'
“Tuh kan bener tebakanku. Jangan-jangan kamu suka sama Awan lagi ….”
Tebakan Hana kali ini membuatku bukan hanya kembali tersedak. Namun, wajahku mungkin sudah berubah semerah tomat atau semerah kepiting rebus yang masih berendam di kuah panas.
Aku tidak mau Hana tahu perasaanku, aku tidak mau pertahananku untuk menyembunyikan semuanya dari Hana jebol. Aku memilih segera mengangkat peralatan bekas makan milikku dan segera meninggalkan meja makan.
Aku selalu mencuci piring dan bekas peralatan makanku sendiri. Tidak meletakkannya begitu saja di tempat Bi Silah biasa mencuci piring. Setelah piring, mangkok, gelas, sendok dan garpu sudah bersih aku segera meletakkannya kembali di rak piring.
“Aku duluan ya,” pamitku pada Hana yang masih menatapku penuh curiga dengan mulut yang masih terlihat mengunyah makanan yang belum juga dia habiskan.
Terserah dia berpikir apa, yang terpenting aku tidak ingin membuka semuanya di depan Hana. Aku tidak ingin Hana tahu apa yang sedang kurasakan. Sebuah perasaan yang hanya akan menyakiti diriku sendiri. Sebuah perasaan yang kusadari akan menjerumuskanku pada sakit hati dan kecewa karena aku tahu apa yang aku rasakan hanya akan berkembang subur dalam angan tanpa ada harapan mendapatkan balasan dari orang yang selama ini mengganggu pikiran.
“Shasa ….” Panggilan tante Devi membuatku menghentikan langkahku dan berbalik menoleh pada tante Devi yang sedang duduk bersama Om Farid. Aku pun mengurungkan langkah menaiki anak tangga dan berjalan mendekati mereka.
Aku lupa belum meminta maaf pada tante Devi. Dia pasti mengkhawatirkanku, sama seperti Hana yang begitu cemas menunggu kedatanganku di depan teras rumahnya. Mereka begitu istimewa karena selama ini memperlakukanku seperti keluarga mereka sendiri, bukan hanya anak dari sahabat mereka yang menumpang tinggal sementara di rumah ini.
Kadang aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh bunda dan tante Devi, sahabat bunda bukan hanya tante Devi, begitupun sebaliknya. Namun, aku merasa tante Devi memperlakukanku sedikit berbeda, dia begitu mengistimewakan aku dibandingkan dengan anak sahabatnya yang lain. Seolah ada suatu rahasia yang mendasari tante Devi begitu menyayangiku.
“Tante … maaf ya aku sudah bikin tante, Hana dan Om Farid susah nyariin aku yang nyasar. Aku menyesal langsung pulang dari rumah batik tanpa berpamitan dulu,” sesalku dengan nada bersalah. Aku pun kini duduk di single sofa yang berada di ruang televisi tepat berhadapan dengan mereka.
“Nggak apa-apa sayang, nggak usah merasa bersalah,” ujar tante Devi dengan seulas senyum di bibirnya.
“Tante cuma ingin tahu alasan kamu pergi terburu-buru meninggalkan rumah batik itu kenapa? Padahal kamu belum hapal betul jalanan di sini, tante nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Tante khawatir dan takut kalau kamu kenapa-kenapa.”
Pertanyaan tante Devi membuat wajahku kembali memanas. Entah mereka sadar atau tidak dengan rona wajahku yang mungkin saja sudah memerah. Aku malu saat mengingat kembali ular yang aku lihat di balik celana Bang Hulwan.
Ah, ular itu menggeliat dengan bagian atasnya yang terlihat seperti sebuah jamur yang belum mekar, besar, panjang dan ... Tuhan, maafkan aku, kenapa aku malah kembali membayangkan ularnya bang Hulwan.
“Kamu sakit, Sha?” Tante Devi berdiri dan kini duduk di sofa sampingku, tangannya terulur mengusap keningku.
“Tidak panas kok, tapi wajahmu jadi merah,” sambungnya yang malah semakin membuatku tersipu.
“Kayaknya kamu kecapekan ya sayang, lain kali kalau mau pergi-pergi ajak Hana ya. Terus tadi kamu kenapa pergi nggak pamit dulu?” ulang tante Devi menanyakan hal yang membuatku tergagap saat ingin meluncurkan beberapa aksara.
“Aku awalnya ingin ke toilet tante, tapi aku malah lihat anu ... aku jadi takut sama anu dan berpikir kalau anu itu anu ....”
Alah ini kenapa aku malah ngomong anu-anu mulu sih, aku menepuk mulutku sebelum menunduk untuk menghindari tatapan tante Devi yang semakin dipenuhi tanda tanya di matanya.
“Tante malah bingung kalau kamu anu ... anu begitu. Anu itu apa Sayang?”
“Anu tante ....”
Ya Tuhan, kenapa malah anu lagi yang keluar dari mulutku. Susah ternyata menjelaskan kejadian yang aku alami tadi. Pasalnya aku melihat sesuatu yang tidak seharunya aku lihat. Suatu barang terlarang yang sama berharganya dengan d**a dan ....
Ah, aku baru ingat. Impas sudah sekarang, kemarin si Abang dengan sembrononya masuk ke kamarku saat aku baru usai mandi. Sekarang aku yang melihat ular berharganya itu. Jadi, aku harus beruntung atau ....
“Shasa? Kamu baik-baik saja Sayang? Kamu kok ngelamun sih, kamu mau istirahat? Pertanyaan dari tante nggak usah kamu jawab juga nggak apa-apa kok. Yang penting sekarang kan kamu sudah kembali ke sini dalam keadaan yang baik-baik saja.”
“Terima kasih ya tante, aku ngerasa tante tuh baik banget sama aku. Maaf ya, hari ini aku sudah bikin tante khawatir. Aku langsung pergi dari rumah batik karena aku melihat ular tante ....
Aku takut ular ... eh, maksudnya aku lihat ular di kamar mandi. Bukan itu sih tante, ular itu-”
“Ada ular di kamar mandi?” tanya tante Devi memotong kalimat ambigu yang aku ucapkan. Harus dengan apa aku menyebut senjata si Abang. Bukannya ular itu sudah sebutan yang paling pas.
“Bukan ular itu tante, aku memang lihat ular di kamar mandi, ular panjang dan besar-”
Aduh, aku mengaduh memukul mulutku yang salah menjawab. Lantas aku harus menjawab dengan kalimat seperti apa untuk menggambarkan kejadian yang membuatku langsung lari seketika dan melajukan motor secepat mungkin gara-gara aku mengira Bang Hulwan siluman ular.
“Kamu lihat ular cobra? Atau ular apa sih Pah yang besar dan panjang?” tanya tante Devi pada Om Farid.
“Bukan itu tante ...,” elakku agar tante Devi tidak berpikir kalau di sana benar-benar ada binatang melata tanpa kaki yang berbisa dan kadang bisa mematikan.
“Terus ular apa? Berbisa nggak? Gede nya segimana tuh ular, Sha?” Tante Devi malah semakin membuatku kembali membayangkan bentuk ular yang aku lihat. Panjangnya, besarnya, ah itu tentu saja membuat aku menutupkan telapak tangan ke wajah dengan harapan bayangan ular bang Hulwan tidak lagi terlihat dalam pikiranku.
“Kamu kenapa sih, Sha. Kok bahas ular saja jadi salting gitu,” tegur Hana yang kini sudah duduk di samping Om Farid.
Seenaknya saja dia ngomong begitu karena dia tidak tahu ular yang aku maksud ini ular yang paling susah untuk dibahas.
Alamak, aku pun hanya bisa menggaruk kepala saat Hana ikut melemparkan tatapan penuh tanya padaku. Menjelaskan di depan tante Devi dan Om farid saja aku gagap takut salah ucap, ditambah lagi dengan si Hana. Hidupku berasa semakin sulit saja agar bisa terlepas dari masalah ular.
“Aku bingung jelasinnya, Na.”
“Bingung apa sih, kamu tinggal bilang saja alasan kamu langsung pergi dari rumah batik itu apa? Untung Papah nemuin kamu, kalau yang nemuin kamu preman jalanan gimana.”
“No, Hana. Aku nggak lihat preman di sana,” selaku.
Aku menatap Hana, Om Farid dan tante Devi bergantian sebelum mengeluarkan sebuah kalimat yang entah akan ditanggapi seperti apa oleh ketiganya.
“Aku ke kamar mandi ... aku kira di sana tidak ada orang, makanya langsung putar handle pintu ....” Aku meringis saat kembali menatap wajah ketiganya yang begitu serius menantikan kelanjutan kalimat yang sengaja aku potong.
“Terus aku lihat ular di celana siluman ular ... aduh,” Aku kembali mengaduh dan memukul mulutku yang tidak terkontrol dan kembali mengeluarkan kalimat ambigu yang semakin membuat Hana dan kedua orang tuanya menatapku dengan aneh.
“Siluman ular.”
“Ular di celana?”
“Ular di celana siluman ular, maksudnya apa sih, Sha?” tanya Hana yang semakin membuatku merasa tersudut.
Sungguh aku merutuki diriku yang sudah asal mengeluarkan kalimat tersebut. Apa coba, ular di celana siluman ular. Sumpah, kalimat nggak jelas itu aku ucapkan tanpa sadar.
Hanya memang saat itu aku berpikir ular yang ada dibalik celana Bang Hulwan itu siluman ular. Saat itu kan aku lupa kalau alat kelamin Bang Hulwan bentuknya sama seperti ular. Jadi, tolong jangan menjudge ku terlalu bodoh, aku ini nggak pernah lihat senjatanya pria segede dan sepanjang itu.
Toh aku lihatnya paling ular kecil punya si Bimo kemenakan aku yang berumur dua tahun. Kalau dia pipis aku sering bantuin cebokin dan milik Bimo itu tidak sama dengan ular bang Hulwan.
“Shasa, hello ... kamu ngelamun lagi,” tegur Hana dengan menggoyangkan telapak tangannya.
“Kamu buka pintu terus lihat ular di kamar mandi?” tebak Om Farid. Aku mengangguk karena memang benar awalnya aku mengira yang kulihat adalah ular.
“Iya, Om. Awalnya aku berpikir yang kulihat itu ular yang berada di balik celana. Soalnya panjang dan ukurannya ged-e .... Aduh, salah lagi,” desisku yang kembali tidak bisa mengontrol ucapanku.
Ya Tuhan, tolong aku. Bagaimana aku menjelaskan pada mereka. Aku malu, tapi lihatlah tatapan mata mereka yang begitu penasaran dengan kelanjutan penjelasan yang harus aku tuntaskan.
“Sumpah deh, Sha. Aku semakin bingung, kamu bilang ular di celana siluman ular. Terus sekarang kamu juga bilang ular panjang dan gede di balik celana. Apa coba maksudnya?” tuntut Hana dengan sorot matanya yang memaksa aku segera memberi penjelasan.
“Di kamar mandi itu ada orangnya, terus aku buka pintu saat dia menurunkan celana dan aku lihat ular panjang dari celananya. Makanya aku segera lari karena menyangka dia siluman ular, Hana. Eh, di jalan baru aku ngeh kalau itu tidak mungkin ular, tapi ... tapi ... anu ... itu.”
Aku menggaruk kepalaku bingung, tapi tante Devi dan Om Farid sudah tertawa terpingkal-pingkal dengan Hana yang kini menatap aneh keduanya secara bergantian karena belum tahu kenapa kedua orang tuanya tertawa selepas itu hanya gara-gara penjelasanku yang masih ngacoh.
“Sudah ... sudah, kamu tidak usah lanjutkan, Om dan tante bisa sakit perut gara-gara ketawa nih,” kata Om Farid masih dengan kekehan tawa yang belum juga berhenti.
“Nggak bisa gitu dong, Pah. Aku belum ngerti jawaban Shasa. Lagian juga kalian tuh ketawa kenapa sih? Apanya yang lucu coba? Yang ada Shasa tuh ngomong ngaco nggak jelas, eh Papah sama Mamah malah ngakak,” protes Hana.
Terserahlah dia mau protes, mau ngambek atau mau duduk di sana semalaman juga nggak masalah buatku. Yang terpenting kini aku akan menggunakan kesempatan ini untuk kabur agar Hana tak lagi memaksaku menjelaskan persoalan ular yang belum dia pahami.
“Om, tante ... aku ke kamar ya. Aku ngantuk tante, mau langsung tidur,” pamitku yang ingin segera terbebas dari pertanyaan Hana.
“Nggak bisa gitu dong, Sha. Kamu belum selesai-”
“Iya ... iya, sudah kamu masuk. Biar tante yang jelaskan sama Hana,” ujar tante Devi dengan gerakan mengibas tangan mempersilakan aku pergi.
Tidak mau melewatkan kesempatan untuk kabur, aku langsung berjalan cepat menaiki anak tangga tanpa mempedulikan panggilan Hana. Biarlah tante Devi dan Om Farid saja yang menjelaskannya pada Hana. Biar juga cuma aku yang tahu kalau ular yang kulihat itu ularnya bang Hulwan. Ular berbisa yang mematikan pikiranku.
Astaga, kenapa aku kembali membayangkannya. Ini bisa-bisa membuatku semakin tidak bisa lepas dari bayang-bayang Bang Hulwan. Aku ... aku ... aku mulai terjebak perasaan semu gara-gara sering stalking status si Abang. Apa sebaiknya aku jujur ... atau ....
Tidak ... aku tidak mau jujur. Jujur pun percuma karena perasaanku tidak akan mungkin dibalasnya. Masalahnya kini, bagaimana caranya aku bisa mengusir bayangan ular Bang Hulwan. Cukup wajah Bang Hulwan saja yang selalu muncul dan mengganggu pikiranku.
Jangan sampai ularnya juga ikut-ikutan menjadi objek fantasiku, gila ... aku merutuki diriku sendiri karena begitu saja membayangkan hal porno yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiranku.
Bang Hulwan saja sudah membuatku gila.
Ditambah lagi dengan ularnya.
Tuhan, bebaskan aku dari bayang-bayang mereka.