Jeje menangis kesakitan. Pasalnya Jacob sangat kuat mendorong tubuhnya. Ia tidak menyangka akan memiliki seorang suami yang seperti ini.
Jeje mengusap air matanya dengan kasar dan memutuskan untuk keluar dari kamar saja. Berhubung masih siang Jeje memutuskan untuk ke pasar saja. Ia akan memasak untuk makan malam mereka semua.
Jeje keluar dari rumahnya dengan menggunakan sepeda kesayangannya. Setiap hari ia akan ke pasar menggunakan sepeda ini. Mau panas terik atau hujan Jeje akan tetap mengendarainya.
Jeje tiba di pasar dan ia membeli bahan sayuran apa saja yang diperlukannya. Jeje tidak tahu menu apa yang disukai oleh suaminya itu.
Setelah selesai membeli sayuran dan daging ayam di toko langganannya Jeje memutuskan untuk kembali ke rumah.
Di tengah perjalanan tiba-tiba hujan deras sekali dan suara petir juga terdengar sangat kencang sekali, membuat Jeje menjadi ketakutan. Jeje mencari tempat untuk berteduh dan tubuhnya sudah basah terkena hujan yang cukup deras ini.
“Tumben sekali hujan,” ucap Jeje pelan.
Suara petir yang begitu kuat membuat Jacob terbangun. Ia kaget dan melihat sekelilingnya. Jacob jadi memikirkan istri kecilnya yang tadi tak sengaja ia sakiti. Jacob mengenakan pakaiannya lalu ia keluar dari dalam kamarnya.
“Sudah bangun? Apa Jeje masih tidur?” tanya Robert.
“Jeje tidak ada di kamar Pa.”
“Lho ke mana dia? Di luar hujan deras. Dia takut sama petir,” ucap Robert cemas lalu ia melihat apa sepeda Jeje ada di garasi rumahnya.
“Jeje pergi,” ucap Robert lalu ia mencari payung dan ingin mencari keberadaan anak kesayangannya.
“Papa mau ke mana?”
“Cari Jeje, soalnya dia takut sama petir.”
“Biar Jacob antar,” ucap Jacob yang langsung mengambil kunci mobilnya.
Jacob menjadi khawatir. Apa semua ini karena kesalahan dirinya? Jacob tak menyangka jika istri kecilnya ini begitu lemah. Apa aku terlalu keras padanya? batin Jacob.
“Ke arah sana saja,” ucap Robert dan Jacob mengikuti petunjuk mertuanya itu.
“Hujannya deras sekali. Ke mana sebenarnya anak itu?” gumam Robert yang semakin mencemaskan putrinya.
“Itu dia sepedanya,” ucap Robert yang sudah tidak sabar ingin membuka pintu mobilnya.
Jacob merasa hatinya teriris. Ia melihat istrinya meringkuk kedinginan. Melihat istrinya seperti ini membuat Jacob merasa tak berdaya. Padahal suaminya memiliki mobil mewah tapi istrinya pergi menggunakan sepeda ontel butut.
“Biar saya saja yang turun. Papa di mobil saja,” ucap Jacob lalu ia langsung turun melewati hujan yang begitu kencang.
Jeje mengangkat wajahnya saat melihat ada sepasang kaki berdiri dihadapannya. Wajahnya terlihat pucat dan saat terdengar suara petir begitu kencang Jeje langsung menangis ketakutan.
Jacob berjongkok. Ia langsung memeluk istrinya dengan erat dan menggendongnya membawa masuk ke dalam mobilnya. Jeje memeluk Jacob dengan erat, ia benar-benar sangat takut sekali. Dan setelah mendudukan istrinya di dalam mobil, Jacob mengambil sepeda milik Jeje lalu menaruhnya di bagasi mobil.
“Jeje kamu kenapa pergi. Sudah tahu akan turun hujan,” ucap Robert kesal.
“Maafin Jeje, Papa, Jeje pikir Jeje ingin memasak untuk Papa dan Jacob untuk makan malam kita. Jeje tidak kepikiran hujan juga,” jawab Jeje dengan wajah yang begitu pucat sekali.
Hati Jacob seolah tersentuh saat mendengar istrinya yang ingin membuatkan masakan untuknya. Walau ia sudah berbuat jahat terhadap istrinya tapi Jeje masih mau berbaik hati dengannya. Tapi Jacob tak mau ambil pusing lagi pula ini bukan salahnya juga. Siapa suruh kamar Jeje begitu sempit dan ukuran ranjangnya hanya untuk satu orang.
Jacob memarkirkan mobilnya dan ia memberikan payung untuk mertuanya. Jacob juga turun dan ia mengambil sepeda milik istrinya. Robert membuka pintu mobil di mana Jeje berada dan mereka berdua masuk ke dalam rumah bersama-sama.
Saat baru saja memasuki halaman rumahnya tiba-tiba Jeje terjatuh pingsan dan Robert dengan sigap memeluk putrinya.
“Je …, Jeje bangun sayang,” ucap Robert cemas sambil mendekap putrinya.
Jacob yang melihatnya langsung melempar sepeda istrinya begitu saja. Tak peduli dengan barang belanjaan yang ada di dalam keranjang sepedanya. Ia langsung menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
“Cepat masuk,” ucap Robert.
“Apa Papa punya Dokter pribadi?” tanya Jacob sambil membawa istrinya masuk ke dalam kamarnya.
“Tidak ada. Kami hanya orang sederhana mana mungkin memiliki Dokter pribadi,” jawab Robert sedih.
Jacob langsung mengeluarkan ponselnya dan ia menghubungi Dokter pribadi ayahnya yang berada di Jakarta. Sedangkan Robert mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Jeje.
“Nak Jacob. Apa saya boleh minta tolong?”
“Iya, minta tolong apa Pa?”
“Tolong gantikan pakaian Jeje. Kamu kan suaminya. Kalau saya tidak mungkin menggantikannya.”
Jacob menatap Ayah mertuanya. Lalu Jacob menelan salivanya dengan susah payah. Ia tidak pernah menggantikan pakaian seseorang. Biasanya wanita-wanita yang sudah ia bayar itu akan memakai pakaiannya sendiri atau bahkan mereka menawarkan diri untuk minta di sentuh kembali. Jacob tidak menyangka jika ia harus melakukan hal ini.
Robert menutup pintu kamarnya dan ia akan membereskan belanjaan yang ada di sepeda Jeje.
Jacob membuka lemari pakaian Jeje dan ia mencari pakaian Jeje dengan asal. Jacob menatap wajah istrinya sejenak dan dengan tangan yang bergemetar ia mulai membuka satu persatu pakaian istrinya.
Jacob mencoba menahan hasratnya. Kini ia melihat tubuh polos istrinya yang terlihat begitu sempurna. Semuanya masih terlihat kencang dan Jacob ingin sekali menyentuhnya tapi Jacob mengurungkan niatnya kembali. Ia dengan cepat membuyarkan pikiran kotornya lalu mengeringkan tubuh istrinya dan memakaikan Jeje pakaian yang lebih hangat.
“Tubuhnya panas sekali,” gumam Jacob sambil menyelimuti istri kecilnya dan tanpa ia sadari Jacob mengecup kening Jeje dengan lembut.
Tak lama Dokter pribadi James datang. “Jacob, ada apa?” tanya Dokter Santo bingung.
“Istri saya sakit Dok,” ucap Jacob.
“Istri? Ah iya kamu sudah menikah. Maaf saya tidak datang saat itu karena harus keluar kota,” ucap Dokter Santo.
“Tidak apa-apa Dok,” ucap Jacob dan Dokter Santo mulai memeriksa Jeje.
“Bagaimana keadaan anak saya Dok?” tanya Robert cemas.
“Hanya demam biasa. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Ini saya kasih resep obatnya dan diminum secara teratur ya,” ucap Dokter Santo sambil memberikan resep obatnya.
“Iya Dok, terima kasih,” ucap Jacob sambil mengambil resep obatnya.
“Jacob,” rancau Jeje. Jacob yang mendengarnya langsung diam mematung.
“Biar Papa saja yang pergi membelinya, kamu jaga Jeje saja,” ucap Robert.
“Biar Jacob saja Pa. Di luar masih hujan,” ucap Jacob sambil mengantarkan Dokter Santo keluar.
Jacob mengendari mobilnya dan ia mencari apotek terdekat. “Jovanka, nama yang bagus,” ucap Jacob sambil tersenyum.
Jacob langsung membeli obatnya saat ia sudah menemukan apoteknya. Jacob memberikan resep obatnya dan ia langsung membayarnya lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Jacob mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat sekali. Baru kali ini ia merasa cemas dengan seorang wanita selain ibunya yang sudah merawatnya selama ini.
“Sial, kenapa aku harus cemas seperti ini?” gumam Jacob lalu ia memukul stir mobilnya dengan kencang.
Bersambung