1. Batal Nikah
“Pernikahan kita tinggal 3 bulan ke depan! Dan kamu tega mempermainkan semua ini? Kamu tega mengkhianati aku?!” pekik pria berbadan tinggi dan besar, rambut hitam serta garis rahangnya yang tajam. Begitu juga dengan alis tebalnya yang nyaris menyatu di hadapan seorang perempuan yang jauh lebih pendek darinya.
Mereka berdua tampak berada di sebuah ruang makan yang sangat luas. Apa yang mereka bicarakan serta guratan wajah yang menjadi perhatian seisi lainnya. Mereka adalah seorang dokter yang sedang dalam waktu istirahat jam makan siang. Bahkan keduanya masih mengenakan sneli.
“Kenapa tiba-tiba kaya gini, Gala? Apa maksudmu?” Kiana bingung bercampur tidak nyaman saat dirinya tengah menjadi pusat perhatian. Ia menarik tangan tambatan hatinya itu untuk menepi. “Kita obrolin di tempat lain.”
Pria itu tampak kecewa sambil sesekali tertawa, menghempaskan tangan Kiana. “Hubungan kita bukan main-main lagi, Ki!”
Kiana menoleh. Ia sempat tercenung, kemudian mengedarkan pandangan ke segala arah. Rasanya ia ingin menghilang begitu saja dari pandangan mereka. Ia menarik napas sejenak untuk tetap tenang. “Ayo kita obrolin supaya lebih jelas. Jangan di sini. Ini urusan pribadi.”
“Siapa yang bisa nahan, Kak?!” Tiba-tiba air mata meluncur pelan dari pelupuk mata pria itu yang membuat Kiana tercengang. “Mungkin emang terkesan aneh ketika aku bicara di sini. Tapi aku sudah nggak bisa menunda untuk ngomong ini semua.”
“Apa maksud kamu?!” Kiana lepas kendali sambil sedikit berteriak. Ia kemudian menatap arloji yang sudah menunjukkan pukul satu siang, di mana ia harus bergegas syuting sebuah program kesehatan di televisi. “Aku harus berangkat syuting.”
“Syuting apa?”
Langkah Kiana tiba-tiba tertahan saat seorang dokter yang paling senior sekaligus penasihat umum dari Earl Jingga Medical itu datang membawakan sebuah surat.
“Ini. Pihak IDI nggak mau kamu tampil lagi di Halo, Dokter.” Prof. Beni menunjukkan sebuah artikel dari ponselnya. “Kamu benar-benar sibuk sampai nggak tau apa-apa.”
Dengan sedikit canggung bercampur rasa ingin tahu yang tinggi, Kiana mengambil alih ponsel professor sambil menatap penghuni kantin lain yang saling membisik saat turut memeriksa sesuatu dari ponselnya. Perasaan Kiana makin tidak bagus. Ia pun turut menggelinjang saat membaca artikel tersebut.
Dokter Bedah Umum terkenal pemandu program Halo, Dokter, Kiana Lukis Jingga diduga datang ke hotel bersama seorang pria.
Meski tampak tenang, bola mata Kiana tak bisa berbohong. Itu tampak bergetar.
“Itu memang urusan pribadi kamu. Tapi karena kamu juga seorang publik figur… itu akan berpengaruh buat nama baik IDI juga,” imbuh Prof. Beni meraih kembali ponselnya, mengusap lengan perempuan berambut sepanjang lengan itu dengan pelan sebelum meningalkannya.
Gala yang merupakan sosok dokter residen tahun terakhir itu tampak kecewa. Ia memijat keningnya berulang kali sambil memandangi punggung Kiana. “Kamu lihat sendiri, kan, Kak? Cowok itu bukan aku.”
Kiana berbalik dengan tegas. “Lalu apa?! Artikel itu belum tentu kebenarannya dan kamu percaya gitu aja?”
“Ngapain juga kamu ke hotel sama cowok lain? Kita bahkan nggak pernah bertidak sejauh itu?!” Gala menumpahkan segalanya.
“Sudah… sudah…” Dokter lain melerai mereka. “Nanti kalian bicarakan di tempat lain. Benar apa kata Kiana."
“Aku tunggu di ruanganku!” tandas Kiana sebelum melenggang pergi.
Pun kabar perselingkuhan Dokter Kiana seolah menjadi topik pembicaraan hangat seantero Earl Jingga Medical. Pasalnya, hubungan Kiana dan Gala sangatlah populer. Mereka sangat romantis dan hangat, tetap professional saat bekerja. Bahkan semua turut senang bila kedua sejoli itu sebentar lagi akan melangsungkan pernikahannya.
Kiana merenung dalam beberapa waktu di atas kursinya bersama keheningan. Ia terus berpikir keras tentang apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba ada jurnalis yang peduli soal kehidupan pribadinya setelah dua tahun memandu program tersebut?
“Aku yakin ada oknum yang memanfaatkan semua ini,” gumamnya. Kemudian matanya tak sengaja membidik sebuah pigura yang menampilkan foto kemesraan dirinya dan Gala. Mereka saling menggenggam dan menatap satu sama lain, berjalan bersama di sebuah desa yang teduh. Pemandangannya bak permadani di kaki bukit.
Kiana memejamkan matanya. Menyayangkan kenangan itu seolah tak berguna di situasi saat ini.
Tok! Tok!
Mata dokter perempuan itu terbuka saat ketukan pintu bersamaan dengan seorang pria yang masuk ke dalamnya.
“Aku nggak bisa melanjutkan ini.” Gala melepas cincin tunangannya.
Kiana membelalak. “Gala?”
“Maaf, Kak…”
Kiana bangkit dari duduknya. “Kemana perginya Gala yang dewasa? Kenapa kamu tiba-tiba mengambil keputusan sarkas tanpa mempertimbangkannya?!”
“Kamu tau kenapa aku mau serius sama kamu?” Kiana memberikan pertayaan retorika. “Meskipun kamu muda, tapi kamu dewasa dan selalu berbicara lembut.”
“Semua itu akan pergi kalau dikhianati, Kak. Anak kecil juga akan seperti itu.”
Kiana menggeleng. Napasnya terdengar sesak. “Semudah itu? Kamu nggak mau tau cerita dari sudut pandangku?”
“Orang tuaku juga terkejut. Mereka nggak bisa menerima situasi ini!” seru Gala begitu gelisah. “Kamu ngerti, kan… sekarang kamu dibicarakan banyak orang. Orang tuaku terganggu.”
Setelah menahan begitu lama, air mata Kiana leleh juga. Dadanya terasa pengap dan sakit dibentur godam. Ia menahan kesakitan itu dengan menggigit bibir bawahnya. Semua cinta dan kasih yang terjalin selama lima tahun itu harus kandas begitu saja di tengah kesalahpahaman.
“Maaf,” kata Gala dengan nada bergetar, lalu meninggalkannya.
“Hhh…” Tubuh Kiana lemas. Lutut tak lagi mampu menopang. Ia tergeletak di lantai begitu saja dalam tangis yang masih tertahan.
Kiana berusaha mengurai air mata, tapi tak semuanya luruh. Hanya ada hantaman yang membuatnya sesak. Kecewa, sedih dan marah. Semua yang tak tertumpahkan menjadi tertahan dan semakin menyakitkan.
Namun sebuah deringan ponsel menyadarkannya. Perlahan-lahan ia meraih ponsel di saku.
“H-halo…?”
“Ada operasi darurat kecelakaan motor…”
Ia sekuat tenaga bangkit, memaksakan diri untuk bekerja dengan professional. Pergi ke kamar mandi, mengusap wajah berulang kali. Mengambil waktu untuk relaksasi. Kemudian menatap wajah cantiknya yang penuh luka batin itu.
“Kita lupakan semua. Aku pasti bisa!” Kiana meyakinkan diri, lalu pergi ke ruangan operasi dengaan tenang. Bahkan tangan yang bergetar itu sudah lenyap.
^^^
Beruntung operasi berjalan dengan lancar. Bahkan saat menghadapi pasien, Kiana sungguh telah melupakan apa yang terjadi meski saat perjalanan kembali ke rumah, ia terusik kembali dengan perasaannya yang berkemelut.
Kiana menyipit saat keluar dari lift, menemukan seseorang berdiri di depan unit apartemennya.
“Siapa, ya?”
“Oh…” Seorang perempuan berambut panjang begitu antusias menghampiri. Dia bagai karakter manhwa yang muncul ke dunia nyata. Wajah dan lekuk tubuhnya sungguh tidak nyata. Cantik sekali.
“Ada perlu dengan saya?”
“Dokter Kiana yang di TV itu, kan? Aku nge-fans banget.”
Kiana tersenyum sumringah. “Makasih banyak.”
“Aku Karin.”
“Oh, ya. Salam kenal.” Kiana menjabat tangannya dengan santai. “Kalau gitu kita ngopi aja di kafe bawah.”
Karin menggeleng. “Nggak usah. Aku cuma mau kasih hadiah.” Ia memberikan sebuah kotak cantik berpita dengan ukuran sedang. “Mungkin lain kali kita ngopi. Kebetulan aku ada pemotretan malam ini.”
“Pasti Dokter Kiana sibuk banget sampai harus berhenti dari program TV.”
“Ah…” Kiana menyilakan rambut ke belakang telinga dengan canggung.
“Sampai ketemu, Dok!”
Karin lantas pergi meninggalkan Kiana yang segera masuk ke dalam apartemen. Kiana merasa sangat bersyukur, masih ada orang yang mendukung di saat harinya begitu suram. Jadi, ia segera membuka kotak hadiah tersebut.
Tampak ada beberapa kertas hiasan yang harus Kiana keluarkan lebih dulu hingga tampak sebuah amplop kecil. Beberapa detik kemudian, senyum sang dokter meredup seiring dengan tangannya yang mengeluarkan secarik foto dari dalam amplop tersebut.
Mata Kiana melebar, satu tangan menutup mulutnya yang terbuka. “Apa ini?”