lagi-lagi juga Fatah hanya tersenyum mendengar ungkapan hati istrinya. Jika ditanya dia cemburu atau tidak? Jelas dia cemburu. Bahkan Sabrin saja tidak pernah memuji fisiknya selama ini.
"Kalau aku ganteng nggak?" Tanya Fatah sambil memandang wajah istrinya.
"Kok kamu tanya diri kamu mas, kan kita lagi ngomongin Pedrosa" jawab Sabrin.
“Memangnya aku nggak boleh tanya fisik aku sama istri aku sendiri? Kamu bisa bilang Pedrosa ganteng. Masa kamu nggak bisa bilang suamimu sendiri ganteng” gumam Fatah. Tetapi sialnya Sabrin tidak menanggapi perkataan Fatah. Dia sibuk menatap rider jagoannya beraksi.
Mereka berdua hanya diam sambil menonton pertandingan. Fatah yang tadi sangat antusias berubah sedikit emosi mendengar penuturan Sabrin tadi. Hingga pertandingan usai, terlihat para pemenang naik ke podium. Salah satu dari pemenang itu adalah Pedrosa.
"Mas liat, jagoanku menang" seru Sabrin heboh.
"Ai,. Heboh banget kamu. kamu tahu nggak isi surat An-Nur 30-31?" Sabrin menatap wajah Fatah, dia tahu suaminya ini sudah mulai menjelaskan apa yang benar dan apa yang salah. Sehingga dia harus fokus mendengarkan. "Isinya itu adalah "Katakanlah kepada orang-orang mu'min laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga k*********a; kerana yang demikian itu lebih bersih bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha meneliti terhadap apa-apa yang kamu kerjakan. Dan katakanlah kepada orang-orang mu'min perempuan: hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga k*********a, dan jangan menampak-nampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak daripadanya, dan hendaknya mereka itu melabuhkan tudung sampai ke dadanya, dan jangan menampakkan perhiasannya kecuali kepada suaminya atau kepada ayahnya atau kepada mertuanya atau kepada anak-anak laki-lakinya atau kepada anak-anak suaminya, atau kepada saudaranya atau anak-anak saudara laki-lakinya (keponakan) atau anak-anak saudara perempuannya atau kepada sesama perempuan atau kepada hamba sahayanya atau orang-orang yang mengikut (bujang) yang tidak mempunyai keinginan, yaitu orang laki-laki atau anak yang tidak suka memperhatikan aurat perempuan dan jangan memukul-mukulkan kakinya supaya diketahui apa-apa yang mereka rahasiakan dari perhiasannya." (an-Nur: 30-31). " jelas Fatah panjang lebar.
"Intinya coba, aku kan nggak paham..."
"Jadi intinya, dilarang bagi kamu menatap lawan jenis yang bukan mahrammu. Untuk pertama kali memandang memang bukan dosa, namun untuk yang kedua dan seterusnya kalau kamu masih memandang dan menunjukkan ketertarikan akan menjadi dosa Ai, namanya zina mata"
"Tapi kan aku nggak ngapa-ngapain. Cuma ngeliatin dia dari jauh. Sentuh aja nggak"
"Memang kamu nggak sentuh dia, tapi kamu memandangnya dengan ketertarikan" tutur Fatah. "Zina itu ada 2 jenis, zina Al-Lamam dan zina luar Al-Lamam. Zina mata itu termasuk kedalam zina Al-Lamam. Dan kamu tau Ai, salah satu Hadits menjelaskan. "Takutlah pada zina, karena sesungguhnya dalam zina ada enam perkara (azab), tiga di dunia dan tiga di alhirat. tiga perkara di dunia: hilangnya wibawa, pendeknya umur, dan menjadi miskin selamanya. tiga perkara di akhirat, adalah, murka Allah' jeleknya hisaban dan siksa neraka," (HR Baihaqi)..." Fatah menjelaskan sedetail mungkin agar Sabrin paham apa yang dia ucapkan.
"Jadi gimana? Masih mau zina?" Goda Fatah.
"Bilang aja kamu cemburu. Pakai bawa-bawa zina" cibir Sabrin.
"Itu kamu tahu. Aku memang cemburu Ai, dan menurut Islam suami cemburu itu wajib"
"Kok gitu? Itu namanya curang dong. Jadi istri nggak boleh cemburu gitu?" Kesal Sabrin tak terima dengan penjelasan Fatah.
"Bukan begitu Ai, rasulullah bersabda : "Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai pria dan dayuts." kamu tau gak dayuts apa?"
"Aku tahunya jayus bukan dayuts" jawab Sabrin asal. Dia masih berpikir kenapa wanita tidak berhak cemburu. Sedangkan pria wajib cemburu. Kalau bukan curang apa namanya?
"Dayuts adalah suami atau kepala keluarga yang tidak cemburu terhadap istrinya. Suami itu dituntut untuk memiliki cemburu kepada istrinya agar terjaga rasa malu dan kemuliaannya. Cemburu ini merupakan fitrah manusia dan termasuk akhlaq mulia." Jelas Fatah.
"Terus kalau aku cemburu nggak salah juga dong. Aku kan juga berhak cemburu" kali ini Sabrin mulai keki dengan penjelasan Fatah.
"Boleh kok Ai kamu cemburu. Bahkan Aisyah istri rasulullah selalu cemburu. Karena kecemburuan merupakan bentuk mu'asyarah bil ma'ruf, upaya menciptakan hubungan yang harmonis antara kedua pasangan" jelasnya sambil merangkul bahu Sabrin. "Udahlah jangan marah. Kan mas cuma jelasin ke kamu"
****
Malam harinya di hotel yang ditempati Sabrin dan Fatah, Sabrin masih saja membahas tentang ketampanan dari pembalap motor tadi. Dia masih membayangkan kejadian siang tadi.
"Segitu mah belum ganteng Ai, "sahut Fatah yang baru saja selesai mandi.
"Iya, pasti mas mau banggain diri kamu kan" celetuk Sabrin.
"Banggain diri aku? Buat apa? Aku bilang sama kamu, ada yang jauh lebih ganteng dari Pedrosa. Bahkan setengah ketampanan dimuka bumi ini, dimiliki olehnya"
"Siapa mas?" Tanya Sabrin antusias. Dengan masih menggunakan menggunakan handuk di pinggangnya, Fatah duduk dipinggir tempat tidur samping Sabrin.
"Nabi Yusuf pasti.." jawab Sabrin cepat. Sabrin ingat saat masih di TPA dulu, gurunya pernah bercerita tentang ketampanan Nabi Yusuf as.
"Itu benar, Nabi Yusuf memang tampan. Bahkan di Al-Qur'an sudah dijelaskan "Jika para wanita memotong jari-jarinya karena terpesona saat melihat wajah nabi Yusuf As (QS. Yusuf : 31)," . Tapi ada yang lain, yang jarang orang tau"
"Loh siapa lagi?" Sabrin makin penasaran dengan yang dimaksud suaminya ini.
"Menurut Abbuya As Syaikh Muhammad bin 'Alawy Al Maliki Ar disalah satu buku yang aku baca. Beliau menukil salah satu riwayat sahabat bahwa wajah Rasulullah yang ada didunia ini hanya dilihatkan yang 1 bagian dari 10 bagian keindahan wajah rasulullah, yang 9 bagian lainnya akan di perlihatkan kelak di telaga haudh, Allah tidak menampakkan keindahan wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam secara keseluruhan di muka bumi karena jika yang 9 bagian itu ditampakkan dibumi maka orang-orang akan mengiris hatinya tanpa terasa karena indahnya wajah sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam" jelas Fatah panjang lebar.
"Astagfirullah, yang benar mas? Jadi Nabi Muhammad jauh lebih tampan dari Nabi Yusuf?" Sabrin terkesima dengan penjelasan Fatah.
"Iya, karena beliau lah nabi akhir zaman" Fatah bangkit lalu berjalan ke lemari untuk memakai pakaiannya. Dia melirik Sabrin sekilas, wajah istrinya itu masih terpukau dengan penjelasannya tadi. Fatah pikir Sabrin sudah tau tentang hal itu. Namun ternyata, Sabrin belum tahu sama sekali.
"Sudahlah, jangan dipikirkan" ucap Fatah menghapus lamunan Sabrin. "Mending kita ibadah yuk Ai, kita kan ke sini mau ibadah.." godanya. Lalu tubuhnya mendekat ke arah Sabrin. Merengkuh tubuh mungil itu ke dalam tubuhnya yang besar. Menciumi setiap bagian tubuh istrinya. Membisikan sejuta rayuan kepada wanita yang menurutnya sangat sempurna untuk mendampinginya. Dan menuntaskan ibadahnya dengan menggaulinya.
****
"Mas, mau kemana pagi-pagi?" Suara serak khas orang baru bangun tidur keluar dari mulut Sabrin. Dia memang sangat kelelahan karena semalaman melayani suaminya itu. Saat hampir subuh baru mereka berhenti menyelesaikan ibadahnya.
"Aku kan mau seminar Ai, aku tinggal sebentar. Jangan kemana-mana kamu" Fatah menatap istrinya itu masih sangat kusut. Rambut Sabrin yang acak-acakan, ditambah seluruh leher dan d**a putih Sabrin merah-merah karena ulahnya.
"Kamu tinggalin aku mas?"
"Sebelum makan siang aku kembali" diciumnya kening Sabrin sebelum dia keluar dari kamar. "Ingat, jangan kemana-mana" perintahnya kembali.
Satu jam hingga dua jam berlalu, Sabrin masih betah berbaring di atas ranjang. Sambil menonton tv yang menyiarkan berita pagi di KL. Namun lama kelamaan dia bosan. Sabrin bergerak membersihkan dirinya lalu keluar dari kamar hotel. Menurutnya berjalan-jalan disekitar hotel tidak akan membuat Fatah marah.
Tak jauh dari hotel, terdapat pasar tradisional yang menjajakan banyak barang-barang asli khas KL. Sabrin mulai memilih barang-barang yang cocok untuk dia bawa sebagai oleh-oleh.
Tanpa terasa, waktu sudah mulai siang. Fatah telah selesai seminar, langsung segera kembali ke kamar hotel. Namun yang dicarinya tidak ada. Sabrin tidak ada diruang mana pun dalam kamar hotelnya. Fatah mencoba menghubungi ponsel Sabrin, tapi ternyata istrinya itu tidak membawa ponselnya. Sungguh sial memang, dia langsung keluar bertanya pada security apa melihat Sabrin atau tidak. Namun nihil, tidak ada satu orang pun yang melihat istrinya itu. Dia mencari di sekitar hotel terlebih dahulu, jika memang tidak ada dia akan menghubungi pihak kepolisian.
Satu jam mencari, akhirnya Fatah melihat Sabrin berjalan memasuki lobby hotel dengan plastik belanjaan di kiri dan kanannya.
"DARI MANA SAJA KAMU???" Bentak Fatah pada Sabrin. Sabrin terkejut melihat reaksi Fatah yang membentaknya. "Kamu kenapa sih mas?"
"Kamu yang kenapa? Sudah mas bilang jangan ke mana-mana !!! Ponselmu juga nggak dibawa !!!" Marahnya, lalu meninggalkan Sabrin yang masih terdiam.
Sesampainya di kamar hotel, Fatah masih saja terdiam. "Mas, marah sama aku?" Tanya Sabrin.
"Mas pikir kamu sudah tahu jawabannya" Fatah sebenarnya tidak ingin marah pada Sabrin, tapi karena rasa khawatirnya yang berlebih membuat kemarahannya meningkat.
"Maafin Sabrin mas..." ucapnya lirih sambil memeluk tubuh Fatah dari belakang. "Sabrin nggak berniat buat mas marah. Sabrin bosan di kamar sendirian. Dan maaf kalau Sabrin ceroboh karena gak bawa ponsel" sesalnya. Sabrin terisak menangis di punggung tegap Fatah. Dia takut jika melihat Fatah marah seperti ini.
Fatah mengusap wajahnya, "Sudahlah.. maafin mas karena sudah marah sama kamu" dia membalik tubuhnya dan memeluk Sabrin erat. Menciumi puncak kepala Sabrin dan berusaha menenangkan dirinya. Berkali-kali dia mengucap syukur karena tidak terjadi sesuatu dengan Sabrin.
"Mas nggak marah lagi kan?" Sabrin menatap wajah Fatah dengan berlinang air mata. "Iya, mas nggak marah. Bagaimana mas bisa marah, saat kamu memeluk tubuhku hilang sudah rasa marahku" ucapnya.
"Kalau gitu, aku akan terus meluk mas biar mas nggak akan marah. Lagi juga aku nyaman meluk mas seperti ini" godanya sambil mempererat pelukannya dipinggang Fatah. Sabrin bahagia ternyata suaminya ini begitu khawatir saat dirinya tidak terlihat disekeliling Fatah. Dia tahu sekarang betapa berartinya dia untuk Fatah. Begitu juga sebaliknya. Fatah begitu berarti untuknya.
"Sayang ku.. Fatah Al Kahfi..
Kamu adalah kekasihku,
jantung hatiku,
belahan jiwaku,
suamiku saat ini hingga nanti,
Kamu juga bisa menjadi sahabatku,
Teman jalanku,
Teman curahan hatiku,
Teman bercandaku..
Kamu adalah imamku,
Cinta terakhirku,
Partner manjaku,
Hingga ATM pribadiku..
Kamu adalah segalanya my sweet husband..
I want to live happily..
With you forever until
The end of a blind eye..
Love you forever honey....
----
continue