Kejadian yang Terulang

2264 Words
Dengan langkah gontai Dara berjalan menaiki tangga untuk menuju kamar sang tuan. Sepanjang perjalanan, ia hanya terus berdoa semoga Tuhan berbaik hati padanya sehingga pekerjaan yang akan Bram perintahkan, hanya pekerjaan normal pada umumnya. Kini ia sudah berdiri tepat di depan pintu kamar ber-plitur coklat tua tersebut. Tampak gagah, segagah pemilik yang ada di dalam. Dara menarik napas, kemudian mengembuskannya kasar. Masih melapazkan doa sebelum ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Dara mengangkat tangan dan mengetuk daun pintu tersebut. Sekarang ia tinggal menunggu jawaban dari sang empu kamar. Tak diduga, bukan jawaban yang Dara dengar, tetapi terbukanya daun pintu itu dari dalam. Tampak sosok lelaki tampan dengan pakaian kerja yang masih lengkap di tubuhnya, memandang Dara dalam diam. "Selamat malam, Tuan Lian. Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Dara basa basi. Gadis itu sengaja mengulur waktu, berharap lelaki di depannya saat ini lupa akan perintah yang diberikan sang tuan. "Masuk! Tuan Bram sudah menunggumu dari tadi," ucap sang asisten pribadi tersebut. "B—baik." Pupus sudah harapannya untuk lari dari tugasnya malam itu. Entah apa yang akan Bram perintahkan padanya di malam yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan itu. Lian berjalan lebih dulu meninggalkan Dara yang lagsung tertunduk lesu. Segaris senyum tipis terbentuk di bibir lelaki itu. Tak terpikirkan olehnya jika tuannya yang selama ini begitu anti dan jijik terhadap sosok makhluk bernama perempuan, bisa dengan mudah tertarik pada gadis yang kini sudah berstatus janda tersebut. Tak ada yang istimewa yang Lian lihat dari sosok Dara, hanya wajahnya saja yang mungkin memang cantik, khas seorang gadis lugu pada umumnya. Entah memang gadis itu lugu atau memang sikap lugunya itu ia buat-buat, Lian belum menyelidikinya sampai sejauh itu. Selain Bram tidak memintanya, juga ia berpikir Dara tak akan bertingkah macam-macam di bawah kendali mereka. Bram memang memiliki penyakit. Apa betul itu kelainan atau bukan, tetapi Bram akan berubah emosi jika ada wanita yang dekat dengannya. Berawal dari merasakan mual saat berdekatan dengan wanita manapun juga, kemudian saat ia memaksakan diri untuk tetap bertahan, jiwanya seakan mendadak emosi. Itulah mengapa ketika ia dijodohkan dengan Jeny, wanita pilihan kedua orang tuanya dulu, Bram mencoba menyetujui dan berusaha untuk melawan penyakit yang dialaminya itu. Lian sangat tahu dan ingat sekali ketika Bram selalu mencoba untuk melakukan pendekatan terhadap Jeny —begitu pun sebaliknya. Mendapatkan seorang lelaki tampan dan kaya raya yang sudah lama ia sukai, tentu Jeny tak mungkin melewatkan kesempatan yang ada. Jeny yang tahu perihal penyakit yang dialami oleh Bram mencoba untuk memancing dan menggoda sang suami dengan caranya. Merasa selama ini menjadi seorang primadona serta wanita sosialita yang disukai banyak lelaki dari berbagai kalangan, baik pengusaha atau pun kalangan selebritas, Jeny merasa jika Bram juga akan terpikat padanya. Dengan bermodalkan tubuhnya yang seksi dan indah, wajahnya yang cantik sebab perawatan mahal yang mampu dirinya serta keluarga berikan, Jeny mencoba untuk membuat sang suami bertekuk lutut padanya. Namun, berkali-kali Jeny mencoba, tetap saja hasilnya nihil. Awalnya Bram memang cukup tertarik pada istrinya. Sebagai lelaki normal ia terpesona akan penampilan sang istri yang menggodanya dengan pakaian minim dan seksi, tetapi begitu kontak fisik baru akan mereka lakukan gejala itu kembali timbul. Tak jarang Bram akan berteriak frustrasi jika penyakitnya itu muncul. Ia sungguh merasa bersalah pada istrinya tersebut. Ia pun akhirnya meminta sang istri untuk tetap bersabar dalam melakukan pendekatan padanya. Tapi, Jeny rupanya tak sabar, dua tahun membina kehidupan berumah tangga, wanita itu berselingkuh dengan pengawal pribadi suaminya. Pengawal yang begitu Bram percaya, terpikat oleh rayuan yang istrinya berikan. Saat itu juga Bram mengusir keduanya. Ucapan talak langsung Bram lontarkan dan tak menunggu waktu lama, proses gugatan perceraian ia layangkan pada sang istri di pengadilan. Lima tahun sudah berlalu. Bram kini hidup menyendiri. Lian tahu tuannya itu kesepian. Papanya sudah meninggal tak lama setelah ia bercerai dengan Jeny. Memegang tampuk kepemimpinan dengan banyaknya perusahaan yang papanya wariskan, membuat Bram menjadi sosok yang pendiam dan mengubahnya menjadi pribadi yang arogan dan dingin. Tapi kini, hal aneh Lian rasakan. Mengapa Bram tidak merasa jijik pada Dara? Mengapa ia tak mendengar ada keluhan yang Bram ceritakan setelah keduanya berduaan di kamar waktu pagi tadi. Malah yang ia lihat, tuannya itu lebih banyak melamun saat di kantor, dan sesekali tersenyum tanpa sebab. "Tuan, gadis itu sudah datang." Lian menunduk hormat pada lelaki yang masih mengenakan pakaian lengkap kantoran, dari jas hingga dasi masih melekat di tubuhnya yang begitu sempurna. Setidaknya itu gambaran yang saat ini bersarang di otak Dara. "Ehm!" Respon yang Bram berikan dengan hanya melirik sekilas ke arah Lian dan Dara. Gadis itu selalu merutuki kebodohannya yang selalu tak tahan jika melihat lelaki itu. Tak bisa dipungkiri, Dara adalah gadis yang normal, melihat Bram yang masih tampan di usianya yang sudah menginjak angka empat puluh tahun, ditambah tubuh atletis-nya yang begitu terjaga, membuat gadis itu terpesona akan penampilannya. Apalagi setelah peristiwa tadi pagi di dalam kamar mandi kamar ini, Dara terus saja membayangkan kejadian itu berulang-ulang. Kini, ia kembali dipaksa untuk melakukan apalagi, ia tak ingin membayangkannya. "Kalau begitu saya pamit pulang, Tuan." "Ya. Terima kasih untuk hari ini, Lian." Lian pun mengangguk hormat. Tuannya itu selalu saja bersikap demikian. Tak pernah merasa dirinya sebagai seorang atasan yang harus anak buahnya hormati dan junjung tinggi. Lelaki itu akan bersikap rendah hati di manapun dan kapan pun. Tapi, hanya pada lelaki saja, beda pasal jika urusannya dengan wanita. Lian pun pergi meninggalkan kamar sang tuan. Tak lama terdengar di telinga Dara suara pintu yang ditutup. Gadis itu masih mematung di tempatnya berdiri sejak masuk ke dalam kamar sang tuan. Bram yang masih duduk di atas sofa ujung tempat tidur dengan sikapnya yang begitu berwibawa, menatap Dara begitu intens. Tak tahu bagaimana harus bersikap, Dara memilih diam dan terus menunduk, seolah kakinya saat ini adalah pemandangan indah yang sayang untuk ia lewatkan. "Aku mau mandi. Siapkan air hangat!" perintah Bram yang langsung membuat Dara merasakan lemas di kedua kakinya. "B—baik, Tuan!" Tak ingin berdebat untuk kali ini, Dara memilih mengiyakan dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Bram tersenyum melihat sikap terburu-buru gadis itu. Mainan barunya sungguh membuat ia merasakan kebahagiaan, di tengah pikirannya yang gundah sebab sudah beberapa hari sang bunda sakit. Tentu Bram terhibur dengan adanya Dara di rumah besarnya itu. Tak lama kemudian, gadis itu pun keluar dari dalam kamar mandi. Dengan wajahnya yang terus menunduk, Dara menyampaikan tugasnya yang sudah dilakukan. "Anda sudah bisa mandi sekarang, Tuan. Air hangatnya sudah siap di dalam bathtub," ucap Dara masih dengan wajahnya yang menunduk. "Bantu aku melepaskan semua pakaianku!" perintahnya lagi yang kembali membuat Dara tak berdaya. "Baik," ucap Dara lirih. Gadis itu berjalan mendekat. Berdiri tepat di depan Bram, kemudian mengulurkan tangannya untuk melepaskan jas yang masih menempel di tubuh lelaki itu. Bram sudah merentangkan kedua tangannya untuk memudahkan Dara melepaskan jas tersebut. Setelah itu Dara melepaskan dasi di leher Bram. Mau tak mau jarak keduanya harus dekat, sedekat jarak yang mampu membuatnya tak sanggup bernapas. Awalnya Dara akan bersikap biasa, tetapi karena Bram menatap terus wajahnya, membuat gadis itu canggung dan kikuk. "Apakah pernah ada yang bilang jika wajahmu itu terlihat kampungan?" cetus Bram tiba-tiba, membuat Dara terdiam di tengah usahanya melepas ikatan dasi dan menarik kain lurus bermotif tersebut dari leher lelaki itu. "T—tidak ada, Tuan. Baru Anda saja," jawab Dara sedikit kesal. Sebisa mungkin ia bersikap sopan meski hatinya dongkol bukan main. "Pantas saja." "Apa maksudnya?" tanya Dara dalam hati. "Sudah, Tuan." Dara memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya dan berharap sudah boleh pergi dari kamar itu. "Apanya yang sudah? Ini kemeja dan celana masih menempel di tubuhku." "T—tuan, bukankah Anda bisa melepas semua pakaian itu sendiri?" tanya Dara memberanikan diri. "Aku memang bisa. Tapi aku mau kali ini kamu yang melepasnya. Bukankah tadi pagi aku sudah mengatakannya padamu? Mulai hari ini dan seterusnya, kamu akan membantuku menyiapkan semua keperluanku selama di rumah. Apakah kamu mengerti?" Bram menatap tajam Dara yang masih berdiri di depannya. Melihat wajah gadis itu yang kini balas menatapnya dengan bulu mata yang sesekali mengerjap lucu, membuat Bram seolah ingin menerjang sang gadis saat itu juga. "S—saya mengerti, Tuan." Dara kembali mengiyakan perintah Bram padanya. Satu persatu kancing kemeja itu ia lepas. Masih diiringi tatapan intim yang Bram berikan, membuat Dara merasakan debaran di dalam hatinya secara tiba-tiba. "Tuhan! Ada apa dengan hatiku? Mengapa debaran ini semakin menjadi dan tak ingin berhenti," batin Dara. Jujur saja ia malu. Mengapa Bram terus saja menatapnya seperti itu. Apa ada yang salah dengan wajahnya sehingga membuat lelaki itu tak lepas memandang. Setelah berhasil melepas semua kancing kemeja, Bram merentangkan lagi kedua tangannya. Dara pun kemudian melepaskan kemeja putih itu dari tubuh sempurna milik Bram. Ya, sempurna tentu saja. Saat ini di depan wajah Dara, terlihat d*da bidang yang membentuk tonjolan kotak di sekitar area perutnya. "Bagaimana bisa di usianya yang sudah tidak lagi muda, lelaki ini memiliki tubuh tak kalah dengan pemuda lainnya?" batin Dara. Tanpa sadar, Dara malah mengulurkan tangannya dan menyentuh perut yang begitu indah di matanya tersebut. Bram tentu saja terkejut atas aksi yang Dara lakukan, tetapi kemudian ia malah diam dan membiarkan gadis itu menyentuh dan merabanya. Aneh bagi Bram sendiri, mengapa ia tidak merasa mual bila berdekatan dengan Dara. Sejak peristiwa di kamar mandi tadi pagi, sebenarnya Bram sudah bertanya-tanya, tetapi ia masih diam tak ingin bercerita pada siapa pun termasuk pada Lian —sang asisten pribadi. Kini hal itu kembali terjadi, gadis itu begitu dekat dengannya amat dekat. Bahkan saat ini tubuhnya dengan kurang ajar gadis itu sentuh. Tapi tak ada kejadian apapun yang tubuhnya rasakan. Tak ada respon apapun atas aksi Dara padanya. Malah perasaan berdebar hadir tanpa ia minta "Eh, maaf, Tuan Bram. Maaf, saya tidak bermaksud kurang ajar pada Anda!" pekik Dara begitu sadar. Gadis itu dengan cepat menarik tangannya dari tubuh Bram, lalu menutup mulutnya dengan wajah yang menampilkan permohonan maaf yang amat sangat. "Hem!" Hanya itu yang terucap dari mulut Bram. Padahal sejatinya ia tengah menutupi perasaan yang saat ini bergejolak di dalam d*danya. "T—tuan, apakah celananya juga?" tanya Dara dengan wajah memelas. Bram tahu Dara enggan untuk melakukan hal itu, tetapi entah mengapa lelaki itu malah sengaja ingin mempermainkan sang gadis. "Ya!" Dengan berat hati Dara mengulurkan tangan untuk melepas ikat pinggang berlogo merk mahal tersebut. Setelahnya, ia menurunkan celana itu dari posisinya. Tubuh lelaki itu benar-benar membuat Dara takjub. Berkali-kali ia harus menggelengkan kepala demi menghilangkan fantasi liar yang kembali hadir di pikirannya. Selesai melepaskan celana panjang yang melekat di tubuh Bram, Dara berdoa semoga lelaki itu menghentikan perintah anehnya. Tak bisa ia bayangkan pemandangan gila tadi pagi kembali harus ia lihat saat ini. Tuhan rupanya mendengar doa Dara kali ini, sebab tanpa mengatakan apapun lagi Bram langsung berjalan menuju kamar mandi. "Selamat!" gumam gadis itu sambil mengusap depan d*danya. Niat hati ingin kembali ke kamarnya setelah perintah Bram ia laksanakan, tetapi urung Dara lakukan ketika lelaki itu berteriak dari dalam kamar mandi. "Siapkan pakaian tidur! Setelah itu tunggu aku. Jangan ke mana-mana sebelum aku selesai!" Dara yakin sekali ucapan Bram ditujukan padanya, sebab tak ada lagi orang lain di kamar itu selain dirinya. Tak menjawab, Dara memilih langsung menuju walk in closet untuk menyiapkan pakaian tidur Bram. "Lelaki itu sepertinya adalah pribadi yang simple. Banyaknya koleksi pakaian tidur miliknya, hanya ada satu jenis model dan dua warna saja," gumam Dara begitu membuka lemari besar berkaca yang berisi pakaian tidur sang tuan. Dara pun mengambil satu set piyama berwarna hitam dari dalam lemari. Lalu menaruhnya di atas sebuah laci kaca dengan segala aksesoris penunjang khusus pria di dalamnya. Lalu, Dara mengambil pakaian dalam milik Bram yang ada di laci kaca besar lainnya. "Sepertinya sudah cukup. Kalau begitu aku tunggu saja di luar," ucap Dara pada dirinya sendiri. Tubuhnya baru akan berbalik ketika ia malah menubruk tubuh Bram yang sudah selesai mandi dan ternyata berdiri di belakangnya tanpa suara. "Arkh!" Dara hampir saja terjatuh jika Bram tidak segera menangkap tubuhnya. Sesaat keduanya saling terpaku ketika jarak di antara mereka telah terkikis. Kedua manusia berlainan jenis itu sama-sama merasakan debaran di dalam d*da. Jantung keduanya berpacu cepat ketika kedua mata saling menatap. Entah dorongan dari mana, Bram tiba-tiba mendekatkan wajah dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Dara. Gadis itu pun membelalakan kedua mata karena terkejut. Keinginannya yang ingin mendorong tubuh Bram dan menarik wajahnya dari sang tuan, urung Dara lakukan sebab terbuai dengan ciuman lembut di bibirnya. Hingga tanpa sadar, kini Dara sudah merangkulkan tangan di leher Bram. Bram sendiri tak menyadari akan aksinya yang sama sekali tidak menimbulkan efek penyakit yang selama ini dideritanya. Mendapat respon positif dari sang gadis, ciuman lembut itu berubah sedikit liar dan panas. Suara lenguhan keluar dari mulut Dara begitu ciuman itu semakin dalam. Gadis itu malah memberikan akses bagi Bram untuk mengecap area dalam mulutnya. Membiarkan lelaki itu melumat dari mereguk habis apa yang lidahnya sentuh. Hingga akhirnya Bram melepaskan pagutan itu ketika dirasa sang gadis hampir kehilangan pasokan udara. "Ah, Tuan!" Dara menutup mulutnya. Wajahnya tampak merasa bersalah. Ia merutuki kebodohannya dengan membiarkan lelaki itu menikmati bibirnya, dan malah ikut terhanyut dalam permainan lidah yang tuannya lakukan. "M—maaf!" Dara meminta maaf meski ia tak tahu di mana letak kesalahannya sebab bukan dirinya yang mengawali. Dilihatnya wajah Bram yang sudah berkabut gairah, tetapi berusaha menahan h*srat yang bergejolak di dalam dirinya. Dara akhirnya memutuskan untuk pergi dari kamar sang tuan. Ia terlampau malu sebab ikut menikmati ciuman panas yang Bram lakukan. "Maaf, Tuan, kalau begitu saya permisi. Oh iya, pakaian tidur Anda sudah saya siapkan." Tanpa menunggu reaksi Bram, Dara segera berjalan cepat meninggalkan tuannya yang masih diam dan membeku di tempatnya. "Apa yang sudah aku lakukan?" gumam Bram yang kemudian menutup wajahnya kesal. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD