Etalase Kaca

1343 Words
Jakarta dari lantai 35 selalu terlihat lebih tenang daripada kenyataannya. Brianna berdiri di balkon apartemennya di kawasan Jakarta Selatan, menyesap kopi latte yang dibuat dari biji kopi pilihan dengan mesin seharga motor matic. Sinar matahari pagi menyentuh permukaan kaca meja balkonnya, menciptakan pantulan cahaya yang sempurna. Dari sini, macetnya Jalan Sudirman hanya terlihat seperti barisan semut logam yang tak bergerak. Brie menghela napas. Indah, memang. Tapi di matanya, pemandangan ini adalah etalase kaca yang rapuh. Ia masuk kembali ke dalam, melangkah dengan silk robe sutra yang menjuntai di lantai granit yang dingin. Hal pertama yang ia raih bukan sarapan, melainkan iPhone terbaru miliknya. Ritual pagi dimulai: mengecek statistik. i********:: 2,1 juta pengikut. t****k: 3,5 juta. Notifikasi likes dan komentar mengalir deras seperti air bah yang tak pernah kering. "Selamat pagi, Sunshine!" ucapnya ke arah kamera depan ponsel yang sudah terpasang di tripod. Wajahnya yang belum dipulas make-up namun sudah terlihat bersinar berkat perawatan ratisan juta rupiah itu tersenyum lebar. "Banyak banget yang nanya morning routine aku. So, here it is." Brie merekam kegiatannya dengan sangat lihai. Ia mulai dengan membuat smoothie bowl warna-warni yang sebenarnya tidak benar-benar ia makan habis; hanya untuk kebutuhan visual. Ia memamerkan sesi skincare yang memperlihatkan deretan botol mungil berlogo brand Prancis. Semuanya terlihat spontan, padahal setiap sudut pengambilan gambar sudah ia atur berulang kali agar terlihat "mahal tanpa usaha". Setelah konten sarapan selesai, Brie melangkah menuju walking closet-nya. Ruangan seluas apartemen tipe studio itu dipenuhi lemari kaca dengan pencahayaan layaknya museum. Barisan tas Hermes Birkin dan Kelly berbagai warna berjejer rapi, sementara di sisi lain, koleksi sepatu stiletto berkilauan di bawah lampu LED. "OOTD hari ini," gumamnya sambil mengarahkan ponsel ke cermin besar. Ia mencoba tiga setelan dress simpel rancangan desainer ternama, memutar tubuhnya, lalu mengunggahnya sebagai polling di i********: Story. "Pilih yang mana, Guys? A atau B?" Begitu tombol 'Share' ditekan, Brie segera meletakkan ponselnya di atas meja rias. Seketika, senyum cerianya luntur. Wajahnya kembali datar, lelah, dan terasa berat. Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Bukan notifikasi dari fans, tapi pesan w******p dari adiknya, Lyra. "Kak, maaf ganggu. Ibu bilang tagihan semesteran aku belum dibayar. Terus obat jantung Bapak juga udah mau habis. Kalau ada rezeki, Lyra minta tolong ya, Kak? Ibu malu mau minta." Brie menatap pesan itu lama. Hatinya langsung meleleh membaca kalimat terakhir. Ibu dan Bapak memang tak terbiasa meminta. Mereka selalu takut menjadi beban. Tapi justru itu yang membuat Brie semakin ingin membahagiakan mereka, meski tahu jalan yang ia tempuh salah. Brie segera menghapus kebaperennya. Otaknya langsung berputar cepat, Ia tak ingin jejak 'uang haram' itu terdeteksi ke orang tuanya. Ia segera mentransfer dua puluh juta rupiah ke rekening adiknya, lalu menghapus riwayat chat itu agar tidak meninggalkan jejak. *** Pagi berlalu. Tepat pukul satu siang 'Brianna sang Influencer' beristirahat, digantikan oleh 'Brie sang Akuntan Bayangan'. Lulusan terbaik Finance di kampusnya dan sedikit pengalaman di bank adalah modal utama pekerjaannya yang penuh resiko ini. Brie masuk ke ruang kerjanya yang kedap suara. Ia menyalakan laptop yang layarnya dipenuhi dengan deretan angka dan grafik yang rumit. Ia lalu masuk ke sebuah portal perbankan internasional yang terlindungi enkripsi ganda. Cling. Satu notifikasi masuk. Sebuah kiriman sebesar 800 juta rupiah mendarat di salah satu rekening perusahaan cangkangnya di Singapura. "Baru 800 juta," gumam Brie sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja. "Bapak di kementrian itu bilang hari ini mau masuk tiga miliar. Mana sisanya?" Ia mulai memproses uang itu dengan cepat. Agar tak terdeteksi bank pusat, ia harus memecah 800 juta itu menjadi ratusan transaksi kecil ke berbagai akun e-wallet dan toko online fiktif miliknya. Ini adalah rutinitas "mencuci" harian yang membosankan namun mematikan. Baginya, angka-angka ini bukan sekadar uang, tapi nyawa orang-orang yang memberinya pekerjaan. Saat menunggu proses transfer otomatis berjalan, bel pintu apartemennya berbunyi. Seorang kurir datang membawa paket besar yang dibungkus rapi. Bukan barang endorsement, tapi sebuah tas mewah milik seorang istri pejabat yang ingin "menguangkan" aset suaminya melalui jaringan Brie. "Lagi dan lagi," keluh Brie saat melihat tumpukan tugas yang menanti. Uang tunai yang masuk lewat "jalur bawah" hari ini sangat banyak. Ia merasa kelelahan hanya dengan melihat daftar angka di layar. Sore harinya, Brie duduk kembali di sofa mewahnya, menatap ponselnya lagi. Ada pesan dari agennya tentang kontrak iklan baru senilai 100 juta rupiah. Baginya, uang itu sekarang terasa seperti recehan dibandingkan miliaran rupiah "panas" yang baru saja ia kelola di laptopnya. "Besok bakal jadi hari yang panjang," gumam Brie. Ia bahkan sudah merasa lelah dengan hanya memikirkannya saja— ke toko handphone, belanja sedikit buat konten, dan yang paling penting— memastikan tiga miliar itu sudah 'bersih' sebelum Baskara menelpon. Brie memejamkan mata, membiarkan tubuhnya tenggelam di sofa mahal yang terasa semakin dingin setiap harinya. Kemewahan ini adalah penjara yang ia bangun sendiri, dan kuncinya ada di tangan orang-orang yang bahkan tidak pernah ia temui secara langsung. *** Pukul sebelas siang, Jakarta sedang berada di puncak kegerahan, tapi di dalam mobil Toyota Alphard hitam milik Brie, suhu terjaga di angka 20 derajat Celsius yang sejuk. Kali ini OOTD Brie adalah setelan kasual namun tetap berkelas—sebuah kemeja linen putih longgar dan celana kulot berwarna khaki. Kacamata hitam Celine menutupi sebagian wajahnya yang tampak tanpa cela dan Hermes Kelly warna senada. "Pak Pras, kita ke Plaza Indonesia dulu ya. Ada tas yang harus aku ambil," ucap Brie sambil sibuk mengecek jadwal di ponselnya. Sesampainya di mall kelas atas itu, Brie tidak membuang waktu. Ia masuk ke sebuah butik mewah dengan langkah penuh percaya diri. Para pelayan butik langsung menyambutnya dengan senyum lebar; mereka tahu siapa Brie—nasabah prioritas yang tidak pernah melihat label harga. Di sini, ia merekam beberapa footage singkat untuk konten i********:-nya. Di layar, ia terlihat seperti gadis paling beruntung di dunia yang sedang memanjakan diri. Namun, saat kamera mati, ia memberikan sebuah kartu debit dari bank luar negeri kepada pelayan tersebut untuk mencairkan asetnya secara diam-diam melalui barang mewah ber-resale value tinggi. Setelah menaruh tas barunya di mobil, wajah Brie berubah serius. "Pak Pras, sekarang kita ke ITC ya. Turunkan aku di pintu belakang saja." Sopirnya sempat bingung, namun Brie segera memotong dengan nada yang tidak menerima bantahan. Saat Alphard-nya terjebak macet di depan halte TransJakarta, Brie terdiam menatap barisan orang yang berdesakan, berebut masuk ke dalam bus yang sudah penuh sesak. Pemandangan itu seperti mesin waktu yang menariknya kembali ke masa lalu. Ia ingat sekali rasanya berdiri di sana, dengan sepatu hak rendah yang solnya mulai menipis sambil memeluk erat tasnya karena takut dicopet. Ia ingat rasa sesak saat dadanya terhimpit di antara penumpang lain, sambil menghitung sisa saldo di kartu e-money yang hanya cukup untuk makan siang di warteg. Ia juga ingat betapa sedihnya saat kakinya begitu lelah berdiri, sementara di luar bus ia melihat orang-orang duduk dengan nyamannya sampai tertidur pulas dalam mobil-mobil mewah mereka. Dan sekarang, ia merasakannya. Mimpinya terwujud; ia punya privasi, ia punya pendingin ruangan yang sejuk, tapi entah kenapa, rasa sesak di dadanya masih sama—hanya saja sekarang penyebabnya bukan karena berdesakan, melainkan karena rahasia yang ia kunci rapat-rapat. Mobil Brie berhenti tepat di belakang pintu ITC. Sebelum turun Brie melepas kacamata hitamnya dan memakai masker wajah agar orang-orang tidak mengenalinya. Ia berjalan menuju sebuah toko ponsel seken di pojok lantai atas . Tujuannya: mengambil pesanan dua puluh unit ponsel murah yang tak bisa dilacak. Seorang pria tua menyerahkan ponsel-ponsel yang dimasukkan dalam kantong keresek pada Brie, dan Brie menyerahkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat sebagai pembayaran. Brie melangkah cepat keluar dari gedung itu. Baru saja masuk ke dalam mobil, ponsel Brie bergetar. Sebuah pesan dari Baskara. "'Barang' dari Hermawan sudah masuk. Total 5M. Pastikan semuanya tersebar ke akun-akun e-wallet sebelum jam 6 pagi. Besok kita punya jadwal 'pengiriman' besar." Brie memejamkan mata sejenak, bersandar pada kursi kulit mobilnya. Lima miliar. Artinya, nanti malam ia harus lembur semalaman di depan laptop. "Pak Pras, langsung pulang ke apartemen aja," ucap Brie lelah. Mobil melaju membelah kemacetan. Brie menatap tas mewah di sampingnya. Di mata dunia, tas itu adalah simbol kekayaan. Di mata Brie, tas itu hanyalah alat untuk menutupi jejak-jejak kotor yang baru saja ia tinggalkan di lorong sempit ITC tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD