Chapter 4-Another Disaster

4056 Words
Kicau burung di pagi hari membuat Casey mengerang pelan dan menggeliat. Gadis itu perlahan membuka kedua matanya dan menguap lebar. Dia rasanya enggan untuk bangkit dari kasurnya yang super duper nyaman dan empuk serta hangat ini. Casey tersenyum tipis dan menarik napas panjang. Kedua matanya kembali terpejam dan tangannya mengelus permukaan kasur yang ditidurinya itu dengan gerakan teratur. Dari atas ke bawah dan begitu sebaliknya.             Sampai akhirnya... Casey mendengar suara itu.               “Cash... bangun dari atas tubuh gue sekarang juga sebelum gue ngelakuin hal-hal yang bahkan nggak akan berani lo mimpiin di mimpi buruk lo sekalipun!”             Casey membuka kedua matanya lantas mengerjap. Dia kemudian menatap ke arah tangannya yang kini berhenti mengusap permukaan kasur. Atau, setidaknya dia menganggap apa yang ada berada di bawah tubuhnya adalah sebuah kasur. Ketika dia merasa ‘kasur’ yang ditidurinya bergerak teratur, seperti sebuah helaan napas, Casey tersentak hebat. Gadis itu langsung menjauh dan menumpukan keseimbangan tubuhnya pada dua telapak tangan yang diletakkan di atas... d**a Tristan!             “Apa? Baru sadar kalau gue ganteng? Iler lo, tuh, sampai kemana-mana!”             “ARRRGGGGHHHHH!!!”             Satu teriakan keras keluar dari bibir mungil Casey. Gadis itu langsung bangkit dari atas tubuh Tristan dan berdiri tegak. Sebenarnya, tidak terlalu tegak. Karena terlalu terburu-buru, keseimbangan tubuh Casey goyah. Gadis itu menjerit nyaring dan nyaris terjungkal ke belakang kalau saja Tristan tidak cepat-cepat berdiri dan menyambar lengan gadis itu. Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak kepada keduanya. Ganti Tristan yang kehilangan keseimbangan tubuhnya, hingga mereka berdua kembali ke posisi semula: Casey berada di atas tubuh Tristan yang jatuh ke permukaan lantai sambil mengerang keras.             “Yah... yah... yaah....” Casey langsung bangkit dan duduk bersimpuh di sebelah Tristan yang masih mengerang kesakitan dengan kedua mata terpejam. Gadis itu takut. Takut dan cemas. Matanya mulai berkaca. Jantungnya berdegup liar. Peluh dingin mulai membasahi tubuhnya. Kedua tangannya saling menggosok dan tiba-tiba saja air mata itu mengalir turun. Berikut dengan isak tangis yang mulai terdengar keras. “Tristan... hiks... elo nggak apa-apa, kan? Hiks....”             Mendengar suara lirih bercampur dengan isak tangis itu membuat Tristan berhenti mengerang dan membuka kedua matanya. Dia bisa melihat bagaimana Casey terus menggosok kedua tangannya dan menangis sambil menundukkan kepala. Mengabaikan rasa permusuhan yang selalu tercipta, juga rasa sakit yang menyerang punggungnya, Tristan bangkit dari posisi berbaringnya. Dia duduk tepat di depan Casey dan menatap cemas gadis itu. Bukan cemas dalam artian dia menyukai gadis itu. Hell, NO! Dia hanya malas dituduh yang macam-macam oleh Abang kembar Casey si Carvian yang menyebalkan itu!             “Cash? Cash, elo kenapa nangis?” tanya Tristan panik. “Hei... lo kenapa? Ada yang sakit? Luka? Kenapa?”             Casey menggeleng dan semakin terisak. Persis seperti anak kecil yang sedih karena terpisah dari orangtuanya. Tristan yang semakin bingung hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia memegang kedua pundak isteri tengilnya itu dengan tegas, setegas tatapan matanya saat ini.             “Casey... demi Tuhan, elo kenapa? Ada yang luka? Ngomong, Cash! Jangan cuma nangis aja karena gue nggak tau kalau misalkan lo terluka atau ngerasain sakit akibat kejadian tadi!”             “Dia nggak luka.”             DEG!             Satu suara bernada datar itu mengagetkan Tristan. Laki-laki itu menoleh dan menatap Carvian yang berdiri dengan sebelah bahu disandarkan di dinding sambil bersedekap. Kedua matanya menyorot datar ke arahnya, kemudian sorot mata itu berganti sedih ketika menatap Casey yang masih menangis. Tubuh gadis yang berada dalam jangkauannya itu kini bergetar hebat. Lalu... Casey jatuh tak sadarkan diri begitu saja.             “CASH!” seru Tristan saat menangkap tubuh Casey yang jatuh begitu saja. Dia mengguncang tubuh gadis mungil itu dan menoleh ke arah Carvian yang berjalan pelan ke arahnya. “Sumpah mati, Carv! Gue nggak nyakitin Casey! Gue sama sekali nggak sentuh dia semalam. Dia jatuh dari sofa dan gue langsung gunain tubuh gue buat lindungin dia supaya dia nggak jatuh ke lantai. Gue nggak bisa bangun karena kaki gue kram. Demi Tuhan, Carv! Lo harus percaya sama gue. Gue sama sekali nggak sentuh kembaran lo. Tadi... tadi dia hampir jatuh pas kaget waktu sadar dia ada di atas tubuh gue. Gue nolong dia tapi keseimbangan tubuh gue goyah juga. Kita jatuh bareng-bareng lagi ke lantai dengan posisi gue ada dibawah tubuh Casey. Gue juga nggak ngerti kenapa dia nangis sampai pingsan begini. Gue—“             “Gue percaya.”             Hah?             “Gue percaya lo nggak apa-apain adik gue.” Carvian menarik napas panjang dan mengambil alih tubuh kembarannya itu dari dekapan Tristan. Diangkatnya tubuh mungil Casey sambil menatap adiknya itu dengan tatapan kasihan. Kemudian, Carvian melirik Tristan yang masih bergeming di tempatnya sambil mengerutkan kening. “Kamarnya?”             “Dekat tangga. Kamar kedua, di samping pintu menuju teras atas.”             Carvian mengangguk lantas berjalan menuju tangga. Dia memang ingin mengunjungi adik kembarnya itu sekaligus memeriksa keadaan Casey. Dia khawatir kalau Tristan menyentuh adiknya, meskipun hal tersebut sah-sah saja. Halal. Legal. Karena mereka berdua sudah terikat. Tapi, dia tetap saja tidak sudi si iblis Tristan menyentuh tubuh kembarannya.             Sebelum naik tangga, langkah Carvian terhenti. Laki-laki itu menghembuskan napas panjang dan menatap Tristan yang entah sejak kapan mengikutinya dari belakang. Keduanya dipisahkan oleh jarak yang tidak terlalu jauh.             “Casey... punya semacam trauma.”             Trauma? Gadis tengil itu memiliki trauma?             Yang benar saja!             Biasanya orang yang memiliki trauma selalu menyendiri dan terkesan pendiam. Casey? Jangankan pendiam, menyendiri pun gadis itu tidak pernah.             “Dia... punya sahabat. Laki-laki. Waktu SMP. Namanya... Derga. Derga meninggal dunia waktu nolongin Casey yang jatuh dari tangga. Sama kayak yang lo ceritain tadi, Derga juga jatuh dengan posisi berada di bawah tubuh Casey. Tulang lehernya... patah. Dia meninggal di tempat.”             Bloody hell! Is that true?             “Mungkin lo masih ingat waktu SMP Casey pernah masuk rumah sakit selama seminggu. Itu karena dia dehidrasi dan maag kronisnya kambuh akibat mengurung diri di kamar. Menyalahkan diri sendiri.”             Jadi... gadis itu memang benar memiliki trauma?             “Itu alasannya kenapa Casey nangis tadi. Bukan karena dia ngerasain sakit akibat jatuh berdua sama lo. Mendengar cerita lo, gue rasa Casey nggak akan mengalami luka atau ngerasain sakit karena lo jadiin tubuh lo sebagai perisai dia. Dia nangis karena teringat Derga... karena kesamaan peristiwa yang dia alami.”             Tristan tidak bisa menemukan suaranya. Dibalik sikap menyebalkan dan tengilnya Casey, gadis itu rupanya memiliki kisah masa lalu yang begitu menyedihkan. Tristan heran bagaimana Casey bisa meninggalkan masa-masa kelam itu dan hidup seperti tidak memiliki beban apapun. Bersikap ceria, manis di depan orangtua mereka, juga selalu mengibarkan bendera perang dengannya.             “Makasih, Tris....”             “Hah?”             “Makasih,” ucap Carvian lagi seraya menaiki anak tangga. “Makasih karena udah nolongin kembaran gue.”             Tristan hanya mengangguk dan membiarkan si kembar naik ke lantai dua. Suara tulus pertama yang dia dengar keluar dari mulut Carvian. ### Hal yang pertama dilihatnya adalah langit-langit berwarna putih. Suara erangan kecil dari bibir mungil Casey membuat Carvian menoleh cepat dan menghembuskan napas lega. Laki-laki itu tersenyum lembut dan mengusap rambut Casey. Digenggamnya sebelah tangan kembarannya tersebut untuk memberikan energi positif yang dia miliki. Carvian sama sekali tidak menyangka bahwa jauh di bawah alam sadarnya, Casey masih memikirkan kenangan pahit bersama Derga itu.             “Better?” tanya Carvian cemas. Namun, senyuman lembut itu masih setia menghiasi wajahnya. Carvian tidak ingin Casey melihat wajah cemasnya. Dia tidak ingin membuat adiknya itu bertambah beban pikiran.             “Bang...,” panggil Casey dengan nada lirih. Gadis itu mencoba bangkit dengan dibantu oleh Carvian, kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur. Matanya mulai memanas dan tanpa bisa dicegah, buliran kristal itu kembali jatuh membasahi pipi mulusnya. Dadanya bergemuruh hebat, akumulasi dari rasa sakit dan sesak serta perih yang tiada berujung akibat teringat lagi akan kenangan gelap yang sudah dia coba untuk musnahkan. “Tristan celaka gara-gara Cash, Bang... sama kayak Derga, Bang... Tristan... hiks... bakalan mati kayak Derga, Bang... hiks... Cash nggak sengaja Bang....”             “Ssst... Cash....” Carvian semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan adiknya yang sudah sedingin es itu. “Tristan baik-baik aja, kok. Dia nggak luka sama sekali. He’s strong, you know? He’s the devil. Apa kamu pernah dengar kalau iblis itu bisa sakit dan terluka?”             Casey menggeleng kuat dan semakin terisak. Dia melepaskan genggaman tangan Carvian dan meremas selimut tebal yang menutupi tubuhnya sambil menundukkan kepalanya. “Tristan jatuh, Bang... hiks... kayak Derga... hiks... Derga mati karena Cash, Bang... Tristan bakalan mati kayak Derga karena Cash, Bang... hiks... Derga mati kare—“             “CASEY APRILIA RADITYAN! TUTUP MULUT KAMU SEKARANG JUGA!”             Teriakan keras dari Carvian itu memotong ucapan lirih Casey hingga membuat gadis itu terlonjak kaget. Pun dengan Tristan yang baru saja masuk kedalam kamar sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur yang dia beli di depan rumah tadi juga segelas s**u. Tristan bahkan sampai menatap Carvian dengan tatapan tidak percaya. Benar-benar amazing. Yang Tristan tahu, Carvian itu sangat menyayangi dan melindungi Casey. Tristan tidak pernah melihat Carvian memarahi Casey. Tapi, beberapa saat yang lalu, dia melihat Carvian membentak saudara kembarnya itu.             “Kamu nggak pernah bisa dibilangin dari dulu, ya?! Hah?!” Carvian bangkit berdiri dan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Dia mencoba mematikan hati tatkala melihat Casey menatap ke arahnya dengan tatapan takut dan mata yang semakin banyak mengucurkan buliran kristal tersebut. “Harus berapa kali Abang bilang ke kamu? DERGA MATI BUKAN KARENA KAMU! ITU KECELAKAAN! DIA YANG MAU NOLONGIN KAMU DAN KAMU MENYIA-NYIAKAN PENGORBANAN DIA DENGAN TERUS MENYALAHKAN DIRI SENDIRI! KALAU DIA TAU KAMU BERSIKAP SEPERTI INI, DIA PASTI BAKALAN NYESEL BANGET UDAH NGILANGIN NYAWANYA HANYA UNTUK CEWEK KERAS KEPALA KAYAK KAMU!!!”             Isak tangis Casey semakin keras. Gadis itu menutup telinganya kuat-kuat. Melihat hal itu, ada sedikit rasa iba dan kasihan muncul di hati Tristan. Meskipun dia membenci Casey dan sebal dengan gadis tengil itu, tapi, dia tidak pernah tahan melihat air mata keluar dari mata seorang perempuan. Adiknya saja, Gevarna, tidak pernah dia marahi.             “KALAU KAMU BEGINI TERUS, ABANG UDAH NGGAK MAU PEDULI LAGI SAMA KAMU!” teriakan penuh emosi itu masih keluar dari mulut Carvian. Bahunya naik-turun, menandakan amarah yang bergejolak didalam dadanya. Amarah karena sang kembaran masih saja menenggelamkan diri dalam kubangan pahit di masa lalu tersebut. “Kamu mau terus nyalahin diri? OKE! Derga mati emang gara-gara kamu! Tristan jatuh gara-gara kamu! Semuanya salah kamu! Kamu yang salah!”             “Whoa... whoa... calm down, Carv....” Tristan langsung mengambil alih situasi saat dia mendengar Carvian malah menyalahkan kembarannya. Dia maju ke depan dan memasang tubuhnya tepat di hadapan Carvian. Tristan menatap tegas ke manik mata Carvian, kemudian melirik sekilas ke belakang. Ke arah Casey yang semakin kuat meremas selimut dan sesegukkan. “Lo pasti bercanda ngomong kayak barusan ke adik lo sendiri.”             “Nggak usah ikut campur! Dia sendiri yang minta buat disalahin, kan?! Gue hanya mengabulkannya! Lo nggak berhak ngatur gue bagaimana gue harus bersikap ke adik gue! She’s my twins if you’re not forget about that!”             “But she’s my wife!” tegas Tristan yang langsung membungkam Carvian. Lama-lama dia emosi juga. Jelas-jelas adiknya pingsan dan menangis hebat seperti ini karena kenangan pahit yang terpaksa menyeruak keluar dari memori otaknya, Carvian malah membentak bahkan mengatai gadis itu sebagai orang yang patut disalahkan. “Gue berhak atas sekecil-kecilnya dari tubuh dia dan semua yang menyangkut dia. Termasuk masa lalunya.”             Tidak menyangka Tristan akan mengatakan hal tersebut, Carvian menggeram kesal. Laki-laki itu mengumpat, memutar tubuh lantas keluar dari dalam kamar sambil membanting pintu. Tristan menatap pemandangan itu dengan tatapan datar dan terkesan sulit untuk dilakukan. Setelah menghembuskan napas panjang, Tristan menatap Casey dan berkacak pinggang. Alisnya terangkat satu dan sebuah gagasan melintas di benaknya.             Semoga Carvian udah pergi!             “Cash... gue mau lo ngelakuin apa yang harusnya lo lakuin ke gue sebagai seorang isteri.”             DEG!             Ucapan Tristan itu sukses membuat isak tangis Casey berhenti. Tubuh gadis itu menegang. Kepalanya perlahan terangkat dan berputar untuk menatap Tristan yang tersenyum sangat menakutkan. Kedua mata Tristan menyorot kejam, seperti seekor harimau yang akan memakan seekor kelinci mungil.             Alarm tanda bahaya di otak Casey mendadak berbunyi. Nyaring dan keras.             Mayday! Mayday! She needs help right now!             “A—apa maksud lo, Tris?” tanya Casey terbata karena habis menangis. Matanya menyorot takut ketika Tristan perlahan berjalan mendekat seraya meloloskan kaus yang dikenakannya melalui kepala. Casey menelan ludah susah payah saat menatap tubuh atletis suami menyebalkannya itu. Perlahan, gadis itu meringsut menjauh sambil membawa serta selimut tebalnya untuk menutupi tubuhnya.             “Lo tau betul apa maksud gue.” Tristan memperagakan adegan seolah dia akan menerkam Casey, membuat gadis itu menjerit kemudian melompat dari tempat tidur. Selimutnya jatuh begitu saja ke lantai. Telunjuknya yang gemetar menunjuk wajah Tristan lurus-lurus. Kedua matanya menatap Tristan dengan berani dan menantang, walau sebenarnya dia sangat ketakutan. Takut jika Tristan akan mengambil apa yang sudah dijaganya selama ini.             Well, meskipun sebenarnya Tristan memiliki hak untuk itu.             “Kenapa, Cash? Takut? Bukannya lo selalu ngajak gue berantem? Ngajakin gue perang? Hmm? Ini gue mau ngajakin lo perang lagi. Perang yang lebih asyik dan nikmat ketimbang perang yang udah kita lakonin sebelum-sebelum ini.”             Semakin gencar Tristan mendekatinya, semakin pesat juga Casey menjauhkan diri. Dia meraih barang apapun yang berada di dekatnya untuk kemudian dilemparkan ke arah laki-laki arogan yang mendadak m***m itu.             “Oke!” seru Casey keras ketika sadar usahanya sia-sia saja. Semua barang sudah dia lemparkan ke arah Tristan dan iblis itu berhasil menghindar. Tristan mengajaknya perang? FINE! Akan dia tunjukkan apa arti perang sesungguhnya!             “Oke?” ulang Tristan tak mengerti.             “Lo mau perang, kan? Oke! Gue akan kabulin!” Casey mendekat ke arah Tristan dan memasang tubuh mungilnya di depan laki-laki itu. Kepalanya mendongak dan kekesalan terlihat sangat jelas dari cara sepasang manik cokelat terang itu kala menatap Tristan.             “Bagus deh, kalau lo udah waras lagi.”             Hah?             Apa kata Tristan tadi? Memangnya siapa yang nggak waras, sih?             “Siapa yang lo bilang nggak waras?!” teriak Casey emosi. “Elo berani ngatain gue gila, gitu?!”             “Dih!” Tristan menyentil kening Casey dan meraih kausnya lantas memakainya kembali. Ditatapnya sinis isteri menyebalkannya itu dan dia kembali menyentil keningnya kemudian menoyornya. Casey yang tidak terima langsung menggeram keras dan menggigit lengan Tristan, membuat laki-laki itu mengumpat dan mengaduh. “Sinting! Turunan apa, sih, lo?! Vampir?!”             “Berisik! Apa maksud lo ngatain gue gila, hah?!”             “Nggak sempet ngaca tadi? Siapa yang meraung-raung nggak jelas, nangis nggak karuan cuma karena gue jatuh ke lantai? Pakai acara nyamain gue sama sahabat lo yang udah mati itu, lagi!”             “ELO?!”             “APA?!” seru Tristan lebih keras dari seruan Casey sebelumnya. Laki-laki itu melotot mengerikan dan berkacak pinggang. Sementara itu, Casey mencoba mengontrol emosinya. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. “Gue emang bener, kan? Sahabat lo, si Derga itu, udah mati? Lo nggak ngerti arti kata mati? Apa yang lo ngerti kalau gitu? Modar? Koit? Tewas? Dead? Apapun itu, intinya cuma satu. He’s gone! Berhenti nyalahin diri lo sendiri atau pengorbanan dia untuk bikin lo tetap hidup sia-sia!”             DEG!             “Dengar, Cash... manusia itu ada waktunya untuk meninggal. Waktu Derga untuk hidup dan nemenin lo emang cuma sampai saat itu aja. Lo nggak punya kuasa buat menghentikan takdir. It was his fate. You have no control about his life. Tapi, satu hal yang harus lo tau... sama seperti ucapan Carvian tadi... gue rasa, Derga akan sedih kalau liat lo terus menyalahkan diri lo sendiri.”             Sejak kapan Tristan berubah bijak seperti ini?             “Terkadang, manusia harus belajar untuk menghadapi yang namanya kehilangan agar dia bisa belajar tegar dan bisa terus menghadapi kehidupan yang memang ada batasnya. Supaya kita bisa diingatkan akan kematian. Bahwa nggak selamanya kita hidup di dunia ini.”             Keduanya terdiam. Tristan yang merasa canggung akhirnya berdeham, membuat Casey tersadar dari lamunannya. Dia baru saja merenungi semua ucapan Tristan. Tidak disangka, si iblis satu itu bisa mengucapkan kalimat-kalimat seperti tadi.             “Dosen agama pasti ngajarin itu, kan? Dosen agama lo Pak Harry juga, kan? Beliau pernah ngucapin kalimat itu di awal semester.”             Sialan!             Casey mendengus kemudian menatap Tristan yang terbahak dengan jengkel. Pantas rasanya Casey seperti familiar dengan kalimat Tristan tadi.             Tanpa disadari oleh Tristan dan Casey, Carvian masih berada di depan kamar gadis itu. Bersandar sambil menundukkan kepala dan memejamkan mata. Merasa lega karena adik kembarnya bisa bangkit lagi. Meskipun enggan untuk mengakui, tapi, Tristan bisa berperan sebagai seorang suami yang baik.             Carvian mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu disana. Setelah mengirimkan pesan singkat tersebut, dia melangkah turun. Berniat pulang ke rumah dan bersiap untuk pergi ke kampus yang dimulai siang nanti.             Jangan harap, gue bakalan merestui hubungan lo sama Casey meskipun kalian udah nikah. Berani lo sentuh dia, siap-siap aja untuk gue sunat yang kedua kalinya atau kehilangan kepala lo! Tinggal bagaimana lo memilih dengan bijak, sebijak ucapan lo untuk Casey tadi.             Sent: Tristan ### Malam ini, keluarga besar Tristan dan Casey akan mengadakan makan malam di sebuah restoran yang berada di lantai lima mall ternama di bilangan Jakarta Selatan. Mereka semua sudah berkumpul di restoran tersebut sekitar lima belas menit yang lalu, sementara Tristan dan Casey baru saja sampai di mall tersebut. Sambil menggerutu, Casey berjalan mendahului Tristan yang bersiul santai di belakangnya dengan kedua tangan dimasukkan di saku celana jeans-nya. Tristan sama sekali tidak memperdulikan tatapan-tatapan memuja yang dilayangkan oleh para gadis yang berada di sekitarnya.             “Elo sih kelamaan dandannya, Tris! Heran gue! Jangan-jangan, kalau malam lo berubah jadi Triny, ya?!” seru Casey jengkel sambil mendengus dan bersedekap. Dia melirik sekilas ke belakang dan mendapati Tristan hanya mengangkat bahu tak acuh sambil menaikkan satu alisnya.             “Tanpa dandan pun, gue udah cakep dari bayi. Ini semua gara-gara lo yang mandinya kelamaan, tengil!”             “Kalau lo nggak lupa naruh sepatu butut lo itu, kita nggak mungkin telat!” Casey masih saja mengibarkan bendera perang. Sebal setengah mati pada Tristan yang menurutnya sengaja membuat mereka telat menghadiri acara makan malam tersebut.             “Sepatu butut kata lo?!” teriak Tristan. Laki-laki itu berjalan cepat supaya bisa mensejajarkan langkahnya dengan langkah Casey. “Sepatu ini gue beli di London dengan hasil tabungan gue sendiri! Daripada lo? Apa-apa minta sama Om Marvin! Manja! Udah tengil, manja nggak ketulungan lagi!”             “Siapa yang lo bilang manja, hah?!” Casey berhenti berjalan dan memutar tubuh. Dia kemudian meninju perut Tristan hingga laki-laki itu terbatuk-batuk dan membungkuk sambil memegangi perutnya. Tak hanya sampai disitu, Casey kemudian menginjak kaki kanan suaminya itu dengan keras lantas menjitak kepala Tristan.             “CASEEEEEYYYY!!! SINI LO!”             Sambil terbahak, Casey berlari meninggalkan Tristan yang bersungut-sungut ria. Kadang, Tristan merenung. Apa yang sudah dia lakukan hingga harus mendapatkan isteri seperti Casey. Mungkin, dia kena kutuk orang yang cemburu akan ketampanannya.             Menyedihkan sekali hidupnya.             Mencoba untuk mengontrol emosi, Tristan memejamkan kedua matanya ketika dia dan Casey menunggu pintu lift terbuka. Dia melirik ke arah Casey yang sedang tersenyum geli sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Berani taruhan, isi otak udang gadis itu pasti sedang memikirkan rencana-rencana untuk mengerjainya dan mengisenginya nanti di rumah.             TING!             Pintu lift terbuka dan pasangan suami-isteri terheboh sepanjang sejarah kehidupan manusia itupun melangkah masuk. Mendadak, beberapa orang masuk secara bersamaan. Tristan dan Casey terdorong ke ujung lift. Tristan bisa melihat gerak-gerik Casey yang terlihat resah karena ada dua orang laki-laki yang mulai mendempetnya. Langsung saja Tristan berdeham, menyuruh kedua laki-laki itu untuk sedikit memberi ruang dan segera memposisikan tubuhnya di depan tubuh Casey. Merasa tidak nyaman dengan posisi tersebut, Tristan memutar tubuh hingga akhirnya keduanya saling berhadapan. Laki-laki itu merentangkan kedua tangannya ke arah kaca lift untuk mengurung Casey supaya gadis itu bisa sedikit merasa kelegaan ditengah orang-orang yang saling menghimpit dan saling mendorong didalam lift.             Dari jarak sedekat ini, Tristan bisa melihat wajah Casey. Wajah itu sangat mirip dengan Om Marvin, Papa mertuanya. Hanya hidung dan kedua matanya yang mirip dengan Tante Valeria. Perpaduan wajah diantara Om Marvin dan Tante Valeria entah mengapa memberikan kesan unik pada wajah isteri tengilnya itu.             “Cantik....”             Tanpa sadar, kalimat itu keluar dari mulut Tristan, membuat Casey mendongak. Kening gadis itu mengerut dan dia memiringkan kepalanya. Sadar bahwa dia sudah kelepasan bicara, Tristan kembali berdeham dan menatap dingin Casey.             “Jangan coba-coba jatuh cinta sama gue, Cash!”             “Amit-amit,” balas Casey sambil memperagakan adegan orang muntah. Saat dia ingin membalas lagi ucapan Tristan, orang yang berada di depan Tristan mundur dan membuat tubuh laki-laki itu semakin maju ke arah Casey. Membuat jarak keduanya terhapus karena kedua tangan Tristan yang meluruh dari kaca jendela akibat desakan orang di depannya. Akhirnya, mau tidak mau, Tristan terpaksa melingkarkan tangannya pada pinggang Casey.             “Sori... terpaksa. Daripada lo mati kejepit.” Tristan memberi penjelasan tanpa menatap wajah isterinya itu. Tatapannya mengarah ke arah kerumunan dibawah sana, melalui kaca lift. Casey sendiri hanya bisa mengangguk dan menahan napas.             Bingung harus bersikap bagaimana dengan keadaan seperti ini. ### Keesokan harinya, rumah Tristan dan Casey seperti dilanda tsunami. Bagaimana tidak? Mereka sampai di rumah pukul sebelas malam. Casey lupa mengerjakan tugas kuliah dan terpaksa begadang. Akhirnya, gadis itu baru terlelap kala jarum jam menunjuk ke angka dua dini hari.             Jam beker Casey berbunyi nyaring tapi gadis itu mengabaikan. Dia malah melemparnya asal entah kemana. Tak lama—atau, setidaknya itulah yang ada di pikiran Casey—gadis itu terbangun dan bingung karena tidak menemukan jam beker miliknya. Dia mengambil sesuatu dari bawah bantal dan... terlonjak!             “GUE TELAAAAAAATTTT!!!”             Suara gedebrak-gedebruknya Casey diabaikan oleh Tristan yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Dia sudah rapi dengan kaus lengan panjang dan celana jeans. Kebiasaan Tristan sejak kecil memang tidak pernah berubah. Mandi dan berganti pakaian selalu didalam kamar mandi.             “Cash, jangan berisik masih pagi! Gue ceburin di sumur baru tau rasa lo!” sungut Tristan sambil melempar handuknya dan menutup pintu kamar. Laki-laki itu melangkah turun lantas menuju meja makan untuk membuat roti isi selai strawberry kesukaannya.             Hening mulai tercipta. Tristan menghela napas lega dan mendengus. Dia melanjutkan acara makannya dan sama sekali tidak menyadari bahwa Casey sudah selesai mandi dan berlari menuju garasi. ### Demi apapun yang ada di dunia ini, Casey belum bisa menyetir!             Dia memang paham teori menyetir yang baik dan benar, tapi dia sama sekali belum pernah mencobanya. Apa boleh buat? Dia sudah sangat terlambat untuk menghadiri mata kuliah pertama sementara Tristan masih menikmati sarapannya di meja makan. Mau menyuruh laki-laki itu untuk mengantarnya pun, Casey sudah malas. Ujung-ujungnya mereka pasti berdebat dan Casey sama sekali tidak punya waktu untuk itu.             Dibalik kemudi, Casey menarik napas panjang dan mencengkram kemudi tersebut. Dia menghitung dalam hati dan mencoba mengingat apa yang sudah didiktekan oleh Papanya dan Abangnya. Pertama, Casey memutar anak kunci hingga mesinnya menyala, memasukkan gigi, memindahkan persneling dan.... YES! MOBILNYA JALAN, PEMIRSA!             Casey tertawa heboh dan membawa mobil dengan pelan. Jalanan kompleks perumahannya masih cukup sepi. Casey bersiul dan tanpa sengaja, dia langsung memasukkan gigi empat! Mobil Sedan itu seperti melompat sebelum kemudian melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi.             “PAPAAAA!!! MAMAAA!!! BANG CAAARVVV!!!” jerit gadis itu panik. Dia sangat takut sekarang. Air mata itu mulai mengalir. Satu hal yang paling dikhawatirkan oleh Carvian dari adik kembarnya itu. Casey selalu kehilangan kontrol atas dirinya dan selalu tidak berpikiran jernih saat panik menyerangnya.             Mendadak, Casey mendengar suara deru mesin lainnya. Meraung-raung tepat di sampingnya. Gadis itu menoleh sekilas dan melihat motor sport hijau tua berada tepat di samping Sedannya. Si pengendara motor mengenakan helm dan menolehkan kepalanya untuk melihat Casey.             Tiba-tiba, pengendara motor tersebut mendahuluinya. Casey mengerutkan kening dan segera menginjak pedal rem dengan kuat hingga terdengar bunyi berdecit yang begitu memekakkan telinga. Bemper mobilnya menabrak motor sport hijau tersebut dan si pengendara motor itu melompat dari tempatnya hingga jatuh berguling di atas aspal. Casey menutup mulut dengan kedua tangan dan melepas seatbelt-nya. Dia segera turun dan menghampiri orang tersebut yang kini duduk di atas aspal sambil menunduk dan menggelengkan kepalanya.             “Aduuh... maaf banget, Mas... maaf... gue nggak sengaja tadi. Gue belum bisa nyetir mobil dan terpaksa nyetir karena gue udah terlambat kuliah. Lo juga salah, sih, ngapain ngehadang mobil gue segala?” Casey menggosok kedua tangannya sambil menatap cemas si pengendara motor. “Duh... sakit ya, Mas?”             “Ya sakitlah tengil!”             Mendengar seruan itu, Casey langsung menaikkan satu alisnya. Ketika helm si pengendara motor terbuka, gadis itu terkejut. Dia mundur beberapa langkah dan menunjuk wajah cemberut dan kusut seperti kain yang belum disetrika milik... Tristan.             Milik Tristan, si iblis suami arogannya itu!             Ada darah mengalir di sudut bibir juga hidungnya, membuat Casey meringis tanpa sadar.             “Tristan?”             “Cash... kalau mau main bomb-bomb car, gue saranin pakai mobil mainan aja. Jangan lo rusak mobil kita. Kecuali, lo udah siap ketemu sama malaikat mau dan udah punya amal cukup untuk dibawa ke akhirat.” Tristan bangkit berdiri dan meringis saat rasa sakit menjalar pada kakinya. “Sinting lo, ya! Lo pikir nyawa lo ada sembilan kayak kucing sampai nekat bawa mobil, HAH?!”             Casey hanya bisa mengerjap dan mencibir. Gadis itu bersedekap dan menjerit ketika pergelangan tangannya dicekal dan dia ditarik paksa oleh Tristan untuk masuk kedalam mobil. Lebih tepatnya di kursi penumpang.             “Loh? Loh? Tris! Lo mau bawa gue kemana?!”             “Kampus, lah!” seru Tristan sambil menyalakan mesin mobil Sedan milik mereka berdua itu. Dia memutari motor sportnya yang tewas di tengah jalan dan menjalankan mobil Sedan tersebut dengan kecepatan sedang.             “Motor lo?”             “Ada asuransi. Nanti gue telepon bengkel langganan bokap buat jemput motornya.” Tristan menjawab datar tanpa menatap isterinya itu.             “Luka lo gimana? Nanti infeksi.”             “Luka begini nggak masalah buat gue. Udah, jangan banyak bacot kalau nggak mau gue melakukan KDRT sama lo!”             Casey hanya bisa diam dan mendengus. ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD