“Loh? What brings you here, my little princess?”
Pertanyaan Revon itu diabaikan oleh Casey. Gadis itu langsung mendekati Devon yang baru saja selesai mencatat sesuatu, kemudian menjatuhkan tubuh mungilnya di atas pangkuan Devon. Casey memang selalu manja pada Carvian, juga pada Devon dan Revon. Oh, jangan lupakan Steven Asgarvan. Kakak sepupunya yang paling dia sayangi karena selalu membelikan apapun yang dia inginkan. Steven masih kuliah. Seumuran dengan Tristan si beruang kutub. Hanya saja, Steven tidak satu kampus dengan mereka.
“Aku dikejar sama Tristan, Bang!” seru Casey dengan napas tersengal. Bukannya dia tidak tahu tindakannya barusan bisa dikategorikan sebagai tindakan kriminal, tapi, salah Tristan sendiri karena sudah mengibarkan bendera perang dengannya.
Tapi... kalau misalkan akibat dari ulahnya barusan menyebabkan masa depan Tristan suram... gimana?
ARRRGGGHHH!!!
“Dikejar sama Tristan? Kok bisa?” tanya Devon dengan alis terangkat satu. Dia mengeluarkan minuman kaleng yang dibawanya dari rumah dan kebetulan masih dingin, kemudian menyerahkannya pada Casey. “Kamu ribut lagi sama dia?”
“Bukan Tristan namanya kalau nggak ngajakin Cash ribut, Bang!” Casey langsung membuka kaleng minuman tersebut dan meneguknya dengan kecepatan super. Tak lama, gadis itu tersedak hingga terbatuk-batuk, membuat Revon menepuk punggungnya pelan dan menatap sepupunya itu dengan tatapan cemas.
“Pelan-pelan aja minumnya, Cash.” Revon memperingatkan, membuat Casey nyengir kuda dan mengangguk patuh. Dia kembali meminum minuman kaleng tersebut dan melirik jam dinding yang berada di depan kelas.
“Bang...,” rengek gadis itu manja. Devon dan Revon saling tatap kemudian tertawa. Dia tahu arti rengekkan tersebut. Casey pasti masih sedikit ngeri jika harus pergi ke kelas sendirian. Takut bertemu dengan Tristan di lorong kampus atau dimanapun selama gadis itu berjalan menuju kelasnya.
“Kita antar,” kata Devon sambil mengecup pipi Casey, membuat para mahasiswi yang berada dalam kelas si kembar menahan napas dan menatap horror gadis itu. “Apa, sih, yang nggak buat sepupu kita yang paling cantik ini?”
Ucapan Devon membuat pipi Casey merona. Si kembar tertawa lagi dan mengacak rambut Casey dengan gemas. Revon membantu Casey turun dari pangkuan Devon, kemudian menatap Garry sambil mengucapkan sesuatu. Detik berikutnya, mereka bertiga berjalan beriringan keluar kelas menuju kelas Casey.
Di depan pintu kelas Casey, Tristan sudah menunggu. Wajahnya benar-benar menakutkan. Sesekali, Casey bisa melihat laki-laki itu meringis dan mendesis. Pasti masih sangat sakit, batin gadis itu sambil tertawa keras didalam hati. Dia langsung menyembunyikan tubuh mungilnya di belakang punggung si kembar tatkala Tristan menoleh saat menyadari kehadiran mereka bertiga.
“Mencari perlindungan, heh?” tanya Tristan dengan nada ketus sambil mendengus. Dengan tertatih, Tristan menghampiri Casey yang berada di belakang tubuh si kembar.
“Kenapa lo, Tris?” tanya Devon dengan kening berkerut. “Sakit?”
“Kenapa nggak lo tanya sama sepupu tengil lo sekaligus calon isteri gue tercinta itu?!” sungut Tristan sambil menunjuk Casey dengan jari telunjuknya yang terlihat sedikit gemetar. Gemetar karena menahan emosi dan amarah tentu saja.
“Cash? Kamu apain Tristan?” pertanyaan itu kembali dilayangkan Devon sambil menoleh ke belakang diikuti oleh Revon. Melihat Casey hanya cengengesan membuat si kembar saling tatap dan sadar jika sepupu mereka pasti sudah mengerjai Tristan.
“Nggak aku apa-apain, Bang,” balas Casey sambil menggeleng polos dan menahan tawa. “Tristan aja yang nggak kuat. Dia payah.”
“YA LO PIKIR AJA PAKE OTAK LO YANG MUNGIL SEMUNGIL TUBUH LO ITU APA YANG BAKAL TERJADI JIKA JUNIOR LAKI-LAKI DITENDANG!”
Seruan penuh amarah itu langsung membuat Casey terbahak. Gadis itu bahkan sampai membungkukkan tubuhnya dan memegang perutnya. Benar-benar geli dengan seruan Tristan barusan. Devon dan Revon hanya bisa menggelengkan kepala mereka dan tersenyum tipis. Sudah bukan rahasia umum lagi jika Casey sangat jahil dan iseng pada Tristan. Keduanya tidak pernah bisa akur. Pun dengan Carvian dan Tristan.
Menurut cerita Carvian, dia membenci Tristan karena pernah membuat Casey terjatuh dari ayunan saat mereka masih kecil dan membuat gadis itu menangis keras. Sejak saat itu, Carvian selalu bete dan kesal jika berada di dekat Tristan. Eeh, nggak tahunya sekarang orangtua mereka justru akan menikahkan Casey dengan Tristan.
“Cash...,” tegur Revon disela senyumannya. “Itu sakit banget, loh.”
“Huahahaa! Maaf, Bang... maaf... Casey khilaf.”
“Khilaf pala lo peyang!” dengus Tristan sambil mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Devon menarik napas panjang dan mendekati laki-laki itu. Dirangkulnya pundak Tristan dan ditepuknya beberapa kali.
“Tris... maafin Casey, ya? Dia emang suka iseng.”
“Emang!” Tristan menatap tajam gadis itu, sementara yang ditatap hanya sibuk menahan tawa sambil bergelayut manja di lengan Revon. “Dia emang titisan setan! Gue rasa dia pembawa sial di rumah!”
Uh-oh!
“Apa lo bilang?!” tanya Casey dengan nada berapi-api. Gadis itu melepaskan rangkulan manjanya pada lengan Revon kemudian mendekat ke arah Tristan dan memasang tubuh mungilnya tepat di depan laki-laki itu. Ditentangnya kedua mata Tristan. “Lo bilang apa tadi?!”
“Belum tuli, kan, lo?”
“Siapa yang lo sebut pembawa sial, hah?! Lo pikir, lo pembawa keberuntungan, gitu?! Lo itu iblis! IBLIS!”
“Gue IBLIS, elo apa?!” bentak Tristan sambil menunjuk wajah emosi Casey. “Elo nenek moyangnya IBLIS! WANITA SILUMAN! GADIS ULAR!”
“JANGAN ASAL NGOMONG, LO!”
“OH, GUE HARUS JAGA OMONGAN GUE SEMENTARA LO BEBAS BERKOAR TENTANG GUE, GITU?! EGOIS BANGET LO! LO, KAN, BUKAN CEWEK... SO, GUE NGGAK PERLU BERSIKAP MANIS DAN JAGA OMONGAN GUE SUPAYA LO NGGAK SAKIT HATI!”
Revon dan Devon langsung gerak cepat. Devon mendorong tubuh Tristan menjauhi Casey, sementara Casey langsung diambil alih oleh Revon. Casey menatap Tristan dengan bara kebencian. Matanya memanas dan sialnya, air mata itu memilih untuk mengkhianatinya. Melihat Casey menangis, si kembar tertegun sementara Tristan memasang wajah datar. Tatapannya pun sulit untuk diartikan.
“Gue mungkin emang bukan cewek feminin, tapi gue punya hati! Gue punya hati dan lo nggak berhak nyakitin hati gue seenak jidat lo!”
Casey langsung memutar tubuh dan berlari meninggalkan si kembar juga Tristan. Revon memanggil sepupunya dengan teriakan keras, kemudian berlari mengejar Casey yang sudah menghilang di tikungan koridor. Sementara itu, Tristan tetap menatap ke depan. Datar... kosong.
“Tris... gue nggak mau ikut campur sama masalah kalian, tapi....” Devon menghembuskan napas berat dan menatap tajam Tristan yang tidak mengalihkan tatapannya sejak tadi. “Tolong hargain Casey. Dia perempuan. Dia masih ada di masa remajanya. Masih labil. Masih suka bersenang-senang dan mencari kesenangan tersendiri. Dia gadis yang baik. Gue yakin lo tau itu. Dan yang paling penting, dia calon isteri lo. Calon isteri yang harus lo jaga dan lo lindungi. Bukannya lo bentak dan lo torehkan luka di hatinya.”
Masih tidak ada respon. Devon kembali menghembuskan napas berat dan menepuk pundak Tristan beberapa kali, sebelum akhirnya memutar tubuh dan berjalan meninggalkan laki-laki itu.
“Kalau sekali lagi gue liat lo bikin Casey nangis,” kata Devon ketika baru berjalan lima langkah. Laki-laki itu menoleh dan menatap tegas Tristan yang kini balas menatapnya. “Gue sama Revon nggak akan segan-segan menghajar lo, Tris. Kita sayang sama Casey. Dan kita nggak mau dia sakit hati atau nangis hanya karena seorang laki-laki.”
###
Casey hanya bisa menarik napas pasrah ketika Mamanya menyeretnya ke sebuah butik ternama untuk memesan kebaya. Padahal, dia masih kesal setengah mati pada Tristan. Dia masih sakit hati dengan ucapan iblis satu itu saat di kampus tadi. Dia tidak peduli dengan kuliahnya dan langsung pulang bersama Revon, setelah sepupunya itu berhasil mengejarnya dan menahan langkahnya. Dia menghindari pertanyaan Carvian dan untungnya sang Papa sedang di kantor. Hanya saja, Mamanya yang super cantik itu memaksanya untuk segera memesan kebaya karena hari pernikahan terkutuknya sudah dekat.
“Mah,” rengek Casey ketika kebaya ketiganya sudah berhasil terpasang pada tubuh mungilnya. “Cash bosen, Mah. Pulang aja, yuk?”
“Kamu harus milih kebaya yang cantik, Sayang... hari pernikahan kamu sudah dekat.” Valeria, Mama Casey tersenyum lembut dan mengusap rambut anak gadisnya dengan lembut. Carvian tidak bisa menemani karena teman-teman kampusnya datang ke rumah.
Casey menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Kebaya berwarna hijau tosca itu melekat pas pada tubuhnya. Cantik dan menarik. Tanpa sadar, bibir gadis itu menyunggingkan seulas senyum. Di sampingnya, sang Mama menatap haru dan mencium pipinya dengan lembut.
“Apa ini nggak terlalu cepat, Mah?” tanya Casey. “Casey bahkan masih kuliah.”
“Kenapa memangnya kalau kamu masih kuliah?” Valeria balas bertanya. Dia merangkul tubuh anak gadisnya dengan penuh kasih sayang. “Banyak, kok, yang masih kuliah dan sudah menikah. Harusnya kamu bersyukur karena jodohmu sudah ada, Sayang....”
Seandainya Mama tau kalau calon menantu Mama itu adalah orang yang tidak berperasaan...
“Nah... Tristan udah datang.”
DEG!
Kalimat Mamanya tadi berhasil membuat Casey membeku. Gadis itu menoleh dan bertemu mata dengan Tristan. Laki-laki itu menatapnya dengan tatapan dingin dan datar. Namun, tatapan itu berubah ramah ketika Mamanya menghampiri dan memeluk tubuhnya. Di samping Tristan, Tante Lexna tersenyum lembut dan mencium pipi Mamanya dengan akrab.
Ngapain si calon suami k*****t itu ada disini?!
“Ya ampun! Casey cantik banget!” seru Lexna sambil mendekat ke arah Casey. Wanita itu mencium pipi Casey sekilas dan menatap pantulan Casey di cermin. “Liat, Tris... Casey cantik banget, kan?”
“Iya.” Tristan mengangguk dan menatap Casey dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat gadis itu menelan ludah susah payah dan merasa risih. “Casey cantik banget. Tristan beruntung punya calon isteri seperti dia.”
Sok manis di depan Mama sama Tante Lexna! Memuakkan!
“Nah... sekarang, coba kamu cari kemeja sama jas yang cocok dengan kebaya Casey, ya, Nak.” Lexna memberi perintah yang langsung dituruti oleh laki-laki itu. Tak lama, Tristan kembali dengan kemeja putih yang dipadu jas abu-abu. Dia kelihatan tampan, membuat Lexna dan Valeria berdecak kagum. Lexna bahkan seperti melihat Redhiza—suami tercintanya—saat masih muda dulu.
“Kalian benar-benar pasangan yang serasi.” Lexna menggamit lengan Tristan dan membawanya mendekati Casey. “Bukan begitu, Val?”
“Iya.” Valeria mengangguk dan memanggil seseorang. Pria dengan kamera menggantung di lehernya. Pria itu mengatur posisi Casey yang kini mengerutkan kening, juga posisi Tristan yang masih memasang wajah datar.
“Ayo... kalian difoto dulu. Foto pra wedding,” kata Valeria bersemangat.
Casey tidak mampu menolak. Tidak mungkin dia menghilangkan senyuman cantik itu dari wajah Mama tercintanya. Dan Casey yakin, Tristan pun melakukan hal tersebut demi Lexna.
“Ini untuk ngejaga perasaan nyokap gue sama nyokap lo. Jangan mikir yang macam-macam.” Tristan berbisik di telinga Casey, membuat gadis itu menoleh ke samping dan menaikkan satu alisnya. Kemudian, tubuhnya menegang kala tangan laki-laki itu merangkul pinggangnya dengan mesra agar mendekatkan tubuh mereka. Tristan menolehkan kepalanya ke samping, memposisikan kepalanya seperti akan mencium pipi Casey. Dia hanya menyisakan jarak satu senti dari pipi gadis itu yang mulai memerah. “Hadap ke kamera dan beri senyuman terbaik lo.”
Casey mengangguk kaku. Dia menghadap ke depan dan tersenyum. Dia bisa merasakan helaan napas Tristan pada pipinya dan semua itu membuatnya merinding. Bukan jenis merinding karena perasaan cinta, tapi jenis merinding karena terlalu dekat dengan musuh bebuyutannya. Belum lagi ucapan Tristan masih setia memenuhi benaknya dan menari-nari dalam hatinya.
“Bagus! Satu... dua... tiga....” Dan pria tersebut berhasil memotret Tristan juga Casey sebanyak tiga kali. Dia menatap puas hasil jepretannya dan meminta para orangtua untuk mengikutinya.
“Lepas....” Casey mencoba melepaskan rangkulan Tristan dari tangannya namun laki-laki sialan itu tidak mengindahkan. “Tristan... gue bilang lepasin gue. Jangan cari masalah disini! Gue nggak mau nyokap sama Tante Lexna sampai—“
“Maaf....”
Hah?
Apa kata Tristan barusan?
“Maaf....”
Lagi, Casey mendengar kalimat maaf yang dilontarkan oleh Tristan. Gadis itu tidak berani menatap wajah Tristan karena posisi wajah laki-laki itu yang masih berada sangat dekat dengan pipinya.
“Maaf untuk ucapan b******k gue tadi. Gue kelepasan.” Tristan menarik napas panjang dan melepaskan tangannya dari pinggang Casey. Dia menatap gadis itu tepat di manik mata. Menguncinya... melarang gadis itu untuk mengalihkan tatapannya barang sedetikpun.
“Gue emang b******k dan lo udah tau itu. Gue harap kita bisa menjalin kerjasama dalam pernikahan kita nanti. Gue nggak akan menyentuh lo dan nggak akan melarang lo dalam urusan apapun yang akan lo lakuin. Semata-mata demi menjaga perasaan keluarga kita. Dan gue harap, nggak akan pernah ada kata cinta dalam kehidupan kita nanti.”
Casey tidak sanggup berkata-kata. Sifat galak dan isengnya menghilang entah kemana. Mungkin karena atmosfer yang berbeda di ruangan ini. Mungkin karena keseriusan Tristan saat ini. Yang jelas, Casey benar-benar tidak tahu bagaimana harus bersikap.
“Gue orang b******k, Cash... gue nggak suka sama lo dan lo nggak suka sama gue. Tapi, gue mengaku kalau gue udah keterlaluan tadi. Sekali lagi, gue minta maaf.” Tristan membuka jas abu-abunya kemudian menyampirkannya ke lengan kanan. Dia tersenyum. Miring dan misterius. Senyuman yang lebih menyerupai seringaian. “Lo nggak akan jatuh cinta sama gue, kan?”
“You wish! Sampai mati gue nggak akan pernah cinta sama lo! Gue setuju atas pernikahan ini karena gue sayang sama orangtua gue dan nggak mau bikin mereka kecewa!” seru Casey setelah terdiam cukup lama.
Hening mendominasi. Casey dan Tristan saling tatap dalam diam. Sampai kemudian, laki-laki itu mengangguk dan mengacungkan jempolnya ke arah Casey.
“Good girl! Tetap jadi Casey yang gue kenal. Yang benci sama gue... yang iseng sama gue... dan gue akan balas perbuatan lo tadi. Is it ok?”
“Fair enough.” Casey bersedekap dan tersenyum sinis ke arah Tristan. Atmosfer yang tercipta kembali seperti dulu. Tegang, memanas dan penuh dengan kobaran perang. Tristan mengedipkan sebelah matanya dan memutar tubuhnya. Berjalan meninggalkan Casey yang memijat pelipisnya karena pusing.
This wedding is a curse!
###
Setiap harinya yang diucapkan oleh Casey setiap gadis itu berdo’a adalah agar pernikahannya dengan Tristan tidak terjadi. Apapun deh, apapun akan dia terima asalkan pernikahan ini tidak boleh berlangsung. Dia bahkan sempat berdo’a yang tidak-tidak—yang kemudian dibatalkannya. Seperti misalnya meminta kepada Tuhan supaya kedua orangtuanya amnesia, atau dia yang amnesia. Atau kedua orangtua Tristan yang amnesia atau Tristan ketahuan menghamili anak orang. Setelah dipikir-pikir lagi, do’a yang dia panjatkan tidak ada yang benar semua.
Sialnya, waktu terasa sangat cepat berlalu. Hari pernikahannya dengan Tristan datang juga. Beberapa teman sekelasnya juga teman sekelas Tristan diundang. Disana nampak hadir si kembar Devon dan Revon beserta orangtua mereka—Om Melvin dan Tante Inggit, juga Steven dan Stephanie beserta orangtua mereka—Om Vincent dan Tante Nabila.
Penghulu sudah hadir. Tristan nampak keren dan gagah dengan jas abu-abu yang mencetak jelas tubuh atletisnya. Laki-laki itu menghela napas tanpa kentara, menyesali nasib sialnya karena harus menikah di usia muda. Dia melirik ke arah Ayahnya dan pria itu tersenyum puas.
Ugh! Dasar pria arogan! Sekarang Tristan sangat yakin jika sifat arogan Ayahnya memang diwariskan seutuhnya pada dirinya.
Ketika Tristan mendengar suara kasak-kusuk di belakangnya, laki-laki itu mengerutkan kening. Dia menoleh dan menatap Casey yang sedang berjalan menuruni tangga dengan diapit oleh Mamanya juga Tante Valeria. Kebaya hijau tosca itu melekat pas pada tubuh mungilnya, membuat Tristan terpana. Lekuk tubuh Casey benar-benar menggoda iman laki-laki normal manapun!
Oh... my... freaking... God!
Did i just say that Casey is really damn hot girl?!
GUE PASTI UDAH NGGAK WARAS! Tristan membatin.
Dengan rambut panjangnya yang disanggul ke atas, Tristan bisa melihat leher jenjang Casey yang sangat mulus dan putih. Gadis itu menoleh dan bertemu mata dengannya. Sambil mendengus, Tristan mengalihkan tatapannya ke arah penghulu dan mulai mendengarkan semua instruksi dari beliau.
“Saya terima nikah dan kawinnya Casey Aprilia Radityan binti Marvin Radityan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!” tegas Tristan tanpa ada kesulitan. Begitu penghulu menyatakan sah, semuanya langsung mengucapkan hamdalah dan mulai berdo’a.
Dalam hati Tristan dan Casey, keduanya menggeram pasrah.
Awal kehidupan mereka sebagai sepasang suami-isteri akan dimulai.
###
“Cash....”
Casey mengabaikan panggilan tersebut dan berusaha melepaskan jepitan yang ada pada rambutnya. Ugh... kenapa benda tersebut sangat sulit untuk dilepaskan, sih?!
“Cash!”
“Hmm....” Casey bergumam tidak jelas. Gadis itu menggeram kesal karena tidak berhasil melepas satu jepitan pun di rambut panjangnya yang digulung hingga membentuk entah apa itu. Dia menoleh dan detik itu juga, gadis itu menjerit nyaring!
“KYAAAAAAA!!! PERVERRRRRTTTT!!! MESUUUUUM!!!”
Secepat kilat, Tristan berlari mendekati Casey dan membekap mulut gadis itu. Dia bisa merasakan tubuh Casey yang menegang dan mata gadis itu yang membulat maksimal. Tristan yakin jika Casey terus melotot seperti itu, bola matanya akan keluar dari rongga matanya.
“Jangan teriak seolah gue mau memperkosa lo, Cash! Gue bisa digebukin massa!” perintah Tristan. Casey mengangguk kaku dan mendesah lega ketika Tristan melepaskan tangannya dari mulutnya. Gadis itu langsung bangkit berdiri dan mengambil posisi sejauh mungkin. Kedua tangannya langsung disilangkan di depan d**a untuk menutupi asetnya. Matanya berkilat-kilat penuh amarah kala bertatapan dengan orang yang baru saja sah menjadi suaminya itu.
“Jangan pernah mimpi untuk bikin anak sama gue, ya, Tris!” seru Casey panik. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar barunya. Rumah ini memang sudah disiapkan oleh kedua orangtuanya juga kedua orangtua Tristan.
“Nyari apa, lo? Dan kenapa lo bilang kalau gue mau bikin anak sama lo?” tanya Tristan santai. Dia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan menatap Casey yang masih berdiri di sudut kamar.
“Nyari benda apapun yang bisa gue pakai untuk membunuh lo kalau lo nekat menyentuh gue!” Casey meraih selimut yang berada di atas kasur dengan cepat dan langsung menyelimuti tubuhnya sendiri. “Kenapa? Lo nggak sadar penampilan lo kayak gimana sekarang?!”
Tristan menatap tubuhnya dan manggut-manggut nggak jelas. Jelas saja Casey berpikiran macam-macam padanya. Dia tidak mengenakan kaus apapun alias bertelanjang d**a dan memakai celana pendek berwarna hitam. Perempuan manapun pasti akan berpikiran negatif.
“Gue kepanasan. Makanya gue nggak pakai kaus.” Tristan menunjuk wajah Casey. “By the way... ini kamar gue. Kamar lo ada di sebelah. Lo nggak ngarep tidur sekamar dan seranjang sama gue, kan?”
Wajahnya memanas dan Casey sangat yakin jika rona merah mulai menjalar pada pipinya saat ini. Sambil menahan geram, gadis itu melempar selimut ke wajah Tristan dan bergegas pergi meninggalkan kamar laki-laki sialan ini. Casey rasanya kepengin muntah ketika melihat seringaian puas yang tercetak di bibir iblis k*****t satu itu.
Sebelum benar-benar pergi, sebuah ide terlintas dalam otaknya. Casey tersenyum jahil dan langsung menyerbu Tristan. Dia meninju perut six pack laki-laki itu hingga membuat Tristan terbatuk dan bangkit dengan satu gerakan cepat. Saat posisinya sudah duduk sambil memegang perutnya, Casey langsung menabok kepala Tristan dengan keras dan mendorong kepalanya hingga laki-laki itu kembali tertidur di atas ranjangnya dengan kepala pusing dan perut yang sakit.
“CASEEEEY!!! ELO!!!”
“HUAHAHAHAA!!!”
###
Ponselnya bergetar dan Tristan menggeliat pelan. Laki-laki itu membuka kedua matanya dan menguap. Dia tertidur tanpa sempat makan malam. Sekarang, perutnya keroncongan. Tristan duduk di atas kasur dan mengambil ponselnya yang tadi bergetar di bawah bantal. Satu pesan masuk dari orangtuanya. Menanyakan bagaimana kabarnya dengan Casey dan menanyakan sesuatu yang sifatnya benar-benar pribadi.
“Kepo!” dengus Tristan sambil melempar ponselnya. Sudah pukul sebelas malam. Casey pasti sudah tidur. Lihat saja gadis itu, dia akan membalasnya. Pasti Casey sudah makan malam dan sengaja tidak membangunkannya.
Tristan berjalan menuruni tangga sambil mengacak rambutnya. Dia langsung menuju dapur dan menemukan sebungkus makanan yang kemungkinan adalah nasi padang jika dilihat dari label yang tertera pada bungkusan tersebut. Kening Tristan berkerut dan alisnya terangkat satu.
Apa Casey yang membelikan ini untuknya?
Dimana gadis itu sekarang? Di kamarnya?
Ketika Tristan berniat untuk mengecek keadaan Casey, laki-laki itu menghentikan langkah di ruang keluarga. Televisi masih menyala dan sosok Casey ada disana. Tertidur dengan posisi telungkup sementara sebelah lengannya menjuntai ke lantai. Dan Tristan merasa seperti tersengat lebah hingga dia berlari kesetanan ke arah Casey, ketika melihat tubuh gadis itu meluruh ke lantai.
Tubuh Casey mendarat dengan sempurna pada dadanya. Tristan langsung menjatuhkan tubuhnya begitu saja di lantai dan mengabaikan rasa sakit yang menjalar pada punggungnya ketika menghantam kerasnya lantai. Posisi Casey yang sudah terjatuh di atas tubuhnya pun masih sama: telungkup.
“Cewek ceroboh! Dikasih kamar sama kasur yang enak, malah tidur di sofa!” gerutu Tristan. Laki-laki itu mencoba untuk membangunkan Casey, namun gadis itu tidak bereaksi. Sambil berdecak kesal, Tristan mencoba menjauhkan tubuh Casey dari atas tubuhnya, namun laki-laki itu terpaksa membatalkan niatnya.
Kakinya mendadak kram!
ARRRRGGGHHH!!! THIS IS REALLY SUCK!
“Apa boleh buat?” gumam Tristan sambil menarik napas panjang. Matanya menatap langit-langit ruang keluarga. Perutnya keroncongan. Casey pun tertidur sangat pulas hingga Tristan tidak tega untuk membangunkannya lagi.
“Akan gue balas, Cash... jangan dikira ini gratis!” sungut Tristan sambil berdecak lagi. Jengkel.
###