Hubungan Kiana dan Gala seolah masih menjadi perbincangan khusus di Earl Jingga Medical, sebuah rumah sakit modern yang memiliki banyak cabang tersebar di seluruh kota besar di Indonesia. Bahkan setiap pergerakan Kiana tak lepas dari sorotan tatap mata mereka yang lain.
Tapi Kiana tak peduli.
Setelah merenung, Kiana memutuskan untuk menjalani hari-hari dengan normal. Ia tetap ceria menyapa seluruh staf saat kembali ke rumah sakit. Matanya bagai bulan sabit yang bersinar setiap malam. Kemudian ia tak sengaja membidik sosok Gala yang sedang berlarian menuju IGD bersama tim-nya. Tentu saja ia juga professional. Mungkin. Atau justru senang?
Cih! Kiana berdecih pelan. Kemudian berjalan menuju sebuah ruang konferensi. Ada rapat penting yang harus ia hadiri.
“Selamat pagi, semuanya!” sapa Kiana mengambil satu tempat duduk.
Pun staf, dokter dan perawat yang sudah berada di sana turut menyambutnya.
“Dok… gimana? Udah baikan?”
Kiana menaikkan satu alis.
Sst! “Nggak usah bahas itu.”
Kiana tersenyum lembut. “Kita putus.”
“Hah?”
“J-jadi… itu benar?”
Lagi-lagi Kiana hanya menanggapi dengan santai. “Saya bukan perempuan murahan.”
“Uhmm?”
Tampaknya mereka masih belum bisa menerima jawaban Kiana yang tersirat itu. Beruntung Direktur rumah sakit dan jajarannya sudah datang, sehingga mereka tak sempat mencecar Kiana dengan pertanyaan abstrak.
Earl Jingga Medical punya program mengirim dokter-dokter mereka ke berbagai desa di seluruh Indonesia untuk kegiatan volunteer “Dokter Blusukan”. Sebab, rumah sakit tersebut tak hanya terkenal elit, tapi mereka juga ingin berkontribusi untuk menumbuhkan rasa sadar akan pekerjaan mulia para tenaga medis.
“Bedah umum satu, bedah anak, dokter umum juga masing-masing satu dan tiga perawat, satu perawat senior dan dua perawat muda,” kata Pak Omar selaku direktur rumah sakit setelah melakukan pembukaan. Kemudian menampilkan layar di belakangnya. “Orang-orang hebat itu akan mengabdi selama setengah tahun di Desa Sembalun.”
“Woah!” Semua berdecak kagum atas keindahan desa tersebut.
Pak Omar tersenyum. “Alam yang cantik juga bisa membuat pengabdian kita semakin berkesan.”
“Desa Sembalun di kaki Gunung Rinjani, Pak?” tanya Kiana memastikan.
“Iya, betul. Pernah mendaki Gunung Rinjani, Dokter Kiana?”
“Pernah, walaupun saat masih kuliah.”
“Baiklah. Nanti saya minta daftar nama-nama tim medis yang akan berangkat,” tutup Pak Omar.
“Saya mau berangkat!” Kiana mengangkat tangannya dengan yakin, membuat seluruh penghuni ruangan terkejut karena Kiana sudah pernah diberangkatkan saat resmi menjadi dokter spesialis bedah umum di rumah sakit tersebut. Sebab, setidaknya setiap dokter hanya merasakan sekali saja.
“Saya mau berangkat lagi,” lanjutnya.
^^^
Kiana menenggerkan kedua tangannya di saku sneli kebanggaannya tersebut sembari menunggu lift terbuka. Saat pintu melongo, beberapa orang keluar dari sana. Lift yang semula sesak, berangsur sepi sehingga Kiana bisa menatap sang mantan dari kejauhan.
Keduanya sempat saling menatap canggung. Tapi Kiana memutar bola mata jengah. Ia segera masuk ke dalam lift. Rasanya menghindar bukan tindakan yang tepat.
Ada beberapa staf dan juga pengunjung di antara mereka. Para staf yang ada di sana diam-diam saling membisik, tentu saja tentang Kiana dan Gala yang berdiri bermandikan jarak, dibataskan oleh pengunjung di antara mereka.
“Selamat sore, Dok,” sapa Gala sopan.
“Sore.” Kiana bersedekap acuh.
Ting!
Kemudian pintu lift terbuka, para staf lain entah sengaja atau tidak, mereka pun keluar bersama-sama, juga dengan pengunjung. Menyisakan Kiana dan Gala di tempat. Suasana menjadi sekonyong-konyong hening.
“Aku yakin kamu juga tau kalau itu berita bohong.” Kiana membuka suara tanpa memandangi lawan bicaranya.
“Maksudnya?”
“Kamu pasti tau aku nggak mungkin selingkuh.”
“Hanya Tuhan yang tau.”
Kiana tertawa, sempat membuat kaget Gala. Lantas perempuan itu menoleh. “Benar. Hanya tuhan yang tau. Tapi aku harap kamu juga jujur dengan dirimu sendiri.”
Gala mengerutkan kening. “Kamu ngomong apa, sih, Kak?”
“Kamu bahkan nggak mau dengerin cerita dari sudut pandangku.”
Gala berdiri tegap. “Oke… aku dengerin,” tantangnya.
“Aku datang untuk meeting.”
“Meeting apa? Apa cowok itu dokter? Kayanya bukan. Trus kenapa harus hotel?”
Kiana menghempaskan napasnya pelan sambil membasahi bibir bawahnya. Ingin sekali meluapkan segalanya, tapi ia ingin terus berhati-hati dengan semua orang yang ada di sekitarnya. Jadi, ia memilih untuk menahan.
“Ada bisnis yang mau aku jalani,” jawab Kiana asal.
Gala tertawa. “Alasan yang sangat klise.”
“Emang nggak ada gunanya menjelaskan.” Kiana memicing. “Karena kamu nggak butuh itu. Ada sesuatu yang harus kamu pertanggungjawabkan. Iya, kan?”
“Ngomong apa lagi, sih?” Gala terkekeh.
“Kalau gitu jelasin ke keluargaku kalo pernikahan ini batal.”
“Mau jelasin kaya gimana, Kak? Ayahmu depresi berat di RSJ. Apa aku bisa menjelaskan dengan detail sama orang kaya gitu?”
Kiana memicing. Ia terkekeh. “Semoga bayimu bisa jadi anak yang berbakti sekalipun ayahnya gila.”
Kemudian Kiana melambaikan tangannya dengan santai setelah melontarkan kalimat sarkas, keluar dari lift lebih dulu meninggalkan Gala yang terbujur kaku sembari berusaha menyerapi seluruh kalimat mantan tuangannya yang terasa ambigu, namun juga membuatnya tergugu.
^^^
Kiana yang tinggal sendirian di sebuah apartemen itu sedang mempersiapkan perkakasnya sebelum berangkat ke Lombok. Ia pikir itu lebih baik dari pada harus berpapasan dengan mantan tunangannya yang sangat menyakiti hatinya.
Demi suasana hati yang lebih baik, mengabdi pada masyarakat di lingkungan yang tenang juga bisa membuat Kiana menemui kehidupan baru. Kiana juga sekaligus mengemas seluruh barang-barang pemberian Gala. Ia menjadikannya dalam satu kotak.
“Sampah harus dibuang ke tempatnya. Jangan ada yang tersisa,” ungkap Kiana begitu yakin, lalu meniup tangannya dari segala kenangan menyakitkan.
Kiana meletakkan kotak tersebut ke atas troli, membawanya turun ke parkiran, memasukkan ke dalam mobil. Ia lantas mengaktifkan maps untuk mengarahkannya ke sebuah alamat yang sempat ia cari tau. Yakni tempat pembuangan sampah.
“Anda akan sampai di lokasi. Tujuan anda di sebelah kiri.”
Perempuan menggulung rambutnya ala hair messy bun itu lantas melongok ke sebuah rumah minimalis moderen yang cukup megah apabila ditinggali satu orang saja.
“Saya mau bertemu dengan Mbak Karin,” kata Kiana pada penjaga.
“Mbak siapanya?”
“Tempo hari Mbak Karin ke rumah saya memberitahu bahwa dia hamil.”
Petugas itu membelalak. “Mbak Karin hamil?”
Merasa Kiana seolah tau banyak soal majikannya, petugas itu mempersilakannya masuk. Tak perlu menunggu lama, Karin pun membuka pintu dengan mata yang melebar. Ia dalam balutan kimono satin merah yang menawan.
Karin tersenyum canggung. “Ada apa?” Ia melirik kotak yang dibawa Kiana. “Bukannya ini terlalu malam buat bertamu?”
Kiana tersenyum. “Aku nggak mau bertamu.”
“Trus?”
Kiana membuka kotak itu dan menumpahkan isiannya di sana, memicu amarah Karin.
“Aku mau buang sampah,” lanjut Kiana dengan santai.
“Orang gila!” teriak Karin. “Maksud lo apaan?!”
“Kamu sudah ambil sampah dari hidupku, kebetulan sisanya ketinggalan.” Kiana menaikkan satu alis. Menenggerkan kedua tangan ke dalam saku jaket hoodie sementara Karin terus menjerit heboh, mengeluarkan segala sumpah serapahnya.