Ceroboh

1315 Words
“Tunggu ya … nggak tahu nih si Hulwan ngumpet dimana,” sahut Om Farid. “Hulwan … Hulwan ….” Hulwan kembali mendengar suara yang memanggil namanya disertai dengan ketukan pintu. Fix. Kali ini dia yakin kalau yang memanggil bukan sebangsa setan, kuntilanak atau jin merkayang seperti yang dia tebak sebelumnya. Kini suara itu begitu jelas dan Hulwan mengenali kalau itu suara papahnya. Hulwan segera membuka pintu. Cengiran kuda dia pertontonkan saat pintu terbuka lebar untuk menyambut papahnya. “Alhamdulillah, papah kira kamu pingsan saat ngumpert di kolong ranjang atau lebih parahnya kamu digondol kuntilanak,” cetus Farid disertai kekehan tawa meledek putranya. “Ya elah Papah, ngomong asal banget sih. Segitu nggak sayangnya Papah sama aku sampe nyumpahin aku digondol Nyonya kunti,” protes Hulwan. Mata Hulwan bergerilya menatap keluar saat menyebutkan nama setan yang sejak tadi terus menerornya. “Sudah pergi ya Pah kuntilanaknya?” tanya Hulwan karena tidak mendapati sosok menyeramkan seorang wanita berambut panjang dan berbadan tinggi-besar, suara tangisan wanita yang membuat bulu kuduknya meremang juga sudah tidak terdengar. “Pergi, sudah Papah usir tadi, tapi katanya dia bakal balik ke sini lagi kalau tuh mulut nggak bisa dijaga. Makanya kalau ngomong jangan asal jeplak,” ujar Farid sengaja menakut-nakuti Hulwan. Farid bertemu Shasa di depan gerbang dengan rambut panjang tergerai dan acak-acakan ditambah dengan bentuk badannya yang tinggi-besar, sesuai dengan sosok kuntilanak yang digambarkan Hulwan. Itu membuat dia langsung menarik kesimpulan kalau kuntilanak yang ditakuti oleh putranya tak lain adalah Shasa. Adapun suara tangis yang dia dengar pasti tangisan Shasa karena Farid memang mendapati mata Shasa terlihat begitu sembab dengan bercak air mata yang masih terlihat di wajahnya. “Maksud Papah apa? Papah ngusir dia, tapi dia janji bakal datang lagi ke sini kalau kalau aku nggak bisa jaga mulutku gitu?” tanya Hulwan dengan wajah polos. Farid mengangguk dengan menahan tawa yang hampir meledak. Rasanya Farid menyangsikan kalau pemuda yang sedang berdiri di hadapannya adalah Hulwan Mudzaffar, putranya yang sudah menyandang gelar doktor dari salah satu universitas negeri di kota kembang. Pasalnya logika dan akal sehat Hulwan entah terbang kemana, omongan asal dan ngelantur yang dia ujarkan saja langsung ditelan mentah-mentah oleh Hulwan. “Dia datang lagi kalau aku nggak bisa jaga mulut? Memangnya apa salah mulutku ini Pah?” ulangnya kembali bertanya karena belum bisa mencerna kalimat yang diungkapkan Farid. “Kamu bilang kuntilanaknya gendut? Tinggi-besar rambutnya panjang dan acak-acakan? Terus kamu dengar dia menangis?” Hulwan mengangguk dengan tegas. “Katanya kamu sering ledekin Shasa makanya dia kemari mau balasin rasa sakit hatinya si Shasa dikatain gendut, dipanggil si anak gajah, jadi dia mau ngajakin kamu ngedate berdua biar kamu tahu kalau yang gendut itu bukan hanya Shasa,” celetuk Farid yang hanya berniat itu menjahili putrnya. Namun, yang ada dia malah melihat Hulwan bergidik ketakutan. “Pantes, begitu aku janji nggak ledekin orang gendut lagi dia langsung pergi,” aku Hulwan. “Masa sih?” kekeh Farid yang tidak percaya kalau anaknya yang biasanya pemberani dan terlihat sok pintar kini menelan bulat-bulat perkataanya dan percaya kalau sosok yang di lihat itu benar-benar kuntilanak. “Bener Pah, dia menghilang. Aku nggak denger suara tangisnya lagi setelah berjanji seperti itu. Berjanji kalau aku nggak bakalan ledekin si Shasa gendut lagi,” tegas Hulwan meyakinkan Papahnya. “Ya sudah lah, terserah kamu saja. Jadi, sekarang kamu mau ikut pulang ke rumah atau tetap di sini?” “Di sini saja, aku sudah kirim pesan ke Hugo biar nginap di sini,” tolak Hulwan. Dia memang masih dihantui rasa takut, tapi untuk pulang ke rumah dan bertemu dengan Shasa di sana. Tidak! Jelas dia belum siap, apalagi kejadian tadi siang saat dia lupa mengunci pintu kamar mandi dan Shasa melihat tombak kebanggannya tegak mengacung. Dia masih punya sedikit rasa malu untuk berhadapan dengan Shasa langsung karena bagaimanapun senjata rahasianya selama ini tidak pernah dia pertontonkan pada siapapun. Tiba-tiba Hulwan berpikir apa Shasa juga punya perasaan yang sama saat dirinya menatap badan Shasa tanpa sehelai benang pun. Apa Shasa juga akan mulai membayangkan dan menjadikan dirinya objek imajinasi liar seperti yang dia lakukan. “Kok mukamu merah sih?” Pertanyaan Farid membuat Hulwan kembali tersadar dan segera mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan untuk menghapus reka kejadian memalukan yang kembali terbayang olehnya. “Sudah, Papah pulang saja lah. Aku nggak apa-apa kok. Si Nyonya K juga sudah menghilang. Aku janji lah mulai sekarang kagak bakal ngomong yang aneh-aneh lagi. Papah pulang sekarang saja ya.” Hulwan mendorong badan Farid ke arah pintu. “Kamu beneran mau jadi anak durhaka? Seenaknya mohon-mohon Papah buat ke sini, sekarang malah ngusir suruh pulang pakai dorong keluar pintu segala,” omel Farid. Hulwan menggaruk leher belakangnya dengan wajah meringis. Papahnya benar, dia yang menelepon minta Farid datang. Namun, dia juga kini memaksa Farid untuk segera pulang. Rasanya belakangan ini dia memang lebih suka sendiri karena membuatnya lebih bebas mengekpresikan diri tanpa perlu merasa gengsi pada siapapun. “Aku minta maaf ya Papah Sayang, tadi itu aku beneran merasa tersudutkan oleh kemunculan nyonya K. Nah, sekarang aku kansudah nggak apa-apa. Nyonya K juga sudah pergi, Papah mending bantuin Hana cari si … si Shasa,”cetus Hulwan yang hampir saja menyebut Shasa dengan Si anak gajah. “Awas ya kalau kuntilanaknya datang lagi dan kamu minta Papah buat ke sini! Papah nggak bakal gubris sama sekali!” ancam Farid. Dia langsung keluar dari paviliun tanpa lupa menutup pintu karena tidak ingin Hulwan melihat di mobilnya ada Shasa. Biarlah putranya menganggap kalau benar-benar ada kuntilanak yang mengganggunya, setidaknya Hulwan bisa sedikit menjaga mulutnya agar tidak terus-terusan meledek dan melakukan tindakan body shaming pada Shasa. Shasa terlihat sedang meneguk air minum dalam gelas saat Farid kembali ke mobil. Di tangan Shasa juga ada plastik bekas bungkus roti. Devi memang tidak pernah lupa meletakan beberapa makanan ringan dan minuman di mobil Farid. “Om, aku makan rotinya,” ringis Shasa menunjukan plastik di tangannya saat Farid masuk ke dalam mobil. “Nggak apa-apa, ambil lagi saja kalau kurang. Kamu pasti lapar,” suruh Farid. Namun, Shasa menggeleng. “Kenyang Om, rotinya gede.” “Om, motorku ada di masjid Nurul Huda. Aku kehabisan bensin, dompet juga dibawa Hana. Jadi, aku titipin di sana, marbotnya bernama Pak Dulajid dan dia kenal sama tante Devi,” cerita Shasa pada Farid meskipun Farid belum bertanya apapun padanya. “Oh, sebentar ya.” Farid terlihat mengeluarkan ponsel dari saku celana. Dia kemuadian menelepon seseorang dan menyuruh untuk mengamankan motor milik Shasa yang dititipkan pada Pak Dulajid. “Nggak dikunci stang?” tanya Farid menoleh pada Shasa. Shasa menggeleng, dia memang teramat ceroboh. Namun, kecerobohannya kali ini memang sedikit membuatnya beruntung karena orang yang dihubungi Farid menjadi lebih mudah memindahkan motor Shasa untuk disimpan olehnya. “Sudah aman, nanti besok pagi diantar ke rumah, mana kuncinya?” Shasa merogoh tas dan memberikan kunci motornya pada Farid. “Besok Om mampir dulu ke sana kasih kunci, biar kamu tunggu di rumah saja,” ujar Farid sambil menerima kunci motor Shasa. Dia melajukan mobilnya untuk segera pulang ke rumah karena sudah dipastikan Devi dan Hana pasti masih mengkhawatirkan dan masih mencari tahu keberadaan Shasa. “Om sebenarnya penasaran kenapa kamu sampai di masjid Nurul Huda, terus ada di paviliun Hulwan,” kata Farid menatap Shasa dari kaca spion depan mobil. “Cuma nanti saja kamu jelasin, sudah pasti Hana dan tantemu juga akan bertanya hal yang sama,” lanjut Farid membuat Shasa kembali menutup mulutnya. Padahal dia sudah hampir membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Farid. “Maaf, Om. Pasti Om, Tante sama Hana khawatir banget aku nggak pulang-pulang,” sesal Shasa. “Lain kali kalau bepergian pamit dulu, untung ketemu Om kalau tidak ….” “Kalau tidak kenapa, Om?” tanya Shasa. Farid menggelengkan kepala, anak sahabatnya ini benar-benar masih polos, bahkan Farid tak yakin kalau yang duduk dibelakangnya adalah gadis berusia sembilan belas tahun karena Shasa benar-benar ... “Aduh … Om!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD