“Gendut, minggir!” teriak seorang pria yang mengayuh sepeda ke arah Shasa.
Brraaakkkkkkk.
“Aw ….”
“Gila. Badan kayak badak berdiri di tengah jalan, nggak ngaca banget!” makinya penuh amarah dan berjalan mendekati Shasa yang masih berdiri mematung di tempatnya.
“Lo budeg apa?” teriak si pria tepat di depan wajah Shasa hingga mata indah Shasa beberapa kali mengerjap.
“Maaf …,” desis Shasa dengan perasaan takut karena wajah si pria benar-benar terlihat menyeramkan meskipun Shasa sempat terpesona melihatnya.
Pria tinggi dengan bentuk badan atletis, kaos yang dipakai mencetak jelas otot d**a si pria yang bermata indah dengan hidung panjang yang terlihat mancung dan bibir begitu manis andai tidak dipakai untuk mengomel untuk memaki Shasa.
“Lo pikir maaf Lo berguna. Lihat sepeda gue rusak gara-gara hampir nabrak badak di tengah jalan,” teriaknya lagi.
Teriakan yang kali ini membuat Devi dan Hana berlari keluar rumah saat mendengar suara teriakan dari pria yang selama ini Hana rindukan karena hampir enam bulan dia tidak sekalipun menyempatkan diri untuk datang ke rumah ini karena kesibukannya.
“Lo harus ganti sepeda gue!”
“Abang …! Hana kangen,” teriak Hana yang langsung berlari ke arah pria yang ternyata adalah Hulwan.
Hana langsung memeluk sang kakak dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Hulwan hingga dia mendorong Hana agar menghentikan aksinya.
“Jijik Hana,” protes Hulwan dengan mengusap pipinya yang basah karena kecupan Hana.
“Alah, dicium cewek lain saja merem melek. Giliran aku yang cium-cium jijik,” goda Hana yang dihadiahi jentikan di kening oleh Devi dan Hulwan secara berbarengan.
“Abangmu bukan cowok seperti itu,” bela Devi pada anak laki-lakinya.
“Iya … iya. Bang Hulwan kan nggak suka sama cewek kayak gay- Aww …,” pekik Hana yang kembali menerima jentikan jari di kening dari Hulwan.
“Kalau ngomong jangan asal jeplak Hana!”
“Iya Abang aku yang ganteng. Eh, Abang kenapa pagi-pagi marah-marah?” tanya Hana yang baru ingat kalau dirinya berlari keluar rumah saat mendengar suara teriakan Hulwan.
“Lihat sepeda Abang sampai melengkung seperti itu gara-gara ada anak gajah berdiri di tengah jalan,” tunjuk Hulwan mengarah ke sepedanya yang masih roboh dengan stir yang melengkung karena menabrak pagar rumahnya sendiri.
“Ngaco, mana ada anak gajah di sini,” teriak Hana di depan Abangnya.
“Ada, tuh ….” Hulwan menunjuk Shasa dengan dagunya.
Devi dan Hana langsung meringis seketika saat menyadari anak gajah yang dimaksud oleh Hulwan aadalah Shasa. Harsha Shumaila yang memang baru bertemu dengan Hulwan pagi ini. Padahal gadis berbadan giant tersebut sudah hampir enam bulan tinggal di sana.
“Hussst, sembarangan,” hardik Devi.
“Dia Shasa, tinggal di sini dan kuliah bareng Hana,” imbuh Devi yang memperkenalkan Shasa pada Hulwan untuk pertama kalinya.
“Harsha Shumaila, anak Tante Wina, sahabat Mamah.” Devi kembali menambahkan kalimat yang mempertegas siapa Shasa.
“Shasa, ini Hulwan, Abang toyibnya Hana yang jarang pulang,” kekeh Devi memperkenalkan sang putra pada Shasa.
“Harsa Shumaila.” Shasa mengulurkan tangannya pada Hulwan.
Hulwan membalas jabat tangan Shasa sekilas saja dengan menyebutkan namanya lalu segera menuju sepedanya untuk dituntun dan diletakan di garasi rumah.
‘Sial, sekalinya pulang mata gue malah jadi sakit gara-gara ngelihat anak gajah di rumah ini. Makan apa tuh cewek, perutnya sampai berlipat-lipat dan lemaknya bergelambir. Lengannya seukuran paha gue, apalagi pahanya, ih … serem,’ gidik Hulwan saat naik ke lantai atas menuju kamarnya sembari mengingat badan gendut Shasa.
Dia langsung masuk ke dalam kamar untuk menaruh ponsel dan dompet, kemudian turun lagi bersiap sarapan bersama dengan keluarganya. Minggu pagi ini Hulwan memang sengaja untuk gowes dan bersepeda santai dari rumah batik ke rumahnya yang berjarak tiga kilometer. Namun, Shasa yang berjalan pelan setelah membuang sampah membuat Hulwan terjungkal saat mengerem sepedanya mendadak agar tidak menabrak Shasa.
“Sha, maafin Abang ya. Dia memang begitu, agak menyebalkan,” kata Hana merangkul pundak Shasa dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Mereka kini duduk mengitari meja makan untuk sarapan bersama. Sarapan perdana Shasa dengan kehadiran Hulwan yang kerap melemparkan tatapan sinis ke arahnya yang sedang menikmati nasi goreng buatan Mbok Silah yang rasanya begitu mantap.
“Dia makan di sini gratisan?” cetus Hulwan memandang Devi dan Farid bergantian.
Siapa lagi Dia yang dimaksud Hulwan kalau bukan Shasa. Shasa langsung menenggak segelas air yang ada di samping piringnya. Dia hampir saja tersedak saat mendengar pertanyaan yang Huwan lontarkan.
“Tidak. Dia bayar dengan menjadi sahabat adikmu yang menemani dia di sini selama kita sibuk dengan urusan kita,” jawab Farid.
Hulwan langsung diam, menutup mulutnya rapat-rapat karena tak ingin berdebat dengan sang papah. Farid benar, selama ini Hana sering mengeluhkan kesepian karena kesibukan mereka bertiga. Namun, sejak keberadaan Shasa di rumah mereka Hana tidak lagi kesepian karena memiliki teman saat Farid dan Devi tidak berada di rumah.
“Kapan kamu bawa calon istrimu ke rumah ini?” tanya Devi yang sukses membuat Hulwan tersedak hingga dia asal mengambil gelas dan meneguk isinya hingga habis. Padahal gelas yang diambil milik Shasa yang duduk di hadapannya.
“Mamah, kayaknya aku bakal sering pulang kalau Mamah nggak lagi nanya soal itu. Aku baru 25 tahun, Mah. Masih terlalu muda untuk berpikir ke arah sana,” protes Hulwan.
“Mamah juga nggak mau kecolongan,” tegas Devi.
Semua langsung mengarahkan pandangan mereka pada Devi, mereka mencoba menebak apa maksud kecolongan yang Devi ucapkan.
“Kecolongan apa sih, Mah?” tanya Hana penasaran.
“Kecolongan, takutnya Abangmu benar seperti yang kamu bilang kalau dia … nggak suka wanita,” tuduh Devi yang membuat Hulwan meletakan sendok makannya dan menatap intens ke arah sang Mamah.
“Kenapa Mamah bisa berpikir seperti itu?”
“Mamah nggak percaya kalau aku ini beragama?”
“Mamah kira aku kaum penyuka sesama jenis hanya karena Mamah nggak pernah lihat aku bawa wanita? Aku bukan gay.”
“Mamah-”
“Hulwan jaga tempo bicaramu,” tegur Farid pada sang putra.
“Dia, Mamahmu.”
“Maaf,” sesal Hulwan yang kelepasan bicara hingga suaranya terdengar meninggi karena emosi tiap kali sang Mamah meragukan dirinya.
Meragukan kalau dia masih pria normal, kalau dia masih memiliki agama yang membatasi pergaulan dan sikapnya. Entah kenapa, sang Mamah terlalu termakan omongan orang-orang yang menyangkanya gay hanya karena sering menolak anak gadis yang mereka tawarkan pada Hulwan.
“Mamah butuh bukti, bukan elakan yang bisa dengan mudah kamu ucapkan.”
“Bukti seperti apa yang Mamah inginkan?” tantang Hulwan. Namun, kali ini dengan suara yang dia usahakan selembut mungkin agar tidak terdengar nyalang menantang sang Mamah.
“Bawa calon istrimu ke sini. Titik!” putus Devi dengan menatap tajam sang putra yang menyugar kasar rambutnya.
“Atau ....” Devi menarik napasnya sembari melirik sang suami yang sedari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan mereka.
“Atau apa?”