Bab 19

2767 Words
PEREMPUAN HEBAT   "Aku lahir kedunia tanpa apa-apa.. Engkaulah yang mengajariku segalanya, Membesarkanku dengan segala usahamu, Berharap aku kan jadi orang yang berguna.. Saat aku menangis dalam takut, Engkaulah yang menenangkanku.. Dan saat aku jatuh sakit, Engkaulah yang selalu berada di sampingku.. Engkau menegurku ketika aku salah, Engkau mengingatkanku ketika aku lupa, Engkau menghiburku ketika aku sedih, Engkaulah yang menyembuhkanku ketika aku terluka.. Saat ini aku telah dewasa, Berusaha mengejar dan meraih cita-cita, Berharap kan menjadi orang yang berguna, Demi mewujudkan semua impian ku.. Terima kasih ibu, Engkaulah segalanya bagiku, Tanpamu kini aku bukanlah apa-apa, Kasihmu padaku tak kan terbalas sepanjang masa... Ketika sampai masaku sepertimu, Engkaulah yang mengajarkanku kembali.. Engkaulah yang membimbingku.. Tanpa mengenal adanya lelah.. Kapan kah aku bisa berterima kasih padamu.. Ibu... Semoga Tuhan menghapus semua dosamu.. Dan menjaminkan surga untukmu.." Sepulang dari rumah Mami nya kemarin, Sabrin sering sekali terlihat sedih oleh Fatah. Kadang dalam diam, wanita itu menitikan air mata. Entah apa yang dipikirkan Sabrin. Fatah masih enggan untuk bertanya, karena Fatah yakin nanti Sabrin dengan sendirinya akan bercerita padanya. Fatah memperhatikan gerak gerik Sabrin yang gelisah didalam kamar. Walau Fatah sibuk dengan ponsel ditangannya, tetapi fokusnya masih pada Sabrin. "Kamu kenapa sih Ai? Bolak balik terus?" Tegurnya. Namun Sabrin bukannya menjawab pertanyaan Fatah dia lebih memilih menangis. Wajahnya ditutup dengan kedua tangannya. "Ai, kok nangis?" Fatah mulai bingung melihat Sabrin yang berubah menjadi aneh. Dia mendekat ke arah istrinya itu. Di tariknya kedua tangan Sabrin yang menutupi wajahnya. "Kamu kenapa? Sakit?" Ditatapnya lekat wajah istrinya. Sabrin menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu harus bicara apa dengan Fatah. "Kalau nggak sakit, terus kamu kenapa?" Ditariknya tubuh Sabrin agar duduk diatas ranjang. Lalu Fatah berlutut didepan Sabrin. Dilihatnya wajah Sabrin yang sudah merah karena menangis. "Mas, aku kangen Mami..." lirihnya. "Kan baru kemarin kamu dari sana" tutur Fatah. "Tapi aku mau ketemu Mami sekarang" rajuk Sabrin. Fatah mengusap air mata yang mengalir dipipi Sabrin, dan tersenyum pada istrinya itu. "Kamu mau ke rumah Mami? Besok saja kita ke sana. Sekarang udah malam sayang" ucap Fatah lembut. Sabrin setuju dengan usul Fatah. Dia tersenyum senang pada suaminya itu. "Kamu mau ke rumah Mami aja pakai nangis" ledek Fatah. "Aku pikir kamu sakit Ai.." "Aku takut kamu marah mas, soalnya kemarin kan aku udah dari sana" jelasnya. "Aku nggak akan marah Ai, asal kamu meminta ijin dulu sama aku. Itu aja cukup. Aku nggak pernah batasin waktu kamu sama Mami mu. Kamu punya hak dengan orang tuamu Ai.. kalau kamu mau, besok kita nginap disana. Gimana?" Bujuk Fatah. "Mas mau menginap di rumah Mami?" Sabrin begitu senang mendengar jika suaminya mau nginap di rumah Maminya. "Iya Ai, kita menginap di sana beberapa hari.." jawabnya. "Sudah sekarang tidur. Besok aku antar kamu ke sana. Dan pulang dari rumah sakit, aku akan pulang kesana" sambungnya. "Iya mas, makasih" "Nggak perlu terima kasih Ai, Mami mu itu Mami ku juga" Fatah mengecup kening Sabrin dan membacakan sebait doa sebelum tidur.   ****   Pagi harinya, Sabrin sibuk memasukan beberapa pakaian Fatah kedalam tas untuk dibawanya ke rumah Maminya. Sedangkan pakaian Sabrin masih ada tersisa dilemari kamar dirumah Maminya itu. "Mas mau kemana?" Mama bingung melihat putranya membawa satu tas besar kedalam mobil. Dan disusul dengan menantunya itu yang masih sibuk membereskan hijab yang dia kenakan. "Kamu mau kemana Rin?" Tanya mama pada Sabrin. Karena Fatah tadi tidak menjawab pertanyaannya. "Sabrin sama mas Fatah mau nginap di rumah Mami, boleh kan ma?" Sabrin melihat guratan kecewa diwajah Mamanya itu. Rasa bersalah kembali menyerangnya. Dia dilema sekali jika harus meninggalkan Mama mertuanya ini. Tapi dia juga begitu kangen dengan Maminya. "Berapa hari Rin di sana?" Mama berusaha untuk tidak sedih melihat kepergian anak dan menantunya. "Paling lama seminggu, Ma. Nanti Sabrin terus hubungi Mama kok" ucapnya. Lalu mencium punggung tangan Mama dan mengucap pamit. "Kamu sama Fatah nggak makan dulu?" "Udah telat Ma, Fatah ada operasi jam 9 nanti" kali ini Fatah yang menjawab Mamanya. Tak lupa Fatah juga pamit untuk pergi pada Mamanya itu. Sebenarnya dia juga tidak tega jika harus meninggalkan Mamanya sendiri. Tetapi dia juga tidak ingin pisah dari Sabrin. Saat tiba di rumah Maminya, wanita paruh baya itu kaget melihat putri dan menantunya datang pagi-pagi sekali. "Kamu ngapain nak?" Dia melihat Fatah membawa satu tas besar berisi pakaian. "Sabrin sama mas Fatah mau nginap disini mi. Boleh kan?" Pintanya sambil memeluk tubuh Maminya itu. "Iya boleh, tapi sudah ijin sama mertuamu belum? Kamu udah menikah loh, harusnya istri itu mengikuti suaminya" jelas sang Mami. "Nggak papa Mi, Fatah juga mau nginap disini. Kan sejak menikah kami memang belum pernah menginap disini" jawab Fatah. Maminya senang, sekaligus tidak enak dengan besannya itu. Dia takut nanti Mamanya Fatah berpikir jika dia yang memaksa Sabrin untuk tinggal disini. "Mi, Fatah berangkat dulu ya. Titip Sabrin" ucapnya, sambil mencium punggung tangan Mami mertuanya. "Hati-hati ya mas.." Setelah Fatah pergi, Mami kembali mengintrogasi putrinya itu. Dia takut Sabrin memaksa Fatah agar mau menuruti keinginannya. "Kamu nggak maksa suamimu kan?" Selidik Mami "Nggak kok Mi, Sabrin nggak maksa mas Fatah. Mas Fatah yang mau" jelasnya sambil merapikan pakaian Fatah ke dalam lemari. "Ya sudah istirahatlah. Kamu udah makan belum?" "Belum Mi, nanti aja. Sabrin mau ke kampus sebentar lagi" "Kamu ke kampus naik apa? Kan supirmu di rumah Mama..." "Ya naik bis Mi, naik apalagi" jawabnya santai. Maminya senang melihat putrinya itu. Walau sudah menikah, dia tidak pernah mau merepotkan suaminya, Fatah. Mungkin jika Fatah menikah dengan perempuan lain, sudah pasti Fatah akan dibuat pusing akan keinginan yang macam-macam. Saat Sabrin ingin berangkat ke kampus, berkali-kali Maminya mengingatkan untuk hati-hati. Dan kalau terjadi apa-apa dengannya agar menghubungi Maminya. Sabrin hanya mencibir kelakuan Maminya itu. Mami seperti baru pertama kali melepas Sabrin pergi naik angkutan umum Sendiri. Tepat  waktu dzuhur, Sabrin tiba di kampusnya. Peluh menetes diwajahnya. Memang hari itu sangat panas, namun tidak membuat Sabrin mengeluh. Jika dia mau, dia bisa saja minta dijemput pak Kardi, supir yang disediakan Fatah untuknya. Tetapi dia tidak mau merepotkan orang lain. Memang hari ini dia tidak ada jadwal kuliah, dia ke kampus hanya ingin berkumpul dengan teman-teman musiknya. Dan tentu saja tujuan utamanya datang ke kampus yaitu keinginannya makan mie ayam sejak 2 hari yang lalu. "Dek Sabrin..." tegur bang Catur. "Wa'alaikumsalam bang Catur.." Jika dulu Catur yang selalu menegur Sabrin karena tidak mengucapkan salam terlebih dahulu jika bertemu. Namun saat ini keadaan sudah berbeda. Sabrinlah yang menegur bang catur dengan salam. "Aduh, abang jadi malu. Lupa mulu kalau udah ketemu dek Sabrin" ucapnya malu-malu. "Tumben ke kampus? Bukannya kelasmu nggak ada jadwal ya?" Selidik catur. Catur memang hapal betul dengan jadwal kelas Sabrin. Karena memang sejak dulu dia sudah terpesona dengan sosok Sabrin yang apa adanya. "Iya bang, emang nggak ada kelas. Ini cuma mau latihan musik. Terus makan" jelas Sabrin. "Kirain mau nemenin abang isi ceramah di LDK.." godanya. "Emang LDK lagi ada acara ya bang?" "Ada, nanti sore. Sekalian ingin bersilahturahim. Kan sudah mau dekat bulan puasa" "Oh gitu, Sabrin boleh ikut datang nggak?" Sabrin menatap bang Catur seperti memohon agar dibolehkan. "Kan terbuka untuk umum.." "Sabrin nanti datang deh bang" "Nanti juga Darwan datang, dia kemari setelah pulang kerja" Sudah sejak sebulan lalu, Darwan bekerja disebuah bank asing sebagai data entry. Kepintaran Darwan membuatnya mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Karena memang kegiatannya di kampus tinggal menunggu sidang skripsi saja. Sedangkan Catur, dengan otak yang pas-pasan membuatnya susah untuk diterima diperusahaan manapun. "Kak Darwan masih kerja di bank itu ya?" Sedikit banyak Sabrin masih mendapatkan informasi dari pria yang dulu pernah dia cintai. Karena bagaimana pun, kak Darwan masih sangat baik padanya. "Iya, dia beruntung. Ane yang buntung" kesalnya. Sabrin tersenyum melihat wajah kesal bang Catur. "Bang, Sabrin ke audit dulu ya. Udah ditunggu latihan..." ijinnya. "Assalamu'alaikum bang.." "Wa'alaikumsalam dek..."   ****   Karena tadi mengobrol dengan Catur, waktu yang seharusnya digunakan Sabrin untuk makan tidak dia gunakan. Sejak pagi, hingga sore ini dia belum makan sedikit pun. Tetapi tidak ada raut wajah kelelahan pada dirinya. Drrrttt...drrrttt Suara ponsel Sabrin terdengar dari saku celananya. Lalu dia bergegas keluar dari audit untuk mengangkat telepon yang ternyata dari Fatah. "Assalamu'alaikum mas..." "Wa'alaikumsalam. Kamu lagi ngapain Ai?" "Aku lagi istirahat mas..." bohongnya. Sabrin memang belum meminta ijin pada Fatah jika dia ke kampus hari ini. "Ya sudah, mas pulang larut malam ini. Kamu langsung tidur aja. Jangan tunggu mas" "Iya mas..." Setelah mengucapkan salam, sambungan telepon dimatikan. Sabrin senang Fatah tidak mencurigainya. Dia berjanji setelah selesai latihan, dia akan langsung pulang. Pukul 3 sore, latihan selesai. Karena perut Sabrin sudah tidak bisa menunggu lagi. Dia langsung bergegas menuju tukang mie ayam di depan kampus. Makanan yang begitu dia idam-idamkan akhirnya terlaksana juga. Dia makan dengan lahap mie ayam yang disajikan. Setelah perutnya terasa kenyang, dia berniat menuntaskan sholat ashar. Tetapi rasa malas kembali menyerangnya. Terlebih karena perutnya kenyang, membuatnya ingin tidur di dalam masjid. Saat Sabrin mulai merebahkan kepalanya di atas sajadah, ada suara perempuan lain yang menginterupsinya. "Ya Allah, Sabrin..." Ternyata perempuan itu adalah Sendi sahabatnya. Dia bingung untuk apa Sendi datang ke kampus. "Kamu ngapain Sen?" "Aku mau ikut acara LDK nanti" jawabnya. Sabrin menepuk keningnya, dia lupa tadi dia sudah janji dengan Catur untuk datang keacara itu. Gagal sudah rencananya pulang lebih awal. "Kamu mau ikut?" Ajak Sendi. "Pengennya sih. Tapi.. takut pulangnya kemalaman..." "Memang suamimu gak jemput?" "Nggak, dia sibuk dirumah sakit" "Oh... kamu kok tadi malahan tidur Rin? Udah sholat belum?" Sendi mulai melepaskan kaus kaki dan manset tangan yang selalu dia kenakan. Dia ingin mengambil air wudhu dan melakukan sholat ashar. "Belum. Aku kekenyangan jadi malas..." "Kamu makannya berlebihan sih. Memang benar jalan yang kamu pilih, jika perut sudah sangat lapar dan telah masuk waktu sholat. Maka dahulukanlah makan. Karena sholat butuh kekhusyuk'an. Tetapi ingat, jangan makan yang berlebihan" jelas Sendi. "Salah satu sabda nabi menjelaskan : "Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalau dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas". (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Muslim). Kamu paham kan Rin? Yang berlebihan itu gak baik. Allah gak suka segala sesuatu yang berlebihan.." Sendi berusaha mengingatkan sahabatnya itu. "Aku nggak berlebihan Sen, aku emang dari kemarin pengen makan mie ayam depan kampus" sesalnya. "Kamu makannya 2 mangkok ya?" Selidik Sendi. "Ya nggak lah, kami pikir perutku apaan?" Sendi menertawakan sahabatnya ini. Dia memang begitu polos dengan semua jawaban yang dilontarkannya.   ****   Karena sudah berjanji dengan Catur untuk datang ke acara LDK, Sabrin akhirnya datang bersama Sendi. Banyak mata yang menatap ke arah Sabrin tidak suka. Mereka pikir Sabrin memakai hijab untuk menutupi kedoknya saja. Seperti wanita-wanita jaman sekarang. "Aku jadi nggak enak Sen. Mereka pada ngeliatin aku.." bisik Sabrin. Dan Sendi berusaha menenangkan sahabatnya itu. Memberikan kepercayaan diri pada Sabrin. Bukan hanya kaum hawa yang sejak tadi memperhatikan Sabrin, namun kaum adam juga. Termasuk kak Darwan yang baru saja ikut berkumpul bersama. Selain bang Catur membacakan ceramah, ukhti Ana juga mengisi sedikit ceramah yang isinya benar-benar menyindir Sabrin. Dalam isi ceramahnya dijelaskan, jika agama bukan sebuah permainan. Bukan seenaknya kadang kau menjadi lebih baik dan kadang