“Kamu tetap harus bertanggung jawab padanya!” bentak Devi masih dengan tatapan yang begitu nyalang pada sang putra.
Andai saja Hulwan tahu sesuatu, andai dia bisa mengingat semuanya. Tentu dia tidak akan berlaku seperti itu pada Shasa. Dia tidak akan berkata seenak jidatnya tanpa memfilter setiap ucapan yang akan dia lontarkan pada Shasa.
“Tanggung jawab?” Mata Hulwan terbelalak mengulang ucapan sang ibu dengan kening berkerut.
Tanggung jawab apa lagi yang dimaksud ibunya. Dia sudah menjelaskan semuanya dan sudah dipastikan kalau Shasa tidak kehilangan keperawanan dan dia tidak melakukan apa yang dituduhkan Shasa padanya. Semua murni hanya kesalah-pahaman Shasa dalam mengartikan kejadian tadi.
Kepolosan Shasa mengira dirinya kehilangan kesucian hanya gara-gara Hulwan melihatnya bertelanjang yang menyebabkan kehuru-haraan terjadi di lantai dua rumah Devi.
“Tanggung jawab apalagi Mah, semua sudah jelas. Aku nggak nyentuh dia seujung kuku pun, apa yang harus aku pertanggungjawabkan, Mah?” tanya Hulwan meminta penjelasan dari sang mamah.
“Ya kamu harus tanggung jawab menjelaskan pada Shasa kalau apa yang terjadi tadi itu tidak membuat keperawanannya hilang. Kamu jelasin ke dia kalau itu salah-paham dan buat dia tidak melaporkanmu ke polisi.”
“Apa? Aku? Maksud Mamah aku harus menjelaskan ke si Oon itu kalau semuanya salah paham?” tanya Hulwan menunjuk dirinya sendiri dengan kedua mata yang besar membola karena ucapan sang Mamah.
“Iya, kamu. Kamu yang nyelonong buka kamar dia, ya kamu juga yang harus tanggung jawab menjelaskan kesalahpahaman ini.”
“Mamah, please deh, kesalahpahaman ini tidak akan terjadi kalau si Shasa itu nggak bego bin oon, Mah,” rajuk Hulwan yang langsung dihadiahi sentilan jemari Farid di keningnya.
“Sejak kapan kamu jadi tukang bego-begoin orang,” hardik Farid.
“Dia anak tante Wina dan Om Aris, Shasa selalu juara kelas sejak TK,” ucap Farid memberitahu prestasi akademik Shasa.
“Aku nggak peduli, Pah. Dia mungkin pintar di bidang akademik, tapi nyatanya dia O....”
“Diam!” bentak Devi.
“Mamah nggak mau ya kamu terus jelek-jelekin Shasa. Kamu nggak tahu siapa dia. Kamu nggak tahu sepenting apa dia dalam keluarga ini. Kamu akan menyesal sudah berkata seperti itu andai kamu kalau Shasa itu-”
“Mamah sudah, tidak perlu dibahas lagi. biar Hulwan selesaikan semuanya setelah Hana menenangkan Shasa.”
Devi menghempaskan napasnya dengan kasar, hampir saja dia kelepasan bicara di depan Hulwan. Dia sudah berjanji pada sahabatnya untuk tidak membahas hal itu di depan Hulwan. Wina tidak menginginkan Hulwan tahu dari mulut orang lain, dia ingin Hulwan tahu sendiri tentang rahasia yang mereka simpan selama ini.
“Baiklah, mamah sudah puas kan menghakimi aku dan menuduh aku yang bersalah dalam hal ini. Rasanya di sini Aku sekarang hanya anak tiri karena kalian lebih belain si anak gajah itu daripada putra kalian sendiri.” Hulwan segera beranjak memasuki kamarnya tanpa mempedulikan panggilan Devi dan Farid.
Rusak sudah weekend Hulwan minggu ini gara-gara kehadiran Shasa di rumah kedua orang tuanya. Hulwan hanya bisa menyesali keputusannya pulang pagi ini. Padahal dia pulang hanya untuk memenuhi keinginan adik semata wayangnya yang sudah berulang kali merengek memintanya pulang.
Dia juga tidak menyangka kalau kehadiran Shasa di rumahnya membawa kesialan untuknya.
“Aaaarrrgggghhhh ....” Hulwan menggeram. Dia benar-benar kesal kenapa mesti tergoda dengan suara merdu Shasa yang membuat semuanya berakhir rumit seperti ini.
Padahal sudah jelas-jelas Hulwan tahu kalau kamar tersebut adalah kamar milik Shasa, pastinya Shasa penghuni tetap kamar tersebut sehingga salah kaprah kalau Hulwan menebak suara merdu itu milik orang lain.
“Ah, seandainya dia tak sebesar anak gajah ....” Hulwan kembali menggusar rambutnya.
Dia kembali menyalahkan pikirannya yang begitu saja terbayang suara merdu Shasa dan bayangan tubuh Shasa tanpa busana yang menutupinya.
Hulwan seperti mengingat suara merdu milik seorang yang membuatnya memilih untuk menjadi jomblo di usainya yang sudah dua puluh delapan tahun. Dia menyangka gadis itulah yang berada di kamar Hulwan, gadis cantik bermata bulat dengan bola mata yang hitam legam. Tentu saja gadis itu tidak berbadan gendut seperti Shasa.
Pertentangan batin terus saja terjadi Hulwan tidak bisa melupakan begitu saja lekuk tubuh Shasa yang meskipun bengkak di setiap sisi, tapi berhasil membuat sisi kelaki-lakinnya bangun dan menciptakan imajinasi liar yang membuatnya berandai-andai kesegala arah hingga tanpa sadar Hulwan tertidur.
Tidur siang yang teramat lelap setelah perdebatan dengan Mamahnya serta perdebatan dengan batinnya yang tidak bisa menghapus sorot mata Shasa, kemerduan suaranya juga tubuh bugilnya yang terpampang jelas di depan matanya.
_____Hillais_____
Di kamar, Shasa terus saja merengek pada Hana. Ocehan di sertai isak tangisnya tak kunjung berhenti. Shasa masih saja menangisi keperawanannya yang dianggap hilang dicuri Hulwan. Sementara Hulwan dengan jelas menentang telah melakukan semua itu hingga dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kejadian tersebit pada ayah dan bundanya nanti.
“Huwaaaaa, Bang Hulwan sudah lihat dadaku, lihat tubuhku Hana ..., tapi dia tidak mau bertanggung jawab, dia mengelak sudah melakukan pelecehan terhadapku, Na ... Abangmu jahat, Na ... dia sudah membuatku tak suci lagi ....
Bagaimana aku harus bercerita sama ayah Bunda kalau sekarang aku bukan gadis perawan lagi ....
Aku ternoda Hana ... aku ternoda oleh bang Hulwan,” rengek Shasa yang masih menangis histeris hingga Hana bingung sendiri apa yang sebenarnya terjadi antara sahabatnya denga Awan, panggilan kesayangan untuk Abangnya Hulwan.
Setahu Hana, Abangnya tidak mungkin melakukan tindakan asusila seperti itu. Abangnya memang tidak termasuk deretan Ikhwan yang taat beragama. Namun, dia percaya kalau Hulwan bukan tipe pria b***t yang tega menodai sahabat dari adiknya.
Apalagi Hulwan melakukan hal gila itu di rumah ini. Rumah mereka dalam kondisi rumah dalam keadaan ramai, dia dan kedua orang tuanya berada di rumah meskipun saat keributan terjadi Hana memang berada di lantai bawah bersama mamah dan papahnya.
Hana seperti menangkap ada sesuatu yang tidak beres. Lagian, Hana menangisi keperawanannya yang hilang, tapi dia seolah tidak merasa kesakitan sedikit pun di bagian organ intimnya. Ah, bukannya dia mengelak dan membela Abangnya dalam masalah ini. Hanya saja Hana juga tidak bisa percaya begitu saja kalau Shasa bilang dirinya ternoda oleh Awan.
“Shasa ... sudah dong jangan nangis lagi ... maafin Awan ya kalau memang dia salah sama kamu. Maafin dia ya, Sha. Aku pastikan dia bertanggung jawab kalau memnag dia melakukan itu sama kamu.
Memangnya beneran kejantanan Awan sudah merobek selaput daramu? Sprei kamu kok masih sama, belum diganti. Nggak ada noda darah perawanmu juga di sini. Kalian melakukannya dimana?” tanya Hana dengan mimik wajah penasaran.
Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membrondong Shasa dengan aneka tanya yang sudah sejak tadi berputar di kepalanya.
“Kejantanan? Darah perawan?” Kening Shasa berkerut saat mengucapkannya dengan mata bulatnya yang terlihat memicing.
“Kejantanan apa maksudmu Hana?” ulangnya lagi. Bertanya sesuatu yang tidak sampai ke batas pemikirannya.
“Kamu bilang kalau kamu ternoda oleh Awan. Kalau Awan menodaimu dan merampas keperawanan seperti yang kamu katakan, sudah pasti sprei yang kalian gunakan untuk gulat itu penuh darah.
Benar Awan ngambil keperawananmu?”
Shasa mengangguk menjawab pertanyaan Hana. “Tentu saja aku sangat sadar kalau itu Abangmu, bukan setan atau orang lain,” tegas Shasa.
“Di sini atau dikamarnya?” tanya Hana lagi.
“Di sini,” ucap Shasa mulai ragu. Dia juga mengikuti arah pandang Hana yang mengedarkan matanya ke sekitar seprei dan lantai kamar Shasa seolah sedang mencari sesuatu.
“Kalau benar Hulwan mengambil keperawananmu, itu berarti selaput daramu robek? Tapi aku sama sekali nggak lihat noda darah di sini. Itumu sakit tidak?” tanya Hana menunjuk organ vital Shasa yang berada di tengah pusat tubuhnya.
Seketika Shasa menutup rapat pahanya dengan bantal. “Kamu kok jorok sih ... masa bahas itu segala,” protes Shasa yang semakin membuat Hana kebingungan.
“Kok jorok sih. Bukannya kamu yang bilang Awan ngambil keperawananmu, berarti p***s Awan sudah masuk ke itumu dan merobek selaput dara-” Bugh. Lemparan bantal membuat kalimat Hana terhenti.
“Ih kamu porno Hana. Masa ngomong vulgar begitu. Bang Hulwan tidak melakukan itu,” elak Shasa.
“Terus kalau Bang Hulwan tidak melakukan itu bagaimana bisa kamu tidak perawan lagi?” selidik Hana yang sepertinya sudah mengerti kalau sahabatnya ini salah paham.
“Memangnya kalau Bang Hulwan lihat aku telanjang itu tidak membuat aku kehilangan keperawanan ya?” tanya Shasa dengn eksprei wajahnya yang begitu polos.
Hana menepuk jidatnya, bahkan dia juga membanting tubuhnya ke kasur dan menutup wajahnya dengan bantal yang tadi dilemparkan Shasa. Namun, Sedetik kemudian dia kembali bangkit dan duduk kembali menghadapi sahabatnya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Jadi tadi itu Bang Hulwan masuk kamar dan lihat kamu telanjang?” tebak Hana dan langsung diangguki oleh Shasa.
“Dia tidak menyentuhmu?”
Shasa menggeleng pasti. “Dia hanya berdiri di sana,” tunjuk Shasa pada pintu kamarnya.
“Fix kamu salah paham Shasaaaaaaa,” teriak Hana tepat di depan muka sahabatnya.
Dia kemudian menjelaskan kalau proses kehilangan keperawanan itu tidak semudah kejadian yang dia alami tadi dengan Hulwan. Shasa salah paham dan Hana sudah memprediksi ini sebelumnya karena memang sahabatnya ini begitu polos meskipun dia tergolong dalam deretan mahasiswa cerdas di kelas mereka.
“Shasa, Yopu know that kehilangan keperawanan itu tidak sesantai kamu kehilangan sandal saat salat jamaah di masjid. Bekasnya akan sakit, buat jalanpun terasa sulit. Aku sudah mengira kalau ini hanya salah paham, Shasa.
Nggak ada ceritanya orang telanjang bisa kehilangan keperawanan tanpa bersentuhan, Shasa. Nih lihat, ini punyamu ... ini punya Hulwan masuk ke punyamu, berdarahlah dan itu fix keperawananmu hilang,” pungkas Hana menutup penjelasannya dengan memperagakan tangan kirinya membentuk lingkaran dengan ujung jari telunjuk yang disatukan dengan ibu jari, sedang punya Hulwan diibaratkan telunjuknya yang menjebol masuk ke lingkaran yang dia buat.
“Tidak … tidak seperti Hana. Kamu jorok banget aku jijik mendengarnya. Kamu pakai peragain segala lagi. kami tidak melakukan itu Hana, aku tidak berdarah. Aku pun tidak melihat punya Hulwan dan fix aku masih perawan, benar kan?” tanya Shasa dengan meletakan telujuk di hidung mancungnya yang tak lagi terlihat mancung karena pipi tembam yang begitu meluber hingga menarik hidungnya ke samping.
“Salah!” tegas Hana.
“Bukan hanya salah sayang, itu benar-benar suatu hal yang mustahil terjadi. Tidak ada ceritanya kamu kehilangan keperawanan tanpa bersentuhan. Fix, you are still virgin, Beib.”
“Alhamdulillah,” seru Shasa dengan begitu riangnya.
Dia menarik badan kurus Hana dalam pelukannya tanpa sadar dia terlalu kencang memeluk Hana hingga sahabatnya terus menjerit minta Shasa melepaskan pelukan yang membuatnya kesulitan bernapas.
“Shasa, aku butuh oksigen, Please! Lepasin gue Shasa,” teriak Hana meronta.
“Sorry,” ringis Shasa disertai jawilan di dagu Hana.
“Aku kelewat happy, Hana manisku. Aku masih bisa membanggakan diri karena itu berarti aku ini masih perawan. Alhamdulillah aku nggak mesti takut hamil karena kejadian tadi,” celetuknya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Hana sampai terbelalak mendengar kalimat barusan.
“Hamil?” ulang Hana. “Dasar Oon, mana bisa Hulwan Cuma liat t***t dan apemmu bisa bikin kamu hamil. Kamu itu pinternya kelewatan, Shasa. Kamu pinter tapi polosmu itu menyebalkan,” tambahnya lagi sebelum beranjak keluar dari kamar,” kekeh Hana menertawakan keabstrakan pemikiran sahabatnya.
“Sudah ah, aku malas ladenin ocehanmu lagi. Semuanya sudah clear ya, Awan nggak salah dan ini Cuma salah paham jadi nggak usah ancam mau lapor polisi segala,” pesan Hana sebelum dia turun dari ranjang.
“Mau kemana?” tanya Shasa.
“Tidur lah. Mumpung weekend. Bye!” Hana keluar dari kamar Shasa dan menutup kembali pintu kamar sahabatnya.
“Hana tidur, tidur juga lah,” gumam Shasa langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
Sudah tidak ada yang perlu dia takutkan lagi, tidak ada lagi devil yang muncul dan menakutinya hamil tanpa suami. Semua sudah jelas dan dia benar-benar lega mendapati dirinya masih berlabel virgin.
Tidak butuh lama, napas teratur Shasa sudah menandakan kalau dia terlelap dalam tidurnya. Tidur siang setelah perdebatan dengan Hulwan dan sesi curhat dengan Hana yang membuatnya banjir air mata, membuat Shasa terlihat begitu nyaman dengan posisi tidurnya yang meringkuk memeluk guling.
Lantai atas rumah Devi dan Farid terlihat kembali lengang setelah huru-hara yang terjadi karena kesalahpahaman. Tiga kamar yang berada di atas tampak sepi dengan pintu tertutup meskipun di dalamnya kini semua berpenghuni. Semua penghuninya terlelap di atas kasur mereka masing-masing, mereka bertiga menikmati siang weekend ini dengan berkelana dalam dunia mimpi .
Jam satu siang Hulwan terbangun, di kamar itu hanya kamar milik Hana yang memiliki kamar mandi. Sehingga Hulwan harus memakai kamar mandi yang sama dengan Shasa. Dia pun mau tak mau harus keluar dari kamarnya saat kantung kemihnya terasa penuh hingga memaksanya berjalan dengan mata setengah terpejam menuju kamar mandi yang terletak di sisi kamarnya.
Dia sampai lupa mengunci pintu kamar mandi karena dorongan untuk memuntahkan air dalam tubuhnya sudah tidak tertahan lagi.
“Uh, lega,” gumam Hulwan. Namun, saat jemarinya menarik resleting celana, Hulwan justru menjerit dengan begitu kencangnya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa ....”