Lampu ring light itu memantul di bola mata Brianna, memberikan binar buatan yang tampak sempurna di layar ponsel. Brie menarik kedua ujung bibirnya. Akting dimulai:
"Hai, Guys! Banyak banget yang nanya jam tangan yang aku pakai di post kemarin," ucap Brie dengan nada riang yang sudah ia latih di depan cermin. Ia memutar pergelangan tangannya, memamerkan sebuah jam tangan dengan desain rumit dan kerangka transparan yang memperlihatkan mesin emas di dalamnya. "Ini Richard Mille RM 07-01. My current favorite! Detailnya... oh my God, secantik itu, kan?"
Jempolnya bergerak lincah, menekan tombol upload. Dalam hitungan detik, notifikasi likes dan komentar penuh puja-puji membanjiri layarnya.
"Goals."
"Queen."
"Cantik banget, Kak!"
Brie mematikan lampu ring light. Seketika, senyum manisnya luntur. Wajahnya kembali dingin, sedingin marmer di apartemennya yang sepi.
Ia melirik jam tangan itu. Benda kecil yang nilainya setara dengan tiga puluh tahun gaji Ibunya sebagai pensiunan guru sekolah negeri. Bagi jutaan pengikutnya, itu adalah simbol kesuksesan. Bagi Brie, itu adalah borgol emas.
Jam itu bukan miliknya. Jam itu adalah milik seorang petinggi kementerian yang namanya sedang santer disebut dalam kasus korupsi. Tugas Brie sederhana namun mematikan: membawa jam ini keluar dari wilayah hukum Indonesia, menjualnya di sebuah balai lelang tertutup di Jenewa, dan memastikan uangnya masuk ke rekening rahasia yang tak tersentuh radar pajak.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Baskara muncul di layar.
Baskara: "Pesawatmu berangkat dua jam lagi. Pastikan jam itu sampai tanpa goresan. Ingat, Brie, itu bukan cuma jam. Itu adalah sisa umur seseorang yang ada di tanganmu."
Brie menarik napas panjang, aroma parfum mahalnya terasa menyesakkan. Di dunia ini, ada orang yang mencuci dosa mereka dengan doa. Tapi di lingkaran Baskara, mereka mencuci dosa dengan barang branded.
Ia berdiri, meraih koper mewah di sampingnya, dan melangkah keluar. Sandiwara internasional ini baru saja dimulai.
***
Lokasi: Sebuah Hotel Mewah, Lake Geneva, Swiss.
Brie baru saja mengunggah foto dirinya yang sedang menyesap cokelat panas dengan latar belakang pegunungan Alpen yang tertutup salju.
Caption-nya:
"Healing sejenak dari hiruk pikuk Jakarta. #Blessed #Grateful"
Dalam lima menit, postingan itu mendapat 50.000 likes. Netizen memuji kecantikannya, beberapa menghujat betapa beruntungnya dia karena punya "sugar daddy" kaya.
Brie meletakkan ponselnya, wajah cerianya langsung hilang, digantikan oleh tatapan dingin yang tajam. Dia membuka koper rimowa-nya, bukan untuk mengambil baju hangat, tapi untuk mengeluarkan tiga buah jam tangan Richard Mille yang nilainya setara dengan satu unit apartemen mewah di Jakarta Selatan.
"Sudah di depan?" tanya Brie lewat ponsel enkripsinya.
"Sudah, Ma'am. Pembeli dari pihak kementerian sudah menunggu di lobi bawah," jawab suara di seberang.
Brie memakai salah satu jam tangan itu, dua lainnya dia masukkan ke dalam tas Hermes Birkin-nya. Bagi followers-nya, ini adalah outfit of the day (OOTD). Bagi Brie, ini adalah pengiriman aset senilai 25 miliar rupiah yang tidak akan pernah terdeteksi oleh radar pusat pelaporan transaksi keuangan manapun.
Dia tidak sedang 'healing'. Dia sedang melakukan transaksi 'cleansing'.