berubah menjadi sangat buruk. Namun agamalah adalah identitas seseorang didepan Tuhannya. "Islam bukan PERMAINAN.. Allah bukan KHAYALAN... Rasul bukan PEMBOHONGAN.. Al-Quran bukan REKAAN dan kematian itu satu KEPASTIAN..." ucap ukhti Ana disela-sela ceramahnya. "Dan haruslah saudara-saudara sekalian agar tidak terlalu dekat dengan kaum kafir. Mengingat disalah satu ayat At Taubah ayat 66 menjelaskan : "Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema'afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.."..." jelasnya. Sabrin berusaha menahan laju air matanya, dia paham benar apa maksud dari pesan ceramah yang ukthi Ana sampaikan. Walau tak menuduhnya langsung, tetapi dia sadar siapa di sini yang dimaksud orang kafir dan orang yang mempermainkan agama. Sesi berpendapat dan mengeluarkan keluh kesahnya dimulai. Karena memang acara ini dibuat untuk mendekatkan sesama muslim agar menjadi keluarga. "Aku mau bertanya ukthi" ucap Sabrin pada ukthi Ana. "Seperti tadi yang jelaskan dalam ceramah yang ukthi bawa. Kita janganlah terlalu dekat dengan orang kafir karena Allah akan mengazab golongan lain yang disebabkan mereka. Lalu yang aku bingung, bagaimana cara kita mengingatkan orang kafir jika kita takut akan azab Allah. Sedangkan Allah pun mengajarkan kita untuk mengamalkan ilmu agama yang kita miliki pada orang-orang kafir agar orang-orang itu bisa mengikuti semua perintah Allah dan menjauhi larangannya" tanya Sabrin. Ukthi Ana menatap wajah Sabrin dalam sebelum dia menjawab pertanyaan yang Sabrin tanyakan. "Kadang saat kita berusaha mengajak orang kafir mengikuti perintah Allah, kita terlalu mudah untuk tertipu. Saat kita sudah berpikir dia telah berubah, namun pada kenyataannya dia hanya memakai topeng untuk mengakali kita dan bisa masuk ke dalam komunitas kita. Lalu saat kita lengah, dia mulai menyerang kita. Banyak sekarang ini orang kafir yang memakai topeng dan memainkan agama. Dan saya ingatkan kembali, Islam bukanlah Permainan " jawabnya tegas. "Jadi menurut ukthi apa orang kafir tidak mungkin berubah? Apa memang tidak bisa orang kafir masuk surga?" Tanya Sabrin lagi. Melihat Sabrin seperti menyerang ukthi Ana dengan pertanyaan-pertanyaannya, membuat semua orang yang berada di acara itu memperhatikan keduanya. Bahkan kak Darwan tak henti-hentinya menggelengkan kepala. Dia ingin sekali membantu Sabrin, namun niatnya tertahan karena tidak ingin ikut campur dalam masalah ini. "Tidak.. orang kafir yang hanya mempermainkan agama tidak akan masuk surga. Dia akan dicuci dulu dosanya di dalam neraka.." jawab ukthi Ana "Apa ukthi Ana pernah mendengar sebuah cerita dari kisah nabi Musa. Pada zaman nabi Musa hiduplah 2 orang bertetangga, yang satu orang kafir dan satu lagi orang musim. Mereka hidup memang tidak pernah akur. Suatu ketika orang muslim mengajak orang kafir untuk ikut dengan kaum nabi Musa dalam menyembah Allah. Namun orang kafir tidak mau. Orang kafir berkata pada orang muslim jika Allah itu tidak ada. Neraka itu tidak ada. Surga itu tidak ada. Untuk apa repot-repot mengajaknya mengikuti nabi Musa. Tapi orang muslim bersih keras menceritakan jika Allah itu ada, surga dan neraka itu ada" cerita Sabrin. "Dan suatu ketika, orang kafir berpikir, orang muslim benar jika Allah ada. Dia ingin mengikuti jejak nabi Musa. Sedangkan orang muslim berpikiran lain, dia percaya dengan perkataan orang kafir. Hingga saat mereka berdua mati, dan orang kafir dibawa malaikat masuk ke dalam surga sedangkan orang muslim masuk ke neraka. Lalu orang muslim melakuan protes pada malaikat, mengapa dia masuk neraka. Kemudian malaikat menjelaskan "Itu karena pilihanmu sendiri, hai Fulan. Pada akhir hayat kau berniat untuk murtad, menyia-nyiakan keimanan dan keislaman seumur hidupmu, dan untuk itu kau dimasukkan ke neraka, sedangkan si kafir itu di akhir hayat berniat untuk bertobat, dan karenanya ia dimasukkan ke sorga...." jadi didunia ini tidak ada yang tidak mungkin menurutku ukthi" jelas Sabrin. Sebuah senyuman hangat kak Darwan berikan pada Sabrin yang melihat kearahnya. Dia tidak menyangka Sabrin bisa berubah menjadi perempuan hebat seperti ini. Bahkan mampu berkata sedemikian rupa pada Ana. "Imamku pernah berkata padaku... "Allah lebih menyukai mantan preman, dari pada mantan ustad" . Seperti diriku ini, aku tahu dulu aku salah satu golongan orang yang selalu melanggar perintah Allah. Tetapi semakin kesini, aku berusaha menanamkan rasa cintaku pada Allah. Hingga aku mampu untuk menjadi lebih baik. Dan tentu saja atas dukungan orang-orang disekitarku yang percaya padaku kalau aku bisa" Ukthi Ana hanya bisa diam mendengarkan semua perkataan Sabrin. Dia tidak menyangka Sabrin bisa sehebat ini. Wanita itu sangat penasaran siapa yang mengajarkan Sabrin menjadi wanita yang punya pemikiran seperti ini. Sungguh beruntung bagi Sabrin memiliki seseorang yang bisa menjadi pedomannya.   ****   "Wow, dek Sabrin hebat... abang bangga sama dek Sabrin" seru bang Catur setelah acara ceramah itu selesai. Mereka sekarang sedang berjalan menuju masjid kampus. "Aku nggak hebat bang, aku cuma ingat apa yang pernah dijelaskan kepadaku" jawab Sabrin. "Abang bangga punya junior kayak dek Sabrin.." goda bang Catur. Kak Darwan menatap tidak senang pada Catur, dan hanya dibalas oleh Catur dengan senyuman mengejek. "Bang, kita sholat dulu ya..." pamit Sendi pada bang Catur. Lalu menarik Sabrin untuk ikut dengannya. "Aku pikir kamu bakalan nangis tadi" sindir Sabrin. "Buat apa nangis. Toh kamu kan tahu Sen, doa orang yang terdzolimi bakalan dijabah oleh Allah.." jawab Sabrin santai. Dia memang sudah berubah, bukan lagi Sabrin yang dulu. Yang dengan mudah dipermainkan oleh orang lain karena ilmu agama yang dia miliki sangat sedikit. Tapi saat ini dia sudah berubah, dan kedepannya dia akan berubah menjadi lebih baik lagi. Karena rasa cintanya pada Allah mulai bersemi dalam hatinya. Dan semua ini berkat suaminya lah yang menyadarkan dia akan kenikmatan mencintai Allah. "Doa orang yang teraniaya diangkat Allah menembus awan dan dibukakan pintu langit baginya, seraya Allah berfirman padanya; "Demi Keagungan-Ku, Aku akan membelamu sampai kapan pun." ---- continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD