Operasi Pengalihan

723 Words
Tiga hari terakhir adalah siksaan mental yang luar biasa bagi Brie. Ia merasa setiap pasang mata di jalanan, setiap lensa kamera paparazi yang tidak sengaja lewat, hingga kurir paket yang berhenti di depan lobi apartemennya adalah mata-mata yang siap menyergapnya. Perasaan paranoid itu membuatnya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat drastis: ia menghentikan semua aktivitas digital kotornya. Tidak ada transfer antar bank, tidak ada akses ke akun Cayman, dan tidak ada komunikasi dengan Mr. Kho. Brie memilih untuk menghilang, namun bukan ke dalam kegelapan, melainkan langsung ke bawah lampu sorot publik. "Guys! Hari ini aku seneng banget karena akhirnya proyek 'Brianna Share' bisa jalan juga," ucap Brie dengan senyum paling tulus yang bisa ia buat di depan kamera ponselnya yang terpasang pada tripod. Ia sedang berada di sebuah panti asuhan di kawasan Jakarta Selatan. Wajahnya dipulas make-up tipis bernuansa nude yang memberikan kesan rendah hati dan tulus. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana bahan, jauh dari kesan sosialita glamor yang biasa ia tunjukkan. Di belakangnya, puluhan tas sekolah dan tumpukan sembako bertumpuk rapi dengan stiker logo namanya yang didesain estetik. Brie sengaja mengundang beberapa media gosip dan akun pemberitaan viral untuk meliput kegiatannya. Ini bukan sekadar amal; ini adalah perisai. Jika otoritas ingin menangkapnya, mereka harus berhadapan dengan narasi publik bahwa mereka sedang mencoba menjatuhkan seorang selebriti dermawan atau 'Malaikat Sosialita'. "Aku ngerasa, apa yang aku dapet selama ini harus aku bagi lagi ke mereka yang butuh," lanjutnya sambil membagikan amplop berisi uang tunai kepada pengurus panti. Uang di dalam amplop itu adalah uang "panas" sisa operasional kemarin yang belum sempat ia cuci lewat sistem digital. Membagikannya secara tunai dalam bentuk donasi massa adalah cara tercepat untuk melenyapkan bukti fisik tanpa memicu kecurigaan bank. Selesai acara di panti, Brie melanjutkan agendanya ke sebuah acara galeri seni untuk penggalangan dana kanker. Di sana, ia bertemu dengan deretan artis dan sosialita papan atas. Ia sengaja tampil sangat vokal, tertawa keras, dan mengambil banyak foto bersama istri-istri pejabat penting yang hadir. "Brie, kamu kok tumben aktif banget minggu ini? Kayaknya jadwalnya padat terus sama acara sosial," tanya seorang rekan influencer sambil menyesap sampanye. "Lagi pengen produktif aja, Sayang. Hidup kan nggak cuma soal shopping, harus ada manfaatnya juga buat orang lain," jawab Brie lantang, memastikan suaranya terdengar oleh dua pria tegap yang berdiri di pojok ruangan-pria-pria yang ia curigai sebagai penguntitnya sejak keluar dari ruko Mr. Kho. Dari sudut matanya, Brie memperhatikan salah satu pria itu yang terus-menerus mengecek ponselnya. Mereka mungkin sudah menyiapkan laporan tentang aktivitas mencurigakan Brie. Tapi sekarang yang mereka lihat hanyalah seorang wanita muda yang sedang sibuk beramal. Brie sedang mengacak-acak profil dirinya. Namun, di tengah keriuhan itu, ponsel di saku Brie bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar. Bukan pesan rahasia dari Baskara, melainkan sebuah peringatan keamanan bank yang menunjukkan adanya percobaan transaksi di sebuah toko perhiasan di London menggunakan kartu kredit cadangannya. Brie tertegun. Ia tidak sedang di London, dan kartu itu adalah kartu yang ia sembunyikan untuk keadaan darurat. Seseorang sedang mencoba meretas akunnya, atau lebih buruk lagi, seseorang sedang memancingnya untuk masuk ke dalam sistem agar lokasi digitalnya bisa dikunci. "Brie? Kamu nggak apa-apa? Kok pucat?" tanya influencer itu. "Eh, nggak apa-apa. Cuma agak pusing, kayaknya kurang tidur karena persiapan acara amal kemarin," Brie memaksa sebuah tawa kecil yang terdengar garing. Ia segera pamit menuju toilet. Di dalam bilik yang tertutup rapat, ia menarik napas panjang, mencoba menekan rasa mual yang tiba-tiba muncul. Operasi pengalihan isunya berhasil di mata publik, tapi tidak di dunia bayangan. Musuhnya tidak lagi hanya mengikuti secara fisik; mereka mulai menyerang 'brankas' digitalnya. Brie menyadari satu hal pahit: di dunia pekerjaannya ini tidak ada istilah kawan. Semua orang harus dicurigai, bahkan bayangannya sendiri. Pikirannya tertuju pada sosok Baskara. Ia mengenal pria itu bertahun-tahun lalu saat ia masih menjadi teller di sebuah bank swasta, dan Baskara adalah nasabah prioritas yang selalu ia layani. Baskara-lah yang menariknya keluar dari sana. Brie memang merasa berutang budi, tapi ia juga tidak bodoh. Ia tahu betul betapa licinnya Baskara; pria yang bisa menyulap angka miliaran hilang dalam sekejap tentu bisa dengan mudah melenyapkan nyawa orang yang tidak lagi berguna baginya. Ada rasa takut yang merayap di d**a Brie bahwa selama ini ia hanyalah bidak yang digunakan, tameng terdepan Baskara. Ia harus segera menghubungi pria itu. Bukan untuk minta bantuan, tapi untuk memastikan apakah 'bos'-nya itu masih berada di pihaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD