“Aduh … Om!”
“Kenapa?” tanya Farid tanpa menoleh ke belakang. Matanya fokus melihat jalanan.
“Sepatu saya ketinggalan di samping mobil Bang Hulwan,” ringis Shasa saat menyadari telapak kakinya kini polos tanpa memakai alas.
Shasa sengaja melepaskan sepatu slop yang dia pakai karena kakinya terasa pegal. Sepatunya dia lepas saat duduk di bangku panjang yang berada di samping mobil milik Hulwan.
“Aduh ... Om, Sakit.”
Shasa kembali mengaduh seraya mengusap kepalanya yang terantup jok depan saat Farid menginjak rem mendadak. Kepalanya melongok ke depan, dia juga menengok ke kanan dan kirinya untuk mencari tahu penyebab Farid mendadak menghentikan mobil di tengah jalan.
“Maaf Sha, Om kaget.” Dia mengusap dadanya.
“Itu kucing tiba-tiba nyeberang jalan, untung nggak ketabrak,” ujar Farid sembari menunjuk kucing yang berlari cepat ke arah rumah penduduk.
“Oh … aku kira apa, Om.”
“Jadi, kamu mau ambil sepatunya atau ….” Farid menggantung ucapannya saat menepikan mobil agar bisa bicara sejenak dengan Shasa.
“Atau kamu ikhlasin saja sepatumu. Paling juga nanti dikira sepatu Cinderella sama Hulwan,” lanjut Farid asal ngomong saat mobilnya sudah berhenti.
“Sepatu Cinderella Om?”
“Iya anggap saja sepatumu itu sepatu Cinderella dan biarkan Hulwan mencari pemiliknya. Siapa tahu kalian nanti berjodoh,” kata Farid.
Sebuah penuturan yang membuat otak Shasa langsung bekerja ekstra mencerna kalimat yang didengarnya. Apa mungkin Hulwan akan mengira kalau sepatunya itu sepatu Cinderella. Memangnya ada Cinderella bernomor sepatu empat puluh. Atau mungkin Cinderellanya berkaki panjang meskipun badannya ramping.
Otak dan pikiran Shasa terus saja berpikir tentang Cinderella versi dalam bayangannya sendiri, padahal Farid hanya asal ngomong. Shasa, bahkan terlihat senyum-senyum sendiri, dia tidak sadar sedari tadi Farid masih memperhatikannya.
“Shasa ... kamu mau balik ambil sepatunya?” tanya Farid membuat Shasa langsung menghapus semua bayangan kocak tentang dirinya yang menjadi sosok Cinderella dan Hulwan adalah pangerannya.
“Nggak usah ya, kita lanjut pulang saja, Tante dan Hana pasti sedang khawatir menunggumu,” putus Farid.
Shasa mengangguk dan mobil pun kembali dijalankan untuk melanjutkan perjalanan pulang mereka. Sesuai dugaan Farid, di teras rumah Hana dan Devi terlihat sedang menunggu kedatangan mereka.
Sebelum pergi Farid memang berpamitan untuk mejemput Shasa. Dia sudah menebak kalau Shasa berada di rumah batik saat Hulwan berkata ada kuntilanak gendut dan berbadan besar di samping mobilnya. Jalanan di komplek rumah batik yang berputar dan berliku bak labirin memang selalu membuat orang baru akan kebingungan, kehilangan arah dan tersesat.
Saat Hulwan mengatakan penampakan kuntilanak yang dilihatnya, tebakan Farid langung menuju pada Shasa.
“Alhamdulillah, finally, kamu ketemu juga, Beib,” seru Hana melihat Shasa keluar dari mobilnya.
“Kamu kenapa sih pergi nggak pamit? Nyasar, kan jadinya. Coba kalau-”
“Shasa kamu mandi dulu ya, Sayang. Nggak usah ladenin pertanyaan Hana. Nanti saja jawabnya setelah kamu makan,” potong Devi menjeda kalimat putrinya.
Shasa mengangguk, Hana pun menuntun sahabatnya untuk masuk ke dalam rumah karena dia setuju dengan perkataan sang Mamah. Shasa memang terlihat sangat kusut dengan rambut panjangnya yang acak-acakan, ditambah lagi waktu Isya sudah menjelang dan Hana yakin kalau sahabatnya belum makan karena dompet Shasa berada dalam tas miliknya.
“Papah temuin dia dimana?” tanya Devi penasaran begitu Hana dan Shasa berlalu masuk ke dalam rumah.
“Di rumah batik, dia di gerbang belakang. Jadi, satpam nggak tahu kalau ada dia karena gerbang belakang kan memang urusannya si Hulwan,” jawab Farid sambil berlenggang masuk ke dalam rumah diikuti Devi yang mengekor di belakangnya.
“Kok Papah bisa tahu dia di sana? Hulwan yang nyuruh Papah jemput dia?” tebak Devi.
Farid menggeleng, jelas itu membuat Devi mengernyitkan kening. “Terus Papah tahu dari mana?”
“Hulwan,” jawab Farid enteng saja sambil meneguk kopi di meja televisi yang sudah dingin karena dia tinggalkan untuk menjemput Shasa.
“Loh, tadi kata Papah bukan Hulwan yang nyuruh jemput. Ini sekarang Papah malah ngomong kalau tahu dari Hulwan. Mamah bingung,” cerocos Devi.
Farid tersenyum melihat ekspresi kebingungan sang istri. Akhirnya, dia pun menceritakan kejadian Hulwan yang meneleponnya dengan suara ketakutan dan meminta tolong dia untuk segera datang ke paviliun saat mengira tangisan Shasa adalah tangisan kuntilanak yang datang menerornya.
Apalagi hari itu Shasa memang mengenakan kemeja berwarna putih sehingga suasana parkiran di depan paviliun dengan lampu remang-remang semakin menambah efek seram saat mendapati Shasa berdiri dengan rambut panjangnya yang acak-acakan.
Devi tak henti tertawa saat mendengar semua cerita dari suaminya. Tawa Devi semakin menjadi ketika Farid mengatakan kalau Hulwan percaya saja dengan perkataanya perihal kuntilanak gendut yang datang menakut-nakuti Hulwan gara-gara Hulwan sering meledek Shasa dengan memanggilnya si anak gajah.
“Ih, anak papah tuh Oon atau gimana sih,” kekeh Devi yang belum bisa berhenti tertawa.
“Enak saja anak papah Oon, dia sudah s2 masa Oon, tapi memang Hulwan tuh mesti dikasih pelajaran juga sih, Mah. Biar nggak terus ngeledekin Shasa.”
“Iya, bener. Mamah setuju, biar omongannya nggak asal jeplak. Kasian Shasa kalau terus dibombardir dengan kalimat pedas si Hulwan yang isinya body shaming banget,” ujar Devi. Tawanya berhenti saat melihat Shasa dan Hana turun dari tangga.
“Mamah tadi ngetawain apa sih, malam-malam ketawa heboh gitu. Serem tahu,” tegur Hana yang masih berjalan menuruni anak tangga.
“Nggak kok Sayang, kamu sama Shasa makan dulu, Bi Silah sudah siapin sop iga sama ayam bakar buat makan malam kalian.”
“Wah, senengnya. Auto lapar nih, Mah,” ujar Hana sambil mengusap perutnya, sedangkan Shasa sudah hampir meneteskan air liurnya membayangkan nikmatnya sop iga dan ayam bakar buatan bi Silah dengan sambal khas lamongan yang selalu menggugah selera makannya.
“Ayo, Sha. Lets go, kamu sampe ngiler gitu sih,” tegur Hana melihat air liur hampir menetes dari sudut bibir sahabatnya.
Hana menarik tangan Shasa menuju meja makan, di sana sudah tersedia masakan lezat yang disebutkan mamahnya. Hana tidak pernah peduli dengan waktu makan dan berapa banyak makanan yang masuk ke dalam perutnya. Sebanyak apapun dia makan, badannya tidak pernah berubah, tetap flat seperti sang mamah yang tinggi kurus.
“Kamu kok ambil nasinya dikit amat, Sha. Nggak lapar?” tanya Hana heran saat melihat piring milik Shasa hanya diisi satu centong nasi.
Padahal biasanya sahabatnya ini tak beda jauh dengannya. Badan mereka memang berbeda, hanya saja porsi makan keduanya sama banyak. Keduanya juga sama doyan jajan dan hobi berwisata kuliner sehingga keberadaan Shasa di rumah Devi selalu disyukuri oleh Hana
“Sudah malam, Na. Ni badan bisa semakin membengkak kalau terus ngikutin napsu makan. Kamu sih enak, makan berapa banyak pun badan kamu tetap kurus, nah aku sih parah. Baru cium bau masakan bi Silah saja kayaknya timbanganku sudah auto naik,” keluhnya memperlihatkan lengan tangannya yang sama besar dengan paha Hana.
“Ah, sejak kapan kamu peduli hal itu. Hayolah Beib, nikmati hidup selagi masih sehat,” rayu Hana. Namun, Shasa tak bergeming, dia sudah berniat untuk sedikit demi sedikit mengurangi porsi makannya meskipun hal itu belum membuahkan hasil.
Badannya masih saja membengkak besar, tidak berkurang satu ons pun. Harus dengan apa dia berdiet, mengatur pola makan agar bisa mengurangi berat badannya atau setidaknya badannya tidak bertambah bengkak setiap hari.
“Sha … sudah makannya?”
Shasa mengangguk, aslinya dia masih bisa menghabiskan seluruh makanan yang ada di meja. Namun, tekadnya sudah bulat untuk sedikit saja mengurangi porsi makannya. Dulu dia memang tidak peduli dengan berat badannya, tapi kini dia mulai memikirkan penampilannya sejak Hulwan kerap menjadi pria yang selalu dia bayangkan.
“Kamu lagi kenapa? Aneh banget tahu! Tiap diajak jajan nggak mau, terus makan juga sedikit nggak kayak biasanya. Kamu sakit atau lagi suka sama seseorang?”
“Uhuk … uhuk … uhuk,” tebakan Hana membuat Shasa tersedak.
Shasa segera mengisi gelas kosongnya dan segera meneguk seluruh isinya. Sahabatnya ini memang punya kemampuan super dalam hal tebak menebak isi hatinya. Namun, kali ini Shasa benar-benar berniat menutup rapat-rapat perasaannya. Dia tidak ingin Hana tahu belakangan ini dia memang sering melamunkan Hulwan.
“Tuh kan bener tebakanku. Jangan-jangan kamu suka sama Awan lagi …,” sambung Hana yang kembali membuat Shasa batuk lagi.