Bab 18

2732 Words
HIKMAH MERAJUT CINTA   Rasa kasih sayang dan ketentraman yang tumbuh di dalam hati Fatah dan Sabrin merupakan bagian dari nikmat Allah atas semua hamba-Nya. Dengan bantuan Sabrin, Fatah mampu mengatasi berbagai macam problem dan kesulitan dalam menunaikan berbagai tugas maupun beban berat pekerjaan, hati terhibur pada saat-saat dirundung berbagai musibah dan penderitaan. Begitu juga Fatah menjadi pelindung, pengayom, dan pembina bagi isterinya, serta memberikan hak-haknya secara sempurna. Dan hari ini adalah hari terakhir liburan mereka. Fatah memang tidak memiliki rencana kemana pun pagi hingga sore hari. Dia ingin berdua saja dengan Sabrin di kamar hotelnya. Merajut cinta dan berharap cepat mendapat hikmah darinya. "Mas.. kamu nggak mandi? Kita nggak kemana-mana hari ini?" Tanya Sabrin sambil mengenakan pakaiannya. Dia baru saja selesai mandi, Sabrin pikir Fatah akan mengajaknya lagi keliling KL hari ini. Mengingat hari ini adalah hari terakhir mereka liburan. "Kita di hotel aja ya Ai..." jawab Fatah. "Kamu sakit mas?" Sabrin mendekat dan menempelkan punggung tangannya di kening Fatah. Merasakan suhu tubuh Fatah. "Aku nggak sakit Ai, aku cuma lelah" jelasnya. "Ya udah, kita di kamar saja" ada sedikit rasa tidak rela Sabrin. Tetapi dia tidak akan memaksa suaminya untuk mengajaknya keluar hari ini. Sabrin tidak memperdulikan Fatah, dia sibuk membereskan koper pakaian mereka. Lalu memesan makan siang untuk mereka. Sedangkan Fatah seharian ini hanya tidur saja di atas ranjang sambil terus memperhatikan Sabrin. "Ai, kamu ngapain? Nggak bisa diem banget" seru Fatah. "Kamu kan bisa liat sendiri mas. Aku beresin pakaian kita. Besok kan kita udah pulang. Jadi aku nggak mau ada yang ketinggalan" jawabnya masih tak memperdulikan Fatah. Sabrin sibuk menyusun oleh-oleh yang akan dia bawa dalam satu koper besar. "Kemarilah Ai..." panggil Fatah. "Ngapain sih? Mas nggak liat aku lagi sibuk??" Kesalnya. "Ai, nggak boleh loh nolak ajakan suami" goda Fatah. Sabrin menatap Fatah tajam, dia tidak suka Fatah meminta dilayani tidak tahu waktu seperti ini. "Ya tapi lihat-lihat juga dong mas, istrinya lagi ngapain" kesal Sabrin. Namun Fatah hanya tertawa melihat gerutuan istrinya itu. "Kamu harus tahu loh, salah satu Hadits menjelaskan "Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh." (HR. Bukhari: 11/14).. kalau aku marah bisa dilaknat kamu" sindirnya. Sindiran Fatah sukses membuat Sabrin memfokuskan pandangannya itu pada suaminya. "Ya Allah mas, kamu itu ya keterlaluan banget..." walau kesal tetap saja Sabrin mendekati suaminya itu. Dia memang sangat takut diazab oleh Allah karena sudah lalai pada suaminya. "Gitu dong, nurut sama suami. Ridhonya suami itu surganya istri" Fatah tersenyum melihat wajah Sabrin yang masih tampak kesal dengan dirinya. Lama mereka terdiam, hanya saling padang satu sama lain. Tanpa adanya suara dari satu sama lain. "Udah dipanggil cuma disuruh ngeliatin mas begini?" Sabrin tak percaya dengan kelakuan suaminya seperti kekanak-kanakan. "Emang nggak suka kalau ngeliatin mas? Terus kamu maunya kita ngapain Ai? Ibadah lagi" Fatah mulai memikirkan hal yang membuatnya betah berlama-lama dekat dengan istrinya itu. "Di otak kamu isinya m***m terus mas. Heran aku.. " kesalnya. Lalu kembali berjalan ke koper-koper yang sudah tersusun dengan rapi. "m***m sama istri sendiri nggak ada yang salah Ai.. kamu gitu aja ngambek. Mau ikut aku nggak nanti sore?" Sabrin langsung terpukau saat Fatah ingin mengajaknya jalan-jalan kembali. "Mau kemana kita mas?" "Dasar perempuan, giliran diajak jalan senangnya minta ampun. Giliran diajak ibadah setengah-setengah" cibir Fatah. "Lagi ibadahnya di tempat tidur terus. Kan bisa ibadah lain yang kamu ajarin" "Mas cuma mau buat Mama senang. Mas capek di teror terus sama Mama. Dan sekarang Papa juga ikutan neror mas" desahnya. Fatah merasa beban belum memberikan cucu untuk Mama dan Papanya. "Kan kita udah usaha mas, mungkin memang aku belum waktunya dikasih. Secara Allah masih menguji mampu nggak aku kalau dikasih tanggung jawab" "Aku tahu Ai, bahkan rasulullah dulu bersama istrinya Khadijah menunggu selama 3th baru bisa memiliki seorang anak" jelas Fatah. "Nah, mas saja udah tahu kenapa harus sedih. Percaya deh mas, Allah udah ngatur semuanya. Jadi kita harus sabar menunggunya" Fatah menatap istrinya yang begitu yakin jika suatu saat dalam pernikahan mereka akan Allah berikan seorang bayi ditengah mereka. "Sudah selesai..." ucap Sabrin. Lalu mendekat kearah Fatah. Duduk di samping ranjang dimana Fatah sedang berbaring. "Kamu masih mikirin anak ya mas?" "Memangnya kamu nggak sedih?" Tanya Fatah sambil memeluk Sabrin. "Kalau ditanya sedih, jelas aku yang paling sedih. Perempuan itu dilahirkan 3 kali mas. Saat dia dilahirkan sebagai seorang putri, lalu saat dia menikah dan menjadi seorang istri, kemudian saat dia menjadi seorang ibu. Aku sudah melewati 2 fase, masih belum sempurna karena fase terakhir yang terpenting belum terjadi pada ku" jelas nya sambil mengusap d**a Fatah. "Kamu tahu dari mana penjelasan itu?" "Mami pernah kasih tahu aku mas. Walau begini, aku juga tahu sedikit-sedikit loh" "Rajin-rajin tanya sama Mami.." "Tanya apa mas?" Sabrin menatap bingung wajah Fatah. "Tanya bagaimana biar cepet hamil.." godanya. "Kan kamu dokter, masa nggak tau.." "Biasanya aku kasih solusi ke pasien aku. Untuk melakukan hubungan intim saat masa subur. Dimana sel telur hanya bertahan selama 24 jam sedangkan s****a bisa sampai 48 jam" "Lalu?" "Biasanya dari gaya berhubungan juga berpengaruh. Lebih cepat membuat hamil wanita saat posisi pria diatas. Seperti yang sering kita lakukan" tuturnya sambil menatap Sabrin yang malu karena Fatah menyebut gaya bercinta mereka. "Dan frekuensi hubungan intim yang baik 3hari sekali. Jadi saat itu s****a sudah matang. Kalau dari segi makanan banyak makan yang mengandung vit c, d, e" jelasnya. "Kan semuanya udah kita lakuin mas. Ada yang salah nggak kira-kira?" "Menurutku nggak ada. Kamu nggak pakai sabun-sabun aneh kan buat cuci v****a kamu?" "Mas Fatah..." Sabrin malu mendengar ucapan Fatah yang sangat vulgar menurutnya. "Aku kan tanya Ai.. itu juga pengaruh soalnya. Cairan pembersih itu bisa membunuh sperma.." Fatah menatap Sabrin dalam. Melihat tingkah istrinya itu yang sedang berpikir. "Jadi nggak boleh ya mas pakai sabun-sabun begitu. Kan gatel mas kalau gak disabunin?" Tanya Sabrin hati-hati. "Kalau bisa jangan dipakai Ai, kalau memang ingin pakai sabun, pakai yang pH nya 3-4 misalkan kayak sabun bayi. Karena itu netral. Lagi juga Allah sebenarnya sudah membuat suatu mekanisme alami, dimana mekanisme alami ini akan mempertahankan keseimbangan keasaman v****a. Mekanisme ini diperankan oleh bakteri normal yang secara alami terdapat dalam v****a. Apabila keseimbangan tersebut terganggu, bakteri baik dalam v****a akan mati dan malah akan berkembang bakteri jahat yang dapat menimbulkan penyakit. Apabila kamu membersihkan daerah kewanitaan dengan sabun dan sejenisnya, sebaiknya hanya dibagian luar saja. Kamu paham kan??" Sabrin mengangguk kan kepalanya. Menikah dengan Fatah dia merasa sudah banyak sekali mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari diri suaminya itu. Ini merupakan salah satu hikmah merajut cinta bersama Fatah. "Iya mas, aku paham" ucapnya. "Dan yang terakhir, aku ragu sebenarnya. Pasangan yang program hamil nggak boleh stres. Sedangkan aku, akhir-akhir ini stres banget. Karena Mama ngedesak terus" "Jangan dipikirin mas, jalanin aja terus. Yang penting kan kita sudah usaha" "Sekarang usaha lagi yuk Ai.. " Fatah langsung menarik tubuh Sabrin keatas ranjang dan menindih dengan tubuh besarnya. Diciumnya kening Sabrin lalu pipinya hingga bibirnya. Tak lupa sebuah doa dia bacakan lebih dulu pada puncak kepala Sabrin, baru memulai serangannya kembali. "Aahh..mas.." "Jangan berisik sayang..." bibir Fatah membungkam bibir Sabrin agar Sabrin tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Namun ditengah percintaan panas mereka, ponsel Fatah yang berada di meja nakas berbunyi. Membuat Fatah harus menghentikan kegiatan mencari pahala dengan istrinya. "Ada apa Ma...??" Jawab Fatah dengan kesal saat melihat nama Mamanya yang tampil dilayar ponselnya. "Astagfirullah al'adzim.. mas, kamu kenapa sih? Mana salammu. Jawab telepon dari orang tua nggak sopan" maki Mama. Fatah menarik napas dalam, dia berusaha mengatur napasnya kembali. Dan mencoba menahan marahnya. "Assamu'alaikum, Ma.." ucap Fatah dengan sopan. "Wa'alaikumsalam.. kan begitu enak. Besok kalian pulang mas?" Tanya Mama. "Iya, besok mas pulang. Penerbangan pagi. Sorenya mas harus sudah ada di rumah sakit" jelasnya. "Ya sudah hati-hati ya mas. Mama kangen sama Sabrin.." "Iya, Ma..." "Jangan lupa sama hadiah untuk mama" goda sang Mama. Fatah mengerti apa yang diminta Mamanya itu. Apalagi kalau bukan seorang cucu. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil mematikan ponselnya. Saat dia ingin memulainya kembali dengan Sabrin, istrinya itu sudah hilang dari pandangannya. "Mas, makan dulu yuk... " teriak Sabrin. Lagi-lagi Fatah harus sabar untuk menunggu waktu ibadahnya lagi dengan Sabrin.   ****   "Ya Allah mas, ini indah banget" seru Sabrin. Malam ini mereka sudah berada didepan menara kembar petronas. Dimalam hari suasana didepan menara kembar itu sangat ramai. Lampu yang menyala pada menara itu membuatnya semakin indah. Banyak pasangan yang datang kesana pada malam hari, karena memang suasana cukup romantis. "Aku senang banget mas" ucap Sabrin sambil menatap manik mata Fatah. "Kalau kamu bahagia, aku juga bahagia Ai.." ucap Fatah, lalu mencium kening Sabrin. Mengatarkan sinyal cinta pada istrinya itu. Mereka berdua mengabadikan moment mereka itu dengan berfoto bersama. Sebagai kenang-kenangan kelak dihari tua mereka nanti. “Ini baru yang namanya kencan Ai, kencan dengan status yang halal lebih nikmat dibandingkan dengan yang tidak halal. Karena semua yang dilakukan akan menambah pahala” sambung Fatah. “Masa mas? Lantas apa saja yang bisa menambah pahala?” “Yang pertama bergandengan tangan. Waktu itu kan mas pernah menjelaskan padamu jika sepasang suami istri saling bergandengan tangan, maka semua dosa yang dimiliki akan keluar melalui celah-celah jari tangan. Lalu yang kedua membelai, rasulullah sering mencontohkan dengan membelai bisa menambah kemesraan suami istri. Dengan belaian yang lembut penuh kasih sayang dari suami untuk istrinya, maka istrinya akan merasakan ketenangan batin. Sehingga ini akan membuat istrinya akan semakin sayang pada suaminya. Kemudian yang ketiga adalah mencium. Berciuman merupakan cara sederhana dan mudah dilakukan untuk tetap menjaga kemesraan suami istri. Bahkan rasulullah pernah mencontohkan saat dia sedang berpuasa dia tetap mencium istrinya dengan penuh kasih sayang.  Berciuman bukan hanya saat melakukan hubungan seksual namun misal ketika sedang berpuasa dan saat istri sedang haid atau nifas. Pada saat itu kemesraan harus tetap dijaga” jelas Fatah. Sabrin menatap wajah suaminya dengan pandangan yang terpukau. Sudah berkali-kali dia mengucap syukur pada Allah karena telah mengirimkan sosok Fatah padanya, namun rasanya masih tidak cukup. “Lalu apalagi mas?” “Yang keempat adalah tidur seranjang. Jika suami dan istri tidur seranjang, tentunya banyak hal yang dilakukan dalam bermesraan. Memungkinkan mereka saling berdekapan dan saling berpelukan. Hal ini membuat keduanya menjadi tentram” ujar Fatah. “Oh pantas saja mas selalu peluk aku saat tidur” ucap Sabrin. “Dan yang terakhir, mandi bersama. Kegiatan ini bisa menjadi hiburan bagiku karena begitu menyenangkan sekaligus membahagiakan” goda Fatah yang membuat pipi Sabrin memerah. “Rasulullah juga pernah melakukan hal ini dengan Aisyah. Salah satu Hadist Aisyah menjelaskan “aku biasa mandi bersama rasulullah dalam satu tempat mandi. Antara tanganku dan tangan beliau saling bergantian mengambil air, tetapi beliau mendahului aku. Sehingga aku berkata : sisakan untukku, sisakan untukku, ketika itu kami sedang mandi junub” ...” jelas Fatah. Sabrin tertawa dengan penjelasan Fatah, beliau menjelaskan kepada Sabrin sambil mempraktekan apa yang dia ucapkan. “Ya Allah mas, aku dapat ilmu lagi” ucap Sabrin bahagia. “Aku akan mengajarkan yang aku tahu kepadamu, Ai...” ucap Fatah sambil memeluk istrinya itu. Mereka berdua menutup malam bahagia ini dengan indah. Hingga tiba ke hotel kembali, keduanya merasa kelelahan. "Capeknya badanku..." ucap Sabrin sambil merebahkan tubuhnya di ranjang. Setelah tadi mereka cukup lama berada di depan menara kembar, akhirnya mereka kembali ke hotel. Karena besok pagi Sabrin dan Fatah harus kembali ke Indonesia. Rutinitas mereka sudah sangat menunggu. "Mandi dulu sana Ai.." "Besok aja lah. Sebelum sholat subuh. Aku capek banget mas" jawabnya sambil menarik selimut menutupi hingga lehernya. "Ya sudah.." Fatah mengusap kepala Sabrin dan mencium kening istrinya. Tak lupa sebait doa dia bacakan untuk Sabrin. Pagi-pagi sekali Fatah dan Sabrin sudah berada di bandara. Mereka menunggu jadwal penerbangan mereka menuju tanah air tercinta. Karena di sana keluarga mereka telah menunggu mereka dengan perasaan rindu. "Assalamu'alaikum Ma..." ucap Sabrin di pintu masuk rumah keluarga Fatah. "Wa'alaikumsalam.. akhirnya kamu pulang juga Rin. Mama kangen banget" Mama mencium pipi kanan dan kiri menantunya itu. "Kak Sabrin udah pulang?" Sapa Umi yang berjalan mendekati Sabrin dan Mama. "Iya, nih aku bawa oleh-oleh buat Umi.." Sabrin membongkar koper oleh-oleh yang memang sudah dia siapkan. Dari mulai pernak pernik hingga makanan khas dari KL mereka bawa pulang. Fatah masuk ke dalam rumah setelah mengangkut koper-koper mereka dari dalam mobil. "Ya Allah Ma, anaknya pulang nggak disapa" kesal Fatah. Mamanya sudah sibuk bersama Sabrin dan Umi memilih oleh-oleh yang Sabrin beli. "Mama kan udah tahu mas udah pulang.." "Tapi kan..." "Sudah-sudah.. Jangan marah begitu" Mama mendekatinya lalu Fatah mencium punggung tangan Mamanya itu. "Wa'alaikumsalam mas..." ucap Mama. "Mas mau istirahat dulu. Nanti sore mas harus ke rumah sakit" jelasnya sambil masuk ke dalam kamar. Namun tak ada satupun dari wanita-wanita itu yang menggubrisnya.   ****   Saat Fatah ke rumah sakit, Sabrin memintanya untuk mengantarkan ke rumah Maminya. Dia ingin memberikan oleh-oleh untuk Maminya. Sekaligus ingin melepas rindu. "Mami... Sabrin pulang" "Ya Allah, kapan sampai dari KL?" Mami mencium pipi Sabrin dan menggandeng tangan Sabrin menuju ruang keluarga. Dia sudah lama tidak mendengar keluh kesah putrinya itu. "Hubungan kamu sama Fatah baik kan?" Selidik Mami. "Baik kok Mi. Emang Sabrin berantem terus.." "Kan Mami nggak tau" godanya. "Sebenarnya Sabrin ada masalah Mi. Mami kan tahu, Sabrin sama mas Fatah udah lama menikah. Tapi belum ada tanda-tanda Sabrin hamil" sedihnya. "Sabar dong sayang. Mungkin memang belum saatnya Allah kasih kamu keturunan. Yang penting kamu tawakal terus" tangan Mami dengan lembut mengusap kepala Sabrin. "Memang kamu sudah melalukan dengan cara yang benar?" "Udah Mi, secara mas Fatah itu dokter" "Mami kasih tau sedikit ya, cara berhubungan intim yang di ridhoi Allah. 1. Lakukan Shalat Hajat dua rakaat. 2. Membaca surat Al-Ikhlas 3. Membaca Laa ilaha Illallaah. 4. Membaca Bismillaahil 'aliyyil 'adzim Allaahummaj'alinuthfata dzurriyatan thayyibatan in kunta qadarta antakhruja dzalika min shulbi. 5. Membaca Allaahuma jannibnis syaithana wa jannibisyaithana ma razaqtana. 6. Saat hubungan sudah mau mencapai puncak (keluar s****a) segeralah membaca doa Alhamdulillaahiladzi khalaqa minal mai basyaran faja'alahu nasaban wasuhran wakana robbuka qadiran. (Membacanya cukup dengan dibisikan saja). 7. Pada saat melakukan hubungan intim, hindari arah kiblat & tutuplah badan dengan selimut. " jelas Mami pada Sabrin. "Ya Ampun Mi, banyak banget yang dibaca. Mana sempat baca begituan Mi. Pikiran Sabrin aja udah nggak di tempat.." Mami hanya tertawa mendengar ucapan polos putrinya itu. "Tapi Mi yang Sabrin dengar, mas Fatah sih biasanya yang suka baca-baca begitu sebelum dan sesudah berhubungan" sambung Sabrin cepat. "Harusnya kamu juga baca sayang. Biar kalian sama-sama diberkahi Allah" "Kok Sabrin baca juga sih Mi. Sabrin kan nggak hapal.." ucapnya frustasi. "Kan Mami nggak suruh dihapalin. Tapi coba aja diterapkan. Nanti juga lama-lama biasa" jelas Mami. "Ya deh. Nanti Sabrin coba" jawabnya lesu. Sabrin memang senang mendengar berbagai macam nasehat dari orang-orang sekitarnya. Namun kapasitas otaknya tak bisa menampung sekaligus dalam jumlah banyak. Setelah lama terdiam, Sabrin mengutarakan keinginannya saat ini. "Mi, sebenarnya Sabrin lagi pengen banget makan mie ayam depan kampus. Tapi kalau minta sama mas Fatah pasti nggak boleh. Dia kan nggak makan mie begituan. Nggak sehat katanya" "Emang nggak sehat kan nak. Lagian ngapain kamu makan mie sih? Mami masakin makanan aja ya?" Ajak Mami. "Sabrin nggak mau makan masakan Mami.." "Kenapa? Biasanya juga suka..." "Mami jangan marah dong, Sabrin bukannya nggak suka. Tapi Sabrin lagi nggak mau makan masakan Mami" dipeluknya tubuh Maminya itu. "Selama 20th kamu makan masakan Mami nggak pernah protes, baru kali ini kamu nggak mau" "Kan Sabrin lagi nggak pengen Mi" "Ya sudah sana istirahat. Nanti Mami bangunkan kalau sudah magrib." Jelasnya. Lalu berlalu meninggalkan Sabrin. Dia tahu, Mami nya sedang kesal padanya. Tetapi dia hanya berusaha jujur jika memang dia tidak ingin makan masakan Mami saat ini. "Maafin Sabrin Mi..." lirihnya Namun tubuhnya tergerak dengan sendirinya. Dia tidak ingin menjadi anak yang durhaka pada Maminya. Dilihat Maminya sedang berada di dapur, menyiapkan makanan untuk makan malam. Lalu dipeluklah tubuh Maminya dari belakang. "Mi, maafin Sabrin ya. Sabrin tahu Sabrin salah ngomong sama Mami. Sabrin nggak seharusnya bilang begitu ke Mami. Sabrin mohon Mami jangan marah lagi" Mami tersenyum melihat Sabrin meminta maaf pada dirinya. Sesungguhnya dia tidak marah. Tetapi biarlah sekali-kali mendengar Sabrin memohon ampun padanya. "Sudah jangan menangis. Mami nggak marah. Mami juga minta maaf ya sayang" ucap Mami tulus pada Sabrin. "Ibu.. kasih sayangmu alangkah luas... Aku mampu merasakannya... Bergetar hati nurani ku.. Kasih sayang cinta putih suci.. Ibu.. Yang menunjukkan jalan menuju-Nya.. Penuh tulus dan ikhlas.. Karena makna hidup hanya ada dalam ridhomu.. Dalam kepenuhan mendidik dan membesarkanku.. Seperti jalinan cinta menuju jalan-Nya.. Aku sayang kamu.. ibu..."  ---- continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD