Part 6 - Giraffe

1365 Words
Woojin kali ini benar-benar marah padanya. Yeonsoo tak mengerti apa salahnya, ia hanya memperkenalkan Woojin pada pria yang lebih baik dari Jaehoon. Tapi kenapa Woojin jadi marah? Pria itu jadi jarang di rumah sekarang. Bila diajak bicara jawabannya singkat. Bukan singkat seperti anak gaul jaman dulu yang kalau mengirim pesan tulisannya disingkat-singkat, bukan! Maksudnya Woojin hanya menanggapi seadanya dan setelah itu pergi lagi. Karena itu, Yeonsoo kembali kesepian. Woojin yang biasa ia ganggu kini menjauh darinya. Padahal Woojin itu seme yang paling diminati oleh para fujoshi di blognya. Kalau Woojin menjauhinya, bagaimana Yeonsoo bisa mendapatkan uang? "Ada apa? Kau terlihat murung seperti baru saja putus cinta?" ejek Jungwoon. "Jangan menggangguku kau perjaka tua! Jauh-jauh sana!" gerutu Yeonsoo. "Hei, aku bosmu! Bosmu! Hargailah aku sedikit atau kau kupecat!" omel Jungwoon. "Seperti kau berani saja, kalau kau berani takkan kubiarkan kau mendekati Kak Yebin lagi!" Yeonsoo menjulurkan lidahnya mengejek Jungwoon. Heejoo yang sedang sibuk menghitung stok buku-buku yang baru saja datang pun hanya bisa mendengus geli. "Kalau mengancamnya begitu sepertinya Bos takkan bisa berbuat apapun~," ejek Heejoo. "Hei Kim Heejoo, jangan ikut-ikutan kau!" Yeonsoo kembali menyapu dengan malas. Bagaimana caranya agar mengembalikan Woojin seperti semula? Yeonsoo beralih pada Heejoo. Mengenai kedekatan Woojin dan Seungwan, haruskah ia memberitahu Heejoo? "Kak Heejoo," "Hm?" "Kakak Bermuka Dua, apa kau sangat dekat dengannya?" tanya Yeonsoo. "Kakak Bermuka Dua? Ah~, maksudmu Seungwan? Dia sahabatku. Ada apa?" Yeonsoo bimbang, haruskah ia mengatakannya? "Tidak apa, aku hanya bertanya saja." Ah, biarlah saja hal ini diketahui sendiri oleh Heejoo. Yeonsoo tidak ingin ikut campur dalam masalah ini. Biarlah waktu yang akan mengungkapkan apa yang terjadi sebenarnya. *** Woojin belakangan ini sibuk dengan skripsinya. Berkat bantuan dari Seungwan akhirnya ia berhasil sampai di kesimpulan. Hebat bukan? Dan hal yang membuat Woojin sangat-sangat bahagia adalah ia dan Seungwan menjadi semakin dekat karena sering keluar bersama. Woojin bahkan sudah menyiapkan rencana untuk mengungkapkan perasaannya pada Seungwan. Woojin sangat tidak sabar untuk itu. "Aku pulang!" Woojin membuka pintu apartemennya, "Astaga!" Ia terkejut saat melihat wajah kakeknya yang marahlah yang menyambutnya. "Kakek! Kau membuatku terkejut!" keluh Woojin. "Apa yang terjadi antara kau dan Yeonsoo?" tanya Kakek Park. "Tidak ada." jawab Woojin datar. Ia hanya malas menanggapi gadis itu. Lagipula Yebin hanya memintanya untuk membiarkan Yeonsoo tinggal di apartemennya. Ia tidak punya kewajiban untuk bergaul baik dengannya. Woojin memasuki apartementnya dan ingin duduk di sofa. "Jangan!" cegah Kakek Park. "Ada apa lagi?" "Lihat di belakangmu!" Woojin menoleh dan mendapati wajah Yeonsoo sejajar dengan bokongnya. Ah dia hampir saja menduduki wajah Yeonsoo. "Kenapa anak ini tidur di sini?" tanya Woojin. "Sepertinya ia kelelahan setelah bekerja," jawab Kakek Park. "Kau tahu Yeonsoo bekerja? Ia memberitahumu?" tanya Woojin. "Tidak, aku memata-matainya." Mata Woojin membelalak mendengar alasan kakeknya. Memata-matai Yeonsoo? "Berarti kau juga tahu tentang apa yang terjadi di sekolahnya?" tanya Woojin. "Aku baru saja akan bertindak tapi kau sudah bertindak duluan," gerutu Kakek Park. Yeonsoo pasti akan sangat marah bila tahu dirinya dimata-matai. Woojin bergidik ngeri. "Yeonsoo pasti merasa tidak nyaman bila tahu Kakek memata-matainya," ucap Woojin. "Kau kira aku akan membiarkanmu begitu saja tinggal bersama gadis cantik sepertinya? Tentu saja aku akan mengawasi kalian!" "Kakek, dimana kau sembunyikan CCTVnya? Cepat katakan dimana!" Mengingat beberapa kali Yeonsoo nyaris telanjang bahkan pernah telanjang berkeliaran di apartemen ini membuat Woojin merasa malu. Bagaimana kalau Kakek Park melihat hal itu? Kalau dirinya sih tidak apa-apa bila melihatnya(?). "Sekarang jawab pertanyaanku! Apa yang terjadi pada Yeonsoo? Mengapa ia murung begini? Woojin tak menjawab pertanyaan Kakek Park. Ia sibuk memandangi Yeonsoo. Yeonsoo murung karenanya? Ia kira gadis itu akan bertingkah biasa saja bila Woojin menjauhinya. "Ia akan merasa pegal saat bangun nanti," ringis Woojin. Ia pun menggendong tubuh Yeonsoo yang ternyata tidak seberat yang ia duga lalu membawanya ke kamar gadis itu. Kakek Park yang seharusnya kesal karena diabaikan malah senyum-senyum sendiri. Ah sepertinya kakek nyentrik kita yang satu ini memiliki rencana lain. Saat Woojin hendak menaruh Yeonsoo di ranjangnya, gadis itu tiba-tiba membuka matanya membuat Woojin terkejut dan refleks menjatuhkan gadis itu. "Aduh!" Yeonsoo memang jatuh ke atas ranjang, tapi kepalanya terbentur dengan sandaran ranjang. Woojin segera naik ke atas ranjang untuk memeriksa apakah Yeonsoo terluka. "Kau tak apa? Maaf, aku tidak sengaja tadi!" ucap Woojin. Woojin mengelus kepala Yeonsoo yang sakit. Satu fakta lagi yang diketahui Woojin tentang Yeonsoo, gadis monyet itu ternyata harum juga. "Kak Woojin, kepalaku sudah tidak apa-apa." Yeonsoo menatap Woojin dengan polos. Woojin segera menurunkan tangannya. Rambut Yeonsoo sangat lembut dan menyenangkan untuk dielus hingga membuat Woojin ketagihan mengelus kepala gadis itu. "Kau sudah bangun? Atau kau dan Kakek mengerjaiku dengan kau pura-pura tidur?" tanya Woojin tajam. "Tidak, aku memang baru bangun tadi." ucap Yeonsoo sungguh-sungguh. Keheningan melanda. Woojin menoleh ke arah pintu. Bersiap bangkit berdiri untuk membiarkan Yeonsoo kembali beristirahat. T-tunggu! Seingat Woojin ia tak menutup pintu itu tadi! Ia segera berjalan ke arah pintu dan mencoba membukanya. "Kakek! Buka pintunya!" teriak Woojin. "Sampai kalian berbaikan kalian akan berada di dalam sana!" balas Kakek Park. "Kakek, kami bukan anak-anak lagi!" protes Woojin. "Bagiku kalian masih anak-anak! Cepat selesaikan masalah kalian! Jangan melakukan hal yang tidak-tidak di dalam sana! Aku mengawasi kalian!" Woojin memukul pintu kamar Yeonsoo dengan emosi. Terkadang kakeknya bisa menjadi sangat menyebalkan! "Eumm, Kak Woojin," "Apa?" "Itu pintu kamarku, kalau rusak bagaimana?" ucap Yeonsoo polos. "Ini apartemenku, kalau rusak nanti kuganti!" ucap Woojin makin emosi. Oh, bagus! Terkurung dalam kamar bersama gadis yang bisa membuat tekanan darahmu naik. Setelah Woojin keluar dari sini ingatkan dia untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. "Kak Woojin," "Apa lagi?" "Mengapa kau marah saat aku memperkenalkanmu dengan Guru Nam?" tanya Yeonsoo. Gadis itu masih bertanya? Woojin rasanya ingin menggaruk-garuk tembok di sebelahnya! "Karena aku normal! Demi tuhan!" "Tapi mengapa kau ingin mencium Kak Jaehoon kemarin?" tanya Yeonsoo. "Itu karena aku membayangkannya sebagai gadis yang kucintai!" jawab Woojin gemas. Yeonsoo masih terlihat tak percaya. Woojin yang masih emosi pun segera menghampiri Yeonsoo. "Kau masih tak percaya? Biar kutunjukkan!" Woojin mencium bibir Yeonsoo dengan kasar. Ia melumat bibir Yeonsoo dengan bibirnya. Yeonsoo memberontak tapi Woojin menahan tengkuknya. Pria itu merebahkan Yeonsoo di atas ranjang, memegangi kedua tangan gadis itu di atas kepalanya sambil terus mencium bibir gadis itu. Kala bibir mereka terlepas, benang-benang saliva masih menghubungkan bibir keduanya. "Kak Woojin, mengapa kau melakukan ini! Kau tak perlu memaksakan dirimu!" marah Yeonsoo. Woojin sendiri tak tahu, mengapa ia bersikeras menunjukkan pada Yeonsoo bahwa ia pria lurus dan bukannya gay? Ceklek ... "Aku tahu hormon masa muda itu tinggi! Tapi apa kalian tidak bisa menahannya?! Ini bahkan belum setengah jam!" *** Woojin dan Yeonsoo diceramahi selama lima jam penuh tanpa jeda. Kakek Park bahkan mengancam akan tinggal bersama mereka karena takut terjadi sesuatu pada Yeonsoo. Yeonsoo menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat. Ciuman pertamanya adalah Woojin. Dan Woojin adalah seorang pria gay. Yeonsoo tersenyum miris bila mengingat fakta itu. "Tapi ciuman tadi benar-benar panas!" Yeonsoo mengipasi wajahnya yang mulai memerah. Woojin sangat hebat dalam berciuman! Ia jadi membayangkan bagaimana bila Woojin dan Jaehoon berciuman. Apa sepanas dirinya dan Woojin tadi? Kyaaa! Rasanya Yeonsoo hampir mimisan membayangkannya. Karena mendapatkan inspirasi, Yeonsoo segera membuka blognya dan mulai menulis. Ia tak menulisnya dulu di microsoft word seperti penulis-penulis lainnya karena kebiasaan. Dulu, Yebin selalu mengecek laptopnya dan menghapus semua hal-hal yang berbau gay di dalam laptopnya. Karena itu Yeonsoo trauma dan tak pernah menulis ceritanya di microsoft word. "Eh? Ada komentar baru?" gumam Yeonsoo. "Ah orang ini pria yang mengaku fudan kan? Dia menyukai ceritaku lagi." gumam Yeonsoo sambil tersenyum geli. Gadis itu pun membalas komentarnya. RedVelvet Terimakasih atas pujiannya. Baiklah aku akan berusaha melanjutkannya secepatnya. Girraffe Aku akan menunggunya. Tapi kau pernah bilang tokoh yang ada di ceritamu benar-benar ada dan mereka kenalanmu kenalanmu bukan? Bisa kita bertemu? Sepertinya aku mengenali salah satu foto pasangan gay yang kau kirimkan. Ini hanya untuk memastikan saja. Yeonsoo rasanya tersengat listrik melihat komentar orang itu. 'Giraffe' ini mengenali salah satu pasangan dalam ceritanya? Siapa? Apakah Minkyu dan Jungmyeong atau Jaehoon dan Woojin? Yeonsoo harap Minkyu dan Jungmyeong karena bila pria ini mengenal Jaehoon dan Woojin maka habislah ia! RedVelvet Baiklah, kalau begitu tentukan tempatnya. Kita akan bertemu. *** Makassar, 21 Agustus 2016
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD