3. Rahasia dan Luka

1298 Words
Sinar matahari di waktu sore menyambut kedatangan Kiana di tanah pulau seribu masjid. Bahkan hanya dengan menghirup udaranya terasa jauh lebih menenangkan. Seperti berada di atmosfer yang berbeda. Pun Kiana menggeret koper ke pintu keluar sambil menunggu jemputan datang. Kemudian tak butuh waktu lama, sebuah mobil hi-ace datang. Sang sopir menurunkan kaca jendelanya. Tampak ia masih muda dan sangat bersemangat. “Dengan Kak Kiana?” Selembut sinar mentari di kala sore, senyum Kiana yang menawan itu membius pemuda itu. Apalagi saat rambut sepanjang lengan perempuan tersebut tersapu angin, kulitnya juga semakin berseri tersorot cahaya illahi. “Nggak jalan, Mas?” “Oh?!” Pemuda itu terperanjat bukan main saat disadarkan Kiana yang ternyata sudah masuk di mobil bagian belakang. “T-tadi…” “Saya udah masuk dari tadi. Ayo, keburu ada mobil lain di belakang!” “S-siap, K-kak,” jawabnya gugup. “Barangnya…?” “Saya nggak bawa banyak barang. Cuma satu koper sedang dan tas jinjing ini. Nggak perlu di taruh bagasi karena interior mobil luas.” Sempat dalam mode hening dalam beberapa waktu, pemuda itu lantas melirik dari spion dalam mobil. Ia berucap dengan perhatian, “Dibuka aja jendelanya, Kak. Biar bisa ngerasain udara Lombok. Perjalanan juga masih panjang.” “Boleh?” “Boleh banget.” Perjalanan dari Bandara Internasional Lombok butuh waktu sekitar dua jam lebih untuk sampai Desa Sembalun yang katanya sangat menakjubkan itu. “Saya jamin semua penat akan menjadi ringan saat di sini.” "Aku percaya.” Pemuda itu merekahkan senyumnya dengan luas, menatap Kiana dari balik spion. “Aku pernah datang ke sini, dulu.” “Wah… Bisa jadi obat rindu yang tepat ini. Nanti kalau butuh tumpangan atau guide, bisa hubungi saya pokoknya.” Pemuda itu memberikan kartu namanya saat lampu merah tengah menyala. “Travel Crew—Sembalun Arga? Saya udah punya nomor dari pengelolanya.” “Itu bukan kartu pengelola. Tapi kartu saya. Coba aja lihat dibawahnya. Itu nomor saya.” “Bayu Samala?” Pipi pemuda bernama Bayu itu pun memerah. Rasanya hangat sekali. Mungkinkan ini cinta pada pandangan pertama? Kemudian saat malam membentang, mobil yang dibawa oleh Bayu itu telah sampai di sebuah pekarangan halaman rumah yang asri. Namun, Kiana terlelap dalam tenang. Bayu tak tega membangunkannya. Ia membuka seluruh jendela dan mematikan mesinnya. Membiarkan perempuan cantik yang punya aura positif itu tetap terlelap sementara Bayu meninggalkannya. Menunggu di sebuah saung—tepat di samping mobil terparkir bersama temaram rembulan malam itu. ^^^ Paviliun Sembalun. “Hmm… Hmm…” Hannah selaku pengurus paviliun itu tampak berdeham mengikuti irama lagu yang sedang ia setel. Sebuah tembang pembangkit semangat yang dinyanyikan oleh Tiara Andhini bertajuk ‘Kupu-kupu’ sembari menyapu lantai dua yang terbuat dari kayu di depan kamar-kamar para tamu. Kemudian langkah dan nyanyiannya terhenti di kamar paling ujung yang tertutup rapat—paviliun nomer 5. Hannah, perempuan menyenangkan itu mengganti raut wajahnya. Ia tampak menerka sesuatu dalam keheningannya. “Kenapa kamar ini dipakai?” gumamnya bertanya-tanya. “Apa alasannya sampai mengorbankan kamar ini…? Membereskannya sendiri?” Hannah menghempaskan napasnya pelan. “Gian…” “Oh?” kaget Hannah saat sosok penghuni kamar tersebut keluar dari sana. “Halo, Kak Kiana!” sapanya agak canggung. “Ah… Halo.” sapa Kiana juga kaget. “Selamat pagi.” “Saya mau jalan-jalan pagi,” kata Kiana. “Oh… silakan. Pagi-pagi di kaki gunung rinjani emang nggak boleh dilewatin!” “Permisi.” ^^^ Masih ada waktu satu hari dari sekarang sebelum ia berkumpul di klinik bersama tim. Kiana memutuskan untuk berjalan-jalan pagi, menikmati lukisan nyata Illahi. Mensyukuri setiap tarikan napas, melepas seluruh beban dan emosi yang sebelumnya menggelayut. Langkah-langkah kecil Kiana yang menguncir rambutnya bagai ekor kuda itu terhenti di depan sebuah gerbang megah, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. Tempat itu berangsur sepi seiring dengan pendaki yang sudah mulai menapaki Rinjani sejak pagi. “Permisi…,” sapa Kiana di loket. “Ada perlu apa?” Kiana agak tercengang. Sungguh dia petugas penjaga loket? Kenapa nada-nada bicaranya terdengar ketus sekali? “Ada yang perlu dibantu?” ulang pria itu acuh sambil berkutat pada laptop. Pria tampan berkenakan seragam khusus tactical hijau army serta celana sejenis dengan warna satu tingkat lebih tua. Dia bagai sebuah karya seni. Tampan sekali. Potongan rambut choppy undercut semakin menambah maksimal sosoknya. Lama tak ada respons dari Kiana, pria itu mengetuk kaca pembatas sebanyak tiga kali untuk menyadarkannya. Mata Kiana mengerjap. “Gian Rimba…?” “Sebenarnya situ mau apa?!” ketus pria tersebut lantas menutupi bordir name tag di seragamnya. “Kami juga sibuk. Silakan kalau ada apa-apa tunggu petugas yang lagi keluar sebentar.” “Apa mungkin kita pernah ketemu?” Gian yang semula tak pernah menatap lawan bicaranya itu berangsur mengarahkan mata padanya. Mereka saling bertatapan dalam beberapa waktu. “Semalam kita sempat bertemu di paviliun.” “Ah…” Kian langsung ingat. “Kata Mbak Hannah, kamu yang punya pavilun. Tapi nama itu… kaya nggak asing.” “Mau lihat-lihat atau naik gunung?” tanya Gian tak mau basa-basi. “Mungkin lain waktu saya akan naik. Saya mau mengunjungi TPU Sembalun.” “Itu jauh. Harus masuk ke dalam Taman Nasional.” “Berarti harus beli tiket?” Pria itu mengangguk seadanya. Kemudian helaan napasnya menghembus pelan. “Nanti saya antar. Jangan sendirian.” “Ah… nggak usah. Saya ajak teman.” Pun Gian juga tak banyak tanya. Ketika ajakannya ditolak juga tidak peduli dan kembali berkutat pada pekerjaannya di depan laptop. Lalu mendadak pergi saat Kiana sedag melihat-lihat sekitar sembari menghubungi teman barunya, mungkin. Mata Kiana berbinar saat panggilannya direspon. “Uhmm… Ini Bayu?” “Oh… Apa ini Kak Kiana?” “Iya, benar. Tadi aku jalan-jalan, terus pas banget berhenti di depan Taman Nasional yang jadi alamat travel kamu.” “Oh… Kita agen yang bekerjasama dengan Taman Nasional, tapi pool kita nggak di sana.” “Oh gitu… Jadi, hari ini kamu bisa jalan? Ini hari sabtu juga kebetulan.” Kiana menghempaskan napasnya yang terdengar sangat berat saat tau bahwa Bayu tak bisa menemaninya di dua hari akhir pekan ini lantaran mengantar-jemput banyak orang. Agak kecewa, tapi masih bisa ditolerir. “Kenapa? Temanmu nggak bisa?” tanya Gian membuat Kiana kaget, tiba-tiba pria itu ada di sampingnya sambil mengenakan berbagai peralatan. Kiana memutar bola matanya jengah. “Nggak juga. Dia agak sibuk.” Ia melirik kegiatan pria itu penasaran. “Kamu mau naik gunung?” “Ada banyak tugas polisi hutan,” jawabnya lagi-lagi tanpa memandangi sang empu. Hanya fokus mengenakan perkakas lengkap. “Tinggal jawab iya apa enggak. Apa susahnya, sih?” gerutu Kiana bersamaan dengan ponselnya yang berdering. Kiana lantas menepi sejenak. “Ya, halo, Ci?” Tubuh Kiana lemas. Ia sampai berjongkok di depan Balai Taman Nasional sambil tertawa setelah mendengar penuturan tim wedding organizer. Lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri yang menjadi bodoh selama lima tahun bersama pria muda itu. Kiana menyekanya. Bangkit, merapikan hoodie-nya. Menyusuri gapura pintu pendakian menuju pemakaman yang ada di dalam hutan kawasan Gunung Rinjani pada pagi menjelang siang itu tanpa peralatan karena ia pikir tidak jauh dan ia juga tidak sedang benar-benar mendaki. Hampir 90 persen pendaki Gunung Rinjani tercatat masuk melalui pintu ini. Kiana juga melenggang bersama beberapa pendaki lain. Tak selalu beriringan. Pada akhirnya Kiana berpisah dengan pendaki lain karena berbeda arah. Menurut informasi yang ia dapat dari warga setempat, setelah pos satu, ia berbelok ke kiri. Katanya lima ratus meter dari pos, akan menemukan pemakaman. Sayangnya mendadak pandangan Kiana mengabur saat berada di antara hamparan padang savanna yang luas, di bawah terik matahari yang menyengat. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Hhh… “Kenapa ini?” Kiana melanjutkan langkahnya untuk setidaknya mencari tempat teduh. “Aakh!” teriaknya saat terperosok tanah yang amblas. Kemudian Kiana membelalak saat tangannya tertarik oleh sesuatu. Ia menoleh. “Uhm? Gian?” “Udah dibilang jangan berangkat sendirian!” pekik pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD