Labirin Kebohongan

1297 Words
Perjalanan ke Bandung sore itu terasa lebih lambat dari biasanya. Brie sengaja tidak menggunakan Alphard dan Pak Pras; ia menyetir sendiri sedan miliknya yang lebih "low profile". Ia butuh jarak dari Jakarta, dari Baskara, dan dari rasa paranoid yang terus menghantuinya. Ia butuh menjadi Brie yang dulu, meski ia tahu Brie yang itu sudah lama mati sejak ia menandatangani kontrak pertama dengan dunia gelap itu. Mobilnya berhenti di depan sebuah rumah bergaya lama namun terawat di daerah perumahan asri yang tenang. Di bagian depan rumah itu, terdapat sebuah plang kayu yang catnya mulai mengelupas bertuliskan: Toko Buku & Alat Tulis Anindita". Itu adalah usaha Bapak yang sudah menghidupi keluarga mereka selama dua puluh lima tahun—sebuah toko yang menjual buku tulis, alat kantor, dan foto copy. Brie turun, menghirup dalam-dalam udara Bandung yang lebih dingin dan bersih. Ia melihat sosok pria tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya sedang membongkar kardus berisi stok buku gambar. Itu Bapak. Pria yang rela tidak membeli baju baru bertahun-tahun demi bisa membiayai Brie yang waktu itu mendapatkan beasiswa tak penuh di salah satu kampus di Melbourne. "Bapak," panggil Brie lembut. Pria itu menoleh, matanya yang mulai rabun berbinar seketika. "Loh, Brie! Kok nggak bilang mau pulang?" Bapak segera mengelap tangannya yang berdebu ke celana kainnya yang sudah pudar warnanya, lalu memeluk putri sulungnya dengan erat. Di dalam rumah, aroma masakan Ibu-sayur lodeh dan ikan gurame goreng-menyambutnya. Ibu, seorang mantan guru sekolah dasar yang sudah pensiun, langsung sibuk di dapur begitu melihat Brie datang. Brie duduk di sofa baru yang ia belikan bulan lalu. Sedangkan Bapak langsung mengambilkan teh hangat untuknya. "Bapak senang sekali kemarin lihat kamu di TV lagi bagi-bagi sembako di panti asuhan," ucap Bapak sambil meletakkan teh itu di depan Brie. "Bapak bangga sekarang kamu sudah jadi orang sukses." Bapak tersenyum, sorot kebanggaan tampak kentara di mata tuanya. Dada Brie terasa sesak setiap kali Bapak mengucapkan kata itu. Ia membayangkan bagaimana kecewanya Bapak jika tahu yang ia lakukan selama ini sangat jauh dari kata membanggakan. "Brie, Ibu tadi udah terima transferan buat bulan ini. Tapi kok... banyak sekali?" Suara Ibu menginterupsi lamunan Brie. "Kamu nggak usah terlalu memaksakan diri buat kirim uang terus. Simpan buat tabunganmu nanti," lanjutnya sambil meletakkan pisang goreng hangat di meja. "Nggak apa-apa, Bu. Brie mau Bapak sama Ibu nggak usah mikirin uang lagi. Nikmatin aja masa tua, ya? Jangan khawatirin Brie," ucap Brie sambil menggenggam tangan wanita itu untuk meyakinkannya. "Uang sudah banyak, usaha sudah maju, kapan kamu bawa calon ke rumah?" Tanya Ibu sambil menata bantal di sofa, nadanya penuh selidik khas ibu-ibu yang sudah ingin menimang cucu. "Usia kamu itu sudah mau tiga puluh lho. Jangan terlalu kerja terus." Brie menghela napas, menahan diri untuk tidak mengoreksi kalau usianya baru dua puluh delapan-usia yang menurut standar Melbourne masih sangat muda, tapi menurut standar Ibunya di Bandung sudah masuk zona merah. "Iya, Bu... ini sebenarnya sudah ada yang dekat. Masih tahap penjajakan aja, orangnya sibuk juga kayak Brie," bohongnya lancar, hanya supaya Ibunya berhenti bertanya. Wajah Ibu langsung cerah. "Wah, syukur kalau begitu! Orangnya baik kan? Kerjanya apa? Nanti kalau sudah mantap, bawa ke sini ya, Bapak sama Ibu pengen kenal." Brie hanya bisa mengangguk kaku sambil tersenyum palsu. Dalam hatinya, ia merasa lelah. Bagaimana mungkin ia bisa menjalin hubungan serius sementara hidupnya adalah tumpukan rahasia? Siapa yang mau menikah dengan wanita yang tasnya penuh dengan burner phones dan kepalanya penuh dengan rute pelarian? Namun, demi melihat binar bahagia di mata Ibunya, Brie rela menambah satu lagi daftar kebohongan dalam hidupnya. Bapak tersenyum lebar, ada rona bahagia di wajah tuanya yang lelah. "Bapak selalu tahu, sekolah tinggi-tinggi ke luar negeri itu tidak akan sia-sia. Bapak sama Ibu cuma modal doa dan banting tulang dikit, tapi hasilnya... kamu jadi orang hebat." Kalimat 'jadi orang hebat' itu membuat Brie ingin menangis saat itu juga. Ia hebat dalam hal yang salah. Ia mengkhianati nilai-nilai yang diajarkan Bapak demi tumpukan angka di rekeningnya. Namun, setiap kali ia melihat punggung Bapak yang semakin membungkuk saat melayani pembeli di toko buku itu, tekadnya kembali mengeras. Ia tidak mau kembali ke hidup pas-pasan. Ia akan melakukan apa pun asalkan orang tuanya bisa tidur nyenyak tanpa harus memikirkan harga sembako atau biaya listrik esok pagi. *** Malam itu, saat ia berbaring di kamar masa kecilnya yang sempit, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel rahasianya. Baskara: Jet sudah siap di Halim. Besok malam jam 10. Jangan terlambat. Zurich menunggu. Brie menatap langit-langit kamarnya. Ia sedang berada di antara dua dunia: rumah yang hangat namun statis, dan Jakarta yang dingin namun menjanjikannya kuasa. Ia menutup mata, membayangkan wajah Bapak yang bangga tadi. "Maafin Brie, Pak..." batinnya pedih sebelum akhirnya terlelap dalam kegelisahan. *** Keesokan harinya, tepat pukul lima sore, Brie meninggalkan Bandung. Ia langsung menuju Bandara Halim. Hampir jam sebelas saat Brie akhirnya masuk ke kabin jet pribadi yang mewah itu. Aroma kulit jok yang mahal dan dinginnya pendingin udara langsung menyambutnya. Ia adalah penumpang satu-satunya. Saat pesawat bersiap lepas landas, ponsel rahasia Brie bergetar. Sebuah file PDF masuk dari nomor anonim, berisi detail kontak orang yang akan menjemputnya di Zurich Airport. Brie menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu Jakarta yang perlahan mengecil dan meredup saat pesawat mulai lepas landas menembus langit malam. Ini bukan sekadar perjalanan bisnis. Ini adalah misi penyelamatan aset-dan nyawanya sendiri. Brie tahu, begitu roda pesawat ini menyentuh aspal Swiss, tidak ada lagi jalan untuk berbalik. Entah dia akan kembali sebagai pemenang, atau namanya akan hilang selamanya di balik dinginnya pegunungan Alpen. Sepuluh jam di atas awan terasa seperti keabadian bagi Brie. Ia tidak bisa tidur nyenyak; setiap guncangan kecil turbulensi membuatnya terjaga, tangannya secara refleks mendekap Hermes Birkin-nya. Di ketinggian itu, ia merasa benar-benar sendirian. Tidak ada sinyal, tidak ada pengawal, hanya ada dia dan ribuan skenario buruk di kepalanya. Saat roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Zurich, matahari baru saja mulai mengintip di balik pegunungan Alpen. Udara musim dingin yang menusuk tulang langsung menyambutnya begitu pintu pesawat terbuka. Brie merapatkan blazer hitamnya, melangkah turun dengan koper kabin kecil yang berisi barang-barang paling berharganya. "Selamat datang di Zurich, Ibu Brianna," sapa seorang petugas bandara dengan aksen Jerman yang kental. Pemeriksaan paspor di terminal VIP berjalan jauh lebih cepat dan tenang. Di sini, orang-orang seperti Brie adalah hal biasa. Orang-orang yang membawa rahasia besar di dalam koper mereka. Begitu keluar dari pintu kedatangan, mata Brie langsung memindai seorang pria tinggi dengan mantel wol abu-abu gelap berdiri tanpa ekspresi. Di tangannya ada papan kecil bertuliskan: B.A.-inisial Brianna Anindita. "Viktor?" tanya Brie, menghampiri pria itu. Pria itu mengangguk singkat. "Mobil sudah di depan. Kita tidak punya banyak waktu sebelum bank buka," ucapnya dengan suara rendah dan berat. Viktor mengambil alih koper Brie dan menuntunnya menuju sebuah Mercedes-Benz hitam yang terparkir di area khusus. Di dalam mobil, suhu hangat segera memeluk tubuh Brie, tapi suasana di dalam kabin tetap terasa beku. Viktor tidak banyak bicara, ia fokus mengemudi membelah jalanan Zurich yang bersih dan tertib. "Baskara bilang Anda membawa 'kunci' untuk akun nomor 909," ucap Viktor tanpa menoleh, matanya tetap menatap jalanan yang mulai ramai oleh penduduk lokal yang berangkat kerja. Brie terdiam sejenak. Akun 909 adalah akun yang paling sensitif, tempat di mana aset-aset utama para klien besar Baskara disimpan. "Kuncinya aman bersamaku. Tapi aku butuh verifikasi langsung di lokasi sebelum menyerahkan apa pun." Viktor hanya mendengus kecil, seolah meremehkan sikap hati-hati Brie. "Di sini, aturan mainnya berbeda dengan Jakarta, Brianna. Di Zurich, uang tidak bersuara. Begitu juga orang-orangnya. Kalau Anda membuat kesalahan kecil saja, sistem akan langsung mengunci Anda selamanya." Brie hanya diam. Ia menatap deretan bangunan tua berasitektur indah di sepanjang Limmat River. Kota ini terlihat sangat tenang, sangat damai, seolah tidak ada kejahatan yang pernah terjadi di sini. Tapi Brie tahu, di balik dinding-dinding batu bank yang kokoh itu, terkubur dosa-dosa besar dari seluruh dunia, termasuk dosanya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD