“Aaaaaaaaa ....” Shasa menjerit histeris saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menampakan wajah Hulwan.
Rasa hangat begitu saja menjalar di wajahnya saat matanya bersitatap dengan pria yang membuka pintu dan begitu saja memandang sesuatu yang jelas terlarang untuk Hulwan.
Hana segera mengunci pintu saat Hulwan kembali menutupnya dengan eskpresi wajah yang sama kaget dengannya. Sungguh Hana tidak menyangka Hulwan begitu saja masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu atau tanpa berkata izin terlebih dahulu.
Dia begitu tak rela Hulwan melihat apa yang selama ini selalu dia tutup dengan rapat. Dia tidak menyangka kalau hari ini dia harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.
“Ya ampun bunda, anakmu sudah tidak perawan. Bagaimana bisa dia seenaknya nyelonong buka pintu kamar orang, aaaaaaaaaaa ... tidak ....” Shasa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Dia kembali memindai tubuhnya yang tidak ditutupi sehelai benang pun karena memang dia baru saja melepaskan handuk sebelum dia berpakaian. d**a besarnya terpampang menggantung sebesar bola mainan yang terlihat padat dengan ujung lollipop yang merah pias. Bagian tengah tubuhnya pun bisa diekspos oleh Hulwan karena saat itu dia memang berdiri dengan kaki terbuka.
“Ah, untuk aku sudah mencukur rapi Nona V, kalau tidak yang dilihat si Abang pasti semak belukar bukan apem yang menggoda. Hah! Dodol … dodol .. dodol. Kenapa malah berpikir ke arah sana sih,” gerutu Hana sembari mengetukan jarinya di pelipis.
Dia segera mengenakan semua pakaian yang sudah dia ambil dan diletakan di atas kasur. Underwear, celana dan T-shirt memang sudah tergeletak di sana sebelum dia memutuskan untuk mandi. Dia memang salah tidak mengunci kamar padahal penghuni di lantai atas pagi ini bukan hanya dia dan Hana.
Dia lupa kalau pagi ini di rumah Devi ada anak sulungnya datang. Parahnya lagi, Hulwan membuka pintu kamarnya tanpa izin tepat di saat Shasa baru saja melepas handuknya. Jelas itu membuat tubuh montok Shasa terpampang di depan mata Hulwan.
Sungguh pagi yang terasa membuatnya begitu sial. Kedatangan pria tampan di rumah ini bukan malah membawa keberuntungan untuknya.
“Aku harus minta tanggung jawab sama bang Hulwan. Tidak bisa dia lepas tangan begitu saja setelah apa yang dia lakukan tadi. Tuhan … dia sudah melihatnya … Bunda ... apa ini berarti aku sudah tidak perawan lagi?” rengek Shasa entah bertanya pada siapa.
Monolognya terus saja terdengar di kamar berukuran empat kali tiga meter yang sudah dia tempati sedari awal kuliah di Undarma. Monolog yang menganggap kalau kejadian tadi telah membuatnya kehilangan kesucian dan mahkota yang selama ini sudah dia jaga dan dia tutupi.
Dia kembali membanting tubuhnya ke ranjang dan menutup wajahnya dengan bantal. Shasa sungguh bingung memilih kata untuk menagih tanggung jawab Hulwan mana bisa dia meminta Hulwan menikahinya.
“Tidak … meskipun dia ganteng, tapi bibirnya tak beda jauh dengan naga api yang menyemburkan panas di telingaku. Ah, bahkan kalimat yang keluar dari mulutnya itu ebih pedas dari pecak kangkung sambal terasi yang suka dibuat bunda!
Ah, aku harus bagaimana bunda. Aku kehilangan keperawanan, tapi aku malah kangen dengan sambal terasinya bunda,” jerit Shasa sembari memeluk guling agar suara teredam dan tidak ada yang mendengarnya dari luar.
Batin Shasa terus saja bergejolak, berperang dan saling berargumen antara devil dan angel yang tiba-tiba muncul di sisi kanan dan kirinya. Mereka berdua begitu semangat mempengaruhi Shasa untuk mengambil sebuah keputusan.
Angel berbisik di telinganya, kalau semua kan baik-baik saja. Hulwan pasti akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara, Devil berbaju merah dengan dua tanduk di kepalanya terus saja berbisik kalau hidup Shasa sudah hancur, Hulwan tidak akan mau menikahinya dan membiarkan anak dia lahir tanpa bapak.
“Anak? Lah, gila! Mana bisa hanya sekali melihatku telanjang Bang Hulwan berhasil menghamiliku,” tepis Shasa mengusir Devil dengan mengibaskan tangan ke telinga kirinya meskipun si Devil tetap kembali muncul lagi dan lagi untuk terus mempengaruhi pikirannya.
Di kamar Hulwan, sesuatu yang hampir sama juga terjadi. Batinnya terus berdebat setelah melihat sesuatu yang sebenarnya tidak pantas untuk di pandangnya. Hulwan kadang beristigfar, tapi sesekali dia juga bergidik. Ngeri, hanya mau tidak mau otaknya pun berkelana membayangkan sesuatu yang tak semestinya.
“Gede banget, hiiy ...,” gidik Hulwan kembali menutup wajahnya dengan bantal.
Hulwan membuka telapak tangan kananya seolah sedang berusaha meremas sesuatu. “Segede gitu muat nggak ya ditanganku. Pasti kenyal … empuk dan ….” Hulwan menggeleng untuk menepis selintas bayangan yang muncul begitu saja dalam pikirannya.
Pemandangan kedua buah d**a Shasa yang terlihat begitu besar, kencang dan menggantung sempurna tanpa ditutupi apapun kembali terlintas. Dia normal, pria normal yang merasakan sesuatu di bagian tengah tubuhnya mengeras saat melihat pucuk semerah lollipop di tengah gunung kembar Shasa.
“Manis, kenyal, apalagi kalau sambil diremas … pasti empuk.”
Plak.
“Aww ....” pekik Hulwan saat telapak tangannya menampar mulutnya sendiri yang lancang mengatakan apa yang dia bayangkan saat bayangan buah d**a Shasa kembali terpampang di pikirannya.
Dia masih berusaha melupakan dan menghapus apa yang dia lihat meskipun pada kenyataannya yang terjadi justru sebaliknya. Dia membayangkan hal yang tidak-tidak apalagi bukan hanya sesuatu yang tergantung di depan badan Shasa yang dia lihat.
Dia juga melihat bagian tengah tubuh gadis berbadan montok. Bak roti yang mengembang, tapi tetap empuk dan kenyal, besarnya tubuh Shasa juga dibarengi dengan bagian lembah kenikmatan yang terlihat menggodanya.
“Aku pernah baca kalau bersetubuh dengan wanita gendut itu pasti terasa nikmat. Lubang si gendut itu pasti terasa sempit, nikmat dan ….
Tuhan … ampuni aku, kenapa pikiranku malah semakin liar. Aku pria normal, aku memang tidak menyukai lipatan perut dan lemaknya yang bergelambir di paha dan setiap bagian tubuhnya. Hanya saja aku tidak bisa menahan hasratku untuk tidak membayangkan betapa empuk dan nikmat berada di atasnya. Ah ….”
Hulwan kembali menggeram saat merasakan sesuatu di pusat tubuhnya terasa semakin mengeras dan mulai menggeliat. Dia kembali menutupi wajahnya dengan bantal dan terus melafalkan istighfar agar pikiran jorok itu segera terhempas dan tidak semakin membuatnya berimajinasi.
Tok ... tok ... tok.
Terdengar suara pintu diketuk. Hulwan mengangkat bantal yang menutupi wajahnya. “Siapa?” jeritnya bertanya. Namun, bukan jawaban yang terdengar, melainkan suara pintu yang kembali diketuk lebih keras dari suara ketukan awal.
Hulwan melempar bantal asal, dengan malas dia bangkit untuk membukakan pintu. “Pasti Hana,” tebaknya sembari menghentakkan kasar telapak kakinya ke lantai.
“Abang mau istirahat, kamu nggak usah ganggu, Han-
Hantu … ngapain kamu ketuk-ketuk pintu kamarku?” hardik Hulwan sengit saat mendapati yang berdiri di depan pintu kamarnya adalah Shasa bukan Hana seperti tebakannya.
“Hantu? Dimana hantunya Bang?” Shasa celingukan ke kanan dan ke kiri, dia tidak melihat apapun kecuali Hulwan yang berdiri di depannya.
Tiba-tiba dia merasakan bulu kuduknya meremang hingga reflek dia meloncat dan memeluk Hulwan karena rasa takut yang menyergapnya.
“Hantu, aku takut hantu Bang,” jerit Shasa.
Hulwan yang tidak siap siaga pun terdorong ke dinding akibat pelukan Shasa, mereka kini begitu dekat. Tatapan mereka beradu, Hulwan seperti mengenali mata indah yang bersitatap dengannya. Dia mulai mengingat dimana pernah melihat mata bulat, hitam seperti milik Shasa. Namun, sekuat apapun dia berusaha mengingatnya dia tetap lupa dimana dia melihat mata yang sama dengan milik Shasa.
Hulwan pun mendorong badan gempal Shasa agar menjauh hingga pelukan Shasa terlepas. Rasanya dia sangat susah bernapas bukan karena badan Shasa yang menghimpitnya. Sesuatu yang terasa begitu kenyal mengenai dadanya membuat junior Hulwan kembali menggeliat.
“Lo mau tahu hantunya? Nih, hantunya … Gunderuwo yang berdiri di hadapan gue!” bentak Hulwan tepat di hadapan wajah Shasa sebelum dia mengusap bagian tubuhnya yang sempat dipeluk Shasa.
“Aku hantu, Bang?” tanya Shasa dengan polos menyentuh hidungnya sendiri menggunakan telunjuk.
“Iya, Lo hantu. Hantu Gunderuwo raksasa!”
“Aku Shasa, Bang. Bukan hantu. Abang kesurupan? Atau Aku perlu panggil tante Devi buat bawa dukun ke sini. Masa sih Abang bilang aku hantu, padahal aku Shasa, Bang,” terang Shasa yang membuat Hulwan menepuk jidatnya.
'Ya Tuhan, dia ini Alien atau memang beneran makhluk jadi-jadian yang begitu primitif sih, masa iya otaknya tidak sebanding dengan besar badannya,' gumam Hulwan tanpa suara.
“Lo beneran anak gajah ya, badan Lo besar otak Lo nol,” maki Hulwan lagi.
Shasa pun mendelik pada Hulwan saat dia mendengar Hulwan kembali menyebutnya anak gajah. Bukan, bukan hanya Hulwan yang kerap meledeknya anak gajah sehingga Shasa langsung tahu kalau Hulwan sedang menghinanya dan meledek besar tubuhnya yang disamakan dengan anak gajah.
“Oh, jadi Abang ngatain aku Gunderuwo, setan dan anak gajah begitu?” nyalang Shasa saat menyadari kalau semua yang tadi terlontar dari mulut Hulwan itu memang hinaan untuknya
Harusnya dia yang marah pada Hulwan karena dia ke sini ingin menuntut tanggung jawab Hulwan, tapi Hulwan bukan hanya menyebutnya dengan si anak gajah. Dia malah menyamainya dengan Gunderuwo.
“Bang, setelah kamu ambil keperawanan aku, Abang tega ngatain aku hantu lah ... Gunderuwo ... anak gajah dan-”
“Hulwan! Kamu ambil keperawanan Shasa!” teriak Devi yang kini berdiri di ujung tangga.
“Mamah ... mana mungkin aku-”
“Mana mungkin apa? Tadi Mamah dengar apa yang Shasa katakan.”
“Aku nyentuh dia saja nggak, Mah. Lagian ogah banget bercinta dengan anak gajah-” Plak.
Shasa menampar Hulwan yang kembali menyamakan dia dengan anak gajah. “Setelah Abang lakuin semuanya, bukan berarti Abang bebas ngata-ngatain aku semau Abang.
Abang mesti tanggung jawab atau aku laporin Abang ke polisi,” ancam Shasa yang membuat Hulwan mengacak rambutnya dengan kasar.
“Shasa ... Shasa marisa shasa. Apa maksudmu dengan tanggung jawab. Memangnya apa yang aku lakukan sehingga kamu menuntut tanggung jawab?”
“Namaku, Harsha Shumaila bukan Shasa Marisa!” tegas Shasa dengan mata bulatnya yang semakin lebar saat melotot ke arah Hulwan.
“Terserah namamu siapa. Aku tak peduli.”
“Diam Hulwan!” bentak Devi.
Suara teriakan Devi yang membentak Hulwan pun terdengar oleh Farid dan Hana yang sedang duduk santai di ruang televisi lantai bawah. Mereka berdua bergegas melihat kegaduhan apa yang terjadi di lantai atas hingga membuat Devi berteriak begitu lantang.
“Benar kamu ngambil keperawanan Shasa,” ulang Devi yang kembali bertanya hal yang sama dengan tatapan yang begitu tajam.
“Ti-dak. Aku nggak ngapa-ngapain dia, Mah.”
“Bohong tante! Dia sudah buat aku nggak perawan.”
“Diam anak gajah!” bentak Hulwan pada Shasa karena kalimat yang barusan dia ucapkan tentu akan membuat sang Mamah semakin salah paham.
“Kamu yang diam Hulwan!” balas Devi membentak Hulwan.
“Mah ... ada apa?” tanya Farid yang kini berdiri di samping Devi dengan Hana yang juga sama tak mengertinya dengan kegaduhan yang terjadi.
“Anak papah ngambil keperawanan Shasa.”
“Hah!” teriak Hana dengan mulut terbuka lebar dan mata yang melotot saking tidak percayanya dengan apa yang dia dengar.
“Mamah ... aku bisa jelasin semuanya. Ini tidak seperti itu, aku nggak ambil keperawanan dia Mamah.”
“Enak saja Abang ngomong gitu. Bukannya Abang yang tiba-tiba masuk saat aku baru mandi, terus Abang ... Abang ....” Air mata Shasa mengalir saat dia membayangkan tubuhnya kini telah ternoda karena Hulwan sudah melihatnya bertelanjang.
“Sayang ... sudah sayang, maafin Bang Hulwan ya. Dia akan tanggung jawab Shasa.”
“Mamah ....”
“Diam!” bentak Devi tidak mau mendengar penjelasan apapun yang keluar dari mulut Hulwan. Jemarinya terus mengusap punggung Shasa yang kini berada dalam dekapannya. Farid dan Hana masih berdiri mematung, mencoba menelaah kekacauan yang terjadi.
“Hana ... bawa Shasa ke kamarnya. Mamah dan Papah mau bicara dengan Abangmu,” perintah Devi.
Dia melepaskan pelukan Shasa, Hana langsung menuntun sahabatnya masuk ke dalam kamar meninggalkan Devi yang berdiri menatap Hulwan dengan penuh amarah.
“Mah, kita bicarakan semuanya sambil duduk,” ajak Farid menuntun Devi duduk.
“Hulwan, sekarang kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” pinta Farid saat mereka bertiga sudah duduk saling berhadapan di sofa.
“Hulwan yang salah-”
“Kamu memang salah!” tuding Devi dengan tatapan mata tajamnya.
“Mamah, Mamah diam dulu, dengerin penjelasan Hulwan biar semuanya jelas.”
“Silakan Hulwan lanjutkan,” perintah Farid pada putranya.
“Hulwan salah Pah, salah karena membuka pintu kamar Shasa begitu saja saat dia sedang ... mmmm .... Dia ....”
“Dia apa? Jangan am em am em nggak jelas seperti itu!”
“Mamah Sayang, Mamah sabar dulu, dengerin penjelasan Hulwan, oke?” pinta Farid berusaha menenangkan istrinya.
“Dia lagi nggak pakai baju sehabis mandi,” ringis Hulwan dengan perasaan bersalah.
“Tapi aku langsung tutup pintunya lagi kok. Nggak ngelakuin apa-apa, apalagi ambil keperawanan dia,” imbuh Hulwan menegaskan penjelasannya.
“Mamah nggak percaya, buktinya tadi Shasa menangis dan meminta pertanggung jawabanmu. Kamu jangan mengelak Hulwan! Seusia kamu melihat wanita bertelanjang di dalam kamar, ah ….”
Devi tidak melanjutkan kalimatnya. Dia tidak bisa membayangkan kelakuan anaknya yang membuatnya benar-benar kecewa.
“Mamah, aku tidak melakukan apapun ... sungguh Pah, aku hanya melihatnya bertelanjang dan kembali menutup pintu kamarnya. Sumpah, Pah ... Papah percaya aku, aku tidak melakukan apa yang Shasa tuduhkan tadi.
“Benar seperti itu?” tanya Farid yang berusaha membuat otaknya tetap jernih karena huru-hara ini.
“Benar, Pah. Sumpah.” Hulwan mengangkat kedua jarinya hingga membentuk huruf V.
Devi terlihat menghela napas lega. “Shasa memang gadis desa yang polos dan lugu, pantas saja Wina begitu mengkhawatirkannya. Masa iya hanya karena seperti itu saja dia merasa kehilangan keperawanan.”
“Bukan lugu, Mah. Dia Oon, masa cuma lihat dia telanjang aku dituduh ambil keperawanan dia!”
“Diam Hulwan! Dia seperti itu juga gara-gara kamu,” bentak Devi.
“Gara-gara aku Mah, masa dia oon gara-gara aku,” cicit Hulwan tak mengerti apa yang membuat Devi berpikir seperti itu.
“Kamu tetap harus bertanggung jawab padanya!”
“Tanggung jawab? Tanggung jawab apalagi,