“Atau apa?”
“Atau kamu harus menerima calon istri yang sudah kami siapkan,” kata Farid.
Mata Hulwan bulat membola, terbelalak kaget dengan apa yang sang papah ucapkan, menikah dengan calon istri yang sudah mereka siapkan. Gila! Mana mungkin di zaman modern seperti ini dia harus menerima sebuah perjodohan.
“Tidak. Aku tidak mau kalian jodohkan,” tolak Hulwan.
“Terima kasih untuk sarapannya dan aku akan bawa apa yang Mamah inginkan secepatnya,” tutup Hulwan yang sudah siap-siap berdiri. Namun, Hana justru menahannya.
“Abang please, kita habiskan sarapan dulu. Hana masih kangen Awan,” rajuk Hana dengan tatapan memelas.
Shasa, rasanya dia ingin mengangkat piring nasi gorengnya untuk pindah makan di dapur atau dimanapun asal tidak di sana. Terlalu sayang membiarkan nasi goreng seenak ini hanya karena menyaksikan perdebatan Devi dan putranya. Untuk tetap makan di hadapan mereka yang sedang bersitegang pun tidak sopan. Hingga Shasa hanya bisa menatap nasi goreng di piringnya dengan air liur yang hampir menetes.
Hulwan kembali duduk, dia menuruti permintaan sang adik. Mereka kembali melanjutkan sarapan dalam diam. Sesekali Hulwan masih melihat Shasa yang menghabiskan sarapannya dengan ekstra cepat, bahkan kini Shasa sedang menambahkan nasi goreng ke dalam piring ditambah dengan mengambil sepotong telor dadar dan kerupuk dari dalam toples.
‘Dasar anak gajah, gimana nggak bengkak tuh badan. Makannya kayak orang kelaparan,’ maki Hulwan tanpa suara.
Selesai sarapan Shasa langsung membantu Devi membereskan meja makan. Dia memang sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Keberadaan Shasa bukan hanya membuat Hana memiliki teman, tapi juga membuat pekerjaan Mbok Silah agak berkurang karena Shasa memang selalu membantu Silah membereskan dan mencuci piring-piring kotor bekas makan.
Kadang Shasa juga membantu Silah menyapu dan mengepel lantai. Shasa memang terlihat enerjik meskipun berbadan besar. Dia bukan tipe seperti Hana yang lebih sering bermalas-malasan di kamar dari pada melakukan pekerjaan rumah.
Hulwan naik ke lantai atas untuk bercengkrama dengan Hana, hal yang sudah jarang mereka lakukan sejak Devi kerap memaksa Hulwan untuk menikah sehingga Hulwan lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah batik daripada di rumah ini.
“Awan, emangnya Mamah mau jodohkan sama siapa sih?” tanya Hana penasaran saking banyaknya anak gadis teman dari Mamahnya yang dijodoh-jodohkan dengan sang kakak.
“Entahlah, suka-suka Mamah saja. Abang juga nggak tahu kenapa Mamah dan Papah bisa berpikir tentang perjodohan padahal ini zaman modern.”
“Makanya Awan cepet cari pacar, bawa ke Mamah. Tuh teman-teman SMA aku kan banyak yang masih terus-terusan titip salam ke Awan.”
“Ogah, masa aku harus nikah sama bocah macam kamu, ribet,” tolak Hulwan yang langsung mengundang tawa Hana.
“Shasa, sini ikut gabung sama kita,” ajak Hana. Dia langsung menghentikan tawanya saat melihat Shasa tiba di puncak tangga.
Shasa menggeleng, melihat tatapan tajam dari Hulwan membuat bulu kuduknya merinding. ‘Ganteng-ganteng galak kayak serigala,’ pikir Shasa melihat wajah seram yang selalu ditampakkan Hulwan padanya.
“Loh, kenapa? Padahal temanku banyak yang caper kalau aku bareng Abang.”
Plak. Hulwan menepuk kening adiknya. Hana langsung meringis sembari mengusap keningnya yang terasa pedih.
“Awan sakit ...,” rajuk Hana manja dengan bibirnya yang cemberut.
Shasa hanya melemparkan senyum pada Hana, kemudian dia pamit untuk masuk ke dalam kamar. Dia sungkan berlama-lama berada di depan Hulwan yang menatapnya jijik seperti dia menatap anak gajah sungguhan yang berkeliaran di rumahnya.
“Kamu bisa sih, berteman sama anak gajah macam dia.”
“Abang ... sejak kapan mulut Abang itu hobi maki orang,” hardik Hana mengingat sang Abang yang sudah keterlaluan memaki sahabatnya.
“Dia baik, pintar, satu lagi yang pasti bikin Abang terpesona padanya.-”
“Wait,” potong Hulwan menghentikan kalimat Hana.
“Apa kamu bilang? Terpesona?” Hana mengangguk. Namun, Hulwan justru menggelengkan kepalanya.
“Gila! Kamu pikir Abangmu buta apa, terpesona dengan anak gajah macam dia,” kekeh Hulwan.
“Eits, sembarangan Abang! Biar gendut dia berkualitas, multi talent. Suaranya itu loh, Bagus banget, Raisa mah lewat,” puji Hana yang terlalu melebih-lebihkan kelebihan sahabatnya, tapi untuk kelebihan berat badan Shasa, tak pernah sekalipun dibahas Hana pada siapapun.
Bagi Hana, kurus atau gemuk, semua berhak mendapat pujian atas prestasi dan bakat yang dimilikinya. Dia yang kurus saja kadang terkena body shaming para tetangga yang menganggap badan Hana terlalu kurus. Padahal untuk sebagian wanita, tentulah merasa bangga bisa memiliki lekuk tubuh langsing tanpa lemak seperti dirinya.
“Masa? Aku nggak percaya si gembrot itu bisa nyanyi,” cibir Hulwan yang langsung membuat Hana berganti menepuk dahi sang kakak.
“Sakit Hana,” protes Hulwan.
“Habis Awan manggil Shasa si gembrot. Itu body shaming tahu! Aku juga sedih kalau ada yang ngatain aku kurus kayak papan triplek,” aku Hana pada sang kakak.
“Masa sih adik aku yang seksi gini ada yang ngatain kurus.”
“Banyak Awan, banyak banget! Apalagi mulut pedas para tetangga,” seru Hana.
Hulwan malah terbahak melihat ekspresi kesal sang adik yang menurutnya benar-benar lucu. Adiknya bermata panjang, dengan hidung dan bibir yang mungil. Wajahnya oval dan tirus sehingga Hana mendelik pun sudah dipastikan tidak ada yang gentar padanya.
Cukup lama Hulwan dan Hana bercengkrama di depan televisi yang berada di lantai dua. Hingga Hulwan berpamitan untuk istirahat sejenak di kamarnya menunggu waktu salat dzuhur tiba.
______I.S______
Allahumma sholli ‘ala muhammad, Ya Rabbi sholli ‘alalihi wasallim
Allahumma sholli ‘ala muhammad, Ya Rabbi sholli ‘alalihi wasallim
Rabbi fanfa’na bibarkatihim, wahdinal husna bihurmatihim
Rabbi fanfa’na bibarkatihim, wahdinal husna bihurmatihim
Lantunan suara merdu yang tertangkap dengar oleh telinga Hulwan membuatnya bangkit segera dari kasur. Hulwan berjalan keluar kamar untuk memastikan suara merdu tersebut milik siapa. Sudah pasti itu bukan suara cempreng Hana.
Pintu kamarnya terbuka, suara tersebut masih dia dengar. Begitu merdu hingga membuatnya terpesona.
“Siapa pemilik suara ini, aku nggak akan menolak kalau Mamah menjodohkanku dengannya,” gumam Hulwan lirih.
Kini dia berdiri di kamar yang bersebelahan dengan kamar Hana. Kamar dimana suara merdu itu berasal. Ada keraguan dalam diri Hulwan untuk membuka pintu kamar tersebut. Namun, nalurinya menolak karena tindakan tersebut pasti sangat tidak sopan apalagi dirinya laki-laki dan sudah tentu suara yang dia dengar adalah suara wanita yang dalam bayangannya pasti cantik mempesona seperti suaranya yang langsung membuat Hulwan jatuh cinta.
“Rabbi fanfa’na bibarkatihim, wahdinal husna bihurmatihim. Rabbi fanfa’na bibarkatihim, wahdinal husna bihurmatihim.”
Hulwan tidak lagi bisa membendung rasa penasarannya, tangannya perlahan memutar handle pintu kamar yang ternyata tidak terkunci.
“Aaaaaaaaa ....”
Sebuah jeritan disertai lemparan bantal membuat Hulwan segera menutup kembali pintu kamar dan berlari secepatnya masuk ke dalam kamarnya.