Ular di Celana

1770 Words
Aku sudah putus asa terus mengetuk pintu dan memanggil Bang Hulwan, hampir setengah jam aku menunggu di depan pintu dia belum juga keluar. Rasanya aku benar-benar menyerah untuk meminta bantuan pada Bang Hulwan, toh dia malah sengaja berlari kembali masuk dengan berteriak set*n. Bayangkan sakit hatinya aku, aku duduk di samping mobilnya hanya untuk menantikan dia keluar karena saat aku menggedor pintu paviliun dia tak bereaksi sama sekali. Namun, saat dia keluar. Dia malah meneriakiku set*n. Set*n lagi, set*n lagi, kenapa dia hobi banget menyebut kata itu di depanku. Padahal kali ini aku tidak sedang memakai masker, semenyeramkan apa sih mukaku hingga si Abang hobi banget memanggilku setan. Ah, sudah lah … sepertinya Bang Hulwan memang tidak ada niatan membukakan pintu untukku, mengajakku masuk atau mungkin mengantarkanku pulang. Dia membenciku, tapi aku malah mengaguminya. Wajar kah? Aku sudah berbalik dan melangkah perlahan meninggalkan pintu paviliun, aku seret kakiku yang sudah terasa begitu pegal dan kebas karena sedari tadi berdiri di depan pintu dengan setitik harapan kalau Bang Hulwan akan mendengar panggilanku dan membantu mengantarkan aku pulang ke rumah tante Devi. Lelah, lapar dan semua perasaan campur aduk membuat lelehan air mataku ogah untuk berhenti sehingga orang yang melihatku mungkin akan menganggap keadaanku begitu mengenaskan. Di tengah keputusasaan yang menderakan, cahaya mobil terlihat berbelok dan berhenti di depan gerbang. Om, Farid …. “Shasa … Kamu kenapa di sini? Hana dan tante begitu mengkhawatirkanmu. Kamu kenapa?” tanya Om Farid yang mengulurkan sekotak tisu padaku. “Masuklah, tunggu sebentar di mobil,” perintahnya. Dia berjalan cepat menuju pintu paviliun dan meninggalkanku setelah memastikan aku masuk dan duduk di pintu jok belakang karena aku malu duduk di samping Om Farid dengan badan yang bau keringat. “Tok … tok … tok ….” Dari mobil aku dengar Om Farid mengetuk pintu dimana Bang Hulwan tinggal. Entah kenapa sedari tadi aku terus mengetuk pintu itu pun dia sama sekali tidak membukanya. Sebenarnya apa yang dia lakukan di dalam? Atau dia memang sengaja tidak mau menemuiku? Sebenci itukah dia padaku, dia berlari setelah berteriak setan padahal sudah jelas aku yang berdiri di samping mobilnya. “Sha … Hulwan ada di dalam?” tanya Om Farid yang kembali ke mobil. “Ada Om, tapi sejak tadi aku panggil-panggil juga nggak keluar kok Om.” Om Farid langsung berbalik lagi ke paviliun. Kali ini dia mengetuk pintu sembari memanggil nama Bang Hulwan. Flashback Aku mengendari motor begitu cepat, tapi jalanan yang terus berputar-putar membuatku tak tahu arah hingga bensin motorku habis di depan sebuah masjid dan aku tidak bisa melanjutkan perjalanan pulang. Hana tadi mengajakku menuju rumah batik tante Devi melalui jalan tikus karena memang aku belum punya SIM, kalau sekedar bawa motor ke kampus sih aman, tidak ada pos polisi yang aku lewati. Namun, kalau dari rumah ke rumah batik, sungguh berliku jalanan yang harus aku lewati. Masuk-keluar gang, belok kanan-kiri dan begitu banyak tikungan hingga aku tak tahu kemana arah pulang . Tanpa Hana aku selalu bingung kemana harus mengarahkan laju motor, setengah tahun berada di pusat kota Indramayu, aku tetap saja bagai orang linglung yang selalu bingung menentukan arah. Sekedar mencari kiblat untuk salat pun aku masih bertanya kalau sedang main ke kosan teman sekampus kami. Indramayu adalah kota kecil yang penuh dengan jalan bercabang meskipun kata Hana Indramayu kota itu cuma terdiri dari sebuah lingkaran kecil, tapi tetap bagi aku yang belum juga menghapal tiap jalan, Indramayu itu bagai labirin yang membuatku terus saja berputar-putar melewati jalanan yang terlihat sama.. Susah payah aku menuntun motor masuk ke dalam halaman masjid, marbot masjid yang melihatku bertanya apa yang terjadi dengan motorku hingga aku menuntunnya. Tentu saja aku jawab kalau motorku kehabisan bensin dan sialnya dompetku aku titipkan pada Hana saat hendak ke toilet tadi. “Neng pulangnya kemana?” tanya bapak tua penjaga atau kemit masjid yang bernama pak Dulajid. “Pulang ke rumah tante Devi, Pak.” “Tante Devi?” ulangnya seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. “Di sini banyak nama Devi, Neng. Devi yang neng maksud itu Devi siapa?” tanya Pak Dulajid lagi. “Tante Devi Kurniana Sari istrinya Om Farid Gunadi yang punya anak bernama Hulwan dan Hana,” jawabku lengkap. Semoga saja si Bapak mengenal tante Devi dan berbaik hati mengantarkanku pulang. “Ibu Devi pemilik rumah batik di ujung sana?” tanyanya dan itu membuat senyumku terkembang lebar. Begitu beruntungnya aku karena beliau mengenali tante Devi. “Iya pak, Tante Devi itu yang punya rumah batik, tapi aku asli dari Patrol, Pak. Aku baru tinggal di sini, jadi pas pulang sendiri malah nyasar.” Aku menunduk mengakui kebodohanku di depan Pak Dulajid. “Oalah, orang baru di sini mah sudah biasa nyasar, Nok. Jalanan ini berputar-putar,” kekeh Pak Dulajid membuatku sedikit tersenyum cerah karena berarti bukan hanya aku yang pernah tersesat di jalanan ini. Itu berarti bukan karena aku yang terlalu bodoh hingga tersesat, tapi memang jalanan ini yang sangat membingungkan. Namun, aku juga mesti akui kecerobohanku yang berlari pulang begitu saja tanpa mengajak Hana atau sekedar mengambil dompetku. Ular yang begitu tegak di s**********n Bang Hulwan benar-benar membuatku takut, kenapa Bang Hulwan bisa memelihara ular dan membiarkannya masuk ke dalam celana. Aku kembali bergidik ngeri membayangkan geliat ular yang dikeluarkan Bang Hulwan tepat saat aku membuka pintu kamar mandi yang tidak dia kunci. Apa Bang Hulwan itu semacam siluman? Atau mungkin dia masuk salah satu pesugihan. Pesugihan yang santer di bicarakan orang kan pesugihan pelihara tuyul, bukan pelihara ular seperti Bang Hulwan. Eh … pelihara ular di celana? “Astaga.” Aku menepak jidatku, kemudian menutup kedua mataku sembari menghentak-hentakan kaki di lantai. Tentu saja hal itu membuat Pak Dulajid memandangku heran. “Neng kenapa?” tanyanya dengan kening mengernyit. “Tidak apa-apa, Pak. Aku mau wudu saja dulu buat numpang salat magrib, sebentar lagi magrib kan, Pak?” tanyaku. “Iya Neng, ini bapak mau nabuh bedug dulu,” katanya sambil berdiri dari bangku kayu yang berada di samping tempat parkir motor. “Bapak, aku boleh nitip motor di sini, terus minta tolong juga dianter ke rumah batik tante Devi,” pintaku dengan nada ragu-ragu karena takut itu akan merepotkan pak Dulajid. “Oh, boleh, Nok. Di sini aman kok. Nanti cucu bapak yang anter Nok ke rumah batik ya,” jawabnya. Aku pun berterima kasih, sebelum pak Dulajid berjalan menuju bedug musala untuk dia tabuh sebagai pertanda sudah masuk waktu magrib. “Dodol Goblog Shasa, kamu Oon banget tahu,” makiku pada diri sendiri sambil mengetuk-etukan jari telunjuk di tengah dahi setelah Pak Dulajid menjauh dari tempatku duduk. Beneran aku ini polos atau goblog bin oon, bagaimana bisa aku berpikir kalau bang Hulwan itu melihara ular di celananya. Aku lupa di pelajaran Biologi bahwa pria memiliki alat reproduksi bernama p***s dan bola-bola testis di bagian s**********n depan tubuh mereka. Berarti yang aku lihat tadi itu …. “Aaaaaaaa ….” Aku kelepasan berteriak dengan mengusap wajahku hingga orang-orang yang baru memasuki halaman musala menatapku heran dengan pandangan penuh tanda tanya. Astaga, kini aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, berharap mereka tak menghapal wajahku dan menganggap aku orang gila karena berteriak begitu kencang menyaingi suara adzan yang sedang berkumandang. Aku layangkan senyum malu-malu pada ibu-ibu yang masih penasaran dan melihatku dengan tatapan menyelidik. “Maaf, Bu. Aku mau numpang wudu dimana ya?” tanyaku sembari tersenyum ke arah mereka. “Oh, di sana Neng,” tunjuk salah satu ibu. Aku segera berlari menuju tempat yang beliau tunjukan. Ah, lebih tepatnya aku kabur dari tatapan aneh mereka. Air wudu begitu terasa menyegarkan, aku selalu merasa lebih baik setelah berwudu. Usai magrib, cucu pak Dulajid mengantarku ke rumah batik. Namun, dia hanya mengantarku hingga gerbang dan segera berlari kembali meninggalkanku di depan gerbang belakang rumah batik. Di sana aku melihat rumah paviliun kecil yang menempel dengan rumah utama. Sebuah mobil juga terparkir di depan paviliun itu, mungkin itu mobil milik Bang Hulwan karena setahuku Bang Hulwan yang tinggal di sana meskipun aku tidak pernah tahu seperti apa tempat tinggal Bang Hulwan karena Hana memang belum pernah mengajaku masuk ke dalamnya. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling paviliun, gelap … pohom mangga yang begitu rimbun di samping gerbang membuat aku sedikit bergidik takut. Apa bang Hulwan ada di dalam? Ah, mana aku tahu sebelum aku mencoba untuk mencari tahunya sendiri. Dengan ragu aku menggeser pintu gerbang yang tidak terkunci, aku percepat langkah kaki menuju pintu paviliun, angin yang berhembus membawa kesan menakutkan. Untung ini bukan malam Jumat. Kalau tidak, kesan horornya akan berkali-kali lipat. Aku mengetuk pintu sembari memanggil nama Bang Hulwan, tapi beberapa kali aku melakukannya, paviliun tetap saja tampak sepi. Lelah rasanya terus berdiri, tapi sayang tak ada tempat duduk sama sekali di depan paviliun, aku pun berjalan ke arah mobil Bang Hulwan, ada bangku panjang di samping mobil. Aku memutuskan duduk sejenak di sana, hanya saja rasa takut, cemas, lapar dan semua perasaan yang campur aduk itu membuatku tanpa sadar meneteskan air mata. Aku mendengar suara pintu terbuka saat aku menangis, aku mengusap air mata meskipun isak belum mampu aku hentikan, aku berdiri dan berniat untuk menyapa Bang Hulwan. Namun, yang terjadi adalah sesuatu yang membuat tangisku semakin menjadi karena Bang Hulwan malah berteriak setan padaku dan berlari kembali masuk ke dalam paviliun. Aku gondok, ingin marah. Namun, tidak bisa karena harapanku kini hanya Bang Hulwan. Aku yakin sejahat-jahatnya dia, dia pasti mau mengantarku pulang. Akhirnya, aku putuskan untuk mendekati pintu dan mengetuk pintu paviliun. Tok … tok … tok …. Tidak terdengar sahutan dari dalam meskipun aku sudah berulang kali mengetuk pintu dan memanggil si Abang. Akhirnya, aku malah kembali terisak menangisi keadaanku yang begitu menyedihkan. Flashback End “Hulwan … Hulwan ….” Aku kembali mendengar Om Farid memanggil Bang Hulwan untuk kedua kalinya, tapi tetap dia juga tidak keluar. Kemana Bang Hulwan sebenarnya? Apa dia pingsan di dalam atau ular yang aku lihat itu benar-benar ular siluman hingga dia merasa terus ketakutan dan pingsan di dalam paviliun sendirian. Benarkah ular siluman itu ada? Apa Bang Hulwan si siluman ularnya? Atau dia calon tumbal si siluman ular? Aku menengok ke kanan dan kiri mobil, kupastikan pintu mobil terkunci. Jujur aku semakin merasa malam ini begitu horor, aku kini tak sendiri. Ada Om Farid bersamaku, tapi tetap saja bulu kudukku terus saja meremang. Jangan-jangan bang Hulwan benar melihat setan, apa setan itu ada di belakangku.? “Hiy ….” Aku kembali bergidik serem. “Om … Abangnya ada nggak?” teriakku melongokan kepala lewat jendela. Sebenarnya aku tahu bang Hulwan ada di dalam, tapi aku takut sendirian di mobil. Mau keluar, tapi kakiku sangat kebas dan susah digerakan. “Tunggu ya … nggak tahu nih si Hulwan ngumpet dimana,” sahut Om Farid.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD