Operasi Pencucian

1378 Words
Jam digital di atas meja kerja Brie menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Suasana apartemen yang biasanya terasa megah dan hangat, kini terasa mencekam dalam kesunyian yang hanya dipecah oleh bunyi klik mouse yang ritmis. Cahaya biru dari tiga monitor besar terpantul di wajah Brie, mempertegas lingkaran hitam di bawah matanya yang mulai tampak jelas meski ia sudah rajin menggunakan krim mata termahal setiap malam. Di depannya, sebuah spreadsheet raksasa menampilkan ribuan baris data yang terus bergerak. Setiap baris mewakili satu transaksi kecil, mulai dari lima ratus ribu hingga satu juta rupiah. "Baru tiga miliar yang terverifikasi," gumam Brie sambil menyeruput kopi hitam dingin yang sudah terasa pahit dan asam di lidahnya. Tugasnya malam ini adalah memastikan uang lima miliar milik pejabat daerah bernama Hermawan itu, masuk ke dalam sistem tanpa memicu 'bendera merah' di otoritas keuangan. Uang itu sudah disebar tim lapangan Baskara lewat ribuan akun e-wallet yang kartunya baru saja dibeli Brie di ITC siang tadi. Sekarang, tugas Brie adalah mengonsolidasikan uang-uang "kecil" itu ke satu rekening penampungan sebelum diteruskan ke luar negeri. Menggunakan jaringan VPN berlapis, jemari Brie menari di atas keyboard dengan cepat. Namun, tiba-tiba layar menampilkan notifikasi: Transaction Denied: Account Flagged. Sesaat jantung Brie berhenti berdetak. "Sial," umpatnya pelan. Salah satu akunnya di bank swasta mendeteksi aktivitas tak wajar. Jika dia salah langkah dalam lima menit ke depan, seluruh jaringan transaksi malam ini bisa terbongkar dan rekening itu akan diblokir permanen. Dengan tenang namun cepat, Brie segera "mengalihkan" aliran uang itu ke jalur cadangan melalui toko online fiktifnya yang lain—kali ini sebuah toko yang menjual 'Jasa Konsultasi Pajak' palsu. Sangat ironis, ia menggunakan istilah pajak untuk mencuci uang hasil korupsi yang seharusnya masuk ke kas negara. Sambil menunggu proses berjalan, Brie menyandarkan punggungnya ke kursi ergonomisnya. Ia memandang ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang mulai meredup. Ia merasa seperti seorang dirigen orkestra di tengah panggung gelap, namun musik yang ia mainkan adalah simfoni kotor yang jika salah satu nada meleset sedikit saja, ia akan berakhir di balik jeruji besi. Ponsel di sampingnya tiba-tiba bergetar kuat. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke aplikasi rahasianya. Unknown: 'Lalat' mulai terbang di sekitar Senopati. Bersihkan jejak digitalmu dalam 30 menit. Brie langsung terduduk tegak. Pesan itu singkat, tapi maknanya mematikan: dia sedang dipantau. Siapa yang mengirim pesan ini? Baskara? Atau orang lain yang ingin menjatuhkannya? Rasa lelahnya hilang seketika, digantikan oleh adrenalin yang memuncak. Ia tidak boleh panik. Ia segera mengaktifkan protokol penghapusan riwayat otomatis. Satu per satu, jejak transaksi itu pun lenyap. Tepat pukul empat pagi, baris terakhir di spreadsheet-nya berubah menjadi warna hijau. Lima miliar sudah 'bersih' dan tersimpan rapi di sebuah akun anonim di Kepulauan Cayman, siap untuk dipindahkan ke Zurich minggu depan. Brie menutup laptopnya, lalu berjalan menuju dapur dengan langkah gontai, meneguk segelas air es untuk mendinginkan sarafnya yang tegang. Ia melihat tangannya sedikit gemetar. Ini adalah jumlah terbesar yang pernah ia tangani sendirian hanya dalam satu malam. Baskara memang b******k. Ia kembali ke kamar tidur, namun tidak langsung berbaring. Ia membuka brankas tersembunyi di balik lukisan abstrak di dindingnya. Di sana, tersimpan paspor keduanya atas nama 'Lyra Anindita'—nama adiknya—namun dengan foto dirinya yang menggunakan wig dan kacamata. Itu adalah senjata SOS yang disiapkan Brie jika sesuatu terjadi padanya. Sambil berbaring di kasurnya yang sangat empuk, Brie membuka sebuah notifikasi DM yang masuk sejak semalam. Dari akun centang biru. Adrian. Aktor pendatang baru yang wajahnya sedang wara-wiri di serial video streaming populer. Isinya manis, mengajak Brie makan malam di sebuah restoran eksklusif akhir pekan ini. Brie hanya mendengus sinis sambil menghapus pesan. Ia tahu persis motifnya; Adrian bukan naksir padanya, dia hanya ingin 'pansos'. Di dunia ini, bahkan ajakan kencan pun adalah sebuah transaksi bisnis yang kotor. Brie merasa muak melihat betapa semua orang ingin memanfaatkannya, mulai dari pejabat yang ingin mencuci uang, hingga aktor haus popularitas yang ingin numpang ngetop di balik namanya. Brie menatap langit-langit kamar yang tinggi. Di luar sana, adzan subuh mulai berkumandang dari masjid-masjid di kejauhan. Bagi orang lain, itu adalah tanda dimulainya hari yang baru penuh harapan. Bagi Brie, itu adalah tanda bahwa ia berhasil bertahan hidup satu malam lagi di dunia bayangan yang ia pilih sendiri. Bayangan yang akan terus mengejarnya hingga ke ujung dunia jika ia mencoba lari. *** Pukul sepuluh pagi, sisa kantuk dari begadang semalaman masih menggelayut berat di kelopak mata Brie. Namun, ia tidak punya kemewahan untuk tidur lebih siang hari ini. Ada janji temu yang sangat krusial, yang tidak melibatkan lampu sorot kamera atau butik mewah di mall. Ia harus pergi ke sebuah ruko tanpa papan nama di kawasan elit Kebayoran Baru, tempat yang hanya diketahui segelintir orang yang memiliki masalah serupa dengannya: terlalu banyak uang, terlalu sedikit tempat aman. Di dalam mobil, Brie mengecek saldo di akun bayangannya lewat tablet. Lima miliar milik Hermawan sudah "terpecah" dengan sempurna ke ratusan titik. Dan sekarang saatnya ia mengiris komisinya. Lima ratus juta rupiah—harus segera diubah bentuknya untuk menghilangkan jejak. "Pak Pras, berhenti di depan bangunan cat abu-abu itu ya," perintah Brie pada supir dengan nada datar. Bangunan itu terlihat seperti kantor konsultan biasa yang membosankan, tapi di dalamnya tersimpan harta karun yang tidak tercatat di sistem pajak negara mana pun. Brie masuk setelah memindai sidik jarinya di pintu baja tersembunyi yang tersamar sebagai dinding kayu. Di dalam, aroma cerutu mahal dan kulit baru menyambutnya. Seorang pria berambut perak yang dipanggil Mr. Kho sudah menunggunya di balik meja jati besar. Mr. Kho bukan pedagang biasa; dia adalah perantara aset terbaik di Jakarta. Dia tidak menjual barang, dia menjual "keamanan". "Mbak Brie, pesanannya sudah sampai dari Hong Kong," ucap Mr. Kho sambil meletakkan sebuah kotak kayu berlapis beludru di atas meja. Brie tersenyum saat membukanya. Di dalam kotak itu tersimpan sebuah Patek Philippe vintage langka. Bagi orang awam, itu hanya jam tangan tua yang desainnya ketinggalan zaman. Tapi bagi Brie, itu adalah 'cek tunai' senilai tiga miliar rupiah yang bisa dicairkan di balai lelang mana pun di dunia tanpa perlu melewati protokol laporan bank yang rumit. "Barang ini tidak ada sertifikat digitalnya, kan?" tanya Brie memastikan, jemarinya mengusap kaca jam itu dengan teliti. "Sesuai permintaan. Semua catatan fisiknya sudah saya musnahkan. Jam ini sekarang 'tidak ada' secara legal sampai Mbak Brie menjualnya lagi," jawab Mr. Kho dengan senyum tipis yang penuh rahasia. Brie tersenyum puas. Inilah cara ia menabung untuk masa depannya yang tidak pasti. Ia tidak menaruh semua uangnya di deposito yang bisa dibekukan pemerintah dalam hitungan detik jika suatu saat Baskara jatuh. Ia menaruhnya di jam tangan, berlian, dan tas langka. Jika suatu hari ia harus kabur membawa paspor palsunya, ia cukup membawa satu tas kecil berisi barang-barang ini untuk memulai hidup baru sebagai jutawan di belahan bumi lain. Brie membayar biaya 'penyimpanan' dan komisi Mr. Kho lewat transfer dari akun e-wallet nya yang berjumlah ratusan itu. Namun, saat keluar dari ruko, Brie merasa bulu kuduknya meremang. Di seberang jalan, sebuah motor matic dengan pengendara berjaket hitam tampak berhenti terlalu lama di depan penjual kopi keliling. Pengendara itu tidak membeli kopi, melainkan sibuk dengan ponselnya—tapi arah kameranya sedikit terlalu condong ke arah pintu keluar ruko, tepat ke arah wajah Brie. Brie segera memakai masker dan kacamata hitamnya, lalu masuk ke Alphard dengan cepat. "Jalan, Pak! Jangan lewat jalur biasa, kita lewat jalan tikus yang tembus ke Blok M," perintah Brie, suaranya sedikit bergetar. Pak Pras mengangguk tanpa bertanya. Ini bukan yang pertama untuknya. Sepanjang jalan, Brie terus melirik ke kaca spion, memastikan motor tadi tidak mengikutinya. Brie menarik napas saat motor itu menghilang. Kini ia sadar, 'lalat' yang disebut dalam pesan misterius semalam bukan sekadar gertakan. Seseorang benar-benar mulai memetakan rute perjalanannya, menghitung langkahnya, dan mungkin sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyergapnya. Ia meraih ponselnya, hendak menghubungi Baskara, namun ragu. Bagaimana kalau Baskara sendiri yang menyuruh orang untuk mengikutinya sebagai bentuk tes loyalitas? Di dunia ini, satu-satunya orang yang bisa Brie percaya hanyalah dirinya sendiri—dan mungkin adiknya, Lyra, yang saat ini sedang menunggu bukti transfer uang kuliah yang baru saja ia kirimkan. Brie menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia harus segera pulang dan menyiapkan koper. Koper 'darurat' yang tersimpan di bawah tempat tidurnya, yang ia siapkan untuk kabur ke Swiss jika bayang-bayang di belakangnya mulai menariknya ke dalam kegelapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD