“Bang Hulwan ….” Aku menoleh saat merasa namaku dipanggil suara yang terdengar begitu merdu. Tidak, aku ralat, bukan hanya merdu. Namun, panggilan itu terdengar begitu seksi. “Bang Hulwan ....” Suara itu terdengar dari luar kamar, aku segera membuka pintu kamar untuk memastikan suara milik siapa yang memanggilku. “Shasa,” desisku dengan mata terbelalak. Aku ternyata salah saat mengira ada gadis cantik yang nyasar masuk ke paviliun ini. lagi-lagi suara merdu Shasa membuatku berimajinasi kalau pemilik suaranya adalah gadis tinggi, ramping, dengan wajah tirus yang terlihat cantik. Ah, tidak. Bukannya aku sudah berjanji untuk tidak lagi meledek bentuk badan Shasa. Aku tidak mau kuntilanak itu kembali datang ke paviliun ini dan membuat hidupku terasa horor saat mendengar tangisannya. Ak

