Terik matahari membuatku bersembunyi di dalam kamar sejak pulang dari kampus, sepeti biasanya aku berbaring santai di kasur dengan memainkan ponselku. Bukan game atau aplikasi belanja online yang kini terpampang di layar ponsel.
Foto Bang Hulwan yang berdiri dengan membentangkan kain motif baru milik rumah batik mereka. Aku kembali terpesona, tersenyum sendiri seolah senyum Bang Hulwan di foto tertuju padaku.
Tuhan, aku tahu ini salah. Salah karena mulai memiliki rasa yang sudah kupastikan tidak akan berbalas. Salah karena aku sudah tidak bisa lagi mengontrol pikiranku sendiri. Namun, siapa yang bisa menolak rasa itu hadir. Aku tidak bisa menyingkirkan rasa yang membuatku selalu uring-uringan hanya karena belum melihat update status terbaru dari Bang Hulwan.
Aku tidak bisa memangkas dahan yang terus berkembang hingga perasaan ini tumbuh subur berkembang tanpa bisa aku menebangnya.
Ya Allah, Bunda … ini kah yang namanya cinta? Kenapa aku jatuh cinta pada pria yang sudah jelas-jelas tidak akan pernah menyukaiku. Pria yang sudah jelas-jelaas tidak menyukai bentuk badanku.
Bunda … tiba-tiba aku merindukan pelukanmu, sungguh rasa ini menyiksaku. Senyum Bang Hulwan selalu mengganggu malam-malamku. Senyumnya kerap datang menyapa dalam mimpi atau lewat begitu saja di depan mata dan dia terlihat menyapaku seolah itu nyata padahal hanya halusinasi belaka.
Halusinasi karena rindu atau karena rasa yang tidak pernah aku tahu cara untuk menghilangkannya. Jumat ini Bunda ingin menjemputku pulang, tapi Minggu sore aku harus kembali untuk menghadiri pesta ulang tahun Mirna dengan dress code batik.
Ah, aku belum menyiapkan baju batik yang bisa dipakai untuk menghadiri ulang tahun Mirna. Apa aku minta Hana mengantarkanku ke rumah batik ya? Big no, di sana aku bisa bertemu dengan Bang Hulwan, aku belum siap bertatap muka dengannya setelah kejadian dua hari lalu. Aku malah sering membayangkan ular bang Hulwan yang ….
“Woy ….”
“Astagfirullah al adzim … Hana,” hardikku dengan mendorong lengan Hana hingga badan tipisnya terjungkal di atas kasur.
“Kamu ngelamun mulu, Coy … jalan yuk bad mood nih,” ajak Hana.
Hari ini memang kami hanya ada satu jadwal kuliah pagi, sehingga dari jam sepuluh sampai sore tidak ada kegiatan apapun.
“Na … aku belum punya baju buat ke pesta Mirna, loh,” ujarku dengan harapan Hana punya solusi lain tanpa harus mengunjungi rumah batik milik keluarganya meskipun itu sudah jelas sangat mustahil.
“Astaga, aku sudah milih batiknya buat kamu. Motifnya nggak bikin badan kamu terlihat lebar Beib, tapi belum dijahit lah. Kamu saat itu kabur gara-gara siluman ular,” sindir Hana dengan kekehan tawa.
Tante Devi memang sudah memberi tahu dia maksud dari ular dalam celana yang aku lihat sehingga sering kali Hana meledekku dengan kata siluman ular.
“Terus gimana?”
“Ya ke rumah batik lah, Sha. Yuk buru, biar Mbak Yosi segera jahit baju buat kamu,” ajaknya menarik tanganku, padahal sudah jelas tenaganya kalah telak.
Tarikannya tidak membuat badanku bergeser sedikit pun. Yang ada malah dia melepaskan lagi cengkraman tangannya di pergelangan tanganku.
“Sha, buruan ih … besok kamu pulang kan?” tanyanya yang sudah kuberitahu kalau besok bunda akan menjemputku pulang.
Dengan malas aku pun bergerak menuruni ranjang. Aku mendorong tubuh tipis Hana keluar dari kamar karena memang aku mau mengganti baju terlebih dahulu. Entah sejak kapan aku peduli dengan pakaian yang menempel di badanku. Yang jelas, tujuanku kali ini adalah tempat kerja pangeran berkuda putih yang sering menyambangiku dalam mimpi meskipun aku menganggapnya pangeran. Namun, dia malah menganggapku setan.
Celana panjang dengan kaos lengan pendek dengan long cardigan warna coklat s**u yang kujadikan outer kini sudah membalut tubuhku. Memang tidak merubah ukuran badan sih, hanya saja outfit ini membuatku merasa lebih nyaman.
“Sha, kamu dandan lama banget sih, kayak mau ketemu gebetan saja,” teriak Hana sambil menggedor pintu kamar yang sudah akan kubuka.
“Berisik, yuk berangkat,” ajakku langsung menarik tangan Hana hingga dia berjalan terseok mengikuti langkah kakiku.
Semua doa dan harapan sudah kurapalkan sejak motor yang kukendarai keluar dari garasi rumah Hana. Ini memang bukan kali pertama aku bertemu dengan Bang Hulwan. Namun, pertemuan kali ini bukan hanya tentang aku dan si Abang, tapi juga tentang bagaimana aku bisa mengendalikan perasaan yang mulai berkembang saat aku benar-benar berada di dekat si Abang.
Motor berhenti, Hana turun dari boncengan. Aku merapikan anak poniku terlebih dulu sebelum berjalan menyusul di belakang Hana. Tuhan, kenapa aku malah jad deg-degan saat melihat Si Abang berjalan tepat ke arahku.
Apa kalian pernah jatuh cinta? Atau diam-diam naksir seseorang? Katakan padaku bagaimana caranya mengontrol degup jantung yang tidak biasa ini, degupnya serasa kencang dan tidak beraturan. Aku menarik napas dalam-dalam dengan mata tertutup, kemudian aku menghebuskan napas perlahan sembari membuka mata.
“Mau ukur baju, Sha?”
“Ah … apa?” gagapku yang tidak menyangka si Abang melontarkan pertanyaan dengan begitu ramahnya. Tidak memandangku sengit seperti biasa, bahkan tidak menatapku dengan pandangan mencemooh dan memanggilku si anak gajah.
“Kamu mau ukur baju?” ulangnya sehingga dengan penuh kesadaran aku yakin kali ini dia bertanya padaku. Bukan sekedar halusinasi saja.
“Iya, Bang”
“Tuh, Hana di ruangan Mbak Yosi,” tunjuknya pada sebuah ruangan dengan pintu terbuka.
“Jangan ngelamun kalau lagi jalan,” ujarnya sebelum berlalu meninggalkanku yang masih berdiri terpaku mencoba untuk menetralkan degup jantung yang sudah tidak terkontrol lagi iramanya.
Tuhan, semanis itukah dia?
Ini bukan mimpi?
Aku menepuk kedua pipi dengan telapak tangan untuk memastikan kalau semua ini bukan mimpi semata. Rasanya sangat sulit membedakan kenyataan dan halusinasi saat aku benar-benar berhadapan dengannya. Hana kini terlihat melambaikan tangan memintaku mendekat.
Sepuluh menit aku berada di ruangan Mbak Yosi untuk memilih desain baju yang sesuai dengan bentuk tubuhku, setelah itu Mbak Yosi pun langsung memintaku berdiri untuk mengukur lingkar d**a dan teman-temannya yang dibutuhkan sebagai acuan ukur membuat dress selutut dengan batik berwarna baby blue dengan motif ringan yang menurut Mbak Yosi akan membuatku terlihat lebih ramping.
“Besok juga jadi, Sha. Soalnya pelanggaran eksekutif jalur tikus,” kekeh Mbak Yosi sambil melirik Hana karena memang Hana yang memaksa agar baju aku dan dia sudah jadi besok.
Padahal antrian baju batik yang harus mereka jahit sudah menumpuk, tapi siapa juga yang bisa menolak keinginan dari putri bungsu pemilik rumah batik mereka.
“Terima kasih, Mbak Yosi,” ujarku dengan senyum yang terkembang sebagai tanda terima kasih karena Mbak Yosi sudah bersedia membuatkan baju ekstra cepat untukku.
“Sama-sama Shasa cantik,” balasnya dengan pujian yang terdengar begitu tulis.
Benarkah aku cantik? Aku berkaca pada cermin yang ada di sana, wajahku memang cantik, alis tebal, mata bulat dan lebar dengan bola mata hitamnya terlihat lebih legam, bulu mataku lentik meski aku tak pernah mengenakan maskara. Daguku bulat dengan lesung pipit tersembunyi karena lemak di wajahku.
“Sha, yuk,” ajak Hana meninggalkan ruangan Mbak Yosi.
Di rumah batik ini bukan hanya Mbak Yosi tukang jahit yang dipekerjakan tante Devi. Ada sepuluh tukang jahit yang siap mengerjakan semua desain yang diminta para pembeli yang datang. Namun, yang membantu para pembeli untuk memilih desain dan mengukur hanya Mbak Yosi, sedangkan sepuluh penjahit rekan Mbak Yosi hanya bertugas menjahit baju yang sudah digambar mbak Yosi beserta ukuran badan tiap pembeli yang datang.
“Mau langsung pulang?” tanya Hana saat kami sudah keluar dari ruangan Mbak Yosi.
Aku melempar netraku ke meja tempat tante Devi duduk, meja itu kini kosong dan terlihat rapi.
“Mamah lagi ngehadirin pameran batik sama Mbak Luna,” ujar Hana seolah bisa menebak isi pikiranku yang bertanya keberadaan tante Devi.
“Ke paviliun yuk,” ajak Hana dengan meggandeng lenganku.
“Paviliun?”
“Iya, ke tempat tinggal Bang Hulwan, kita ngadem dulu di sana sampai sore,” ujarnya sambil memperlihatkan sebuah kunci di tangannya.
Oke, baiklah. Ini jam kerja Bang Hulwan, aku yakin kalau dia tidak akan berada di sana sehingga membiarkan Hana memegang kunci paviliun. Paviliun yang memiliki satu kamar dengan pintu tertutup, ada kamar mandi di sebelah dapur mini dan satu ruangan yang langsung nampak ketika pintu terbuka adalah ruangan serbaguna di mana di sana ada sebuah televisi, dengan sofa bed warna hijau army yang berjajar, di sudut lain ada juga treadmill. Rumah mini, mungkin itu arti dari paviliun.
“Sha, aku ke kamar mandi dulu ya.”
Hana masuk ke kamar mandi yang menyatu dengan dapur, sedangkan aku memilih duduk di sofabed. Namun, sejuknya ruangan ber-AC malah membuat mataku terasa mengantuk hingga aku pun merebahkan badan dan menutup mata.
“Sha … lah, Hana mana sih ninggalin Shasa tidur di sini.”
Aku mendengar suara Bang Hulwan, tapi sengaja tidak membuka mata. Namun, tiba-tiba mataku terbelalak saat merasakan kecupan hangat mendarat di bibirku.
“Bang Hulwan ….”
Benarkah dia menciumku atau ini hanya sekedar halusinasiku belaka.
“Ah, Bang ...,” desahku saat merasakan telapak tangan Bang Hulwan meremas daerah sensitifku.
Ini mimpi atau nyata?
Apa aku harus membuka mata, tapi aku ... aku menikmatinya. Telapak tangannya terasa sangat nyata meremas salah satu bukit yang ujungnya sudah berdiri tegak karena sentuhan Bang Hulwan.
Tidak .... Aku harus bangun, ini sudah tindakan pelecehan seksual yang dilakukan Bang Hulwan. Mana bisa dia memegang dadaku tanpa izinku, parahnya dia melakukan saat mengira aku tidur karena menutup mata.
Tuhan, kenapa mataku sulit terbuka ... apa ini terjadi karena aku mulai menikmatinya.
“Bang ... ah ....” Lagi-lagi mulutku mendesah, tapi mataku tidak juga terbuka.
Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?
Ini mimpi, halusinasiku semata atau sesuatu yang nyata sih. Kenapa aku sama sekali tidak bisa membedakan antara kenyataan dan halusinasi?