Bahkan saat hari semakin gelap dan hujan yang masih deras, Gian menggendong bocah tersebut di punggungnya setelah tubuhnya di bungkus semacam alumunium foil agar tidak mengalami hipoertemia berkepanjangan. Dibantu dengan anggota lain yang membukakan jalan agar Gian bisa berlalu dengan aman dan cepat.
“Sekitar sini agak licin, tolong komandan hati-hati!” seru tim yang sudah membuka jalan lebih dulu untuk memastikan semua aman.
Dan di trek tersebut, Gian agak memelankan langkahnya. Hingga suara engahan napas itu terdengar lebih kencang darinya. Pun anggota lain yang ada di belakang turut berjaga-jaga. Pun jika harus bergantian, rasanya tidak efektif. Sebab, itu juga akan memakan waktu karena Gian sangat terbiasa melakukan hal tersebut sehingga dapat mengatasinya dengan cekatan.
“Gian!” seru seorang ranger dengan mantel berwarna mencolok. Terdapat sebuah logo organisasi di sisi kanannya. “Maksudku… Komandan, Gian!”
Gian lantas menghentikan langkahnya sambil mengatur pernapasannya yang sudah semakin kacau setelah keluar dari hutan rimba yang lebat.
Ranger gunung bernama Rama yang merupakan kawan Gian itu lantas melepas carrier, bersamaan dengan ranger lain yang membukakan tandu agar bocah itu bisa ditandu sampai bawah dan tidak membebani Giana tau tim lain.
“Makasih banyak sudah bantu,” kata Rama mengambil alih bocah itu, lalu dipindahkan ke tandu yang sudah siap. “Aku turun duluan, ya. Kalian semua hati-hati.”
“Uhm!” balas Gian.
Pun para ranger yang juga sudah menguasai medan itu bisa turun dengan selamat bersamaan dengan hujan yang hanya menyisakan rintik. Di bawah sudah ramai sekali orang. Ada warga setempat, pendaki yang tadi harus turun sebelum waktunya, tim SAR yang tadi sempat turut menyisir serta ambulans.
Korban segera di bawa menuju klinik. Dan respons tenaga medis di klinik juga sangat cepat sekali. Terutama Dokter Kiana. Ia segera memeriksa tanda vital bocah lima belas tahun itu dibantu dengan perawat dan Bayu selaku dokter magang.
Bayu memberikan selang yang sudah dihangatkan pada Kiana untuk diberikan pada bocah tersebut agar menghangatkan saluran pernapasan, sehingga suhu tubuhnya dapat meningkat.
“Tanda vitalnya baik semua, hanya kedinginan dan sudah ditangani dengan cepat,” jelas Kiana pada keluarga yang didampingi beberapa relawan.
“Terima kasih, Dok.”
“Terima kasih juga untuk para ranger, SAR sampai polhut yang melakukan pencarian dengan sekuat tenaga,” sambung Kiana. “Kalau mereka tidak bekerja keras sampai seperti ini, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa.”
^^^
Klinik yang semula begitu padat berangsur sepi seiring dengan perginya seluruh orang, menyisakan beberapa tenaga medis di sana serta bocah yang terbaring di atas bangkar dengan selang infus yang bersarang di tangannya.
Tampak sang ibu tertidur di sisinya, serta sang ayah juga memejam duduk bersandar di bangku yang bertautan dengan dinding.
Pemandangan itu membuat Bayu tanggap. Ia mengeluarkan kasur dari ruangan istirahat dan meletakannya di dekat bangkar, kemudian membangunkan ayah dari bocah tersebut.
“Maaf ganggu, Ayah… tapi sebaiknya tidur di sini aja,” tutur Bayu. “Bisa untuk dua orang.”
Ayah dari bocah itu pun merasa tersanjung. “Makasih banyak, Dok. Tapi karena saya badannya agak besar, biar istri saya aja. Saya tidur di sini juga bisa.”
“Saya bangunin istri saya, ya,” lanjutnya mendekati sang istri.
Pun Bayu menimbang lagi. Lebih baik ia mengambil karpet dan bantal agar sang ayah juga tetap bisa beristirahat sedikit lebih nyaman.
“Kamu cari ini?”
“Astaghfirullah!” kaget Bayu saat ia menatap sebuah bantal di hadapannya. “Kak Kian… Maksud saya, Dokter Kiana?”
Kiana memberikan dua tumpukan bantal itu padanya, lalu sebuah tikar gulung plastik juga. “Kamu udah melakukan banyak hal hebat hari ini.”
Seketika Bayu tak bisa berkutik. Meski begitu, binar di wajahnya tampak berseri-seri bagai bintang sirus. Mendapatkan pujian dari orang yang dikagumi memang berbeda. Rasanya melayang-layang, enggan turun.
“Kamu nggak pulang?” tanya Kiana.
“Ah…” Bayu segera tersadar. “S-saya jaga malam, Dok.”
Kiana mengangguk-angguk. “Kalau gitu aku pulang dulu. Hati-hati, ya.”
“Kak Kiana yang harusnya hati-hati.”
Kalimat itu membuat Kiana yang sudah berbalik itu lantas mengerem langkah, kemudian menoleh.
“Ini sudah bukan jam kerja Dokter Kiana, jadi nggak masalah, kan, Kak Kiana?” lanjut Bayu yang dihadiahi tawa Kiana. “Hati-hati. Kak Kiana belum mengenal baik tempat ini meskipun di sini aman-aman aja. Banyak serangga, apalagi kalau habis hujan.”
Entah apa yang lucu. Kiana hanya ingin tertawa setiap pemuda itu merangkai kalimat. Bahkan kini Kiana diminta untuk berhati-hati pada serangga. Kemudian Kiana hanya berakhir melambaikan tangan pada Bayu.
^^^
Ladang udara segar Desa Sembalun pun juga berlaku di malam hari. Justru semakin terasa syahdu diiringi dengan paduan suara dari para serangga. Bahkan Kiana sampai berdecak kagum saat menemukan rombongan kunang-kunang di hadapannya.
“Wah?!”
Sungguh keajaiban kecil yang tak pernah ia temukan. Kiana bagai lupa akan segala resah dan susah yang telah ia lewati beberapa waktu lalu. Semua terbayarkan di desa ini. Ia juga melihat beberapa wisatawan yang nongkrong menikmati keindahan malam itu di kafe-kafe tepi jalan.
Berada di Desa Sembalun bagai sebuah mimpi. Seperti tidak nyata, bagai permadani di kaki langit.
Kiana lantas berbelok menuju pavilun. Di sana lebih terasa sepi, namun tetap saja aman. Dan sudah lama sekali Kiana tidak merasakan sensasi berjalan di malam hari sepanjang hidupnya.
“Ah!” seru Kiana saat tiba-tiba lampu penerangan di sudut jalan itu mati. Diikuti beberapa lampu di rumah warga sekitar. Sepertinya sedang mati listrik.
Kiana merengkuh tubuhnya. “Aku terlalu menikmati sampai lupa kalau hal-hal yang nggak diinginkan lainnya juga bisa terjadi.”
Ia lantas mencari ponselnya, kemudian memanfaatkan fitur senter untuk membantunya berjalan. Namun, baru saja menyala dalam beberapa detik, lampu senter itu mati.
“Yah?” Kiana memeriksa ponsel lipatnya itu. “Ah, elah. Low batt segala!”
Kemudian Kiana menemukan secercah cahaya yang memantulkan siluetnya. Tentu saja cahaya kuning keemasan itu berada di belakangnya. Ia lantas menoleh, menyipitkan mata. Memastikan apa gerangan serta menahan silau di antara malam yang gelap selepas hujan itu.
Dalam mode lambat, seorang pangeran seolah sedang menunggangi sepeda tua yang memiliki satu lampu di depannya. Mendadak angin malam berhembus mesra di antara keduanya.
“Alhamdulillah…,” ucap Kiana merasa tenang. “Aku bonceng…”
Senyum ceria Kiana mendadak redup saat Gian hanya melewatinya begitu saja. Tak menoleh. Tak peduli. Mendadak amarah tersulut, Kiana mengejar, lalu menendeng bagian belakang sepedanya.
“O-oh…” Gian yang masih dalam balutan seragam tactical hijau tua itu oleng. Ia sedang berusaha keras mempertahankan keseimbangan. Namun karena energinya sudah terkuras di gunung, ia pun terjatuh.
Kiana memicing. Ia merasa menang.
“Apa-apaan ini?!” pekik Gian.
“Apanya? Kamu yang apa-apaan?!” Kiana tak mau kalah. “Ada perempuan kebejak sendirian di sini, kamu cuekin aja?”
“Apa aku harus jelasin?”
Kiana mendekat. Ia pun tergugu melihat penampilan Gian yang setengah basah. Ia jadi teringat jika Gian pun kemungkinan besar menjadi salah satu penyelamat pasiennya tadi di tengah badai. Rasa bersalah menggelayut.
Cih. Kiana berdecak kesal. Kemudian ia mengangkat sepeda ontel itu, juga dengan Gian. “Kalau gitu aku ikut pulang.”
Gian terkekeh. “Setelah kamu tendang aku?”
“Nanti… nanti kita bahas lagi. Badanmu basah semua, nanti keburu masuk angin.”
Meski tampak datar dan tak berperasaan, Gian juga sempat merasakan ada desiran kecil menggelitik di hatinya akan perhatian Kiana. Kemudian ia menaiki sepeda, membiarkan Kiana membonceng di belakangnya. Melewati malam gelap hanya dengan penerangan terbatas. Namun saat melewati jembatan kecil, mendadak lampu-lampu desa kembali menyala. Memberikan jalan untuk keduanya.
Perbukitan yang membentang laksana lukisan nyata dan mereka berdua berada di antara keindahan malam fantastis itu.