Chapter 2-Meet The Twins: Casey Aprilia Radityan and Carvian Armada Radityan

1683 Words
Chapter 2: Meet The Twins, Casey Aprilia Radityan and Carvian Armada Radityan     Carvian Armada Radityan   Masih terlalu cepat seribu tahun lagi untuk Tristan si kutu kupret berhati es itu untuk menikah dan menyentuh tubuh adik kembarku yang sangat kusayangi melebihi nyawaku sendiri! Walaupun Papa dan Mama sudah setuju dengan usul gila Om Redhiza untuk menikahkan anak sulungnya yang memiliki darah dan tatapan iblis itu dengan Casey, adikku yang paling cantik hingga mengalahkan kecantikan Putri Diana, tapi selama aku masih bernapas, aku tidak akan sudi menjual nyawa adikku pada Tristan. Enak saja. Langkahi dulu mayatku jika dia memang bisa. Namanya memang Tristan, tapi dia bukan Tristan si vampir yang mencari darah suci Nayla, kan?             Oke, abaikan! Aku sudah dikontaminasi oleh Devon dan Revon!             Suatu saat, aku pasti akan mencincang Kakak sepupuku yang omong-omong juga kembar sepertiku dan Casey. Bedanya, Casey kembaranku itu perempuan, sementara mereka berdua laki-laki. Devon Herjuna Raditya lahir lima menit lebih dulu sebelum kemudian Revon Herjunot Raditya mengikuti jejak Kakak kembarnya. Menurut cerita yang kudengar, Tante Inggit, Mom si kembar itu sempat menjambak rambut Omku yang gantengnya sama denganku—itu artinya, aku, si kembar Von-Von dan Papapku memiliki wajah yang sama karena Papaku dan Omku kembar—hingga mengancam akan menceraikan Omku jika beliau nekat menaruh bayi lagi didalam perut Tante Inggit.             Aku masih duduk di bangku kuliah semester tiga, pun dengan Casey. Juga dengan Gevarna, adik perempuan Tristan yang manis itu. Menurutku, mungkin saja Tristan dipungut oleh Om Redhiza dan Tante Lexna di rumah sakit. Anak kandung mereka mungkin hanya Gevarna saja. Jika kuperhatikan lebih seksama lagi, hanya Tristan yang memiliki sifat berbeda dengan keluarganya. Si kunyuk satu itu angkuh, arogan, dingin, cuek, datar dan lain sebagainya.             Intinya... MEMUAKKAN!             “Abang....”             Suara merdu dan manis itu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan tersenyum lebar ketika melihat Casey masuk kedalam kamar sambil membawa sebuah nampan. Aku melongokkan kepala dan melihat sepiring pudding cokelat beserta segelas es jeruk kesukaanku. Casey menaruh nampan tersebut di atas meja belajarku dan duduk di atas pangkuanku. Setiap pagi, aku memang jarang sarapan. Aku lebih suka menyantap pudding dan minum es jeruk karenanya Mama selalu membuatkan pudding setiap hari. Menurut Mama, aku mengikuti jejak Papa yang mencintai pudding dan es jeruk.             “Nggak ke kampus, Cas?” tanyaku seraya menatap wajah datarnya. Kuelus rambutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Casey memang cantik. Amat sangat cantik. Rambutnya panjang bergelombang dan berwarna sedikit kecokelatan. Mata cokelat terang diwariskan oleh Mama untuknya juga untukku. Hidung mancung kami diturunkan oleh Papa. Walaupun aku dan Casey kembar, tapi Casey hanya mirip sedikit saja dengan wajahku juga wajah Papa. Yah, pokoknya, wajah Casey itu unik. Campuran yang terlihat sangat jelas dari wajah Mama dan Papa, sementara aku memiliki wajah Papa seutuhnya.             “Nanti. Diantar sama si beruang kutub.”             “Tristan?” tanyaku dengan nada pongah sambil menaikkan satu alisku. Jujur, setiap mendengar nama Tristan, rasanya aku sangat kesal dan ingin membakarnya hidup-hidup. Ini karena dulu, sewaktu aku dan Casey masih berumur lima tahun dan Tristan berumur tujuh tahun, laki-laki itu pernah mendorong Casey hingga jatuh dari atas ayunan dan menangis.             “Siapa lagi?” Casey memotong pudding dan menyuapiku. Aku dengan patuh membuka mulut, kemudian melakukan hal yang sama untuk Casey seperti yang gadis itu lakukan barusan untukku. “Papa nyuruh aku buat berangkat sama dia, Bang. Katanya nggak enak sama Om Redhiza soalnya beliau yang minta aku ke Papa untuk berangkat sama Tristan.”             Aarrrgghh! Aku memang mengidolakan Om Redhiza. Sungguh. Dia adalah panutan keduaku setelah Papa. Tapi, kenapa Om Redhiza harus menumbalkan nyawa Casey pada anaknya yang berdarah dingin itu, sih?             “Kamu nggak nolak?”             “Abang mau Papa motong uang saku Cash?” Ya. itu adalah nama kecil Casey. Cash. “Papa ngancem kalau beliau bakalan motong uang saku Cash, Bang. Abang sih enak! Nggak disuruh nikah muda!”             Aku menghela napas panjang dan kembali mengusap rambut panjang serta punggung Casey. Adikku itu memang cemberut tapi dia sangat santai menghadapi pernikahannya yang akan dijalankan dua minggu lagi dengan Tristan. Om Redhiza memang meminta adikku pada Papa secara baik-baik karena beliau dan Tante Lexna sangat menyukai adikku. Menurut keduanya, sikap dan sifat Casey sangat mirip dengan sikap dan sifat Tante Lexna semasa kuliah dulu. Casey yang memang sangat baik hati, tidak sombong, rajin menabung, taat pada orangtua dan cinta setengah mati pada Papa dan Mama, tidak bisa menolak dan terpaksa mengiyakan. Kalau untuk Tristan, kudengar dia sempat menolak tapi Om Redhiza langsung mengancamnya.             “Gue dengar, sih, Om Redhiza pernah bilang ke Tristan kalau tuh cowok nggak mau nikah sama Casey, beliau nggak akan pernah mengizinkan Tristan buat nikah untuk selamanya dan bakalan ngebiarin Tristan jadi jomblo seumur hidup.”             Itulah yang kudengar dari Devon. Dia memang gemar bergosip.             “Abang nggak ke kampus?”             Lagi, suara merdu Casey membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum dan menggeleng. Hari ini, aku tidak memiliki jadwal kuliah alias libur. Besok pun demikian. Aku mengambil jurusan Akuntansi sementara adikku mengambil jurusan Manajemen. Sialnya, Tristan juga mengambil jurusan Manajemen. Dan yang lebih sial lagi, kami bertiga sekampus. Oh, bukan hanya bertiga, melainkan berenam. Si kembar Von-Von dan Gevarna juga satu kampus dengan kami.             “Cash... Abang beneran nggak sudi kamu nikah sama Tristan.” Aku menatap manik cokelat terang yang sama dengan punyaku itu. Casey mengerjap dan menghembuskan napas panjang. Kemudian, adikku itu tersenyum tulus tanpa beban sambil menangkup wajahku dengan kedua tangan mungilnya.             “Abang nggak perlu khawatir. Aku bakalan pastiin Tristan nggak akan pernah nyentuh aku, oke? Aku bakalan kerjain dia setiap harinya sampai dia merengek meminta ampun.”             “Harus itu!” tandasku keras, diikuti oleh tawa Casey. “Abang bakalan bacok dia kalau dia berani nyentuh kamu!”             Casey mengangguk dan turun dari atas pangkuanku. Setelah mencium pipiku sekilas dan melambaikan tangan, adikku itu melenggang pergi karena mendengar suara deru mesin mobil diikuti suara klakson. Aku berjalan ke arah balkon dan menatap datar ke bawah. Tepatnya ke arah mobil Lexus yang terparkir di bawah sana. Kaca mobil si pengemudi terbuka dan Tristan langsung mendongak serta menatapku tanpa minat.             Kubalas tatapannya dengan tajam.             Ketika mobil Lexus itu pergi, aku mendesah panjang dan memijat pelipisku. Aku harus melakukan sesuatu supaya nyawa adikku selamat dan tidak dijadikan tumbal untuk Tristan.             “Bang Carv!”             Seruan itu membuatku menoleh. Sebuah senyuman manis menyambutku dan mau tidak mau, aku balas tersenyum. ### Casey Aprilia Radityan   Sumpah mati, aku lebih memilih lompat keluar dari dalam mobil detik ini juga dengan mengambil resiko terlindas truk atau bis besar juga resiko menghadap Tuhan lebih awal tanpa tahu sudah berapa banyak dosa yang kubuat karena sifat iseng dan jahilku ini, jika Tristan sampai nekat menaruh bayi dalam perutku!             Aku melirik takut-takut ke arah Tristan yang masih mengemudikan Lexusnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Matanya benar-benar tajam dan dingin. Seperti mata iblis. Meskipun aku belum pernah bertemu dengan iblis sesungguhnya—amit-amit jangan sampai kejadian—tapi melihat mata laki-laki itu saja sudah bisa memvisualisasikan imajinasi-imajinasiku dan orang-orang mengenai mata iblis yang sesungguhnya.             Benar-benar sial!             Aku kena kutukan darimana, sih, sampai harus menikah sama Tristan? Impianku adalah menjadi seorang pengusaha terkenal seperti Papa! Bukannya berakhir dibawah satu atap dan dalam satu kamar yang sama dengan Tristan, musuhku!             Papaaaa... Mamaaaaa!!! Kejam sekali kalian!             “Turun.”             Nah, loh... kenapa Tristan menyuruhku turun?             “Karena udah sampai, ya lo harus turun, tengil!”             Uh-oh... tanpa sadar sepertinya aku sudah menyuarakan pikiranku. Aku mengerjap dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Sambil berdeham, kulepas seatbeltku dan sialnya, benda menyebalkan itu tidak kunjung terlepas. Sudah dua menit terlewat dan sabuk pengaman yang kukenakan tidak mau terbuka. Aku frustasi. Aku stress! Ingin rasanya aku membakar diri beserta mobil Tristan sekalian.             “Kalau lo kasar begitu, yang ada mobil gue bakalan rusak!”             Baru saja aku berniat membalas suara ketus tersebut, aku menegang. Bisa kurasakan hela napas Tristan pada wajah dan leherku. Aku menahan napas dan mencoba bersikap biasa saja. Bukan berarti aku suka pada Tristan, ya! Aku perempuan normal. Perempuan normal manapun pasti akan menahan napasnya jika ada seorang laki-laki yang berada sangat dekat dengan wajah dan tubuh mereka. Seperti yang Tristan lakukan saat ini, ketika dia mendekatkan wajah dan tubuhnya untuk melepaskan sabuk pengamanku. Ketika benda itu terlepas, aku langsung mendorong tubuh Tristan dan menunjuk wajah laki-laki itu.             “Lo ngambil kesempatan, ya!” seruku berang. Kulihat Tristan hanya menanggapi dengan santai sambil bersedekap. Senyuman sinis yang diperlihatkannya saat ini lebih tepat dibilang sebagai seringaian.             “Ngapain gue ngambil kesempatan? Gue cuma nggak mau lo ngerusak mobil mahal gue ini. Lagian....” DAMN IT! Kenapa Tristan menatap tubuhku sedemikian rupa? Lalu... ARRRRGGGGHHH!!! Kedua mata iblisnya melekat pada dadaku!             BANG CARVIAAAAAN!!!             “... Gue nggak tertarik sama tubuh lo yang kerempeng itu! Nggak ada menggoda-menggodanya sama sekali.” Laki-laki itu melanjutkan ucapannya yang sempat terpenggal tadi sambil mendengus dan mematikan mesin mobil.             Ugh! Wajahku pasti sudah memerah karena amarah yang bergejolak hebat dalam dadaku!             “m***m!” teriakku keras sambil menabok kepalanya dan menoyornya hingga Tristan mengaduh keras. Kusadari ulahku barusan membuat kepala Tristan membentur kaca jendela mobilnya. Dia menatapku dengan tatapan membunuh dan aku langsung kabur.             “WOI!”             Seruan itu diikuti dengan cengkraman kuat pada lenganku. Detik berikutnya, tubuhku diputar paksa dan wajah menakutkan Tristan menyambutku. Aku sebenarnya hampir saja terbahak karena melihat benjolan di keningnya, namun aku menahannya jika tidak ingin dibunuh olehnya detik ini juga.             “Minta maaf lo!”             “Cih. Buat apa?” tantangku berani. Aku berusaha melepaskan cekalannya namun gagal. Kuangkat dagu setinggi mungkin dan kutentang tatapan tajamnya. “Harusnya lo yang minta maaf sama gue karena lo udah melecehkan gue!”             “Emang lo cewek, Cash?” dih! Ngapain dia memanggil nama kecilku?! Nama kecilku haram hukumnya jika disebutkan olehnya! “Lo itu kelebihan hormon cowok. Jadi, harusnya lo nggak usah merasa terlecehkan dengan ucapan gue barusan.”             That’s it! I’m totally mad right now!             Dengan mantap dan senang hati, aku mengangkat sebelah kakiku dan menendang ‘anunya’ dengan lututku. Kalian tahu apa maksudku, kan? Karena saat ini, cekalan tangan Tristan terlepas dan laki-laki setan itu berlutut sambil memegang ‘anunya’ yang kutendang.             “CASH!”             “Apa calon suamiku Sayang?” aku mengedipkan sebelah mata dan tertawa keras. Kulambaikan tangan dan aku langsung berlari menuju kelas. Tidak. Saat ini, belum aman bagiku untuk masuk kedalam kelas. Aku akan pergi ke kelas Bang Devon dan Bang Revon untuk meminta perlindungan.             Satu hal yang baru kusadari.             Jika pernikahan ini benar-benar terjadi—dan sepertinya memang akan terjadi—rumah tanggaku dan Tristan pasti akan ramai setiap harinya.             Jika aku ‘kebobolan’ nantinya oleh Tristan, mungkin laki-laki itu tidak akan sempat melihat darah dagingnya karena Bang Carvian akan membunuhnya terlebih dahulu. ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD